Film ::: Toast (2010)

•October 28, 2013 • Leave a Comment

Toast…

03Sebuah film sederhana yang berkisah tentang passion. Tentang masa kecil. Tentang makna kasih sayang. Tentang segala hal. Di awal film kita akan diberikan sebuah opening tagline, “This film is based on childhood memories. Although inspired by a true story some of the events and characters have been invented or changed for dramatic effect. Jadi sebenarnya film yang bakal gue omongin ini berdasarkan kisah nyata seorang food writer, tentunya dengan dramatisasi demi kebutuhan cerita film itu sendiri.

07Berkisah tentang Nigel (Oscar Kennedy). Bocah melankolis yang lebih suka menyendiri dan selalu berkhayal dengan imajinasinya. Yaitu menjadi pemilik toko kelontong yang menjual aneka makanan kaleng dan juga roti. Kecenderungan Nigel terkadang membuat orang tuanya miris. Namun bagaimana lagi, namanya juga anak-anak.

Suatu ketika, ada tukang kebun cowok yang menarik perhatian Nigel. Josh (Matthew McNulty), nama tukang kebun itu, rupa-rupanya Nigel punya ketertarikan yang baginya entah itu disebut apa. Yang jelas dia menyukai dan mengagumi sosok Josh. Hingga Nigel merasakan bahwa Josh adalah sosok yang paling sempurna baginya. Baik hati dan pengertian. Namun hubungan mereka berdua ternyata terendus oleh Ayah Nigel (Ken Stott). Dengan alasan demi kebaikan Nigel, Sang Ayah memecat Josh dan menggantinya dengan tukang kebun yang lebih tua dan tidak enak diajak untuk berteman.

04Ibu Nigel ( Victoria Hamilton ) tidak begitu mahir membuat aneka masakan dan kue. Sementara hasrat Nigel selalu ingin menggeluti dunia masak-memasak. Sehingga ada hal dari mereka berdua yang terkadang berseberangan. Ditambah lagi Ibu Nigel yang mengidap Asma akut, sehingga ruang geraknya sangat terbatasi. Dan benar-benar harus bisa menjaga diri agar sewaktu-waktu tidak kambuh asma-nya.

Rasa sayang Nigel terhadap ibunya bisa terlihat dari saat keduanya berdansa di sebuah pesta. Memang keduanya saling menyayangi. Hingga suatu ketika, Nigel merasa bahwa suatu saat dia harus membuat masakan bareng dengan Ibunya. Padahal seiring dengan berjalannya waktu, asma Ibu Nigel mulai sering kumat-kumatan. Sehingga sempat membuat Nigel khawatir. Apakah mereka berdua ada waktu bersama untuk membuat kue pie atau yang lainnya.

Hingga sampai lah pada hal yang dikhawatirkan Nigel. Ibunya meninggal dunia. Nigel berusaha untuk bisa menerima itu. Bayangan sosok Ibunya masih saja melekat. Kedekatannya dengan sang Ibu membuat dia sulit untuk melepaskan bayang-bayang orang yang paling dikasihinya. Berbalik dengan ayah nigel yang kaku dan lebih banyak marah.

09Dan live must go on! Ruang kosong yang ada di kehidupan Nigel mendadak diisi oleh tukang bersih-bersih, Nyonya Potter (Helena Bonham Carter). Alasan ayah Nigel mempekerjakan Ny. Potter adalah untuk merawat rumah dan segala isinya. Nigel sangat tidak setuju, seolah-olah Ayah Nigel terlihat begitu melupakan sosok mendiang Ibunya. Begitu cepatnya mencari pengganti. Apalagi atitude Ny. Potter yang begitu genit setiap kali bekerja. Gayanya yang acuh tidak membuat Nigel simpatik. Yang ada malah benci setengah mati. Namun sikap Nigel berubah tatkala Ayah Nigel mengeluarkan ultimatum kepadanya. Menerima keadaan atau keluar dari rumah!

08Saat Nigel tumbuh menjadi ABG (Freddie Highmore), masa-masa itu adalah masa dimana dia mulai dengan masa pencarian jati diri. Pemberontakan demi pemberontakan ala-ala anak muda jaman dulu pun mulai dia tunjukkan. Seperti memilih kelas memasak bikin kue yang notabene tak seorangpun anak cowok yang mau dan sudi mengambil kelas itu. Namun bagi Nigel itu panggilan jiwa. Mempelajari resep dan menunjukkannya kepada sang Ayah. Salah satu tujuannya tak lain adalah untuk menyaingi Ny. Potter yang mahir bikin kue.

Well, film konsumsi televisi ini sangat lambat pace-nya. Gaya-gaya film british. Dan seperti biasa, bagi gue, selalu ada yang menarik di setiap film yang aksent inggrisnya ngegemesin ini.

T-756.jpgSosok Nigel mengingatkan pada gue sendiri yang paling demen sama dunia makanan. Bedanya Nigel lebih suka aneka kue-kue-an sementara gue lebih ke masakan. Memang gue akui, kalo sudah suka, mau diapapun juga gak bakal bisa ditinggalkan. Begitu juga sebaliknya, kalo tidak ada passion, dipaksain juga gak bakalan bisa menyatu dengan jiwa. Hanya bakat dan minat yang bisa mendukung itu semua.

Kembali ke cerita Nigel yang ternyata diadaptasi dari kisah nyata Nigel Slater. Seorang Penulis masakan, jurnalis dan broadcaster. Dikisahkan di film ini Nigel akhirnya bisa mendapatkan kebebasan atas kehidupannya justru setelah dia ditinggal mati Ayahnya. Menemukan jalannya untuk menjawab dari pertanyaan atas passion yang selama ini dia yakini. Bahwa memasak adalah jalannya untuk menuju masa depan yang dia bayangkan sejak kecil. Termasuk ketertarikannya dengan seorang laki-laki.

Nigel Slater

Nigel Slater (sekarang)

Ada sekelumit kisah sukses dari sesosok anak kecil yang berani menyimpan mimpinya hingga dia menjadi dewasa. Tanpa harus mengubur dalam-dalam mimpi tersebut. Karena ketangguhan hati dan kesanggupan jiwa lah yang bisa mengantarkan kita pada mimpi-mimpi yang sudah tersusun rapi! PASSION… DREAM… BELIEVE… IT!!!

Kumpulan Cerpen ::: Untung Dalam Gelap

•October 28, 2013 • Leave a Comment

Akhirnya, buku Untung Dalam Gelap gue jadikan format E-Book. Ada banyak alasan kenapa akhirnya menjadi digital book. Yang jelas, gue hanya tidak ingin mendengar ada alasan orang tidak bisa baca buku ini karena ribet mencari buku (cetak)nya. Sekarang sudah tersedia versi E-Book (pdf) dan bisa di download. GRATIS… download dan sebarkan ke teman-teman…

 

SELAMAT MEMBACA!!!!

Film ::: All You Need is Love (Schwiegertochter ist ein Mann) (2009)

•October 23, 2013 • Leave a Comment

05Pernikahan. Sebuah ritual yang disakralkan sebagai perayaan pertanda bahwa ikatan relasi antar sesama manusia diakui keabsahannya untuk saling berbagi hidup dengan penandatanganan kontrak sertifikat dari badan keagamaan dan pemerintahan secara hukum, yang artinya cinta hanya milik berdua. Sampai maut memisahkan. Atau terpisah karena seuatu sebab.

06Pertanyaannya, pentingkah sebuah pernikahan itu? Bagi Katharina (Saskia Vester) sangat penting dan menjadi kabar yang menggembirakan. Terlebih dia bakal akan punya menantu dan tentu saja bakal cucu. Dua hal yang selalu diidam-idamkan oleh seorang Ibu manapun. Pernikahan juga sebagai penanda bahwa tanggung jawab sebagai orang tua selesai sudah. Walau pada kenyataannya, setelah menikah pun , orang tua masih tidak ada capek-capeknya mengurusi lingkup bahtera hidup anak dan menantunya.

Sebagai wujud kegembiraannya, Katharina menyebarkan berita menggembirakan tentang anaknya Hans (Andreas Helgi Schmid) yang bakal pulang kampung dan merayakan pernikahan sekaligus. Ibu mana sih yang gak seneng mendengar anaknya bakal nikah. Alhasil satu RT pada tahu bahwa sebentar lagi Katharina akan punya besan dan tentu saja menantu cantik.

01Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hans dan Nicki (Manuel Witting) meluncur ke sebuah desa kecil yang menjadi tanah kelahirannya. Sebuah desa yang masih kental dengan kultur budayanya. Kalo diibaratkan di Indonesia, desa di Jerman ini masih menggunakan pakaian tradisional seperti kebaya, kain panjang dan juga blangkon. Entah apa sebutannya untuk pakaian tradisional jerman ini…

Hans berharap agar pernikahannya bisa dirayakan di desa tersebut. Bersama Nicki, Hans pulang kampung menemui Ibunya untuk membicarakan rencana pernikahannya. Masalahnya, apakah Katharina sudah siap? Apalagi dia belum tahu, bahwa Hans adalah Gay…

Dan dari situlah drama dimulai. Katharina yang shock gara-gara melihat Hans membawa pasangannya Nicki yang semula dikira cewek. Betapa terkejutnya hingga tidak bisa berkata-kata. Katharina tidak bisa menerima kondisi itu. Sehingga pengusiran spontan pun terlontar dari bibirnya. Sebagai single mother, Katharina hanya bisa menumpahkan keluh kesahnya kepada si sahabat karib, Rosi (Franziska Traub).

11Masih bertahan dengan impiannya untuk menikah, Nick dan Hans memilih mengambil penginapan tak jauh dari desa itu. Pada awalnya Nicki memilih untuk pasrah dan pulang kembali ke kota di Berlin, mengingat perlakuan Katharina kepadanya. Namun Hans tetap pada tujuannya semula.

Ternyata, kabar burung perihal Hans yang Gay sudah mulai menyeruak ke seantero desa. Akhirnya Katharina seperti kejatuhan pesawat. Telak. Menjadi gunjingan warga, karena anaknya membawa aib keluarga. Ditambah lagi mantan suaminya yang juga ikut-ikutan pusing mendengar kabar tersebut.

08Perjuangan Hans demi mendapatkan izin menikah di desa tersebut rupanya dijegal oleh KUA desa setempat. Ibarat kata, surat pengajuannya ditangguhkan, sebagai kata ganti dari penolakan. Kekecewaan demi kekecewaan telah dialami mereka berdua. Sikap sinis dan tidak bersahabat dari warga setempat membuat Nicki tidak nyaman. Namun Hans masih tetap bertahan…

Hingga sampai pada titik puncak dimana Katharina mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari segala penjuru. Mulai dari lingkungan kerjanya, di sebuah perbankan dimana dia bekerja sebagai teller bank, tak jarang dia mendapat sikap yang sebenarnya “hinaan” dari para nasabah. Dari para jemaat gereja yang tergabung dalam grup choir/paduan suara. Dan tentu saja warga desa setempat.

Sekalipun Katharina ada usaha untuk membuat dan meyakinkan bahwa Hans bisa menjadi lelaki “normal” (baca: heteroseksual) tetap saja, yang namanya seksualitas itu cair. Hanya bisa berubah mengikuti hasrat. Kalau hasratnya tidak mengisyaratkan untuk berubah, ya mau bagaimana lagi. Psikiater sehebat apapun tak akan bisa mengubahnya.

10Sempat Katharina mencari jawaban kepada seorang dokter di desa tersebut, jawabannya juga cukup rasional. Bahwa memang tidak ada yang bisa mengubah kondisi tersebut. Gay adalah bawaan sejak lahir. Hanya saja, sejak kecil mereka belum mempunyai identitas seksual yang mereka pahami. Mereka hanya bisa merasakan bahwa mereka berbeda. Hans berbeda. Hans menyukai guru olah raganya, Pak Brauner. Tidak ada sesiapapun yang memaksakan Hans untuk menyukai guru olah raganya. Hasrat seksual (ketertarikan secara seksual) nya lah yang menstimulasi otak Hans untuk mengagumi sosok yang berjenis kelamin Laki-laki itu.

Hingga suatu ketika, saat Katharina benar-benar kalut dan lelah. Jawaban atas semua yang dia pertanyakan selama ini ada pada sosok yang di sepanjang film tidak pernah Katharina sadari….

Sebuah film yang memuat banyak sekali pelajaran mengenai penerimaan atas identitas seksual seseorang. Bagaimana seorang ibu yang pada awalnya masih menganggap bahwa putra satu-satunya yang selama ini dia sayangi adalah seorang gay yang nyatanya pembawa aib, hingga dia bisa mulai menerima keberadaan dan kondisi putranya apa adanya.

12Tidak salah bila judul dalam film ini, All you need is love. Karena hanya dengan cinta lah kita bisa melihat sekacau dan seburuk apapun perbedaan itu. Dengan cinta, hal yang berlawanan bisa menjadi perbedaan yang indah. Hal yang berhaluan bisa menjadi dua kutub yang saling tarik menarik.

Namun ketika ada garis besar yang muncul di dalam film ini, haruskah ada pernikahan? Toh film ini sendiri memberi alternatif jawaban yang mungkin bisa membuat para LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) bernapas lega. Biarlah pernikahan yang bersertifikat milik para Heteronormatif. Sesungguhnya makna pernikahan sendiri, pada akhirnya hanya menjadi bagian akhir dan pelengkap dari makna sebuah hubungan atau relasi atas pondasi cinta, kasih sayang dan kesetiaan. Tanpa menikah pun sepasang anak manusia bisa hidup bersama selama-lamanya. Sudah ada banyak contoh kasus untuk hal itu.

Ada satu scene dimana saat Katharina berada di dalam sebuah pub yang berisi mayoritas Lesbian. Dia dihampiri salah satu pengunjung pub dan mengajaknya untuk berdansa. Namun Katharina dengan halus menolaknya karena dia merasa tidak seperti perempuan-perempuan yang berada di dalam pub tersebut. Namun dengan santai si pengunjung pub tadi berkata, “ saya tidak menanyakan kamu apa atau siapa, saya hanya bertanya apakah kamu mau berdansa dengan saya…” dan dengan tersipu malu, Katharina menerima ajakan teman barunya itu. Bisa gue ambil kesimpulan, bahwa dialog tersebut dalam sekali maknanya. Bahwa, seorang Gay atau Lesbian yang mengajak seseorang untuk berdansa, makan bersama dan kegiatan yang lain, tidak harus serta merta dikait-kaitkan dengan urusan orientasi seksual. Karena pada kenyataannya, Lesbian dan Gay adalah bentuk-bentuk dari orientasi homoseksual yang setara dengan heteroseksual. Sama-sama pecahan dari keragaman Orientasi seksual.

03Jadi, kalau ada paham yang menyebutkan bahwa gay menular, sama saja seperti membuat stigma sendiri, bahwa heteroseksual juga menular. Malah stigma menular lebih pas digunakan untuk kaum heteroseksual ketimbang homoseksual. Karena diperkuat dengan faktor penerus keturunan. Tentu saja secara biologis, pasangan homoseksual stagnan dalam masalah generasi penerusnya. Kalau kata Ellen DeGeneres, toh yang ngelahirin homoseksual kan heteroseksual, ya salahkan heteroseksualnya dong!!! Just kiddin’!

Bicara soal nikah, kalo gue personal sih, menikah itu penting gak penting. Penting kalo udah menyangkut urusan gono-gini. Gak penting karena gara-gara gono-gini akhirnya pernikahan itu jadi berasa penting. Makanya gue kalo memandang pernikahan hanya mau dari sudut pandang perasaan dan hati. Hati ini sudah siap gak menerima segala konsekuensi dengan apapun yang terjadi nantinya. Jadi, kalo suatu saat dari kalian ada yang mau ngajak gue nikah, tak cukup kalo cuman sekedar modal cinta… you must brave.. brave.. and BRAVE!!!

Well, so far, film All you need is love ini sangat bagus banget ditonton untuk para jomblowers yang ingin menumbuhkan semangat agar tidak gentar mencari pasangan hidup. Bukan berarti semuanya harus dipaksakan untuk berpasangan. Namun apa salahnya menyisipkan setiap apa yang akan kita hadapi di dunia ini dengan satu kata. CINTA… all you need is LOVE!!!!

 

Film ::: Gravity (2013)

•October 9, 2013 • 2 Comments

Gila aja, entah gue musti mulai dari mana…

01You know what? Sehabis gue masang status di BB, yang bilang bahwa film Gravity awesome… mendadak banyak komentar yang rada-rada nyakitin kuping. Padahal gue bukan filmakernya, cuman kenapa bisa sakit ati ya.. well!!!

Ya begitu lah gue. Kadang bisa sakit ati se-ati-atinya bila denger ato baca komentar-komentar yang menyudutkan sebuah film yang menurut gue layak untuk disukai (oleh gue tentunya). Konteks bagus dan tidak bagus (jelek) kayaknya terlalu nista untuk disandangkan ke sebuah film. Bukannya membela, tapi please dong! Lihat kebelakang sebentar, bikin film gak gampang (walo ada juga sih orang-orang yang menggampangkan bikin film). Mereka ini adalah orang-orang yang membuat film dengan passion. Dengan hati. Tentunya juga dengan “uang”.

Huft! Beneran, bikin film itu gak gampang. Banyak step-step yang musti dilalui. Apalagi di bagian “cerita”. Penggodokan naskah yang pastinya diobrak-abrik dengan mempertimbangkan banyak hal. Dari sisi idealis, komersil hingga estetika film itu sendiri. Mungkin itulah, tak jarang di Hollywood sering kali sang sutradara merangkap producer demi mempertahankan keutuhan cerita yang bakal difilmkannya. Selain ngumpulin duit juga sih…

Back to Gravity…

10Sandra Bullock kali ini bukan sebagai polisi yang nyamar jadi peserta miss-missan, dan juga bukan sebagai Ibu-ibu yang tough (yang akhirnya membawa dia pada piala oscar di filmnya, The Blind Side (2009)). Dia adalah medical astronot yang sedang bertugas di satelit luar angkasa. Dengan didampingi Matt Kowalski (George Clooney), Ryan Stone (Sandra Bullock) memperbaiki beberapa komponen satelit yang rusak.

Dan permasalahan timbul saat ada rongsokan satelit lain yang melintas dan menghantam satelit yang sedang diperbaiki Ryan dkk. Tak ayal kehancuran menimpa mereka. Menyeramkan deh pokoknya…

Selesai film, gue hanya bisa geleng-geleng kepala, standing ovation dalam hati… dan memeluk Sandra Bullock, George Clooney serta Alfonso Cuaron. Kemudian berucap, “makasih yaa! Kalian emang the best”. Dan gue membuka mata, iringan scoring credit title ,masih berat untuk ditinggalin begitu saja. Terngiang hingga radius 1 km dari tempat nonton berada.

11Gak nyalahin mereka yang bilang film ini jelek. Cuman dalam hati hanya bisa bilang,”selera film mereka payah!” Sandra Bullock kembali lagi bermain manis di film yang hampir semua settingnya mengambil lokasi angkasa ruang hampa udara. Dengan pemandangan bumi yang terlihat megah, terlihat sekali betapa Sandra Bullock menjadi orang yang paling beruntung dan juga sekaligus tidak beruntung. Beruntung karena bisa menyaksikan indahnya bumi dari luar angkasa, tidak beruntungnya, sewaktu-waktu nyawa-nya bisa menjadi taruhan dalam hidup. Namun sekali lagi, pengalaman Ryan tidak dimiliki oleh sebagian besar seluruh penduduk bumi. Hanya segelintir orang yang punya kesempatan ke luar angkasa seperti Ryan.

Banyak yang bilang film Gravity, film yang membosankan (Indonesian viewers), itu yang sangat bikin gue heran. Bosan dari mananya coba? Sumpah statement itu yang dari sampe sekarang masih bikin gue gak bisa terima. Ujung-ujungnya gue hanya bisa mengelus dada… namanya juga SELERA orang, pastinya beda-beda.

Satu kata untuk film Gravity….. AWESOME ….. (titik)

GRAVITYTak ada opening credit yang muncul, cuman judul film di awal-awal…. dan bla-bla-blaa…. Icon warner bros-nya juga Hieetss!!! terus ada salah satu quote dari Matt Kowalsky – “I know I’m devastatingly good looking but you gotta stop staring at me.”

Ada yang bilang Gravity adalah film astronot yang cuman jalan-jalan di angkasa, ada yang bilang film jelek, ada yang bilang filmnya gak ada greget, ada juga yang bilang filmnya aneh dan masih banyak lagi yang lain. Saat gue tau background mereka yang ngasih koment ternyata… begitu, ya udah, maklum juga akhirnya…

Secara film Gravity bagi gue adalah maha karya, setelah Avatar (2009). Mungkin banyak penonton awam yang tidak sadar, bahwa mulai menit pertama, film diambil dengan teknik long tracking shoot dan bagi gue udah pembuktian kalo film ini amaze banget…

08

05

04

07

02

Ini bukan review sih…. ini semua hanyalah bentuk kekaguman gue atas hasil yang telah dicapai oleh Alfonso Quaron, sang sutradara. FYI, film ini sangat bermanfaat banget bagi gue yang suka dengan tema luar angkasa, tapi phobia terhadap ketinggian… lumayan horror bagi gue…. but actually i love it…

Thanks and Goodluck!

IMG-20131008-04448

Film ::: Insidious Chapter 2 (2013)

•September 26, 2013 • 2 Comments

Jeda gue nonton Film arahan James Wan bisa dibilang gak jauh-jauh amat. Terakhir gue nonton The Conjuring (2013) menjelang lebaran kemaren dan semalam gue nonton Insidious: Chapter 2. Well, gue pikir coraknya bakal sama, ternyata walopun ada “sedikit” kesamaan, tetapi pada intinya sangat beda jauh. Jadi akhirnya gue bisa bernapas lega. Semakin gue cinta dengan sutradara keturunan Malaysia ini.

Chapter 2. Otomatis ada Chapter pertama. Dan kebetulan dan memang kesengajaan, gue udah ngikutin Insidious dari yang pertama. Awal dari munculnya teror hantu “perempuan” berkerudung hitam. dari segi penceritaan, gue pikir awalnya ini film sama dengan film-film horor yang lain. Ternyata beda. menggunakan konsep perjalanan “astral” yang mampu menggiring gue untuk bisa berpikir logis dan membenarkan apa yang ada dalam cerita di film tersebut. Pengalaman melakukan perjalanan “astral” terkadang sering gue alami. Walo masih dalam tahap “uncontrol”. Gue masih belum mampu dengan kesengajaan untuk melakukan “perjalanan” tersebut. Biasanya hanya faktor unpredictable.

07Kembali ke Insidious, Melanjutkan dari kisah pertama, Di mana keluarga Lambert akhirnya pindah dari rumah yang lama untuk melanjutkan babak kehidupan yang baru. Selang beberapa hari setelah kematian Elise Rainier (Liz Shaye), cenayang yang berusaha membantu keluarga Lambert untuk melakukan pertolongan kepada Dalton (Ty Simpkins), yang terjebak di dunia astral. Dari kemampuannya, dia menjembatani Josh Lambert (Patrick Wilson), untuk mencari Dalton. Dan di ending film, diperlihatkan Josh berhasil membawa Dalton kembali ke dimensi yang semestinya. Namun apa yang terjadi dengan Josh? disinilah benang merah itu akhirnya yang menjadi tautan antara Insidious pertama dengan yang kedua.

05Renai Lambert (Rose Byrne) masih terguncang. peristiwa demi peristiwa beruntun menimpanya. Apalagi kejadian yang dia alami juga berhubungan dengan kematian seseorang, yaitu Elise. Tak ayal melibatkan pihak kepolisian. Hanya saja, konflik cliche yang terjadi, polisi tak kan pernah percaya dengan alasan bahwa yang membunuh Elise adalah Spirit. Terlepas dari bukti-bukti polisi yang masih menuduhkan bahwa tersangka dari terbunuhnya Elise adalah Josh Lambert.

Dan benar saja, Teror hantu gentayangan pun berlanjut. Jadi sudah jelas, bahwa bukan faktor rumah yang berhantu, tetapi memang ada jiwa-jiwa tersesat yang “mengikuti” kemanapun keluarga Lambert berada.

Pergerakan-pergerakan benda-benda. Bunyi-bunyian hingga penampakan mulai menjadikan Renai  resah. Galau dan depresi. Hingga sampai dia mendapat gangguan fatalistik yang “ditampar” hantu perempuan berbaju putih.

08Melanjutkan dari seri yang pertama, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) masih setia mencari teka-teki dalam misteri yang mereka hadapi. Dengan kekonyolan ala-ala warkop, mereka pun akhirnya kembali membantu keluarga Lambert setelah Lorraine Lambert, Ibu dari Josh meminta bantuan, karena kasus yang menimpa keluarganya masih ada hubungan dengan Elise.

Bisa di bilang, standar horor buatan James Wan menyamai M. Night Shyamalan (dulu). Namun dia muncul dengan membawa genre horor yang lebih eksplisit. Lebih sering menggunakan faktor psikologi manusia sebagai sumber ketakutan terbesar (ngomong apaan sih gue, berasa kritikus handal).

Ketika credit title muncul, mengingatkan gue sama film-film horor jadul semacam OMEN. instrument biola dengan gesekan string nada tinggi yang memekakkan telinga. Iringan musik “serem” ini juga yang menghiasi sepanjang film Conjuring tempo lalu. Ya, kayaknya James Wan ingin membawa suasana “lawas” ke gaya film horrornya.

Well, ansamble cast yang lagi-lagi patut gue acungin jempol. Gak ada yang jelek. semuanya pas. Ekspresi Rose byrne di film ini sangat patut dikasihani. Menjadi Istri yang bimbang, galau dan depresi. Faktor keibuan yang sangat kental.

Lepas dari semua faktor yang ada di film ini.

Gue sangat suka dengan penambahan plot cerita yang menyuguhkan adanya, subtema bahwa Gak semua orang tua itu bener. suatu ketika diceritakan bahwa, asal muasal hantu yang menjadi sentral di film ini adalah berkisah tentang anak kecil yang bernama Parker Crane. Hadirnya dia di dunia dipermasalahkan oleh ibunya sendiri. Ternyata dari awal, sang ibu sangat ingin mempunyai anak perempuan. Sementara Parker Crane sendiri merasa bahwa dirinya adalah anak cowok. Ya seharusnya memang tidak bisa dipaksakan, bahwa jender seseorang itu harus berdasarkan rasa kenyamanan dan siapa yang menjalaninya.

Saking pinginnya punya anak cewek, Ibunya Parker memaksa Parker mengenakan rok dan menggunakan wig. dan segala hal yang sesuai dengan keinginannya. Termasuk mengganti nama Parker dengan nama yang dikehendaki Ibunya (gue lupa namanya). Dan tak ayal kekerasan fisik pun dilampiaskan Ibu Parker bila Parker menolaknya. Dan dari situlah Drama horor berkisah. Sehingga kaitan dendam kesumat yang menimpa masa lalunya dengan intimidasi dari seorang ibu menjadikan Parker Crane seorang psikopat yang sadis.

Well, dari sini gue bisa menarik garis lurus, bahwa memang benar saja, sesuatu hal yang sifatnya dipaksakan, hasil akhirnya pasti tidak akan pernah “sempurna”. Ketika Parker Crane dipaksa menjadi seorang cewek, dalam hatinya sangat menolak keras, namun demi keselamatan diri dia menuruti keinginan ibunya. Namun apa yang terjadi, bukannya menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan, malah yang terjadi adalah horor.

Sekarang coba bayangkan, semisal Parker Crane adalah terlahir dengan kondisi biologis seorang cewek. namun dalam segi orientasi seksualnya, dia merasa punya ketertarikan dengan “female”. Kondisinya pasti akan sama dengan apa yang dialami Parker Crane dalam film ini. Seksualitas apapun itu bentuknya tidak bisa dipaksakan. Karena yang bisa merasakan siapakah diri kita yang sebenarnya ini adalah kita sendiri. Bukan orang lain. Bukan dokter. Bukan profesor. Mereka hanya punya hak untuk mengukuhkan saja. Tell the truth bahwa identitas atas kelamin, jender, seksualitas adalah hak individu yang harus dihormati dan dihargai. Bukan diinjak-injak, karena mentang-mentang sebagai orang tua, sebagai orang yang merasa benar dan sebagai orang yang merasa mendapat pencerahan dari Tuhan yang belum tentu (benar).

Kembali ke Chapter 2, Akhirnya ada pesan moral yang gue tangkep di film ini, entah itu sengaja memang diungkap di film ini, atau memang mereka membuyarkan isu yang sebenarnya “penting” dan sedang maraknya di belahan dunia manapun.

Jujur, gue sangat berterima kasih banget sama James Wan karena sudah bersusah payah membuat film horor ini menjadi begitu penuh warna. Kabarnya akan ada lagi sequelnya. Chapter 3. Entah kapan, kita tunggu saja. Apakah masih bisa menyamai kesuksesan film yang pertama dan keduanya.

Banyak yang bilang, Insidious: Chapter 2 gak serem. Karena ada komedinya. Bagi gue sih, justru inilah hebatnya James Wan. Gue yakin, kalo di film ini tidak ada komedinya, orang-orang pasti akan dengan tegas menghujat dia… MENGAPA MEMBIKIN FILM CONJURING DUA KALI??? Jadi bagi gue, itulah alasan kenapa ada unsur komedi di film horror ini!

Gue bisa ngasih 4 bintang diantara 5 bintang. I love the twist!!!

Selamat menonton….!!!! (Jangan menonton sendirian)

Film ::: Wanita Tetap Wanita (2013)

•September 13, 2013 • Leave a Comment

God gave women intuition and femininity. Used properly, the combination easily jumbles the brain of any man I’ve ever met.

Farrah Fawcett

Petikan quotes di atas menjadi pembuka dari film “Wanita Tetap Wanita”. Sebuah film keroyokan dari 4 sutradara pria, Irwansyah, Didi Riyadi, Reza Rahadian dan Teuku Wisnu.

IMG-20130912-04329Wanita Tetap Wanita bercerita tentang kekuatan perempuan menghadapi segala konflik yang ada di sekitar kita. Banyak orang menganggap perempuan lemah dan hanya menggantungkan hidup pada Lelaki. Tapi, tidak banyak yang menyadari betapa hebatnya perempuan.

Di atas bahu kecilnya, bahkan perempuan sanggup menanggung beban dunia. Di kedua mata sendunya, perempuan menyimpan jutaan cerita yang ingin dibagi kepada dunia. Di kedua tangannya, dunia akan direngkuh dalam damai penuh cinta dan harapan. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan perempuan, karena perempuan memiliki otak, akal, mata, dan jiwa yang kuat, namun dengan hati yang lembut penuh kasih.

Petikan sinopsis diatas sengaja gue copas dari Wikipedia karena gue tidak mau ribet persoal cerita yang bakal disampaikan di film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini. Mencoba menampilkan penampilan epic dari clan Sungkar. Dan juga orang-orang terdekat mereka. Itu sah-sah saja. Apalagi film ini adalah untuk pertama kalinya seorang Irwansyah yang notabene seorang aktor menjajal kemampuannya di dunia film sebagai seorang Produser. Termasuk Sutradara juga.

Melihat jajaran nama Produser, gue langsung teringat dengan kasus penangkapan Raffi Ahmad di rumahnya terkait “pesta narkoba”. Saat terjadi peggeledahan, Irwansyah dan istrinya, Zaskia gothic ada di situ, bisa jadi kedatangan mereka berdua ke rumah Raffi adalah memang untuk membicarakan film ini. Wow! (analisis gak penting)

Irwansyah, Shireen Sungkar, Zaskia Sungkar, Teuku Wisnu, Mark Sungkar and the eks, dan beberapa sutradara yang merangkap cast, Fahrani, Revalina Temat, Renata Kusmanto, Didi Riyadi dll. Melihat mereka di layar lebar, berasa seperti menonton sinetron yang epic banget.

Apalagi melihat penampilan “absurd”nya Zaskia yang sengaja menjadi poros dari semua plot cerita yang ada. Mendadak warung cupcake-nya yang sangat-sangat instans dan gak butuh waktu lama buat nge-hits menjadi jujukan semua tokoh utama perempuan yang ada di film ini.

Entahlah, ini pinter-pinternya mas Andhy pulung yang ngedit filmnya, atau justru sebenarnya ini adalah satu kesatuan film yang dipecah menjadi 5 plot cerita. Seperti halnya film Berbagi Suami (2006), Dimana 3 sub plot cerita yang berporos di Warung Nasi Goreng-nya om Tio Pakusadewo.

01Ada Kikan (Shireen) yang diajak ngedate oleh Iko (Irwansyah) ke toko cupcakes paling enak sedunia akhirat, Kemudian ada Adith (Renata) yang seorang penulis novel, memilih toko cupcakes Shana (Zaskia) sebagai tempat menulis, tentunya diperbedakan dengan menggunakan dialog, CAPUCHINO…..! dari dialog cast yang lain. Ada lagi Vanya (Fahrani) yang berkepentingan untuk membeli cupcakes karena adiknya, Lola sangat menyukai cupcakes bikinan Zaskia. Dan Nurma (Revalina) yang sengaja membeli hadiah ulang tahun (diduga kadonya adalah cupcakes) untuk putri, anak dari Andy (Teuku Wisnu) atasan kantornya, mantan guru les privat Nurma, yang dia puja-puja. Tentunya si Shana sendiri yang memang berusaha menggeluti dunia cupcakes gara-gara pengen move on dari tragedi ditinggal kabur tunangannya.

Jujur! tak ada dialog ajib di film ini. Hanya kumpulan-kumpulan petuah tentang cinta yang malah mempersulit pemahaman atas cinta itu sendiri.

03Menyesalkan kemampuan akting Fahrani, disini dia didoktrin untuk jadi pemain sinetron. Termasuk juga mbak Dewi Irawan, perannya di film ini sebenarnya bisa diisi oleh siapa saja. Yah begitulah. cerita di film ini menggunakan karakteristik tokoh yang cirinya tidak ada yang “menarik”. Dalam artian, semuanya mempunyai porsi yang biasa. Untuk anak yang Autis pun tidak ada gregetnya. Paling, bagi gue, akting yang mencuri perhatian hanyalah si Ibu Sri, korban KDRT yang menjadi terdakwah pembunuhan. Scene ketika dia bercerita di hadapan Andy dan yang lainnya hanya bengong sambil mencatat kata demi kata yang terucap dari mulut bu Sri.

Di mana ada scene Shireen, di situ gue males nonton. Apalagi pas ada scene, Kikan nanya ke dokter perihal kondisi Ibunya, dengan gestur yang absurd, sang dokter berakting layaknya sedang berakting menjadi dokter yang sedang berakting menjadi dokter (gak usah bingung, memang begitu gue nulisnya).

Intinya menonton film Wanita tetap Wanita ini seperti menonton sebuah Maha Sinetron. Harusnya ada tulisan Tribute to Sinetron Indonesia.

Gue kira mereka sudah belajar dari pendahulunya, Perempuan Punya Cerita (2007), Bagaimana kisah seorang Perempuan bisa bertutur dengan indah. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, hanya saja mengulang sebuah ide (ologi) yang hasilnya malah “payah” menjadi catatan tersendiri bagi produser-produser pemula untuk lebih peka dalam mengangkat cerita.

Bagi gue, film ini sedikit tertolong oleh Soundtracknya, Biarkan Cinta – Maharasyi. Suaranya yang powerfull banget, sangat berpengaruh kuat dalam mengangkat image perempuan yang “kuat dan tangguh”.

Miris ajah apabila ada lagunya The Sister yang lancang berkicau di salah satu adegannya Shana… Kamu..kamu..kamu…lagiiii!!! Hadeh! Coba Shireen dan Fahrani bertukar peran. Mungkin film ini bakal akan menjadi lebih “berwarna”

Dan pada akhirnya, jangan ada lagi film dengan tema sinetron lagi di Indonesia. Biarlah Sinetron tetap pada tempatnya, yaitu TV. Memindahkan sinetron dari media televisi ke layar lebar adalah dosa besar bagi dunia perfilman Indonesia. 

Btw, sepanjang film, gue tidak tergiur sama sekali dengan cupcakes bikinan Shana. Padahal saat gue nonton film Brownies (2004) dan Madre (2013) pengen banget gue nyoba… Kayaknya si Zaskia memang kudu move on (baca: keluar) dari dunia per-akting-an deeh, biar dia belajar bikin kue dulu!!!

Udah ah, ntar gara-gara tulisan ini, mulut gue disumpel sama cupcakes bikinan Shana….

02Buat yang nge-fans sama Teuku Wisnu, ada baiknya sih menonton film ini… He’s look charming! 

Oia, simbolisasi di film ini udah basi… jadi berasa gak ada efek ajah ketika sadar kenapa musti ada adegan Sholat dan Salib. Kayaknya ada simbolisasi yang lebih keren dari itu….

Udah!! udaah ah!!! Selamat menonton bagi yang punya waktu buat nonton! 

Maju terus Perfilman Indonesia!!!

IMG-20130912-04328Sumber: Wikipedia

Film ::: Bear Cub/Cachorro (2004)

•August 28, 2013 • Leave a Comment

05Sampai saat ini, gue masih belum nemu, titik benar salah itu letak perbedaannya dimana. Keduanya terkadang bertukar posisi. Benar jadi salah, salah jadi benar. Pada akhirnya kembali pada porsi yang biasanya disebut “relatif.”

Begitu halnya para homoseksual yang terkadang berada di posisi minoritas yang terpaksa terlihat salah di kalangan heteroseksual—selaku golongan mayoritas. Sehingga dari kondisi tersebut, secara stigma disimpulkan yang paling banyak secara kuantitas, itulah yang paling benar. Dan bisa jadi kalau menggunakan pola perumusan seperti itu, maka posisi homoseksual pada nyatanya akan menjadi “benar” bila dalam lingkup kecil, suatu kelompok kecil yang terdiri dari hampir mayoritas homoseksual dengan heteroseksual yang minor. Jadi penilaian benar salah berdasarkan kuantitas mayor-minor seharusnya tidak layak lagi untuk digunakan.

Begitu pula dengan yang terjadi di film Cachorro (Bear Cub). Sebuah film drama yang menampilkan sosok homoseksual (gay) sebagai tokoh sentralnya. Apapun akan terlihat benar. Karena gue tidak melihat adanya mayoritas dan minoritas di film ini. Malah kalau tidak mau diperdebatkan, sejujurnya film ini lebih bermain pada salah satu jenis sex role gay type yang biasa disebut “golongan BEAR/HAIRY”

Kenapa disebut Bear? Ya semua gay tau, spesifikasi berbadan gempal. Lebih dari porsi tubuh yang “biasanya” (nih, dari sinilah akibatnya pengkondisian orang yang berbadan besar menjadi suatu “kesalahan” karena yang benar adalah mereka yang berpostur tidak besar dalam jumlah yang lebih dari standar, sehingga kondisi yang paling ideal untuk ukuran manusia adalah TIDAK GEMUK).

Dan ternyata, dari semua jenis pengkategorian, mulai dari yang Bear, ada pula kategori Skinny, Slim (kurus). Pada akhirnya ini mulai jatuh-jatuhnya ke urusan kesukaan. Ada yang suka gara-gara gemuknya, gara-gara bulunya, gara-gara kurusnya, bahkan ada pula sampai diluar bentuk tubuh, semisal kesukaan karena berseragam, karena memakai kostum kulit atau lateks/vinteks, bahkan kesukaan karena suka di “siksa” (sadomasochism).

Well, Cachorro lebih fokus ke Bear. Seorang dokter yang sudah coming out ke saudara dan orang-orang yang dikenalnya. Salah satunya, kepada keponakan dia, Bernardo (David Castillo). Tinggal seorang diri di sebuah apartemen sudah biasa bagi seorang Pedro (Jose Luis Garcia-Perez). Tterlebih dia memiliki banyak teman. Termasuk fuck body. Ideologi yang dibawa Pedro, tidak ada pasangan sejati. Saling memiliki akan menjadi sangat bumerang bagi kehidupannya. Itu yang selama ini dia pelajari dari pengalamannya.

02Dan suatu ketika, kakak perempuannya, Violeta (Elvira Lindo) datang bersama anaknya Bernardo. Dia bermaksud untuk menitipkan Bernardo ke Pedro. Awalnya Pedro keberatan, terlepas dengan ke-gay-annya. Pedro menghawatirkan teman-teman pedro yang punya kebiasaan main ke apartemennya dengan kebiasaan yang macam-macam.

Namun Violeta tidak peduli. Secara, Bernardo sudah dicekoki dengan pemahaman gay. Bahkan menurut pengakuan Violeta, dia malah berharap agar Bernardo menjadi seorang Gay. Violeta merasa, bahwa naluri-nya sebagai seorang ibu merasa yakin, bahwa anaknya, bernardo akan menjadi gay yang manis seperti pamannya.

Violeta bermaksud ke India dengan kekasih barunya. Ada impian yang harus dicapai. Dia berjanji, secepatnya akan menemui anak dan adiknya kembali.

Ternyata, setelah keberangkatan Violeta ke India, Ibu mertua Violeta, Teresa berkeinginan untuk mengambil hak asuh Bernardo. Dia merasa, bahwa dia punya hak untuk merawat Bernardo. Dia melihat bahwa Violeta telah menyia-nyiakan keberadaan Bernardo, hingga dititipkan ke pamannya, Pedro.

Bear Cub (Cachorro)Namun kasih sayang Pedro kepada kakaknya tidak membuat hatinya luluh pada kemauan Teresa. Sehingga sikap Pedro membuat Teresa merasa kesulitan untuk merebut Bernardo. Dan alhasil, berbagai cara dilakukan Teresa untuk mendapatkan hak asuh Bernardo.

Well, konflik pada film ini akhirnya punya sub plot yang masing-masing saling berkaitan. Mulai dari konflik Pedro dengan bernardo, Pedro dengan Teresa, Pedro dengan asmaranya, Pedro dengan HIV-nya dan Pedro dengan kebahagiaannya.

Sebuah ide cerita yang mungkin diambil dari model kehidupan seorang bear sukses dan ternyata dibalik kesuksesannya sebagai dokter, ternyata mempunyai masalah pelik. Seperti kenyataan, apa jadinya ketika seorang dokter ternyata mengidap HIV. Walau bukan sesuatu hal yang menakutkan bagi Pedro (secara Pedro sudah sadar dan paham betul bagaimana memperlakukan HIV).

04Menjadi bagian dari komunitas Bear. Persahabatan yang kental memang bisa ditemukan di pertemanan para gay, dimanapun. Tidak hanya di spanyol. Di manapun. Disinilah sebenernya makna sebuah keluarga yang sebenarnya. Karena semua pada nasib dan kondisi yang sama.

Terkadang, setiap manusia memang butuh saat-saat untuk menjadi terpuruk. Karena itu supaya manusia bisa merasakan bagaimana rasanya bangkit dari keterpurukan itu sendiri.

01Secara garis besar, film ini sangat begitu kuat dalam penceritaannya. Penokohan yang mendalam dari masing-masing karakter, menjadikan film ini sangat mengena. Terkadang tanpa disadari, ketika nonton film ini pada salah satu scene seakan akan berucap, “ini gue banget!”

Penulis ceritanya tahu betul seluk beluk kehidupan gay. Walau dalam pengertiannya, tidak dimaksudkan untuk merusak citra gay itu sendiri. Hanya saja, gay terlihat seperti demikian (di dalam filmnya) ya karena akibat dari sebab. Masih tidak bisa diterimanya keberadaan gay di lingkungan sekitar.

Adanya pengkotak-kotakan ruang, yang akhirnya para gay menciptakan ruang kotak sendiri. Itulah kesan yang akhirnya malah jadi salah kaprah, seolah-olah gay punya kelas sendiri. Padahal kenyataannya, gay dan manusia lainnya sama-sama sederajat. Tidak ada perbedaan. Ini semua hanya masalah orientasi seksual yang “memang” tidak bisa dipaksakan sama. Tuhan juga tahu itu!

06Akhirnya ada satu kesimpulan. Apapun orientasinya, yang salah adalah bagaimana kita melihat dunia dari satu sisi saja. Ada 7 miliar pasang mata yang semuanya punya sudut pandang hidup yang berbeda. Ingat itu! Kita tidak sendiri hidup di dunia!!!

 

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.