Film ::: The Doll 2 (2017)

•July 22, 2017 • Leave a Comment

Comeback-nya gue setelah sekian lamanya gak nulis review film Indonesia. Dan kali ini korban kenyinyiran gue yang pertama adalah film the Doll 2. Tapi gak menutup kemungkinan juga bakal bawa-bawa film yang lain.

Sebenernya naluri menonton film the doll 2 dilandasi oleh rasa jenuh gue atas segala aktivitas yang udah gue jalani. Kesibukan itu ternyata menuntut kesenggangan waktu gue buat menyempatkan diri menonton film ini.

Akhirnya setelah dari kantor Kalyana Shira Film (ada reading buat program web series), gue langsung menyasar ke Kalibata Mall. Berniat nonton, namun bingung apa yang hendak kutonton. Setelah memilah poster terpampang, mata terpaku pada poster the Doll 2. Baiklah. Beli tiket, ambil kursi, nunggu sejenak. Maria Oentoe berkumandang pintu teater telah dibuka. Dan, lets the show begin….

Tetiba film dibuka dengan kemunculan Laras dan Adiknya yang mengingatkan gue pada film Conjuring, semacam pasangan Warren. Cuman yang ini lebih sinetron. Sempat ketipu juga diawal, kok Luna Maya nya keliatan tua dan menyeramkan… eh ternyata istrinya Damian si pesulap itu yang akting nangisnya konon belajar dari artis tersanjung tempo dulu.

Dengan kekuatan sakti yang bisa merasakan hal hal ghaib, Laras dihadapkan pada kenyataan yang pait diakhir. Dia mengalami apa itu ditinggalkan. Laras trauma. Laras memutuskan tak lagi menjadi paranormal. Begitulah sepenggal kisah Laras, mengawali kisah yang sebenernya.

Di suatu tempat, di sebuah rumah mewah yang furniture nya seakan-akan udah siap untuk sengaja dihancurkan, hiduplah Maira dengan Suaminya, Aldo yang berbahagia karena memiliki anak manis, Kayla namanya. Bertiga mereka saling menyayangi, begitu juga mbak Yani, asisten rumah tangga mereka, yang sejak awal kemunculannya langsung menarik perhatian gue. Gak lazim cewek ini…

Kayla yang memiliki boneka cantik (gak habis pikir itu boneka cantiknya dari mana??? Oh mungkin bagian art film sengaja mendobrak standar kecantikan perempuan versi Indonesia yang baru) dengan mengacu pada boneka di film the doll 2 ini…

Serem sih gue percaya, tapi kalo cantik, gak masuk logika…

Cukup soal boneka nya. Kembali ke Kayla, anak manis yang hobi ngerekam aktivitas mama-nya ini rupa-rupanya (mulai spoiler) memiliki pertanda bahwa hidupnya gak bakal lama…

Usut punya usut, di sini menjadi cikal bakal twist yang dibangun dalam film horror ini.

Dan bener kan, Kayla tewas mengenaskan akibat kecelakaan mobil yang dikendarai mereka bertiga. Papa Mama nya menderita luka-luka yang lumayan serius. Dari sini gue sudah mencium bahwa Mamanya Kayla bukan perempuan biasa.

Semenjak kematian Kayla, kehidupan mereka berdua semakin memburuk. Maira depresi dan masih belum bisa melepas kepergian Kayla. Sementara Aldo sudah mulai sering terlambat pulang ngantor. Sementara mbak Yani, masih tetap saja membuat gue curiga… ini pasti ada apa apa dengan juragannya….

Seiring berjalan waktu, Maira kedatangan teman dekatnya, Elsa. Jreeeeng, pikiran gue melayang, jangan-jangan Elsa adalah anuannya Maira di kala senggang. Eh ternyata bukan. Hanya sekedar teman yang sudah terlalu lama gak ketemuan.

Melihat kondisi sahabatnya, Elsa menyarankan Maira untuk memanggil arwah Kayla melalui media nyanyian Lingsir Wengi diiringi musik gamelan mainan. Entah berhasil atau tidak, pemanggilan arwah itu sempat dihentikan oleh mbak Yani. Semakin curiga lah gue dengan kelakuan mbak Yani ini…

Dan seperti dugaan kasar gue, Kayla pun hadir kembali ke dunia dengan mengisi raga boneka manis versi Maira.

Perlahan-lahan kehadiran Kayla membuat Maira terlihat seperti orang yang halusinasi. Dan membuat urusan dengan Psikiater. Nyata-nyata-nya, keadaan semakin tidak terkontrol. Kekacauan di mana mana. Hingga mengusik Laras dari duduk manisnya selama ini.

Sampai disini keadaan menjadi horror penuh terror. Ternyata mbak Yani sesuai dengan dugaan gue. Dia menjadi tokoh kunci. Pantaslah kalo ada scene perselingkuhan….

Film ini sangat cukup bagus untuk tata letak kameranya. Dengan segala kemewahannya yang ada. Adegan pengerusakan properti dalam rumah pun nampak terlihat meyakinkan walau pada akhirnya gue yakin banget, kalau ini rumah aslinya adalah villa yang disewakan. Gue menemukan tulisan yang cukup nyata dan terpampang sempurna, JAGALAH KEBERSIHAN di samping atas pintu kamar mandi. Karena logikanya, sangat tidak mungkin di dalam rumah yang mewah dengan segala estetika nya ada tulisan demikian. Janggal.

Semua cast di film ini juga rada-rada menyeramkan. Bayangkan saja, sudah ditusuk-tusuk berulang, masih tetap aja bisa berlari manja. Apalagi mbak Yani yang dianugerahi kekuatan maha tempur yang dahsyat. Mungkin ini semacam kode, bahwa jangan sekali-kali selingkuh atau begini akibatnya.

Selebihnya film ini semacam unjuk kekepoan aja. Sebenernya mulut Luna Maya kenapa yaa?

Rating : 2 ⭐️

Advertisements

Kalah oleh Ego

•June 16, 2017 • Leave a Comment

Bulan Juni 2017

Memang benar, penyesalan itu selalu datang terlambat. Tapi selambat-lambatnya rasa sesal, masih bisa direnovasi. Mawas diri dan gak grubak grubuk seperti sedia kala itu. Terjebak dalam karakter yang susah tega terhadap orang lain (baca: temen) itu memang menyebalkan. Gue yang notabene sangat menghargai mode mode pertemanan tanpa batas, karena gue yakin, friendship is forever, tapi keyakinan itu menjadi anjing tatkala gue mendapat kekecewaan yang membuncah.

Berkali-kali kesempatan gue untuk menjadikan hal yang lebih baik, malah ujungnya seperti kok gue nya yang ngoyo dan terlalu ngurusi anak orang. Kenapa gue susah payah menjadikan orang lain hebat sementara si orang ini tidak menunjukkan gelagat yang positif. Sepertinya gue tertampar oleh Athena bila hal ini tercium sampai ke Olympus.

Setiap ada project yang berdatangan, seharusnya gue bisa handle dan dengan sedikit bantuan dari temen, eh malah muncul jiwa jiwa, “oh iya, dia kan lagi butuh duit… ya udah deh dia aja yg gue pekerjakan… ” mampus gak sih kalo ternyata pemikiran kayak tadi dipatahkan dengan fakta bahwa daya upaya agar dia bisa megang duit jajan tambahan GAK DIANGGAP SAMA SEKALI. justru yang muncul malah kekecewaannya karena goal fee turun dari client agak molor (terkendala di segala sektor). 

Wanti-wanti, karena kali ini, nama gue yang jadi jaminan. Dan alhasil, hancur pelan pelan. Alhamdulillah ya. 

Bersyukur ada income dari lubuk kesabaran, meski gak banyak tapi setidaknya nanti bisa menambal mulutnya. 

Gue lelah sebenernya. Kepedulian ini diartikan lain. Diartikan kemanjaan yang terpancar semata. Tak ada pembelajaran disitu. Beraninya hanya disitu saja. Ketidak sudian gue perlahan muncul. Mengikis rasa tidak tegaan juga gak bisa instan. Perlu tahap. Jadi, bagi sesiapapun engkau yang merasa, gue gak berusaha untuk membencimu. Tapi hanya berusaha agar dirimu menjadi manusia yang mungkin bisa lebih beruntung tanpa campur tangan gue. Cari duniamu, seperti yang dirimu idam-idamkan. 

Menjadi lah manusia yang sewajarnya dengan usia yang kau sandang. Bersyukurlah tidak repot-repot pura-pura tua. Ketimbang tua pura-pura muda. 
Relationship ini gak mungkin putus. Yang putus hanya ketergantungannya. Ketidakmandiriannya, ketidakpeduliannya, keras kepalanya

Semua pasti punya jalan masing-masing, semoga siapapun engkau yang ada dalam tulisan gue, selamat berkarir.

Menghargai teman, mahal/murahan

•March 18, 2017 • Leave a Comment

Ada dalam sebuah grup Line, yang di dalamnya ternyata ada orang yang kita kagumi. Kenalan, ternyata memikat, dan sepertinya muncul saling keterikatan. Namun, sepakat untuk tidak terburu-buru. Well, tak masalah dengan itu. Mungkin si dia butuh waktu.

Tapi ternyata, si dia ini memang punya modal bintang idola. Tak cuma gua, beberapa diantaranya juga mengagumi. Ada yang suka ini nya, ada yang suka anu nya… ya biarlah. Mereka menggoda-goda dia. Yang jelas, gua sudah lewat di fase menggoda. Kita ada di fase , “Kamu yang sabar ya!” Dan biasanya gua hanya bisa bilang, “iya”

Hingga muncul si Z yang keras kepala. Bapernya naudzubilah. Menyukai si dia dengan sedemikian rupa. Semua member dianggapnya bodoh. Termasuk kita-kita. Si dia bercerita ke gua. Si Z merayunya dengan segenap jiwa raga. Si Z mengungkapkan rasa kepadanya. Namun si dia tidak mau menanggapinya. Si dia hanya diam saja. Karena tidak mau membuat si Z terluka. Baik sekali ya si dia. Begitulah.

Setiap hari, si Z tak lupa menyapa dan mengharap balas yang bisa diharapkan menyerupai rasa cinta. Si dia memang jarang online. Karena ada faktor yang mungkin beberapa orang tidak bisa menerima. Sepertinya, si Z, tidak masalah dengan itu. Bagi dia, di balas sapa oleh si dia saja sudah bahagia. Tapi kenyataannya, si dia membalas sapa hanya sebagai bentuk penghargaan atas nama teman. Tidak lebih. Begitulah kira kira. 

Dan gua, sebagai manusia biasa, yang melihat itu semua di dalam grup Line, pelan-pelan seperti sedang diuji. Mental dan juga hati. Sampai berapa lama gua kuat dan bertahan dalam menjalankan kesabaran. Kesabaran yang si dia anjurkan atas apa yang terjadi sampai detik ini.

Gua bukan nabi bahkan malaikat yang nikmat bila berhadap amanat. Gua hanya manusia dengan kekurangan yang sesekali juga akan bersedih bila melihat hal -hal yang si Z lakukan. Dalam benak sering kali gua menyebut si Z laki-laki jalang, binal, murahan. Tapi ujung-ujungnya, kenyataan mengatakan, bahwa fakta tidak sejalan dengan apa yang si Z idam-idamkan selama ini. Tapi yang menjadi pertanyaan mendasar gua, “sampai kapan?!”

Semoga si dia membaca tulisan ini. Gua hanya bisa bilang. “Beri kekuatan untuk bersabar”. Gua masih menganggap, semua yang di dalam grup Line adalah teman… dan sangat tidak berharap gua membuat cap kalau salah satunya terlalu “murahan”. Tidak!!

Film ::: Fourth Man Out (2015)

•July 7, 2016 • 2 Comments

Well, seandainya gue tidak dalam dilanda kebosanan, mungkin film ini masih belum sempat gue tonton. Bersyukurlah… Lebaran kedua, gue suntuk dan “menemukan” film ini diantara tumpukan file film-film yang belum sempat tertonton yang lain.

Fourth Man Out, seperti biasanya, dan kayaknya, film ini memang lebih menarik ditonton oleh kalangan gay or LGBT ketimbang untuk semua kalangan. Alasan pertama, karena film ini sendiri LGBTariant. Hanya enak dikonsumsi gay ketimbang orang orang hetero yang masih mengasumsikan gay sebagai penyakit. Dan alasan kedua, tidak ada alasan yang kuat kenapa orang-orang hetero harus menonton film ini. Secara komersil, tidak ada katalis yang pada hakekatnya bisa mendulang dollar. Yup! Jenis Filem Festival….

Dikisahkan seorang Adam, yang berencana untuk coming out (mengaku gay) kepada ke tiga sahabatnya, salah satu diantaranya adalah Chris, sahabat dekatnya sejak kecil mengalami kekhawatiran. Ketakutan akan reaksi-reaksi yang didapat setelah dia membuat pengakuan muncul. Dari berbagai upaya pengakuan yang selalu gagal oleh keadaan, akhirnya Adam berkesempatan coming out ketika dia terbangun dari tidurnya dimana Chris tidur di sampingnya. Tak ayal, ketiga sahabatnya yang mendengar pengakuan tersebut berubah menjadi sedikit kecanggungan atas ketidaktahuan dalam bersikap. Ada sedikit pakem-pakem yang dilakukan sahabatnya tersebut seperti halnya awam yang apabila bereaksi berkomunikasi dengan seorang Adam yang gay.

Setelah menjelaskan, bagaimana susahnya menjadi seorang gay, Adam merasa lega, karena Chris, sahabat yang masih disukainya menerima keadaan itu, termasuk kedua sahabatnya yang lain. Sehingga ada interaksi baru dimana ketiga sahabat Adam berjuang agar Adam tidak merasa tersisihkan. Bagaimanapun Adam tetap lah Adam, tidak begitu saja berubah menjadi Eve sekalipun Steve.

Dan dari penerimaan sahabatnya tersebut muncul ide untuk Adam coming out ke keluarganya. Kondisi mental sudah dipersiapkan jauh hari. Dengan bantuan Chris, Adam pun optimis semuanya berjalan lancar. Namun yang terjadi adalah, hal yang biasa terjadi ditemui oleh seorang gay yang mencoba coming out ke orang tuanya. 

Film ini sepertinya dibuat dengan tujuan agar ditonton para gay. Mungkin tidak terlalu menarik bagi seorang hetero. Karena plot yang disuguhkan menjadi sangat tipikal film tema gay dengan segmentasi penonton gay. Pertama, kita akan digiring sang penulis cerita untuk mengikuti perjuangan Adam dalam beberapa tahap, coming out, cari jodoh, dan apakah jodoh itu Chris dan kemerdekaan seorang Adam dalam mendapatkan ruang.

Malah di film ini tak secuil pun adegan yang mengeksploitasi potongan tubuh-potongan tubuh yang marak dijadikan simbol di setiap film yang bertema gay. Dan hasilnya memang memunculkan kewajaran dan tidak berlebihan. Film ini menjadi sangat natural dan real tatkala tokoh Adam menjalani dan menjelaskan moda kehidupannya dengan tidak mengikuti stereotipe gay yang banyak dicitrakan oleh kaum hetero sebagai individu yang flambey (baca: flamboyan), kecentilan bin kecimpringan, ngondek tidak ketulungan yang jelas, Adam jauh dari citra itu. Malahan dengan bijak, Adam menyarankan kepada salah satu temannya untuk mempelajari teori-teori kajian seksualitas dan jender, agar bisa memahami sedikit apa itu gay dari segi keilmuan.

Film ini berhasil membawa gue ke tahap bahwa sudah saatnya film gay tak lagi menyuguhkan tontonan vulgar dengan alih-alih sebagai bagian dari keutuhan cerita. Selama cerita itu bagus, bumbu eksploitasi ketubuhan “fisik lelaki sempurna” tidak diperlukan. Pun adegan Adam atau yang lainnya “pamer six pack” tidak menjadi sorot mata gue. Karena gue lebih penasaran pada cerita yang sudah terbangun, ketimbang gue harus dibikin penasaran apakah di film tersebut akan ada adegan seksualnya atau tidak. 

Film ini akhirnya membawa gue pada satu titik, throwback pada pengalaman lalu yang membuat sedikit muka gue tersenyum kecut. Nyinyir pun muncul, seandainya Adam tidak sesempurna penokohan yang tergambarkan di film tersebut, mungkin akan lain soal. Tetapi kembali lagi, namanya juga film. Gue sebagai penikmat film, merasa bahwa gue adalah saksi mata dari Pergolakan batin Adam dan ketiga sahabatnya yang setia mengikuti cerita dari awal hingga akhir tanpa perlu nyinyir di sepanjang film. Film ini tidak jelek, pun tidak terlalu bagus pula. Ada kadar yang memaksakan film ini untuk berada di level standar biasa-biasa saja. Yang pasti film ini tidak jelek untuk di tonton di penghujung pekan yang mungkin harus dilewati disaat para sahabat sedang mudik lebaran atau liburan panjang. 

Film ::: Kapoor and Sons (2016)

•June 14, 2016 • Leave a Comment

Suatu ketika ada teman fesbuk yang masang review film di statusnya. Judul film yang diangkat adalah Kapoor and Sons. Bener banget. Sangat India sekali. Dan memang film India. Namun yang jadi perhatian gue adalah, di dalam tulisannya, dia menyebutkan ada tulisan LGBT. Dan seperti biasa, langsung saja naluri untuk mencari film itu pun muncul..
Kapoor and Sons, sepertinya telah keluar dari pakem ke-india-an di mana bumbu tarian dan nyanyian hanya dimunculkan apabila beriringan dengan adegan yang memang membutuhkan tarian dan nyanyian. Bukan serta merta muncul karena naik turunnya emosi setiap karakter dalam film. Sehingga gue mengartikan nyanyi dan tarian di dalam film ini adalah memang bagian dari cerita, bukan ke-khas-an India yang selalu ditempel di setiap emosi yang muncul. Sedih, nyanyi, seneng, nyanyi, bingung pun juga harus nyanyi. Itulah hebatnya film India.
Kembali ke marga Kapoor. Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, Kakek dan asisten rumah tangga. Sementara kedua anak lelaki mereka stay di luar negeri. Si Kakak menjadi penulis novel sukses, sementara sang adik (Sidharth Malhotra) bekerja paruh waktu sembari masih berjuang menulis novel (juga).
Keduanya “dipaksa” pulang oleh keadaan, sang kakek, Dadu, yang memiliki kebiasaan pura-pura mati mendadak terkena serangan jantung. 
Sangat jelas perbedaan antara si Kakak, Karan dengan Arjun, adiknya. Memang seperti stereotyping, dimana si Kakak yang kalem dan penuh wibawa, sementara Adik yang slengekan dan begundal. Nampak jelas pula bagaimana perlakuan kedua orang tua mereka kepada pasangan adik-kakak ini. Di awal hari kepulangan mereka, pun sudah ditemui perselisihan. Arjun merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa dibanding Karan si anak emas.
Dan konflik pun muncul satu demi satu hingga pada akhirnya keluarga disfungsional ini menemukan jawaban yang mau tidak mau harus diterima masing-masing. 

Film ini bisa dibilang adalah nafas baru perfilman Bollywood. Walo gak baru baru amat, karena gue baru nonton film India dengan isu semacam ini.
Babak demi babak di dalam drama film ini sangat begitu intens. Bagaimana ketika kita dipaksa untuk berkenalan dengan semua karakter inti, kita dibawa untuk membenci sekaligus mencintai masing-masing karakternya. Namun tentu saja itu pilihan tanpa sadar. Begitu pula dengan isu perjodohan yang masih diterapkan oleh sang ibu, beberapa diantara penonton mungkin bisa saja pro dengan isu perjodohan, namun bagi gue personal, perjodohan tanpa kompromi adalah fatal.
Namun yang menjadi sorotan gue menjelang film berakhir, ternyata isu penerimaan identitas juga sepertinya masih menjadi obrolan hangat di negeri India. Sama halnya di Indonesia, pro dan kontra pasti saja ada. Tergantung kita pada akhirnya, apakah norma sosial atau humanity yang kita yakini….
Sekali lagi, film ini tidak ada alih-alih propaganda LGBT. Melainkan kita dibawa pada kondisi yang nyata, bahwa apa yang ada di dalam film itu benar-benar ada, dan tidak mungkin tidak, suatu saat (kalau belum) kita pasti akan menjadi bagian seperti di dalam cerita film tersebut.
Semua jajaran pemainnya sangat bermain apik. Suasana kacau disaat semuanya nyerocos dengan argumen masing-masing ketika beradegan di dapur pun sangat gue acungin jempol. Gue seperti tidak sedang menonton film, tapi sedang bermain ke rumah tetangga yang sedang perang mulut satu sama lain. Dan nafas gue juga sempat terhenti karena percekcokan mereka. 
Namun lepas dari semua itu, gue sangat mengagumi karakter Dadu yang begitu out of the box. Karakter Arjun yang sebenernya biasa aja tapi menjadi gak biasa gegara aura yang dimunculkannya. Semuanya sepertinya pantas dikagumi. Begitu juga pun mereka yang mendapat porsi kecil untuk nampil di beberapa adegan. Tidak tumpah sangat pas. 
Akhirnya, gue bisa bilang, film ini bukan film terbaik tapi ini film yang baik untuk ditonton oleh mereka yang masih memiliki rasa cinta. Cinta terhadap sesama. Terhadap keluarga dan terhadap karir dan cita-cita.
Rating gue: cukup 3 aja. Hehehehee

Film ::: Jongens (2014)

•June 1, 2016 • Leave a Comment


Jongens (Brondong) ; Adalah usia rentan akan banyak rasa keingin-tahuan dan penasaran yang meledak-ledak. Gejolak jiwa yang membara yang membawa raga pada petualangan rasa yang kelak di masa berikutnya akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.
Namanya Sieger (Gijs Blom), bocah ingusan yang menggemari olahraga atletik. Sebagai hasil dari ketekunan giat berlatih, dia terpilih menjadi perwakilan sekolahnya bersama dengan teman sepermainannya Stef (Stijn Taverne). Mereka akan digabung dengan atlit lain untuk menjadi satu tim lari estafet. Berkenal lah Sieger dengan Marc (Ko Zandvliet) Bocah slenge’an yang ulahnya membikin Sieger selalu penasaran.
Sieger yang terlalu pendiam dan lempeng berbanding terbalik dengan Marc yang slebor. Berdua mereka menjadi begundal mencari kesenangan. Bisa dibilang semua aksi ugal-ugalan mereka berdua selalu dimulai dari ide-ide Marc.

Hingga pada sebuah kesempatan, muncul ajakan renang di sungai. Kesemua atlit yang tergabung pun sepakat.

Di sungai, ke empat bocah itu bersenang-senang. Melepaskan segala penat mereka selama menjalani latihan ketat untuk menuju kejuaraan. Kegembiraan mereka pun lambat laun berangsur sirna. Sudah saatnya pulang. Hanya saja saat itu, Marc memilih untuk tetap di sungai. Namun, di perjalanan pulang, Sieger menghentikan kayuhan sepedanya. Setelah kedua temannya pulang ke jalur rumahnya masing-masing, Sieger memilih untuk kembali lagi ke sungai. Menemui rasa penasarannya. Menemui Marc.

Ketika sampai di sungai, ada sedikit rasa grogi yang melanda, hendak balik, Marc memergokinya. Alhasil, Sieger pun memilih melepas bajunya dan menceburkan diri menyusul Marc.

Keduanya lebih bahagia. Kegembiraannya lebih membuncah. Masing-masing dari mereka saling merasa suka. Hingga ketika keduanya bersandar di sebuah batang kayu mengambang. Marc mencoba mencumbu Sieger, dan sambutan hangat diterimanya. Keduanya hanyut. Bukan oleh air sungai. Hanyut dalam perasaan dengan ribuan pertanyaan. Ketika hendak berpamitan pulang, Sieger melontarkan kata-kata penegasan, “Saya bukan Homo…”. Marc hanya tersenyum.

Berlanjut dari kejadian itu, kehidupan Sieger mulai berubah.

Ada kegundahan manis yang terbelenggu. Di satu sisi merasakan indah, di sisi lain merasakan jengah. Pertalian Sieg dengan Marc intim tapi tak intim. Ada kala harmoni itu muncul, ada kala simfoni itu tak timbul. Intinya, hubungan Sieg dengan Marc itu… Ingin tapi tak ingin. Mau tapi tak mau… Serba salah.

Film ini menyajikan drama (coming of age) remaja yang lumayan lambat dalam bertutur. Seperti rata-rata film remaja belum dewasa, ada batasan tipis antara bermain-main dengan bersenang-senang. Menemukan sebuah kenikmatan erotika yang didapat secara instan di saat keduanya memiliki kesempatan, yang kemudian setelahnya memilih mendiamkan.

Bisa dibilang, film ini memiliki jajaran cast yang “mungkin” terkenal di negara asalnya. Melihat akting mereka yang nampak natural dan sangat mencitrakan remaja-ramaja tanggung Eropa. Selain berkisah pada Sieg, film ini juga memiliki sub plot lain yang membawa kita pada hubungan Ayah dan Kakaknya Sieg. Seperti hal-nya anak muda yang lain di Indonesia, Ayah mana sih yang gak dongkol ngeliat anaknya ikutan club spoiler demi nyari duit tambahan…..

Meskipun tak ada lajur mengejutkan yang dimasukkan di dalam cerita, namun film ini bisa menuntun kita untuk bisa memahamipada bagaimana perasaan itu bisa menang atas sebuah ego. Ada pesan cantik di dalam film ini. Ketika kita merasa ada yang “fail” dalam hidup, ikuti kata hati. Tentukan apa yang menurut kata hati kita benar. Mengikuti suara hati untuk menjadi diri sendiri. Penolakan atas identitas pribadi akan berujung pada denial tingkat tinggi. Kegelisahan, depresi, keputus asaan dan kehilangan kendali tubuh atas pikiran dan menjadikan kita orang yang tak berakal.

Bisa dibilang film ini mirip dengan love of siam. Namun konflik pada Jongens lebih sederhana. Sedikit menguras air mata.

Nah pertanyaannya, apakah kita menonton film untuk dibikin menangis atau dibikin bahagia???? 

Rating: 3/5

Film ::: Geography Club (2013)

•May 20, 2016 • Leave a Comment

Semenjak hidup menjanda… Apa yang gue lakukan kebanyakan mengisi waktu luang dengan membaca buku dan menonton film. Dan bodohnya, sehabis nonton selalu merasa malas untuk menuangkannya ke dalam blog review. Hanya sebagian film yang bersifat pamer yang sengaja gue bikin review-nya… Sebut saja film Batman vs. Superman tempo hari.

Terlebih kayaknya banyak sekali film-film tema gay yang gue tonton tanpa dibikinin reviewnya, main hempas begitu saja. Ada beberapa faktor sih, dan salah satunya adalah gue malas setengah mati. Atau mungkin bukan malas sih tepatnya. Tapi berasa sok sibuk aja, jadi seakan-akan tidak ada waktu buat menuliskannya… BAEKLAAAAAAH!!!!
Dan film yang beruntung kali ini adalah Geography Club (bukan the Breakfast Club yaa…. ) Dan keberuntungan itu tidak diikuti oleh cerita film itu sendiri. Karena filmnya terlalu….. BIASA….


Bermula dari ciuman rahasia antara Russel dan Kevin yang dipergoki cewek asia(yang akhirnya ikut dalam arus politik perfilman hollywood, dimana cewek asia selalu mewakili sosok Lesbian) yang akhirnya menggiring kedua gay in the closet tersebut meneruskan hubungannya diam-diam. Keduanya saling suka, tapi mereka merasa lingkungan tidak suka dengan apa yang mereka sukai.

Hingga cerita membawa kita pada tokoh-tokoh yang sengaja dibikin ikonik (yang berdasar pada stereotype perfilman). Ada Lesbian yang gemuk… Gay yang feminitas nya full extra dan juga Brian si geek yang menjadi bahan bullying.


Russel merasa bahwa ada yang tidak beres dengan pilihan hidupnya. Ditambah lagi kasus dimana identitas Russel pun terblow-up gara-gara Kimberly, temen kencan sobat Russel yang gemuk, gak tau deh siapa namanya. Yang jelas Russel akhirnya digiring untuk bisa berpikir praktis tapi ekonomis. Bagaimana dia harus membuat pilihan…. Apakah dia harus tetap percaya pada Kevin atau dia memilih persahabatan murni tanpa cover tanpa topeng sosial…..?

…..

Film ini benar-benar Geografi banget… A.k.a memang membosankan, seperti juga alasan di dalam cerita film yang menyebutkan kenapa support group yang dibentuk ini memilih nama Klub Geografi. Benar. Karena Geografi itu membosankan, sehingga apabila ada orang yang hendak bergabung di dalam grup ini, pasti anggapannya adalah sebuah grup yang sangat membosankan. Dan gak bakal gabung. Itu lah yang mereka harapkan…

Namun kenyataannya, judul dan cerita di film ini, pada akhirnya gue simpulkan sebagai film tema gay yang paling “flat” di dunia.


Gak gue temuin konflik yang bisa bikin sepanjang film gue nahan napas tarik napas. Mungkin secara spontan dan berasal dari alam bawah sadar yang membimbing gue untuk harus nunggu film sampe kelar. Dan well, gak ada greget sama sekali.

Konflik antara Russell dengan Kevin pun hanya sebatas pantes-pantesan aja. Bagaimana sang idola sekolah menghadapi dilema identitas. Maju kena mundur kena, makan buah simalakama…..

Dan dengan ending yang flat, mungkin lebih tepatnya bahwa kebebasan untuk memilih hidup yang lebih “free” tanpa tekanan adalah salah satu opsi untuk menjadi gay yang fabulous. Cinta mungkin akan datang dengan sendirinya bila kita sudah mapan dengan identitas kita. Tidak tenggelam dalam jurang kemunafikan yang tak berujung.


Overall, film ini tidak membekas pun di hati. Hanya cukup tahu dan gue pernah nonton film seperti ini. Meskipun diangkat dari novel berjudul sama, gue pikir film ini mungkin lebih baik tidak diadaptasikan menjadi cerita suara dan gambar bergerak. Bahasa novel. Bukan bahasa film.

Gue tidak bilang jelek, film ini hanya terlalu biasa untuk orang seperti gue…

#apagaragarakelebihanekspektasi

Rating: 2/5