Ketika Bakso Rawon (ngaku) Setan ala Kampung Melayu

Semenjak mobilitas gue terpaksa menggunakan akses daerah Kampung Melayu, sebagai tempat transit gue dari Pasar Minggu ke daerah Tebet, Karet, Kuningan, terpaksa gue harus mengenal daerah yang namanya Terminal Kampung Melayu.

Walau gak hanya terminal juga sih yang ada. Di sono juga ada yang namanya Halte Busway. Yang kondisinya sebenarnya cukup miris. Kenapa gue bisa bilang cukup miris, pertama, tempatnya jadi jorok karena prestisitasnya ternoda oleh alam lingkungan sekitarnya. Campuran komponen gembel, preman, pengemis, Anjal (Anak Jalanan), Rampok, pedagang asongan de el el.

Alasan miris yang kedua, tempatnya “penuh”. Maksud gue gini. Entah kenapa, kalo gue udah ada disitu, bawaannya selalu sesak. Berjubelnya orang-orang gak jelas tanpa maksud dan tujuan, kadang menciptakan rasa insecure yang berlebihan.

Mata gue diciptakan untuk mencurigai sesiapapun yang memataiku. Scanning mana orang yang terlihat jahat dan mana orang yang tidak berbahaya selalu dalam posisi ON banget. Beda ketika gue di daerah senayan atau daerah lain yang memang tidak perlu meng-ON kan scanning detektor orang Jahat!

Dan yang terpenting, untuk tempat sekelas Kampung Melayu, tepatnya sekitar terminal Kampung Melayu, Warung-warung jajanan dan makanan masih jauh dari kata “terjamin” keaslian cita rasanya.

Kali ini gue mau bahas warung makan yang sempet bikin merasa tertipu. Namanya Warung Bakso, tapi bukan Bakso sejati.

IMG-20130523-02827Sebelumnya, gue gak ada niat untuk menjatuhkan nama baik warung bakso ini. Tapi ini semua masalah selera. Dan gue sebagai konsumen punya hak untuk menuliskan pengalaman gue di blog gue. Kalau pun nanti ada unsur “melecehkan” itu mungkin hanya ungkapan dari luapan kekesalan atau bisa jadi sebaliknya.

Well, sesuai dengan rekomendasi Lutfi, temen gue, dia pernah mencoba makan bakso di tempat itu. Dia sendiri bilang, Baksonya gak jelek-jelek amat. setidaknya wisata kuliner, Hmmmm. pemandangannya gak asyik, tapi ya udah deh…

Daftar menu dan harga

Daftar menu dan harga

Duduk, pesan, dan pelayanan pun datang. Kami pesan Bakso yang berukuran gede. Satu ball harganya 30 ribu. Karena kita berdua membayangkan. bakal kebanyakan, maka satu bakso di bagi dua.

Sebenarnya spesifikasi baksonya sendiri, masuk di kategori bakso urat atau bakso apa…. tidak ada identitas kebaksoan yang gue tangkap. Memang sih, bentuknya berurat, tapi sepengecapan lidah gue, bakso urat gak kayak gitu.

Dan well. pertama, Baksonya FAIL… Gue tidak merasakan sensasi Bakso sejati. tidak ada kekenyalan layaknya bakso yang mengandung adonan gilingan daging sapi full, yang ada malah gue terbang melayang-layang membayangkan makan jeroan usus tikus.

Dari gigitan awal, gue udah gak semangat. Kayaknya Lutfi merasa bersalah ketika melihat raut muka gue yang serba terlipat. Ini penipuan besar-besaran. Komplain juga percuma. Tidak di halal kan bagi gue untuk memaki-maki penjual di muka konsumennya yang lain. Harus ada atitude.

Pelanggannya memang terlihat kelaparan

Pelanggannya memang terlihat kelaparan

Paling tidak gue tahu, baksonya tidak mengandung Boraks. Memang bagus sih buat kesehatan, Bakso tanpa borak. Tapi itu menjadi aneh untuk ukuran Bakso yang Permainan rasanya kurang banget. Bahkan ada kedai bakso yang sekelas ****** masih menggunakan borak untuk strategi pengenyalan.

Itulah kenapa, bakso jangan dikonsumsi setip hari. Harus ada jeda buat membuang racun pada tubuh.

Jadi ceritanya nih, gue kecewa gak kecewa. mengingat pada akhirnya pakso yang kami makan terpaksa dihabiskan. Bukan karena kita doyan, bukan munafik ya, membuang makanan itu gak baik. Enak gak enak, kita harus bisa menempatkan diri,  karena adalah dosa besar membuang-buang makanan.

Dapurnya langsung menghadap ke Jalan Raya

Dapurnya langsung menghadap ke Jalan Raya

Tukang Rekomendasi

Tukang Rekomendasi

Dan akhirnya, dari 10 bintang, untuk warung BAKSO RAWON SETAN gue kasih bintang 5.

Rekomendasi hanya untuk saat dalam keadaan lapar berat. Hindari kalo tujuannya hanya sekedar iseng dan penasaran. Dan kembali lagi, semuanya tentang selera.

About these ads

~ by Imam Ocean on May 25, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: