Film ::: Wanita Tetap Wanita (2013)

God gave women intuition and femininity. Used properly, the combination easily jumbles the brain of any man I’ve ever met.

Farrah Fawcett

Petikan quotes di atas menjadi pembuka dari film “Wanita Tetap Wanita”. Sebuah film keroyokan dari 4 sutradara pria, Irwansyah, Didi Riyadi, Reza Rahadian dan Teuku Wisnu.

IMG-20130912-04329Wanita Tetap Wanita bercerita tentang kekuatan perempuan menghadapi segala konflik yang ada di sekitar kita. Banyak orang menganggap perempuan lemah dan hanya menggantungkan hidup pada Lelaki. Tapi, tidak banyak yang menyadari betapa hebatnya perempuan.

Di atas bahu kecilnya, bahkan perempuan sanggup menanggung beban dunia. Di kedua mata sendunya, perempuan menyimpan jutaan cerita yang ingin dibagi kepada dunia. Di kedua tangannya, dunia akan direngkuh dalam damai penuh cinta dan harapan. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan perempuan, karena perempuan memiliki otak, akal, mata, dan jiwa yang kuat, namun dengan hati yang lembut penuh kasih.

Petikan sinopsis diatas sengaja gue copas dari Wikipedia karena gue tidak mau ribet persoal cerita yang bakal disampaikan di film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini. Mencoba menampilkan penampilan epic dari clan Sungkar. Dan juga orang-orang terdekat mereka. Itu sah-sah saja. Apalagi film ini adalah untuk pertama kalinya seorang Irwansyah yang notabene seorang aktor menjajal kemampuannya di dunia film sebagai seorang Produser. Termasuk Sutradara juga.

Melihat jajaran nama Produser, gue langsung teringat dengan kasus penangkapan Raffi Ahmad di rumahnya terkait “pesta narkoba”. Saat terjadi peggeledahan, Irwansyah dan istrinya, Zaskia gothic ada di situ, bisa jadi kedatangan mereka berdua ke rumah Raffi adalah memang untuk membicarakan film ini. Wow! (analisis gak penting)

Irwansyah, Shireen Sungkar, Zaskia Sungkar, Teuku Wisnu, Mark Sungkar and the eks, dan beberapa sutradara yang merangkap cast, Fahrani, Revalina Temat, Renata Kusmanto, Didi Riyadi dll. Melihat mereka di layar lebar, berasa seperti menonton sinetron yang epic banget.

Apalagi melihat penampilan “absurd”nya Zaskia yang sengaja menjadi poros dari semua plot cerita yang ada. Mendadak warung cupcake-nya yang sangat-sangat instans dan gak butuh waktu lama buat nge-hits menjadi jujukan semua tokoh utama perempuan yang ada di film ini.

Entahlah, ini pinter-pinternya mas Andhy pulung yang ngedit filmnya, atau justru sebenarnya ini adalah satu kesatuan film yang dipecah menjadi 5 plot cerita. Seperti halnya film Berbagi Suami (2006), Dimana 3 sub plot cerita yang berporos di Warung Nasi Goreng-nya om Tio Pakusadewo.

01Ada Kikan (Shireen) yang diajak ngedate oleh Iko (Irwansyah) ke toko cupcakes paling enak sedunia akhirat, Kemudian ada Adith (Renata) yang seorang penulis novel, memilih toko cupcakes Shana (Zaskia) sebagai tempat menulis, tentunya diperbedakan dengan menggunakan dialog, CAPUCHINO…..! dari dialog cast yang lain. Ada lagi Vanya (Fahrani) yang berkepentingan untuk membeli cupcakes karena adiknya, Lola sangat menyukai cupcakes bikinan Zaskia. Dan Nurma (Revalina) yang sengaja membeli hadiah ulang tahun (diduga kadonya adalah cupcakes) untuk putri, anak dari Andy (Teuku Wisnu) atasan kantornya, mantan guru les privat Nurma, yang dia puja-puja. Tentunya si Shana sendiri yang memang berusaha menggeluti dunia cupcakes gara-gara pengen move on dari tragedi ditinggal kabur tunangannya.

Jujur! tak ada dialog ajib di film ini. Hanya kumpulan-kumpulan petuah tentang cinta yang malah mempersulit pemahaman atas cinta itu sendiri.

03Menyesalkan kemampuan akting Fahrani, disini dia didoktrin untuk jadi pemain sinetron. Termasuk juga mbak Dewi Irawan, perannya di film ini sebenarnya bisa diisi oleh siapa saja. Yah begitulah. cerita di film ini menggunakan karakteristik tokoh yang cirinya tidak ada yang “menarik”. Dalam artian, semuanya mempunyai porsi yang biasa. Untuk anak yang Autis pun tidak ada gregetnya. Paling, bagi gue, akting yang mencuri perhatian hanyalah si Ibu Sri, korban KDRT yang menjadi terdakwah pembunuhan. Scene ketika dia bercerita di hadapan Andy dan yang lainnya hanya bengong sambil mencatat kata demi kata yang terucap dari mulut bu Sri.

Di mana ada scene Shireen, di situ gue males nonton. Apalagi pas ada scene, Kikan nanya ke dokter perihal kondisi Ibunya, dengan gestur yang absurd, sang dokter berakting layaknya sedang berakting menjadi dokter yang sedang berakting menjadi dokter (gak usah bingung, memang begitu gue nulisnya).

Intinya menonton film Wanita tetap Wanita ini seperti menonton sebuah Maha Sinetron. Harusnya ada tulisan Tribute to Sinetron Indonesia.

Gue kira mereka sudah belajar dari pendahulunya, Perempuan Punya Cerita (2007), Bagaimana kisah seorang Perempuan bisa bertutur dengan indah. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, hanya saja mengulang sebuah ide (ologi) yang hasilnya malah “payah” menjadi catatan tersendiri bagi produser-produser pemula untuk lebih peka dalam mengangkat cerita.

Bagi gue, film ini sedikit tertolong oleh Soundtracknya, Biarkan Cinta – Maharasyi. Suaranya yang powerfull banget, sangat berpengaruh kuat dalam mengangkat image perempuan yang “kuat dan tangguh”.

Miris ajah apabila ada lagunya The Sister yang lancang berkicau di salah satu adegannya Shana… Kamu..kamu..kamu…lagiiii!!! Hadeh! Coba Shireen dan Fahrani bertukar peran. Mungkin film ini bakal akan menjadi lebih “berwarna”

Dan pada akhirnya, jangan ada lagi film dengan tema sinetron lagi di Indonesia. Biarlah Sinetron tetap pada tempatnya, yaitu TV. Memindahkan sinetron dari media televisi ke layar lebar adalah dosa besar bagi dunia perfilman Indonesia. 

Btw, sepanjang film, gue tidak tergiur sama sekali dengan cupcakes bikinan Shana. Padahal saat gue nonton film Brownies (2004) dan Madre (2013) pengen banget gue nyoba… Kayaknya si Zaskia memang kudu move on (baca: keluar) dari dunia per-akting-an deeh, biar dia belajar bikin kue dulu!!!

Udah ah, ntar gara-gara tulisan ini, mulut gue disumpel sama cupcakes bikinan Shana….

02Buat yang nge-fans sama Teuku Wisnu, ada baiknya sih menonton film ini… He’s look charming! 

Oia, simbolisasi di film ini udah basi… jadi berasa gak ada efek ajah ketika sadar kenapa musti ada adegan Sholat dan Salib. Kayaknya ada simbolisasi yang lebih keren dari itu….

Udah!! udaah ah!!! Selamat menonton bagi yang punya waktu buat nonton! 

Maju terus Perfilman Indonesia!!!

IMG-20130912-04328Sumber: Wikipedia

About these ads

~ by Imam Ocean on September 13, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: