Film ::: Guardians of The Galaxy vol 2

•January 16, 2018 • Leave a Comment

Produk Marvel adalah sangat tidak mungkin untuk gue lewati. Film apapun itu. Mungkin ada sebagian orang yang bilang film superhero adalah tema film buat anak-anak… well itu salah besar. Justru kalo menurut gue, film dengan sekelas Guardians of The Galaxy pun bukan pula hanya untuk anak-anak… pendapat itu menjadi salah besar. Tema superhero adalah tema film yang bisa dinikmati oleh sesiapapun. Malahan jangan salah, Deadpool adalah film tema superhero yang justru tidak dianjurkan untuk ditonton oleh anak-anak. So… masih menganggap film superhero adalah hanya untuk anak-anak?

Well, ga ada salahnya di gue, kalo gue nonton film Guardians of athe Galaxy sendirian. Setelah kisah kasih yang kemaren (baca tulisan Fate of the Furious 8) kandas gegara perpelontoan yang tidak sehat. Jadi ga ada lagi romansa indah yang menghiasi petualangan nonton gue bersama orang terkasih. Menonton sendiri pun tak kalah romantis dibanding bersama pacar atau kekasih (yang ini emang maksa sih).

Guardians of The Galaxy bukan film yang bagus tapi juga bukan film yang jelek. Gue mungkin mengkategorikannha sebagai film yang cukup entertaining. Menghibur dari beberapa sisi. Pertama, gue suka film yang mengandung unsur luar angkasa. Yang kedua gue nge-fans si prattprattpratt dan yang ketiga gue udah nonton GoTG yang vol 1, jadi sepertinya akan sayang kalo gue lewatkan begitu saja. So far, disini, mas Pratt tampil seperti biasanya. Ada beberapa nuansa kocak yang kocaknya ga sekocak yang pertama. Palingan scene Marry Poppins yang bikin gue ngakak…. selebihnya, semuanya… dubidubidam….

Mendambakan Pratt bisa lebih berkembang lagi kualitas aktingnya. Ahay… kayaknya gak bisa panjang deh menceritakan apa yang perlu diceritakan di seri GoTG vol 2 ini. Masih ada bayangan mantan yang sempat jadian hanya 2 hari saja kemudian pisahan ( baik-baik).

Mungkin besok-besok bisa lebih panjang dan lama. Tanpa besar tanpa berurat! Hahahaaa

Rating: 2.5 dari 5 bintang

Guardians of The Galaxy vol 2 | 2h 16minutes | James Gunn

Advertisements

Film ::: Grown Ups (2010) | Grown Ups 2 (2013)

•January 15, 2018 • Leave a Comment

Grown Ups (2010) | Grown Ups 2 (2013)
1 h 42 minutes | 1 h 41 minutes
Dennis Dugan

Totally sexist film…. Bullying film….. Dari otak Adam Sandler yang kayaknya berisi kelucuan slapstik yang dikelola dalam sebuah skenario payah. Berisi eksploitasi tubuh perempuan. Gaya Hollywood yang sampai sekarang dimitoskan selalu menghasilkan pundi-pundi uang yang lumayan.

Emang sih, di amrik sono, filem bergenre comedy selalu mendapat tempat di hati penggemarnya. Termasuk filem filem action yang notabene menjual nama sang pemain atau sang sutradara. Lain amrik, lain negara sini. Horror dan action lebih menjual ketimbang genre comedy. Mungkin bangsa sini sudah terlalu lelah untuk mentertawai hidupnya yang cenderung absurd tanpa bunga-bunga.

Filem yang dibintangi juga oleh Chris Rock, Kevin James, David Spade dan Rob Schneider mengambil tema persahabatan kekal.
Dari kecil mereka terbentuk menjadi sebuah team basket di sekolah, hingga menjuarai kompetisi. Dan nama team mereka pun melegenda hingga usia mereka menginjak era digital terkini.

Dan akhirnya dimunculkan konflik dengan ke-khas-an Adam Sandler. Teori-teori yang berhubungan dengan bagaimana meng-capture bodi perempuan, sehingga kesan perempuan sebagai object sangat begitu kental.

Sehingga dampak yang muncul adalah, cowok yang gak ngiler kalo ngeliat cewek seksi pasti “bukan” cowok. Cowok yang gak “ngaceng” kalo liat cewek berbikini pasti “doyan” cowok!! Stereotype banget!

Padahal jauh sebelum ada film ini, Adam Sandler cukup sukses membintangi 50 First Dates.

Namun entahlah, bagi gue, film ini kehilangan daya tarik. Sangat tidak begitu personal. Sangat sangat Hollywood….

Bagaimana lagi, Adam Sandler sudah terlanjur menjadi icon comedy bagi para pecinta genre penghasil gelak tawa ini, khususnya warga Amrik.

Jujur, gue suka karakter Roxanne yang dimainkan Salma Hayek… Rasanya bodi gue pun sepantaran…. Gak usah protes!!!!

Semoga gak ada sekuel nya lagi… Plisss!!!!

Film ::: Justice League (2017)

•November 23, 2017 • 1 Comment

justice_league_ver9_xlg

Di saat lagi galau-galaunya dengan kerjaan yang gak ada ujungnya, secara gue ada kerjaan handle admin sosmed suatu Festival Film, jadi selalu dikondisikan ready everywhere everytime. Tersudah berlarut juga dari masa ke masa kalau label Single masih nempel gak mau copot. Salah gue apa coba ya? atau jangan-jangan gue udah gak bisa lagi bedain menjadi single itu kutukan atau prinsip…

ngomongin single jadi homok tulen, lha dilalah inget kemaren pas nonton Justice league… gue berasa Bruce Wayne. Sayangnya, secara nasib, gue gak sekaya dia dan gak se-juara dia. Sudah dalam keadaan satu paket komplit. Toh juga akhirnya nyadar, mending jadi diri sendiri ajah. Capek kalo niruin orang mulu. Gue juga gak mau nyesel di kemudian hari gegara keseringan copy-paste orang lain. Kalo hanya mengidolakan, lain soal kali yaa…

Justice League

Akan sangat pedih bila menonton film ini sendirian di bioskop, alhasil dapat temen nonton dari Fesbuk. Ya lumayan buat menutupi kesendirian yang sangat teramat nyata. Dia berstatus magang di salah satu portal media yang cukup progresif di jamannya, membuat gue gak ragu. Secara sebelum dia bergabung di apalah-apalah(dot)co itu, Dia pernah menjadi kontributor untuk tulisan di portal yang gue kelola. Namanya hidup, roda perputaran bumi memang selalu bisa ditebak. Dan hari itu adalah moment bagi dia untuk unjuk kebolehan menjadi manusia super yang baik yang rela menemani. kayaknya kita emang sama-sama butuh temen sih. Gak ada yang dirugikan dalam hal ini.

justice_league_ver21_xlgMenyadari bahwa ada serangan dari alien yang berusaha untuk menguasai bumi, Batman mulai ketar-ketir, jangan-jangan serangan alien itu tidak pandang waktu dan tempat. Pelan-pelan tapi pasti, terror itu sudah digaungkan dengan indah. Tidak butuh waktu berlama-lama, Batman menghubungi Diana Prince, Sang Wonder Woman untuk bergabung dalam menghalau sang pengacau.

Satu-satu dari mereka yang dikategorikan MetaHuman bermunculan untuk menghadapi alien. Atas andil dari Batman juga mereka bertemu. Sebut saja, Wonder Woman, Flash, Cyborg dan Aquaman. di moment-moment ini lah gue merinding. Tokoh – tokoh yang dulu hanya bisa diandalkan lewat imaji kini bisa tergambarkan jelas kayak gimana para superhero itu..

justice_league_ver29_xlg

Dari dulu gue juga membebani otak untuk selalu nafsu bila melihat Superman. Jatuhnya sih gue gak mau menahan rasa yang muncul begitu saja. Di babak pertama, Gue menang banyak. banyak sekali quota livestory yang memadai. kembalinya Ben Affleck yang sempat menjadi Daredevil di Marvel universe, pun semakin menyemarakkan parada lelaki gagah berbungkus “lateks manjhaa”. (pengecualian buat yang Cyborg)

justiceleague-steppenwolf-missile

Rasa bersalah Batman atas Kematian Superman tempo hari itu, ingin ditebusnya dengan bersatu padu bersama Hero yang lain agar misi alien gagal. dengan batuan kawan-kawan barunya, Batman berjuang matian-matian. Memberangus Steppenwolf menjadi sulit dan gak gampang justru di saat mereka goyah dengan mudahnya.

Secara cerita, gue sangat suka. tanpa banget. Dalam konteks ini, gue gak bisa membenci apa yang menjadi alasan gue buat membenci. ya karena ngapain juga benci kalo gak ada yang dibenci… LoL… Yang pasti gue sudah siap mental apabila, Jakarta diserang alien dan gue bisa mengabari siapa aja yang masih terbang di langit.

Jangan sedih, kali ini gue mengubah pola nonton gue. kalau dulu asal nonton aja, kini lebih selektif dan gak mau kecewa. Bioskop 21 Gandaria City IMAX pun bisa jadi andalan selama hampir 3 (tiga) film terakhir yg gue tonton. Dan FYI, imbas dari semua itu, gue terpaksa puasa. Puasa untuk mengurangi jatah makan. ini pun juga seminder-minder-nya lihat perut Ben Affleck dan Henry Canvil. Gak ada salah juga sih kini punya role mode. Bukan berarti Marvel’s Hero gak ada yang bener, cuman secara kalau disuruh milih mana yang lebih mengena di gue, Gue lebih sreg dan cocok bila dipasangkan sama babang DC. Tapi pas liat Aquaman dengan gaya Anjay-nya mendadak mimisan se-anjing-anjing. Itu orang nyebelin banget gaharnya. Apalagi porsi dialognya yang bangsat bedebah… langsung klepek-klepek tak berdaya. Ugal-ugalan, semoga James Wan menjadikan sosok Mermaid ini jadi pribadi yang mengundang birahi.

Justice-League-Movie-Still-1

Kemudian berhenti sejenak, Ini film action superhero atau film bokep? Eiii ada kali film bokep parodian. Jadi jangan sedih. Etapi, kalo JL ini mah gak perlu naked udah bikin kluget-kluget.

Jelasnya, kalo suka komik superhero, nonton JL udah pasti bahagia dunia semesta. Setidaknya dalam waktu 2 jam-an, kita diajak berpetualang menjadi saksi ketangguhan orang-orang istimewa yang bisa membuat perubahan. Terkadang kita butuh orang baik yang lebih dari sekedar mother Theresa. Kemudian mendamba yang muscle-muscle gahar gitu lah…

terus ada yang nanya, mana inti dari semua review film ini? GAK ADA. gue capek detail. mending kayak gini ajah lah. Sekalian curcol dikit-dikit, biar ada kenang-kenangan kisah gue walau seuplik.

Rating: 3,5/5

Film ::: Beyond Skyline (2017)

•November 14, 2017 • Leave a Comment

Sebenernya, terlalu lama sendiri pun sepertinya bisa mempengaruhi cara otak untuk berpikir. Mana film kece, mana film berbobot, mana film ecek-ecek. Dan kayaknya semalam adalah efek dari rasa berkesendirian yang berkepanjangan gue sebagai manusia sosial yang gagal untuk bersosialisasi dengan sesama jenis pun dengan lawan jenis (bisa jadi).

Selain alasan Iko Uwais, tak ada alasan surga lainnya yang menggiring malam-malam gue untuk singgah di bioskop menghindari pulang malam yang terlalu sore. Di kosan hanya ada cemilan makaroni bumbu balado kering dengan pilihan menonton film seri Sense 8 session pertama. Tak pelak, Beyond Skyline menjadi selingan manja menutup akhir pekan gue yang seribu kali hambar tanpa cinta. Halah…

Di menit-menit pertama, gue teringat kembali moment masa lalu sewaktu masih di kampung halaman. Hengot ke Surabaya Plaza dengan tujuan kencan, dengan seseorang yang gue temukan di aplikasi dating. Sepakat janjian, nonton film, Skyline. Dan nyadarnya, itu kencan, terjadi tujuh tahun yang lalu. Dan di 2017, gue seakan malas untuk berpikir, apakah ini pertanda, bahwa gue memang terlalu lama sendiri? Tidak dong, kesendirian ini semacam setting-an. Ada kesengajaan hakiki yang disadari, bahwa lebih baik sendiri dari pada lelah hati. Eyaaaaaa!

Masih termasuk sekuel dari pendahulunya, Skyline (2010), kali ini benang merahnya ada pada pesawat alien dan juga Jarrod. Manusia yang otaknya difungsikan untuk menggerakkan raga alien yang menginvasi bumi. Dengan menjadikan tokoh seorang polisi Los Angeles sebagai fokus di jalinan cerita. Film ini langsung terendus mulai akan terasa membosankan saat konflik ayah dan anak diangkat. Gak tau harus ngomong apa, di otak ini hanya ada pertanyaan yang selalu muncul berulang-ulang, kapan Iko Uwais muncul? Pertengahan film, atau dipertiga akhir film?

Seketika itu juga, sepanjang film yang selalu bernuansa cahaya biru manjah, gue terbayang wajah Chuck Norris dan Chynthia Rothrock. Skyline adalah sebangsa aliran Chuck Norris’ films. Dialog-dialog yang super aduhai kaku, sumpah serapah yang nanggung tak berdaya, hingga apa yang seharusnya gak perlu didengar di kuping malah muncrat kemana mana. Kali ini tetep ada berantemnya namun dengan bumbu sci-fi yang sudah gak terlalu kekinian.

Pengen tidur tapi gak rela, nonton di hari minggu itu pantang tertidur. Tiket seharga 50ribu rupiah seakan-akan menjadi nilai yang sangat berharga untuk hanya sekedar numpang tidur sambil didongengi kisah alien yang ga punya integritas.

Hingga pada akhirnya, Iko uwais muncul dengan dialog yang awalnya cuman Kanya-kanya-kanya doang. Dan aduh hai drama yang dibangun pun ambrol seambrol-ambrolnya. Bisa dibilang, Beyond Skyline menjadi kelas B cult di jaman (sekarang) nya.

Gak terlalu kecewa juga. Banyak plot yang semburat kemana-mana. Tapi tetep saja enjoy menikmatinya. Kehadiran Yayan Ruhian pun hanya sebatas mengisi kekosongan saja. Mungkin yang berkesan hanya kehadiranmu.. disisi gue… eaaaaaa

Menjelang akhir, hanya bisa menghela napas panjang sembari bergumam. “Tadi gue nonton film apaan ya?”

Gue hanya inget “KANYA-KANYA…..” wes iku tok….

Rating: 2,5/5 (ini pun juga karena faktor Iko, dan candi Prambanan)

 

Film ::: Posesif (2017)

•October 28, 2017 • 1 Comment

Cinta

Terlalu menyebalkan dan tidak mengenakkan bila diperbincangkan di saat kita lagi ranum-ranumnya single. Walau pun kenyataannya sudah terbiasa tegar dengan segala terpaan pertanyaan, “mana gandengannya?” dikata kita truk kali yaa? Tapi secara kodrati dan alamiah, dari lubuk hati terdalam sangat-sangat nelangsa—ini gak berlaku buat yang lupa perih karena sendiri—dan ujung-ujungnya pura-pura bahagia atau justru bahagia dengan keadaannya.

Nah kemudian, giliran berpacar, bergandengan, bersecinta satu sama lain malah nemu kerikil-kerikil tajam tapi tak setajam tatapan mata ibu Mawarni, kerikil itu bernama Posesif.

Ada angin, ada hujan, gue seakan-akan dibawa untuk menyusupi sebuah karya Edwin yang kesemua filmnya belum pernah gue tonton di bioskop. Gak tau kalo yang lain, jaman-jaman dia bikin film “nyeleneh” nontonnya ya di festival-festival atau paling gak di internet. Kali ini gue geleng-geleng kepala dengan daya tak lebih dari sekedar rasa penasaran, hal semacam apa yang akhirnya menggiring sang gerangan mengolah rasa ke dalam medium mainstream untuk dipertonton para penikmatnya dengan mudah. Apa kah itu??

Sendiri

Membeli tiket sendiri. Masuknya pun sendiri. Apalagi pas milih kursi, duduknya pun harus sendiri. Sepertinya di dalam ruangan, gue yang sendiri. Jangan sedih, masih ada mas-mas projectionist yang setia menjaga film dan gue dari jauh…

Byur….

Namanya Lala, jago loncat dari ketinggian kolam yang disetting agar keliatan indah di setiap liukan tubuhnya yang atletis. Disiplin seperti menjadi nama tengahnya. Trus ngebayangin, LALA DISIPLIN LANTASIA. Gak deh, gak jadi. Pokoknya, si bapak yang killer mendidik dia menjadi pribadi yang tangguh. Selayaknya para atlit di negeri tercintah ini. Berteman dengan dua siswa aja, gak lebih. Mungkin bisa jadi hari-hari Lala diisi dengan latihan dan latihan, sehingga diwajarkan waktu baginya mencari teman sangat minim. Bahkan gak ada. Cukup

Rino dan Ega. Ibarat pun mereka berdua ini udah deket sejak dalam pikiran si Lala kali ya.

Tapi prinsip Lala yang hanya dua teman mendadak terbuyarkan tatkala muncul Yudhis dengan segala kebengalannya yang dimaknai seksi untuk ukuran student zaman now. (Dan sepanjang kemunculan Yudhis, penonton di depan kanan dan kiri—kebanyakan kids zaman now—selalu orgasme dengan menyebut nama tuhannya, desah-desah nggilani.)

Lala yang akhirnya berkenalan dengan Yudhis melalui cara mbeling pun sepakat membina relasi persesayangan dengan cukup singkat padat dan berisi. Icik-icik keciprit cinta-cintaan gombal pun menjulur dari lidah Yudhis. Diliat dari gelagat, tertuang jelas bahwa Lala baru kali pertama cintanya menegang hingga hepi berkelindan. Ada takut-takutnya sih. Sementara Yudhis maunya cinta untuk selamanya. Ga ada takut sedikitpun. Ada sih, satu, ntar aja…

Mendadak film ini menjadi posesif…

Gak salah kalo judul film ini posesif. Film yang memaksa penontonnya untuk nonton sambil berpikir lembek. Film yang sebenernya bagus dari segala macam teknisnya tapi buruk dari segi penceritaannya. Film yang membuat gue berpikir bahwa kekerasan dalam berpacaran adalah lumrah dan harus dimaafkan dan diberi kesempatan kedua, ketiga bahkan kalau perlu kesempatan itu gak berbilang, kasih terus kesempatan buat pelaku kekerasan melanggengkan aksinya. Habis mukul, minta maaf, mukul minta maaf, gitu aja terus sampe filmnya kelar.

Yang sedih dari film ini adalah pula menggariskan bahwa asal muasal kekerasan yang biasa dilakukan Yudhis adalah karena pola asuhan dari emaknya yang super kontil alias suka maen kekerasan. Yang kita sebagai penonton seakan-akan harus memaklumi apa yang telah dilakui Yudhis kepada Lala. Tak sekali dua kali, bahkan saking—ditekankan karena dipakai sebagai judul—posesifnya, diceritakan Yudhis rela “membunuh” siapa aja yang merebut kesayangannya, walau niatnya hanya mencelakai, alih-alih semata. Dalam hal ini, Yudhis kembali lagi seakan-akan harus dikasihani karena hidupnya yang menderita. Mengasihani orang yang melakukan kekerasan berulang-ulang adalah tindakan bodoh. Hari ini, mungkin lebam di mata, besok kita gak pernah tau apakah sebilah pisau menancap di dada. Terus kalau sudah macam kejadian kayak gitu, masih harus memaklumi Yudhis? Langkah pertama adalah putuskan tentu saja. Minta maaf habis berbuat adalah pola pelaku kekerasan.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ending film ini, yang notabene bikin gue muntah keluar dari lubang hidung, kenapa harus begitu endingnya? KENAPA? Agar semua ABG kalo digamparin pacarnya harus diam saja gak melapor ke pihak yang berwajib atau KOMNAS PEREMPUAN, atau sesiapapun, teman, orang tua, sesiapapun?! Kayak ngajarin cewek kalo gak nyaman dalam berpacaran itu harus tetap dilakukan demi menyenangkan pacarnya… romantis dari mananya? Kecuali si Lala emang penggiat BDSM, baru deh… fix sampai disini, (pelaku BDSM pun juga paham konsen, gak asal gebak gebuk juga). Lha ini… seandainya dalam pembuatan cerita ini si penulis melakukan riset lebih kaya lagi, kayaknya gue gak perlu was-was… gila aja kan, penonton-penonton abg di belakang gue pada bilang, “Ih… so sweet banget!!” Padahal beberapa detik yang lalu tingkah posesif-nya gak ketulungan. Bangke kan… apa kabar penonton film ini dari planet lain, ntar dikatanya, “mau dong dicekik sampe membiru manjaaaah!!! Tanda sayang lho ini beib!!!”

Seandainya, si Lala gak perlu lagi memutuskan untuk kembali kepada Yudhis, mungkin gue gak mencak-mencak kayak gini…

Disaat yang lain menggalakkan stop kekerasan terhadap perempuan, yang ini malah, “cuss pukul akuh bang, atau kita gak jadi kabur ke Bali…”

Terakhir…. bukannya menggurui, kekerasan terhadap perempuan harus segera dihapuskan. Bagaikan mata rantai yang tidak terputuskan, kejadian akan lanjut dan berulang. Perempuan sebagai korban, sudah saatnya harus melawan. Jangan diam, berani untuk mengatakan tidak!

Sekali lagi, jadi kayak gini deh, “pacar cakep mah bebas mau ngapain ajah, termasuk ngebikin celaka orang!”

Tapi mam, film ini kan masuk banyak kategori di Festival Film Indonesia…?

– ya ini lah Indonesia….

Trus mam, hikmah dari semua ini apa?

– ya mungkin lu akan terlihat keren kalo lu posesif…

Rating: –

Film ::: Mereka yang tak Terlihat (2017)

•October 16, 2017 • Leave a Comment

Mengkonsumsi cerita horror bagi gue bukan sesuatu yang terlarang. Dari kecil sudah dikelilingi dengan peristiwa klenik, mistis dan magis. Dari soal dongeng pengantar tidur hingga mitos leluhur yang ternyata memiliki kesaktian. Konon “kesaktian”itu menurun di gue dalam bentuk lain.

Menonton Mereka Yang tak Terlihat seakan-akan mengajak gue untuk jalan-jalan ke masa lalu yang penuh dengan liku-liku. Film ini seakan-akan dibuat untuk menegaskan kembali, bahwa gue tidak “gila” sendirian. Ada yang lain di luar sana yang memiliki kemampuan yang sama. Percaya gak percaya, gue memilih untuk mengambil sisi positifnya aja. Toh, menjadi “gila” gak semua orang bisa, butuh bakat dan kemauan yang keras.

Film ini cukup drama untuk bisa dibilang film horror. Walaupun efek jump scare nya terkadang gak lumayan ngefek. Penampakan, atau mungkin lebih tepatnya “penampilan” para karakter setan-setanan cukup masuk akal untuk ukuran orang yang pernah bersua dengan mereka. Kali ini satu kecupan di pipi Billy Christian gue sematkan. Secara keseluruhan gue tidak keciwa, walau gue juga gak bisa mengatakan film ini bagus, tapi gue yakin, semakin banyak jam terbang, sepertinya Billy kedepannya bisa membikin drama horror yang membanggakan.

Film diawali dengan cerita seorang Saras (Estelle Linden), seorang anak yang dianugerahi bakat khusus yaitu bisa melihat makhluk astral. Sementara adikny, Laras tidak memiliki bakat itu. Berdua mereka dibesarkan oleh ibunya saja, Lidya (Sophia Latjuba). Bertiga mereka hidup dalam semi berkecukupan. Selain dari jualan kue kering, entah, ibu mereka ini kerja sambilan apa lagi, bisa jadi masih ada warisan dari orang tuanya, mengingat rumah tempat tinggal mereka juga terbilang bangunan kuno jaman kolonial, tapi berhubung nenek Saras adalah semacam nenek yang diperankan oleh Maria Oentoe, jadi fix, mereka sebenernya blasteran bule yang warisannya habis di turunan ke 4.

Awal muasal Saras bisa berkomunikasi dengan makhluk astral adalah ketika kematian neneknya. Saras mendapatkan pesan dari neneknya perihal perhiasan yang dipakai sewaktu pemakaman. Namun Lidya tidak serta merta percaya begitu saja. Lidya mulai dari itu menganggap Saras sarap. mungkin lebih tepatnya Lidya punya alasan kenapa dia bersikap dingin seperti itu kepada Saras.

Semenjak interaksi dengan neneknya di dunia astral, Saras pun akhirnya bisa merasakan kehadiran-kehadiran makhluk astral di sekitarnya. Selalu muncul dan selalu ada. Rumor kebisaan Saras bisa melihat makhluk astral di dunia, membuat seluruh penghuni alam astral berbondong- bondong mencari Saras.

Awalnya Saras risih, takut, males… namun dia memahami bahwa ada semacam tanggung jawab yang muncul bila mendengar cerita-cerita yang lain dari makhluk astral. Apalagi ditambah dengan kasus kematian sahabatnya. Hingga Saras memutuskan untuk membantu memecahkan masalah orang-orang meninggal yang masih ada urusan dengan yang masih hidup.

Saras sudah gak sedisiplin itu. Kesibukannya sebagai pembawa pesan dari makhluk astral semakin menjauhkan keduanya. Termasuk ketika Saras kemasukan setan gegara adiknya, si Laras bermain Jaelangkung. Seperti film horror pada umumnya, Lidya semakin fix kalo hubungannya semakin erat dengan Saras.

Melihat tingkah pola Saras, Lidya kewalahan dan memanggil kakaknya yang seorang psikiatris. Rupa-rupanya ada untaian benang merah yang akan menjadi latar belakang kenapa Lydia sangat keras dalam mendidik anaknya.

Hingga pada suatu ketika, Saras dan kedua temannya berniat untuk menginvestigasi dibalik kematian Dinda, alumnus sekolah yang sama dengan Saras namun berbeda perlakuan dari masyarakatnya. Hingga Saras harus mendatangi rumah orang tua Dinda untuk mengumpulkan teka teki. Yang akhirnya membawa Saras pada permasalahan baru yg lebih rumit.

Semakin dewasa semakin peka. Saking cintanya kepada sahabatnya, Saras melakukan sedikit hal-hal melampaui batas. Kesabaran Lidya juga sudah habis. Dan apa yang terjadi setelah ini, Saras meninggal dunia. Film yang dibikin dengan gaya bertutur dari sudut pandang Saras akhirnya mencapai klimaks ketika Saras adalah …….tiiiiiiiiiiit!!!!!!!!

Gue mengaanggap bahwa film ini adalah karya Billy Christian yang paling enak buat dinikmati. Editan di setiap potongan adegan sangat rapi. Kemunculan hantu buntung dan kawan-kawannya memang tidak terlalu menakutkan, apalagi kalau nontonnya di bioskop, pasti akan muncul suara cekikikan. Menyebalkan memang. Tapi begitu lah orang Indonesia yang baru pertama kali nonton di bioskop. Senyumin aja!

Akting yang ditampilkan keluarga Lydia juga cukup lumayan tidak jelek. Hanya saja, saat kemunculan arwah nenek, gue hanya ngebayangin, pas Lydia lagi sibuk bikin kue, tetiba ada suara nenek, “pintu teater 1 sudah dibuka…..” kan meledak tuh bisa bisa…

Salut buat tim visual art nya yang sudah senatural mungkin mengolah fisik para sesereman tidak terlihat lebay, mbak-mbak jawa di dominasi warna hijau juga cukup tegas dalam penggambarannya. Konon yang hantunya mengeluarkan busa atau semacam bubur adalah mereka – mereka yang mati diracuni. Tapi cukup berkesan untuk make up hantu perempuan dalam lift.

Namun diantara semua keutuhan film, ada dua hal yang gue suka dari film ini. Tema indigo dan bullying. Keduanya adalah potongan bagian dari masa lalu, namun sangat ada kesan bagi kehidupan gue selama menjalani hidup.

Terlebih untuk kasus bullying. Di film ini juga sebenernya lumayan cukup apik menggambarkan situasinya. Tapi menjadi berlebihan tatkala adegan ala sinetron diadopsi. Walo memang sebenernya menjadi bias, apakah sinetron yang mengadopsi kejadian bullying atau tindakan bullying yang mengadopsi dari sinetron yang ditonton.

Kali ini gue gak lagi kecewa sama Billy. Walau pun sebenernya juga gue belum nonton Petak Umpet Minako, tapi sepertinya lebih aman kalau gue tidak menontonnya dari pada gue patah hati pada Billy…. oia, salah satu cast-nya ada yang indigo… pantesan….

Hidup para Indigo!!! Hidup para survivor bullying!!!!!

Rating: 3,5/5

Film ::: Die Beautiful (2016)

•September 30, 2017 • 1 Comment

Jaman masih pake seragam putih merah, jaman dimana masih sering pulang sekolah sambil mata sembab adalah jaman dimana gue beberapa kali sering membayangkan bahwa selimut atau seprei atau korden adalah semacam gaun panjang mewah menjuntai manjah. Masuk kamarnya ibuk, kunci pintu, bersyukur dulu lemari pakaian ibuk ada cermin-nya yang lumayan gede, jadi cukup puas buat memandangi diri dibalut gaun “hayalan”. Melenggak lenggok di atas kasur, kemudian langsung turun dari kasur sambil loncat. Ya padahal seumur-umur gak ada sejarahnya juga seorang model memperagakan busana saat catwalk ada sesi loncat bak spiderman, tapi begitulah kenyataannya. Jaman itu, bagi gue, mencari bahagia itu sederhana, walau kudu kunci pintu kamar…

Begitu juga dengan Patrick, sosok sentral dalam film Philipina bertajuk Die Beautiful ini. Malah bisa dibilang dia lebih beruntung dari gue karena bisa bermain miss-miss-an sama temen-temen semasa kecilnya, walau sama bapaknya diganyang habis-habisan. Trauma? Tentu saja tidak. Patrick tumbuh menjadi remaja ngondek fabs yang jaga penampilan. Semasa SMA, Patrick mengagumi teman sekolahnya. Bersama karib kentalnya, si Barbs, mereka berdua bersaing untuk mendapatkan “cinta” sang idola. Walau sang idola sendiri sudah memiliki girlfriend, yang sering bikin mereka sebel, tapi tetep ajah, hayal-hayal anak gadis gak menyurutkan niat buat mengejar cinta sang idola hingga pada suatu ketika. Patrick mendapat kesempatan untuk diajak nongkrong bareng sang idola dan kawan-kawannya. Dan tak disangka dan tak dinyana, ada peristiwa yang akhirnya membuat patrick “terluka”.

Seperti itulah kisah masa lalu Patrick, sebelum namanya berganti menjadi Trisha Echeevaria. Setelah gaduh dengan bapaknya, diusir, dipaksa minggat dan mencari penghidupan sendiri. Beruntung Barbs selalu setia kawan. Menampung sahabatnya dalam kesusahan. Yang akhirnya, di ujung usia Trisha, Barbs yang selalu mendampinginya. Beruntungnya Trisha memiliki sahabat yang baik hati. Semakna dengan judul dalam film ini, Trisha, Die Beautiful.

Menonton film Die Beautiful ini, seperti menonton kembali rentetan adegan masa lalu yang pernah gue alami. Hanya saja yang membedakan, kalau Patrick adalah seorang transgender, sementara gue bukan transgender. Kalau Trisha terobsesi dengan menjadi peserta dalam Beauty Pageant, gue hanya penikmat dari acara Beauty Pageant tersebut.

Banyak cuilan-cuilan kisah dalam film ini yang memang sangat real dengan kenyataan yang ada. Apa yang dialami oleh Trisha juga dialami oleh sebagian transgender di Indonesia. Bagaimana mereka hidup dari guyonan-guyonan yang secara ironi sebenernya untuk mentertawakan ketragisan hidup mereka sekaligus menghibur diri “dan orang lain”.

Menjadi seorang transgender bukan semacam menjadi badut atau menjadi crossdresser, yang setelah kelar tujuan balik ke dalam raga semula. Bukan semacam itu. Menjadi transgender adalah ketika kamu menghayati bahwa dirimu adalah bukan gender yang selama ini melekat di tubuhmu, dan merasa ada yang bukan bagian atau tidak ada di tubuhmu, dan ada hasrat untuk mengubah gender itu sendiri, itu lah definisi transgender. Dan transgender bukan melulu mewakili kondisi laki-laki yang mengubah dirinya menjadi perempuan, tapi juga sebaliknya, perempuan yang bertransisi menjadi laki-laki juga adalah transgender. Yang biasa disebut, transmen.

Kembali ke Trisha, sebagai transpuan (transgender perempuan) hidupnya tak ubahnya sebuah drama sinetron. Bahkan pun beberapa kisah pun sepertinya memang diambil dari potongan-potongan kejadian yang memang sering dialami oleh teman-teman transgender. Gue akan mencoba untuk merunut satu persatu…

  • Dibilang menyalahi kodrat, semacam aib keluarga
  • Diusir dari keluarga
  • Di sekolah mendapat bully/rundungan
  • Selalu dianggap hidupnya isinya “seks” melulu
  • Akses mendapatkan pekerjaan yang sangat dibatasi oleh norma-norma
  • Bermasalah di toilet umum /fasilitas umum
  • Untuk urusan percintaan, pasti kebagian menjadi ratu toroksari alias dia yang kerja sementara “suami”nya yang cuman duduk ongkang-ongkang kaki menikmati duit jerih payah mereka. Dan transpuan pun pada akhirnya “terpaksa” menganggap itu lumrah.
  • Bahkan hingga hilang jiwa alias meninggal dunia, jenazah mereka pun masih dipeributkan, biasanya banyak keluarga yang meminta mendiang dikebumikan atau dikremasi dalam wujud menyesuaikan kodrat, sementara teman-teman yang selama hidupnya berbagi suka dan duka diberi wasiat untuk dikuburkan/kremasi dengan bentuk tubuh yang terakhir.
  • Dan sepertinya masih ada yang lainnya…

Bayangkan kalo hidup kita diisi dengan semua hal macam di atas, gimana gak stress cobak?! Jadi jangan heran bila mereka memiliki cara sendiri untuk menghibur hidup mereka yang serba pahit. Berkumpul dengan sesama transpuan adalah salah satu contohnya. Persaudaraan yang terbangun di antara mereka pun biasanya menjadi solid. Tapi ujung-ujungnya menjadi hancur lantaran ternyata ada perebutan/persaingan untuk mendapatkan laki-laki. Tidak bisa dipungkiri memang. Dan kebanyakan juga sih mereka ini pasrah untuk di dua kan laki-laki yang sudah beristri. Alasannya tentu saja klasik, karena transpuan tidak bisa hamil. Sehingga hal ini lah kiranya yang akhirnya menjadikan posisi tawar transpuan selalu ngerasa gak punya pilihan. Padahal pun kalo mau ditelusuri, banyak laki-laki beristri atau yang belum, yang gak butuh rahim untuk memiliki anak bersama-sama. Sementara banyak juga transpuan yang masih beranggapan bahwa menjadi perempuan gak akan lengkap bila belum merasakan hamil. Makanya gue pribadi salut buat kawan-kawan transpuan gue yang sudah memiliki cara pandang lain dalam memaknai hidupnya.

Kali ini gue gak ngebahas secara teknisnya, film ini cukup berwarna. Dengan semua jajaran cast yang gak bikin greget manja mempertanyakan karir keaktorannya. Semua pemain menjalankan perannya seakan-akan menjadi dirinya sendiri. Terlebih, gue salut buat Christian Bables yang memerankan Barbs. Di sini gue melihat dia sangat lepas dan bisa mengimbangi karakter Trisha yang diperankan dengan cukup apik oleh Paolo Ballesteros. Salut juga buat Jun Lana yang sudah dengan susah payah menciptakan sebuah ruang dimensi manja yang berisikan perempuan-perempuan sosial yang gigih berjuang untuk mendapatkan makna dari kebahagiaan hidup. Bahkan setelah mati.

Film ini menjadi cerminan bahwa di dunia ini hidup gak selamanya indah, tapi hidup bisa menjadi indah bila kita bisa memilih untuk menjadi diri kita sendiri. Film yang memaksa kita untuk menangis dalam tawa ini sangat bagus untuk ditonton oleh mereka yang hidup dengan stigma dan diskriminasi. Dan sangat pas ditonton oleh mereka yang hilang empati untuk bercermin. Tidak kah semua manusia yang hidup di dunia ini adalah sama?

Terima kasih buat Tuhan, Semesta alam, karena telah menghadirkan sosok mereka di bumi. Kita jadi tahu, mana kebaikan, mana kejahatan.

Rating : 4/5

Noted : ada Spinoff-nya dari film ini berjudul Born Beautiful dengan mengambil tokoh sentral Barbs sebagai pusat ceritanya.