Film ::: Fourth Man Out (2015)

•July 7, 2016 • 2 Comments

Well, seandainya gue tidak dalam dilanda kebosanan, mungkin film ini masih belum sempat gue tonton. Bersyukurlah… Lebaran kedua, gue suntuk dan “menemukan” film ini diantara tumpukan file film-film yang belum sempat tertonton yang lain.

Fourth Man Out, seperti biasanya, dan kayaknya, film ini memang lebih menarik ditonton oleh kalangan gay or LGBT ketimbang untuk semua kalangan. Alasan pertama, karena film ini sendiri LGBTariant. Hanya enak dikonsumsi gay ketimbang orang orang hetero yang masih mengasumsikan gay sebagai penyakit. Dan alasan kedua, tidak ada alasan yang kuat kenapa orang-orang hetero harus menonton film ini. Secara komersil, tidak ada katalis yang pada hakekatnya bisa mendulang dollar. Yup! Jenis Filem Festival….

Dikisahkan seorang Adam, yang berencana untuk coming out (mengaku gay) kepada ke tiga sahabatnya, salah satu diantaranya adalah Chris, sahabat dekatnya sejak kecil mengalami kekhawatiran. Ketakutan akan reaksi-reaksi yang didapat setelah dia membuat pengakuan muncul. Dari berbagai upaya pengakuan yang selalu gagal oleh keadaan, akhirnya Adam berkesempatan coming out ketika dia terbangun dari tidurnya dimana Chris tidur di sampingnya. Tak ayal, ketiga sahabatnya yang mendengar pengakuan tersebut berubah menjadi sedikit kecanggungan atas ketidaktahuan dalam bersikap. Ada sedikit pakem-pakem yang dilakukan sahabatnya tersebut seperti halnya awam yang apabila bereaksi berkomunikasi dengan seorang Adam yang gay.

Setelah menjelaskan, bagaimana susahnya menjadi seorang gay, Adam merasa lega, karena Chris, sahabat yang masih disukainya menerima keadaan itu, termasuk kedua sahabatnya yang lain. Sehingga ada interaksi baru dimana ketiga sahabat Adam berjuang agar Adam tidak merasa tersisihkan. Bagaimanapun Adam tetap lah Adam, tidak begitu saja berubah menjadi Eve sekalipun Steve.

Dan dari penerimaan sahabatnya tersebut muncul ide untuk Adam coming out ke keluarganya. Kondisi mental sudah dipersiapkan jauh hari. Dengan bantuan Chris, Adam pun optimis semuanya berjalan lancar. Namun yang terjadi adalah, hal yang biasa terjadi ditemui oleh seorang gay yang mencoba coming out ke orang tuanya. 

Film ini sepertinya dibuat dengan tujuan agar ditonton para gay. Mungkin tidak terlalu menarik bagi seorang hetero. Karena plot yang disuguhkan menjadi sangat tipikal film tema gay dengan segmentasi penonton gay. Pertama, kita akan digiring sang penulis cerita untuk mengikuti perjuangan Adam dalam beberapa tahap, coming out, cari jodoh, dan apakah jodoh itu Chris dan kemerdekaan seorang Adam dalam mendapatkan ruang.

Malah di film ini tak secuil pun adegan yang mengeksploitasi potongan tubuh-potongan tubuh yang marak dijadikan simbol di setiap film yang bertema gay. Dan hasilnya memang memunculkan kewajaran dan tidak berlebihan. Film ini menjadi sangat natural dan real tatkala tokoh Adam menjalani dan menjelaskan moda kehidupannya dengan tidak mengikuti stereotipe gay yang banyak dicitrakan oleh kaum hetero sebagai individu yang flambey (baca: flamboyan), kecentilan bin kecimpringan, ngondek tidak ketulungan yang jelas, Adam jauh dari citra itu. Malahan dengan bijak, Adam menyarankan kepada salah satu temannya untuk mempelajari teori-teori kajian seksualitas dan jender, agar bisa memahami sedikit apa itu gay dari segi keilmuan.

Film ini berhasil membawa gue ke tahap bahwa sudah saatnya film gay tak lagi menyuguhkan tontonan vulgar dengan alih-alih sebagai bagian dari keutuhan cerita. Selama cerita itu bagus, bumbu eksploitasi ketubuhan “fisik lelaki sempurna” tidak diperlukan. Pun adegan Adam atau yang lainnya “pamer six pack” tidak menjadi sorot mata gue. Karena gue lebih penasaran pada cerita yang sudah terbangun, ketimbang gue harus dibikin penasaran apakah di film tersebut akan ada adegan seksualnya atau tidak. 

Film ini akhirnya membawa gue pada satu titik, throwback pada pengalaman lalu yang membuat sedikit muka gue tersenyum kecut. Nyinyir pun muncul, seandainya Adam tidak sesempurna penokohan yang tergambarkan di film tersebut, mungkin akan lain soal. Tetapi kembali lagi, namanya juga film. Gue sebagai penikmat film, merasa bahwa gue adalah saksi mata dari Pergolakan batin Adam dan ketiga sahabatnya yang setia mengikuti cerita dari awal hingga akhir tanpa perlu nyinyir di sepanjang film. Film ini tidak jelek, pun tidak terlalu bagus pula. Ada kadar yang memaksakan film ini untuk berada di level standar biasa-biasa saja. Yang pasti film ini tidak jelek untuk di tonton di penghujung pekan yang mungkin harus dilewati disaat para sahabat sedang mudik lebaran atau liburan panjang. 

Film ::: Kapoor and Sons (2016)

•June 14, 2016 • Leave a Comment

Suatu ketika ada teman fesbuk yang masang review film di statusnya. Judul film yang diangkat adalah Kapoor and Sons. Bener banget. Sangat India sekali. Dan memang film India. Namun yang jadi perhatian gue adalah, di dalam tulisannya, dia menyebutkan ada tulisan LGBT. Dan seperti biasa, langsung saja naluri untuk mencari film itu pun muncul..
Kapoor and Sons, sepertinya telah keluar dari pakem ke-india-an di mana bumbu tarian dan nyanyian hanya dimunculkan apabila beriringan dengan adegan yang memang membutuhkan tarian dan nyanyian. Bukan serta merta muncul karena naik turunnya emosi setiap karakter dalam film. Sehingga gue mengartikan nyanyi dan tarian di dalam film ini adalah memang bagian dari cerita, bukan ke-khas-an India yang selalu ditempel di setiap emosi yang muncul. Sedih, nyanyi, seneng, nyanyi, bingung pun juga harus nyanyi. Itulah hebatnya film India.
Kembali ke marga Kapoor. Sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, Kakek dan asisten rumah tangga. Sementara kedua anak lelaki mereka stay di luar negeri. Si Kakak menjadi penulis novel sukses, sementara sang adik (Sidharth Malhotra) bekerja paruh waktu sembari masih berjuang menulis novel (juga).
Keduanya “dipaksa” pulang oleh keadaan, sang kakek, Dadu, yang memiliki kebiasaan pura-pura mati mendadak terkena serangan jantung. 
Sangat jelas perbedaan antara si Kakak, Karan dengan Arjun, adiknya. Memang seperti stereotyping, dimana si Kakak yang kalem dan penuh wibawa, sementara Adik yang slengekan dan begundal. Nampak jelas pula bagaimana perlakuan kedua orang tua mereka kepada pasangan adik-kakak ini. Di awal hari kepulangan mereka, pun sudah ditemui perselisihan. Arjun merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa dibanding Karan si anak emas.
Dan konflik pun muncul satu demi satu hingga pada akhirnya keluarga disfungsional ini menemukan jawaban yang mau tidak mau harus diterima masing-masing. 

Film ini bisa dibilang adalah nafas baru perfilman Bollywood. Walo gak baru baru amat, karena gue baru nonton film India dengan isu semacam ini.
Babak demi babak di dalam drama film ini sangat begitu intens. Bagaimana ketika kita dipaksa untuk berkenalan dengan semua karakter inti, kita dibawa untuk membenci sekaligus mencintai masing-masing karakternya. Namun tentu saja itu pilihan tanpa sadar. Begitu pula dengan isu perjodohan yang masih diterapkan oleh sang ibu, beberapa diantara penonton mungkin bisa saja pro dengan isu perjodohan, namun bagi gue personal, perjodohan tanpa kompromi adalah fatal.
Namun yang menjadi sorotan gue menjelang film berakhir, ternyata isu penerimaan identitas juga sepertinya masih menjadi obrolan hangat di negeri India. Sama halnya di Indonesia, pro dan kontra pasti saja ada. Tergantung kita pada akhirnya, apakah norma sosial atau humanity yang kita yakini….
Sekali lagi, film ini tidak ada alih-alih propaganda LGBT. Melainkan kita dibawa pada kondisi yang nyata, bahwa apa yang ada di dalam film itu benar-benar ada, dan tidak mungkin tidak, suatu saat (kalau belum) kita pasti akan menjadi bagian seperti di dalam cerita film tersebut.
Semua jajaran pemainnya sangat bermain apik. Suasana kacau disaat semuanya nyerocos dengan argumen masing-masing ketika beradegan di dapur pun sangat gue acungin jempol. Gue seperti tidak sedang menonton film, tapi sedang bermain ke rumah tetangga yang sedang perang mulut satu sama lain. Dan nafas gue juga sempat terhenti karena percekcokan mereka. 
Namun lepas dari semua itu, gue sangat mengagumi karakter Dadu yang begitu out of the box. Karakter Arjun yang sebenernya biasa aja tapi menjadi gak biasa gegara aura yang dimunculkannya. Semuanya sepertinya pantas dikagumi. Begitu juga pun mereka yang mendapat porsi kecil untuk nampil di beberapa adegan. Tidak tumpah sangat pas. 
Akhirnya, gue bisa bilang, film ini bukan film terbaik tapi ini film yang baik untuk ditonton oleh mereka yang masih memiliki rasa cinta. Cinta terhadap sesama. Terhadap keluarga dan terhadap karir dan cita-cita.
Rating gue: cukup 3 aja. Hehehehee

Film ::: Jongens (2014)

•June 1, 2016 • Leave a Comment


Jongens (Brondong) ; Adalah usia rentan akan banyak rasa keingin-tahuan dan penasaran yang meledak-ledak. Gejolak jiwa yang membara yang membawa raga pada petualangan rasa yang kelak di masa berikutnya akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.
Namanya Sieger (Gijs Blom), bocah ingusan yang menggemari olahraga atletik. Sebagai hasil dari ketekunan giat berlatih, dia terpilih menjadi perwakilan sekolahnya bersama dengan teman sepermainannya Stef (Stijn Taverne). Mereka akan digabung dengan atlit lain untuk menjadi satu tim lari estafet. Berkenal lah Sieger dengan Marc (Ko Zandvliet) Bocah slenge’an yang ulahnya membikin Sieger selalu penasaran.
Sieger yang terlalu pendiam dan lempeng berbanding terbalik dengan Marc yang slebor. Berdua mereka menjadi begundal mencari kesenangan. Bisa dibilang semua aksi ugal-ugalan mereka berdua selalu dimulai dari ide-ide Marc.

Hingga pada sebuah kesempatan, muncul ajakan renang di sungai. Kesemua atlit yang tergabung pun sepakat.

Di sungai, ke empat bocah itu bersenang-senang. Melepaskan segala penat mereka selama menjalani latihan ketat untuk menuju kejuaraan. Kegembiraan mereka pun lambat laun berangsur sirna. Sudah saatnya pulang. Hanya saja saat itu, Marc memilih untuk tetap di sungai. Namun, di perjalanan pulang, Sieger menghentikan kayuhan sepedanya. Setelah kedua temannya pulang ke jalur rumahnya masing-masing, Sieger memilih untuk kembali lagi ke sungai. Menemui rasa penasarannya. Menemui Marc.

Ketika sampai di sungai, ada sedikit rasa grogi yang melanda, hendak balik, Marc memergokinya. Alhasil, Sieger pun memilih melepas bajunya dan menceburkan diri menyusul Marc.

Keduanya lebih bahagia. Kegembiraannya lebih membuncah. Masing-masing dari mereka saling merasa suka. Hingga ketika keduanya bersandar di sebuah batang kayu mengambang. Marc mencoba mencumbu Sieger, dan sambutan hangat diterimanya. Keduanya hanyut. Bukan oleh air sungai. Hanyut dalam perasaan dengan ribuan pertanyaan. Ketika hendak berpamitan pulang, Sieger melontarkan kata-kata penegasan, “Saya bukan Homo…”. Marc hanya tersenyum.

Berlanjut dari kejadian itu, kehidupan Sieger mulai berubah.

Ada kegundahan manis yang terbelenggu. Di satu sisi merasakan indah, di sisi lain merasakan jengah. Pertalian Sieg dengan Marc intim tapi tak intim. Ada kala harmoni itu muncul, ada kala simfoni itu tak timbul. Intinya, hubungan Sieg dengan Marc itu… Ingin tapi tak ingin. Mau tapi tak mau… Serba salah.

Film ini menyajikan drama (coming of age) remaja yang lumayan lambat dalam bertutur. Seperti rata-rata film remaja belum dewasa, ada batasan tipis antara bermain-main dengan bersenang-senang. Menemukan sebuah kenikmatan erotika yang didapat secara instan di saat keduanya memiliki kesempatan, yang kemudian setelahnya memilih mendiamkan.

Bisa dibilang, film ini memiliki jajaran cast yang “mungkin” terkenal di negara asalnya. Melihat akting mereka yang nampak natural dan sangat mencitrakan remaja-ramaja tanggung Eropa. Selain berkisah pada Sieg, film ini juga memiliki sub plot lain yang membawa kita pada hubungan Ayah dan Kakaknya Sieg. Seperti hal-nya anak muda yang lain di Indonesia, Ayah mana sih yang gak dongkol ngeliat anaknya ikutan club spoiler demi nyari duit tambahan…..

Meskipun tak ada lajur mengejutkan yang dimasukkan di dalam cerita, namun film ini bisa menuntun kita untuk bisa memahamipada bagaimana perasaan itu bisa menang atas sebuah ego. Ada pesan cantik di dalam film ini. Ketika kita merasa ada yang “fail” dalam hidup, ikuti kata hati. Tentukan apa yang menurut kata hati kita benar. Mengikuti suara hati untuk menjadi diri sendiri. Penolakan atas identitas pribadi akan berujung pada denial tingkat tinggi. Kegelisahan, depresi, keputus asaan dan kehilangan kendali tubuh atas pikiran dan menjadikan kita orang yang tak berakal.

Bisa dibilang film ini mirip dengan love of siam. Namun konflik pada Jongens lebih sederhana. Sedikit menguras air mata.

Nah pertanyaannya, apakah kita menonton film untuk dibikin menangis atau dibikin bahagia???? 

Rating: 3/5

Film ::: Geography Club (2013)

•May 20, 2016 • Leave a Comment

Semenjak hidup menjanda… Apa yang gue lakukan kebanyakan mengisi waktu luang dengan membaca buku dan menonton film. Dan bodohnya, sehabis nonton selalu merasa malas untuk menuangkannya ke dalam blog review. Hanya sebagian film yang bersifat pamer yang sengaja gue bikin review-nya… Sebut saja film Batman vs. Superman tempo hari.

Terlebih kayaknya banyak sekali film-film tema gay yang gue tonton tanpa dibikinin reviewnya, main hempas begitu saja. Ada beberapa faktor sih, dan salah satunya adalah gue malas setengah mati. Atau mungkin bukan malas sih tepatnya. Tapi berasa sok sibuk aja, jadi seakan-akan tidak ada waktu buat menuliskannya… BAEKLAAAAAAH!!!!
Dan film yang beruntung kali ini adalah Geography Club (bukan the Breakfast Club yaa…. ) Dan keberuntungan itu tidak diikuti oleh cerita film itu sendiri. Karena filmnya terlalu….. BIASA….


Bermula dari ciuman rahasia antara Russel dan Kevin yang dipergoki cewek asia(yang akhirnya ikut dalam arus politik perfilman hollywood, dimana cewek asia selalu mewakili sosok Lesbian) yang akhirnya menggiring kedua gay in the closet tersebut meneruskan hubungannya diam-diam. Keduanya saling suka, tapi mereka merasa lingkungan tidak suka dengan apa yang mereka sukai.

Hingga cerita membawa kita pada tokoh-tokoh yang sengaja dibikin ikonik (yang berdasar pada stereotype perfilman). Ada Lesbian yang gemuk… Gay yang feminitas nya full extra dan juga Brian si geek yang menjadi bahan bullying.


Russel merasa bahwa ada yang tidak beres dengan pilihan hidupnya. Ditambah lagi kasus dimana identitas Russel pun terblow-up gara-gara Kimberly, temen kencan sobat Russel yang gemuk, gak tau deh siapa namanya. Yang jelas Russel akhirnya digiring untuk bisa berpikir praktis tapi ekonomis. Bagaimana dia harus membuat pilihan…. Apakah dia harus tetap percaya pada Kevin atau dia memilih persahabatan murni tanpa cover tanpa topeng sosial…..?

…..

Film ini benar-benar Geografi banget… A.k.a memang membosankan, seperti juga alasan di dalam cerita film yang menyebutkan kenapa support group yang dibentuk ini memilih nama Klub Geografi. Benar. Karena Geografi itu membosankan, sehingga apabila ada orang yang hendak bergabung di dalam grup ini, pasti anggapannya adalah sebuah grup yang sangat membosankan. Dan gak bakal gabung. Itu lah yang mereka harapkan…

Namun kenyataannya, judul dan cerita di film ini, pada akhirnya gue simpulkan sebagai film tema gay yang paling “flat” di dunia.


Gak gue temuin konflik yang bisa bikin sepanjang film gue nahan napas tarik napas. Mungkin secara spontan dan berasal dari alam bawah sadar yang membimbing gue untuk harus nunggu film sampe kelar. Dan well, gak ada greget sama sekali.

Konflik antara Russell dengan Kevin pun hanya sebatas pantes-pantesan aja. Bagaimana sang idola sekolah menghadapi dilema identitas. Maju kena mundur kena, makan buah simalakama…..

Dan dengan ending yang flat, mungkin lebih tepatnya bahwa kebebasan untuk memilih hidup yang lebih “free” tanpa tekanan adalah salah satu opsi untuk menjadi gay yang fabulous. Cinta mungkin akan datang dengan sendirinya bila kita sudah mapan dengan identitas kita. Tidak tenggelam dalam jurang kemunafikan yang tak berujung.


Overall, film ini tidak membekas pun di hati. Hanya cukup tahu dan gue pernah nonton film seperti ini. Meskipun diangkat dari novel berjudul sama, gue pikir film ini mungkin lebih baik tidak diadaptasikan menjadi cerita suara dan gambar bergerak. Bahasa novel. Bukan bahasa film.

Gue tidak bilang jelek, film ini hanya terlalu biasa untuk orang seperti gue…

#apagaragarakelebihanekspektasi

Rating: 2/5

Captain America: Eek di situ…. (Bukan review)

•May 2, 2016 • Leave a Comment

Entah lah kenapa musti posting gambar ginian… Yang pasti, perpindahan studio dari Bandara AADC menuju Bandara Capt. americA bener-bener melelongkan….

1. Sepanjang AADC2, begoknya gue berdoa Cinta dan Rangga balikan….
2. Memang sebaiknya Milly dibikinin spin-off nya sendiri….
3. Kalo ada sequel, jangan Riri Reza lagi… Plisss
4. Rangga nyebelin banget…
5. AADC pertama nontonnya gak di bioskop, apa musti gue tulis di sini?
6. Kayaknya tidak selebay itu membahas soal Alya… Gue cuman penonton, dan gue kecewa soal ketiadaan Alya. (Titik)
7. Ratusan purnama bahkan sampe lima ratusan atau lebih, kayaknya udah gak mau lagi ngikutin kisahnya Rangga dan Cinta… Udah kenyang jadi follower Instagram mereka berdua… Kecuali mereka berdua secara khusus menyatakan ke gue, ” Mbak Yuni, kami minta maaf, kami akan follow Instagram kamuh!”… Yang kemudian gue curiga, “Kok kalian tau nama panggung gue?”
8. Milly…. Ternyata kita sama #sambiljogedPinguin

9. Chris Hemsworth kamu di mana sayang????
10. Chris Evans nge-gym bareng yuuuk!!!!
11. Dan akhirnya nemu seri Marvel yang asyik buat dijilat-jilat…
12. Haram bagi gue untuk membandingkan dengan produk DC kemaren….
13. Scoring-nya entah gak nyantol di kuping… Masih kepincut sama scoring pengiring kemunculan prince Diana….
14. Secara kebetulan, dua film ini memiliki keterkaitan dengan BANDARA….
15. Udah ah…. Tom Holland lucu juga jadi Spidey…. Kayaknya kalo ketemu Deadpool cocok deh… #mulaiberkhayal

View on Path

When Deadpool meet Spidey…

•May 1, 2016 • Leave a Comment

Mencintai Spider-man sudah sedari lama saat gue masih memakai seragam merah putih. Gaya ceriwisnya Selalu membuat gue pengen nyumpel mulutnya. Walaupun begitu, seribu kali sayang tetap gue sempatkan kepadanya. Untuk semua kisah ini, gue berusaha untuk skip MJ and GS. Lagi pula ini tentang gue, tentang Spidey dan juga tentang Deadpool….

Mencintai Deadpool pun baru baru ini. Di saat trailer filem nya yang keluar seliweran di ranah youtube. Gue pikir, karakter marvel yang satu ini unik, karena ternyata lebih ceriwis daripada Spidey, mungkin faktor ini lah yang akhirnya menjadikan kegatelan beberapa massa untuk mencomblangkan Spidey dengan Deadpool. Dan hasilnya….

Well, berikut gue mendapatkan gambar-gambar imajinatif terkait pengandaian terhadap superhero tersebut bila “disatukan”…..

CerKat (Cerita Singkat) #001

•April 9, 2016 • 2 Comments

Sampai detik ini, Bapak tak pernah sudi memakan masakanku dengan sadar. Biasanya mau memakan kalau Emak yang mengaku sebagai juru masaknya tanpa tahu siapa yang sebenarnya memasaknya.

Bapak tak pernah mau mengendus aroma masakanku. Sampai detik ini. Biasanya, Emak hanya bertugas untuk semenit memanasi masakan yang sudah aku olah sedemikian rupa hingga Bapak tidak sadar bahwa masakan yang dipanasi Emak adalah hasil jerih payahku.

Sampai detik ini, Bapak tak pernah tahu. Bahwa sampai detik ini, aku sudah lupa berapa banyak macam masakan yang sudah dilahapnya. Aku tahu Bapak suka masakanku. Aku juga tahu, kenapa sampai detik ini, bapak tak pernah sudi memakan masakanku dengan sadar kalau aku yang memasak masakan yang dihidangkan Emak.

Sampai Detik Ini…

9 April 2016

View on Path