Film ::: Sabrina (2018)

•July 20, 2018 • Leave a Comment

Hasrat untuk menonton film ini muncul semenjak di kantor ada 4 anak magang baru. Berasal dari Medan, dan bisa menjadi hiburan tersendiri buat gue. Tetiba, setelah hampir sebulan magang, mereka sempet takut-takut buat ngajak nonton film. Tanpa spesifik film genre apa. Dan dengan santainya gue ngiyain dan memilih film horror. Sabrina…. (btw, mungkin ada baiknya, sebelum baca tulisan ini, baca dulu prequel dari film ini, yang kita menyebutnya Sabrina sebagai Spin-off dari The Doll 2)

Memilih film itu tidak dengan tanpa alasan sih. Pertama, gue penasaran sama akting Luna Maya. Semenjak ada beredar foto first look dia yang akan berperan sebagai Suzanna dalam film remake #BernafasDalamKubur . Jadi menurut gue gak ada salahnya sih.

Alasan yang lain juga karena kita berlima sepakat bahwa tak ada genre lain yang lebih seru kalau ditonton rame-rame kecuali film genre horror. Menonton di Setiabudi One. Tendensinya sih selain murah meriah, juga karena biar gak jauh-jauh pulangnya. (Tetep gak mau rugi).

Gue pikir mereka ini ( baca: anak anak magang ) anak baik-baik yang santun kalau nonton di dalam bioskop. Tapi nyata-nyata-nya jauh dari harapan. Nurani gue seakan-akan terkoyak melihat reaksi saat menonton film. Sangat menyebalkan gue rasa. Sebut saja si A, si B, si C dan si D yang memiliki keunikan sendiri-sendiri saat menonton film.

Si A yang kecenderungan mendadak jadi tukang komentator, si B yang merespon, si C yang cekikian dan si D yang lebih cekikikan. Pokoknya mereka gak ada bener-benernya. Menyesal gue mengajak mereka.

Ini semua gara-gara Sabrina!!

Film dibikin nge-twist. Tetiba si Rizki Hanggono yang tampilannya semacam penikmat agama yang paling magis lari tergopoh-gopoh mencari istrinya. Dan saat ditemukan sang istri menempel kesurupan kayak tokek yang nempel di dinding luar rumah. Gue takut? Masih belum… gak juga tegang…

Dan beralih lah film berjalan dengan menceritakan kisah Maira dan Aiden. Pasangan Luna Maya dan Christian Sugiono ini sangat terasa nyata. Serasi dan goal suami istri banget. Apalagi gaya bicara Christian yang santun banget macam dubber Indonesia di serial telenovela bikinan Spanyol. Mengingatkan gue pada iklan-iklan tv jadul kala itu. Oh nyatanya, mungkin itu bisa jadi karena Christian memang dituntut untuk berakting sedemikian itu.

Soal akting, jangan lupakan kemunculan mas Jeremy Thomas. Wow, sampe gue nulis tulisan ini, gue masih gak pernah kebayang. Mau jadi apa si Thomas ini. Gue pikir dia ini perwujudan Tingky Wingky yang selalu bawa tas tangan kemana- mana. Cucok kali mas mas satu ini. Yang pasti, di awal-awal, Mas Jer ini kayak bener-bener tempelan buat penampilan super over nya si Laras, yang diperankan dengan super (dipaksa) meyakinkan banget.

Well, bener-bener keluarga Warren banget. Selalu ada apa apa pasti berdua. Sara dan Jeremy disetting menjadi pasangan yang serasi karena tragedi. Kesamaan nasib dan sempitnya dunia.

Polemik menjadi panjang, saat “anak titipan” pasangan Maira dan Aiden mempunyai teman sekolah SD yang bahasa komunikasinya pada level profesor. Dalihnya si Ditho (nama bocah berwawasan luas melampaui rata rata bocah biasa) tau kata “Entitas” dari informasi kakaknya.

Dibikin masuk akal, tapi jatuhnya jadi pengen nelen paku bulat-bulat. Ini si Ditho kayaknya kakaknya adalah penulis kamus besar bahasa Indonesia. Yang gemar ngasih semangat untuk Ditho agar menghapalkan kata-demi-kata biar terdengar kece. Secara anak SD sudah terbiasa dengan kata entitas. Alamat…..!!!

Atau memang karena gue nya yang kudet yess, whatever lah, sejak adegan ini, firasat gue semakin kenceng buat mengumpulkan cacian yang berunsur pujian.

Dan selanjutnya, gue menemukan bahwa Luna Maya lebih cocok berperan jadi perempuan yang doyan kesurupan. Bagus banget aktingnya. Tapi agak ruined juga pas nyadar bahwa hampir sebagian dialognya dubbing-an. Jadi lebih jelas sih, tapi ada kekakuan dalam setiap kata-katanya. Atau kalimat dalam dialognya yang memang kaku nauzubillah.

Oh selain itu, gue juga nemu soal teknis pengambilan gambarnya. Entah lah, memang sepertinya bener-bener sengaja menggunakan trik kamera yang nge-zoom hingga masuk ke pori-pori tembok dan nembus. Pergerakan kamera itu jadinya berlebih dan kesan yang gue dapat, mubazir dan jatuhnya kayak sutradara yang baru nemu teknik ngambil gambar yang unyu.

Overall, film ini memang ada unsur-unsur jump-scare-nya. Gak berlebihan, tapi sering kali meleset.

Dan yang terakhir, sepertinya si Aiden emang sakit mental parah. Seonggok boneka Sabrina dikata Cantik dan bagus banget. Sarap sudah. Logika nya gak jalan. Sum deh…

Ya jelas aja kalo Ayah Aiden, lebih memilih kakaknya Aiden. Secara masih waras, bisa bedain mana boneka lucu dan mana boneka absurd. Mungkin di mata Aiden, ada yang lebih penting dari sekedar creepy-nya si Sabri.

Ini yang bikin gue begidik dari awal nonton, itu si Sabrina cantiknya dari sudut pandang mana? Monas? Begidik bukan karena takut, tapi karena aneh.

Ngomongin soal aneh, si anak titipan juga aneh sih. Dari awal kemunculannya juga aneh. Yaha, mau gimana lagi, namanya juga resiko nonton film macam ini, yang aneh-aneh justru gak nemu di setannya, tapi di beberapa karakter filmnya.

Ya sudah lah yaa… semoga Tingky Wingky gak tereak-tereak “siapa yang ngambil tas gue – siapa yang ngambil tas gue – siapa yang ngambil tas gue”

Rating : ⭐️⭐️

Dan mereka pun ketagihan buat nonton film horror lagi… 😭😭😭

Advertisements

SINGLE sampe kapan?

•June 26, 2018 • Leave a Comment

Pernah gak sih, kamu hidup dalam satu garis lurus, yang ngerasa sudah gak ada lagi pilihan. Lurus ajah, dan malah seakan-akan dengan lurus kita seperti ditenangkan dan ngerasa bahwa belok ke kiri atau ke kanan adalah bukan sebuah pilihan, tapi masalah.

Itu yang gue hadapi sekarang. Segala macam rencana dan gambaran masa depan tetiba musnah dan gak nyata. Ada problem social yang muncul dan seakan-akan berperan penting menjadi satu persoalan yang harus gue selesaikan saat itu juga. Namun faktanya, justru menjadi kian larut dan berkepanjangan. Ada rasa yang menghambat semua proses itu. Tidak menemukan kepastian jawaban, dan semakin terjerembab pada kasus tersebut.

Menyedihkan memang. Kondisi ini lagi-lagi membuat gue seakan-akan bahwa gue adalah menjadi orang yang “gagal” banget di dunia ini. Bagaimana tidak, sudah mendapatkan previllage untuk menyelesaikan masalah, namun justru masalah gak bisa kelar dan semakin tak menentu. Ujung-ujungnya orang lain yang dipermasalahkan.

Pagi tadi, gue bangun tidur dan merasa tertohok untuk yang kesekian kali. Kondisi badan lumayan “rusak” dan otak sepertinya jarang gak tegang. Bangun bangun malah body sempoyongan. Kali itu pertama kalinya dalam 2 tahun terakhir, gue ketakutan. Ada rasa yang membuat gue ciut pikir. Ada ketakutan kecil yang sepertinya menjadi momok menyedihkan. GUE SENDIRI.

 

FAAAAK, setelah nulis panjang lebar, ternyata-ujung-ujungnya takut berkesendirian. Hey, gak segampang itu sih, nyinyir soal “sendiri” alias SINGLE.

Sudah hamper 35 tahun, dan gue masih saja sendiri. Itu tuh rasanya kayak mau bilang fak tapi udah hilang esensi dari makna fak itu sendiri. Ibarat kata harimau mengaum, di kuping kita mengeong.

Beberapa kali akhirnya sempat kepikiran, jangan jangan ada yang salah dengan diri kita. Gue maksudnya… Oh may gooot..

Segala hal yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan, pasti disenggol-senggolkan dengan masalah asmara, percintaan, pergendak’an, perewi-ewian dan per-per yang lain. Kayak contoh nih, “kemaren gue sakit, lumayan merepotkan sih” dan kemudian ada yang nyeletuk, “KALAU LU punya pacar, kerepotan itu gak ada dalam kamus hidup lu”, meninggal kan. Udah gitu belum lagi kalau sudah menjurus ke masalah social. Saat jalan kemana atau ada acara apa gitu, pasti selalu saja ada yang bakal nanyain, “pacarnya mana?” “kok sendirian, pacarnya gak ikut?”

Jreeeeeeeng!!! Rasa-rasanya pengen lipsync lagu dangdut – Iis Dahlia dengan diiringi hujan gerimis deh.

Kultur masyarakat sepertinya memang diciptakan untuk menjadi simpatik tapi kebablasan. Tujuannya mungkin dirasa baik tapi jatuhnya semacam kont*L. Awalnya nanyain kabar, berikut-berikutnya nanyain, “kapan nyusul?” *dalam hati gue, “Hellooo siapa andah, main nyusul-nyusul, situ okeeh, situ gak layak keleussss disusul”

Balik lagi soal paragraph di awal tulisan ini. Nah yang gue maksud dengan lurus adalah masalah percintaan gue. Yang notabene hanya lempeng menggelimpang begitu ajah. Gak ada biru-biru-nya, hitam semua. Iya serem banget memang. Sudah beberapa kali membuka diri. Dan itu memang terkadang amat sangat melelahkan. Disaat kita siap membuka diri, namun semesta menutup semua peluang dan kesempatan yang ada, dan disaat kesempatan itu datang dan berserakan, malah justru di saat itu, gue hanya berteman luka dan trauma. Jijay yaaa. Ya emang gitu adanya.

Trus maunya kayak gimana, sebenarnya segala macam usaha udah gue lakuin. Dari yang jualan di daring apps, hingga yang ngobral di jalanan. Lonte ya kedengarannya, tapi gue suka. Tapi konteks lonte disini jangan diinterpretasikan sebagai makna kelontean yang sebenarnya. Penggunaan kata lonte hanya sebatas kiasan. Ya gue sih gak masalah dipadu-padankan semacam lonte. Gak ngaruh juga. Cuman penggunaan kata tersebut belum tentu nyaman disasarkan ke orang lain yess.

So, titik pencerahan yang harus kayak gimana yang bakal gue cari? Apakah tetap optimis bahwa kehidupan itu pada akhirnya bersua dengan kematian yang bisa dengan eksplisit disimbolkan dengan SENDIRI? Atau gak ada salahnya mencoba untuk mencari sesuatu yang bersifat MENJALANI KEHIDUPAN, maksud gue ya hidup dengan mengisi kehidupan untuk orang lain, atau gini deh, hidup dengan berbagi bersama orang lain?

Yang jelas, gue masih sepakat dengan naluri gue yang sebenernya gak berbakat hidup single, jadi apapun yang terjadi, marilah merayakan maunya semesta seperti apa, biar kita sebagai makhluk yang sejatinya tunggal yang tinggal menentukan… kuy!

Film ::: Premika (2017)

•April 25, 2018 • Leave a Comment

premika-thai-movie-poster

Sebenernya sudah lama tau, kalo ada bioskop alternatif selain waralaba 21cineplex. Kalo dulu ada yang namanya Blitzmegaplex. Nah sekarang udah ganti nama menjadi CGV. Pun juga ada lagi jaringan bioskop baru yaitu Cinemaxx yang baru beroperasi beberapa tahun belakangan.

Padahal belum nemu bosan juga dengan yang namanya XXI, maklum emang suka jajan nonton, jadinya ya selalu ada waktu buat mereka (baca: bioskop XXI). Berhubung selentingan dan santer beredar kabar bahwa ada jaringan bioskop selain XXI yang memberikan alternatif tontonan lain, yang memutar film-film non hollywood.

mereka adalah film-film yang diproduksi di luar Hollywood. Seperti film yang berasal dari negara selain Amerika atau Inggris. Sebut saja film produksi Thailand, Jepang, Korea dan juga India. Termasuk juga film Eropa.

Dan kebetulan, gue telah beberapa kali menjadi penikmat bioskop tersebut. Sebut saja Cinemaxx yang semalam gue nonton film Premika. Dan hasilnya di luar kendali. Sumpah, baru kali ini gue bisa ngakak dalam keterkejutan gue karena film ini sendiri adalah film horror yang dibalut dengan unsur komedi. Ada komponen-komponen yang justru rupanya menjadi nilai tawar yang pada akhirnya kenapa gue suka film ini.

Film ini memang konsepnya membahas soal Hantu yang mati penasaran. Ceritanya, Si Premika (nama hantu-nya) adalah korban pembunuhan oleh seorang yang lalim di kota-nya. Premika (Natthacha De Souza) sendiri adalah ternyata seorang pendatang gelap yang pergi dari desa ke kota untuk bekerja, namun sayangnya, dia menjadi korban perdagangan manusia yang sampai akhirnya dia berujung pada profesi sebagai gadis karaoke.

premikaaaaa

Hingga pada suatu ketika, sebuah bangunan penginepan yang dibuka kembali setelah sekian lama terbengkalai. Sebagai bukti bahwa penginapan tersebut ramah dan baik-baik saja, pemilik penginapan sengaja mengundang beberapa publik figur termasuk selebgram untuk menginap di tempat tersebut.

Dan namanya juga film horror komedi, balutan mesum sepertinya gak bisa lepas dari film jenis ini untuk ukuran film Thailand. Dua ikon penyanyi yang hanya menjual body, suara hanya yang kesekian, pun menjadi daya tarik dari awal hingga penghujung film ini. Secara, kalau gue melihat mereka berdua, seakan-akan gue dihanyutkan dengan kisah si Laluna Cinta atau apalah namanya. lupa gue.

premikaaaaaaaaa

kemudian ada karakter dua lelaki konyol yang digambarkan tidak cakep, dan memang tidak ada cakep-cakepnya sih. kedua lelaki ini rupanya juga memiliki andil dalam meramaikan pesta perhantuan sepanjang film berlangsung.

Malas juga mengenalkan satu persatu, yang jelas ada karakter entah Butchie atau Transmen yang muncul dalam film ini. Di beberapa dialognya, Dia memperkenalkan dirinya sebagai laki-laki, namun di akhir film malah dia menampakkan ekspresi gendernya sebagai perempuan. jadi kurang jelas juga dia sebagai apa. but, itu gak penting, karena ternyata yang lebih penting adalah, apakah kamu bisa nyanyi atau tidak!!

Itu lah yang menjadi premis di film ini. Kalau lu ketemu Hantu premika dan ternyata suara lu sumbang alias fals, alemong deh, nyawa lu melayang sia-sia gegara nyanyi yang parah abis. terkadang pun suara bagus gak ngaruh kalau dirimu lupa lirik, itu pun juga bakal dihabisi. Sepertinya, Premika punya motif lain, selain daripada menyuruh korbannya hanya sekedar bernyanyi.

premikaaa

Film ini memang sangat-sangat menghibur, meski darah muncrat dimana-mana, tetap saja gue dibawa untuk ngeri dan ngakak secara bersamaan. adegan-demi-adegan seakan-akan mengingatkan gue akan film musikal, tetapi film ini bukan film musikal, film ini memang muatannya ada adegan bernyanyi, tapi bukan untuk bermusikal.

Isu yang diusung untuk jenis film ini pun tidak main-main. ada isu perdagangan manusia yang diucung cukup dramatis, ternyata juga ada isu LGBT yang bikin gue adem ngeliatnya, kayak, owalaaah jadi dia suka dia toh, hmmmm. gitu-gitu lah. Dan bersyukurnya, isu yang ini balutannya sedikit absurd dan cukup mengajak gue untukj berseru, “kampreeet!”

Overall, gue cukup terhibur dan sangat terhibur malah, tumben-tumbenan gue gak ngantuk sama sekali, padahal gue ngambil jam nontonnya di jam 7.15 PM. Padahal kalo biasanya di jam-jam segitu pasti akan dan bakal tertidur–kalau filmnya gak bagus–dan hal ini bisa ngebuktiin kalo Premika gak sesumbang suara gue kalo lagi nyanyi…

premi

Walo agak telat nontonnya, tapi rekomended sih buat kalian yang pengen hiburan segar. sesegar darah Premika yang muncrat ke muka karaoke lovers.

 

premika

Kangen Komentar Miring

•April 6, 2018 • Leave a Comment

Hari ini gue menyempatkan diri untuk menulis. Mungkin tidak ada spesifikasi jenis apa tulisan gue. Yang jelas, tulisan ini hanya untuk membuktikan bahwa gue masih ADA.

Beberapa waktu belakangan, masih ada saja komentar-komentar yang muncul di postingan blog gue. Dan sepertinya, sudah mulai mengecil intensitas komentarnya. sekarang, sebulan bahkan, sudah gak ada lagi hiasan komentar yang notif-nya muncul di henpon. mendadak gue kangen dengan komentar-komentar menggatal itu. yang bilang gue dilaknat lah, gue diini lah gue diitu lah. Pokoknya seram. tapi ya begitulah,

Semoga besok sudah lebih baik.

IMG_8980

Film ::: HOAX (2018)

•February 1, 2018 • Leave a Comment

Saat menulis review film ini, suasana peta politik di Indonesia sedang genting-gentingnya. Barang dagangan yang paling banyak dan laris tergoreng dan terjual habis adalah LGBT fried Chicken…

Tapi hal tersebut tentunya gak menyurutkan gue buat stop untuk ngelakuin sesuatu walo hanya sekedar menulis review film. Apalagi ternyata film Hoax ini ternyata banyak sekali sempilan-sempilan yang sebenarnya mengandung sentilan yang sesiapapun bisa kesentil.

Lucunya, film yang sempat diberi judul “Rumah dan Musim Hujan” ini gue jadikan jujukan nonton dengan hanya menonton trailernya 2 kali. Dalam hati gue cuman ngomong, “oke, ada Tara Basro, Vino G. Bastian dan juga sutradara Ifa Isfansyah…fix”.

Tertatih karena masih dalam masa karantina (ceritanya gue lagi bed rest, oleh dokter, gue didapuk memiliki tekanan darah tinggi, dan lagi naik-naiknya setelah kejadian tempo hari. Dan juga masalah psikologis yang tak kunjung lenyap. Butuh hiburan gue rasa. Jadi toh, daripada membengong tak berdaya di kosan, mending menggelepar manja ke mall belakang, menonton film yang baru saja rilis, karena film Indonesia selalu keluar di hari kamis.

Ya intinya, suka tidak suka, bagus gak bagus ya harus diterima, efek nanti dampaknya buruk, itu konsekuensi terberat yang harus gue terima. Setidaknya, gue udah lama gak menyaksikan film Indonesia. Yang ada Tara Tora nya…

Dan untuk lebih mengurangi patah hati di kemudian menitnya, gue mengupayakan tidak berekspektasi macem-macem, ya minimal cuman ngebayangin aja, itu si Tora Sudiro mau jadi apa di situ.. mengingat sudah ada Vino standby menjadi karakter Ragil yang memakai celana cingkrang yang gemar religi itu.

Baiklah, langsung saja gue perkenalkan siapa aja yang ada dalam keluarga Ragil. Ada sang Ayah yang dengan apik diperankan oleh Landung Simatupang. Kemudian tokoh Adek yang dibawakan oleh Tara Basro dan juga Mas Raga yang diperagakan oleh Tora Sudiro. Terus ada Aulia Sarah yang berperan sebagai Sukma pacar barunya Raga.

Dikisahkan dalam semalam saja saat manusia di bumi menjalankan puasa Ramadhan, keluarga ini diperkenalkan dengan permainan sebut nama berapa kali yang diimport oleh ayah dari korea. Sukma rupa-rupanya suka dengan kebiasaan keluarga Raga, namun tidak dengan Ayah. Ayah lebih memilih menjadi (tetap) kejawen ketimbang harus meninggalkan kearifan lokalnya demi agama Istrinya. Semenjak suami ini berpisah, Ayah dan Mama mempersulit ke tiga anaknya. Namun untungnya mereka ber tiga tak terbujuk untuk berkeluh kesah. Mereka dewasa dengan caranya masing-masing.

Sang ayah yang ternyata memiliki penyakit pikun pun tak berdaya untuk bisa memaksakan apa yang menjadi kehendak anak-anaknya. Mau hidup dengan ayahnya atau mama-nya, semua berhak untuk memilih. Dan Adek memilih untuk bersama Mama, sementara Raga sudah memiliki rumah sendiri.

Setelah acara buka puasa bersama selesai, malam itu sepertinya menjadi malam yang panjang buat masing-masing anak-anaknya.

Perkisah kita akan disuguhkan dengan plot-plot ngawur yang indah. Bagaimana cuilan-cuilan scene yang menghiasi satu sama lain, adegan per adegan menjadi cover untuk adegan yang lainnya. Unsur klenik yang diusung dan yang kebetulan gue sukai pun lumayan dibahas. Ada weton, dulur ari-ari dan lain-lain. Dan sepertinya hal-hal kayak gini lah yang akhirnya membawa unsur film drama menjadi sangat horrific.

Walau terkadang karakter Sukma sangat menyebalkan, namun sebagai kebutuhan film, biasanya yang model beginian selalu di ada-ada-in. Beruntung endingnya gue suka dengan apa yang terjadi dengan Sukma jadi, well… mampus kau Sukma… hahahahaa….

Kemunculan Jajang C. Noer yang dengan selalu senantiasa gayanya yang kalem tapi serem mampus juga bikin gue kayak kengerian sendiri. Emak-emak satu ini makin lama makin minta dicipok deh… tek-tok-an dengan Tara Basro-nya bikin gue ngeri-ngeri sedap.

Dan kalipun ini adalah film yang ke entah nya si Tora, akhirnya gue mengampuni dia apa adanya. Sebagai mantan, kamu berhasil membuat gue lupa, kalau dulu gue sempet gak suka sama kau…

Banyak pesan-pesan yang bisa jadi bukan pesan yang sebenernya. Akhirnya kalo gue ma bilang, film ini akan memiliki pesan yang berbeda-beda bagi sesiapapun yang sudah menontonnya.

Terkait si Ragil, nantikan kejutan di akhir-akhir penghujung film, memang sih sudah ada sinyal bahwa siapakah Ragil, toh bagi yang ngeh dengan pertanda itu pasti bakalan ngeh, tapi kalo gak ngeh ya jangan dipaksain juga. Film ini kemudian membawa gue flashback ke tahun-tahun lampau, saat Vino lagi ranum-ranumnya, dia sempat membintangi film pendek bersama Mariana Renata yang berjudul Matchmaker yang disponsori oleh ikan sabun mandi yang dulu pernah jaya di jamannya.

Well, beruntung gue nonton film ini pas hari rilisnya… entah deh apakah turun cepet atau gak. Yang jelas sukses terus buat penulis cerita dan semua kru yang bertugas, karena nonton film ini kayak menggerakkan stabilo warna kuning pada tulisan di buku diary gue.

Walo udah gitu, kenapa judulnya Hoax kadang masih bertanya-tanya, hoax-nya di mana?memang sih di akhir-akhir semuanya pelan-pelang kebongkar, tapi kan tapi kan… ya udah lah, pokoknya jangan lewatkan closingnya. Karena ada sesuatu di endingnya… (lagi-lagi)…

Rating: 3/5

S__10313747

Film ::: Guardians of The Galaxy vol 2

•January 16, 2018 • Leave a Comment

Produk Marvel adalah sangat tidak mungkin untuk gue lewati. Film apapun itu. Mungkin ada sebagian orang yang bilang film superhero adalah tema film buat anak-anak… well itu salah besar. Justru kalo menurut gue, film dengan sekelas Guardians of The Galaxy pun bukan pula hanya untuk anak-anak… pendapat itu menjadi salah besar. Tema superhero adalah tema film yang bisa dinikmati oleh sesiapapun. Malahan jangan salah, Deadpool adalah film tema superhero yang justru tidak dianjurkan untuk ditonton oleh anak-anak. So… masih menganggap film superhero adalah hanya untuk anak-anak?

Well, ga ada salahnya di gue, kalo gue nonton film Guardians of athe Galaxy sendirian. Setelah kisah kasih yang kemaren (baca tulisan Fate of the Furious 8) kandas gegara perpelontoan yang tidak sehat. Jadi ga ada lagi romansa indah yang menghiasi petualangan nonton gue bersama orang terkasih. Menonton sendiri pun tak kalah romantis dibanding bersama pacar atau kekasih (yang ini emang maksa sih).

Guardians of The Galaxy bukan film yang bagus tapi juga bukan film yang jelek. Gue mungkin mengkategorikannha sebagai film yang cukup entertaining. Menghibur dari beberapa sisi. Pertama, gue suka film yang mengandung unsur luar angkasa. Yang kedua gue nge-fans si prattprattpratt dan yang ketiga gue udah nonton GoTG yang vol 1, jadi sepertinya akan sayang kalo gue lewatkan begitu saja. So far, disini, mas Pratt tampil seperti biasanya. Ada beberapa nuansa kocak yang kocaknya ga sekocak yang pertama. Palingan scene Marry Poppins yang bikin gue ngakak…. selebihnya, semuanya… dubidubidam….

Mendambakan Pratt bisa lebih berkembang lagi kualitas aktingnya. Ahay… kayaknya gak bisa panjang deh menceritakan apa yang perlu diceritakan di seri GoTG vol 2 ini. Masih ada bayangan mantan yang sempat jadian hanya 2 hari saja kemudian pisahan ( baik-baik).

Mungkin besok-besok bisa lebih panjang dan lama. Tanpa besar tanpa berurat! Hahahaaa

Rating: 2.5 dari 5 bintang

Guardians of The Galaxy vol 2 | 2h 16minutes | James Gunn

Film ::: Grown Ups (2010) | Grown Ups 2 (2013)

•January 15, 2018 • Leave a Comment

Grown Ups (2010) | Grown Ups 2 (2013)
1 h 42 minutes | 1 h 41 minutes
Dennis Dugan

Totally sexist film…. Bullying film….. Dari otak Adam Sandler yang kayaknya berisi kelucuan slapstik yang dikelola dalam sebuah skenario payah. Berisi eksploitasi tubuh perempuan. Gaya Hollywood yang sampai sekarang dimitoskan selalu menghasilkan pundi-pundi uang yang lumayan.

Emang sih, di amrik sono, filem bergenre comedy selalu mendapat tempat di hati penggemarnya. Termasuk filem filem action yang notabene menjual nama sang pemain atau sang sutradara. Lain amrik, lain negara sini. Horror dan action lebih menjual ketimbang genre comedy. Mungkin bangsa sini sudah terlalu lelah untuk mentertawai hidupnya yang cenderung absurd tanpa bunga-bunga.

Filem yang dibintangi juga oleh Chris Rock, Kevin James, David Spade dan Rob Schneider mengambil tema persahabatan kekal.
Dari kecil mereka terbentuk menjadi sebuah team basket di sekolah, hingga menjuarai kompetisi. Dan nama team mereka pun melegenda hingga usia mereka menginjak era digital terkini.

Dan akhirnya dimunculkan konflik dengan ke-khas-an Adam Sandler. Teori-teori yang berhubungan dengan bagaimana meng-capture bodi perempuan, sehingga kesan perempuan sebagai object sangat begitu kental.

Sehingga dampak yang muncul adalah, cowok yang gak ngiler kalo ngeliat cewek seksi pasti “bukan” cowok. Cowok yang gak “ngaceng” kalo liat cewek berbikini pasti “doyan” cowok!! Stereotype banget!

Padahal jauh sebelum ada film ini, Adam Sandler cukup sukses membintangi 50 First Dates.

Namun entahlah, bagi gue, film ini kehilangan daya tarik. Sangat tidak begitu personal. Sangat sangat Hollywood….

Bagaimana lagi, Adam Sandler sudah terlanjur menjadi icon comedy bagi para pecinta genre penghasil gelak tawa ini, khususnya warga Amrik.

Jujur, gue suka karakter Roxanne yang dimainkan Salma Hayek… Rasanya bodi gue pun sepantaran…. Gak usah protes!!!!

Semoga gak ada sekuel nya lagi… Plisss!!!!