Film ::: Premika (2017)

•April 25, 2018 • Leave a Comment

premika-thai-movie-poster

Sebenernya sudah lama tau, kalo ada bioskop alternatif selain waralaba 21cineplex. Kalo dulu ada yang namanya Blitzmegaplex. Nah sekarang udah ganti nama menjadi CGV. Pun juga ada lagi jaringan bioskop baru yaitu Cinemaxx yang baru beroperasi beberapa tahun belakangan.

Padahal belum nemu bosan juga dengan yang namanya XXI, maklum emang suka jajan nonton, jadinya ya selalu ada waktu buat mereka (baca: bioskop XXI). Berhubung selentingan dan santer beredar kabar bahwa ada jaringan bioskop selain XXI yang memberikan alternatif tontonan lain, yang memutar film-film non hollywood.

mereka adalah film-film yang diproduksi di luar Hollywood. Seperti film yang berasal dari negara selain Amerika atau Inggris. Sebut saja film produksi Thailand, Jepang, Korea dan juga India. Termasuk juga film Eropa.

Dan kebetulan, gue telah beberapa kali menjadi penikmat bioskop tersebut. Sebut saja Cinemaxx yang semalam gue nonton film Premika. Dan hasilnya di luar kendali. Sumpah, baru kali ini gue bisa ngakak dalam keterkejutan gue karena film ini sendiri adalah film horror yang dibalut dengan unsur komedi. Ada komponen-komponen yang justru rupanya menjadi nilai tawar yang pada akhirnya kenapa gue suka film ini.

Film ini memang konsepnya membahas soal Hantu yang mati penasaran. Ceritanya, Si Premika (nama hantu-nya) adalah korban pembunuhan oleh seorang yang lalim di kota-nya. Premika (Natthacha De Souza) sendiri adalah ternyata seorang pendatang gelap yang pergi dari desa ke kota untuk bekerja, namun sayangnya, dia menjadi korban perdagangan manusia yang sampai akhirnya dia berujung pada profesi sebagai gadis karaoke.

premikaaaaa

Hingga pada suatu ketika, sebuah bangunan penginepan yang dibuka kembali setelah sekian lama terbengkalai. Sebagai bukti bahwa penginapan tersebut ramah dan baik-baik saja, pemilik penginapan sengaja mengundang beberapa publik figur termasuk selebgram untuk menginap di tempat tersebut.

Dan namanya juga film horror komedi, balutan mesum sepertinya gak bisa lepas dari film jenis ini untuk ukuran film Thailand. Dua ikon penyanyi yang hanya menjual body, suara hanya yang kesekian, pun menjadi daya tarik dari awal hingga penghujung film ini. Secara, kalau gue melihat mereka berdua, seakan-akan gue dihanyutkan dengan kisah si Laluna Cinta atau apalah namanya. lupa gue.

premikaaaaaaaaa

kemudian ada karakter dua lelaki konyol yang digambarkan tidak cakep, dan memang tidak ada cakep-cakepnya sih. kedua lelaki ini rupanya juga memiliki andil dalam meramaikan pesta perhantuan sepanjang film berlangsung.

Malas juga mengenalkan satu persatu, yang jelas ada karakter entah Butchie atau Transmen yang muncul dalam film ini. Di beberapa dialognya, Dia memperkenalkan dirinya sebagai laki-laki, namun di akhir film malah dia menampakkan ekspresi gendernya sebagai perempuan. jadi kurang jelas juga dia sebagai apa. but, itu gak penting, karena ternyata yang lebih penting adalah, apakah kamu bisa nyanyi atau tidak!!

Itu lah yang menjadi premis di film ini. Kalau lu ketemu Hantu premika dan ternyata suara lu sumbang alias fals, alemong deh, nyawa lu melayang sia-sia gegara nyanyi yang parah abis. terkadang pun suara bagus gak ngaruh kalau dirimu lupa lirik, itu pun juga bakal dihabisi. Sepertinya, Premika punya motif lain, selain daripada menyuruh korbannya hanya sekedar bernyanyi.

premikaaa

Film ini memang sangat-sangat menghibur, meski darah muncrat dimana-mana, tetap saja gue dibawa untuk ngeri dan ngakak secara bersamaan. adegan-demi-adegan seakan-akan mengingatkan gue akan film musikal, tetapi film ini bukan film musikal, film ini memang muatannya ada adegan bernyanyi, tapi bukan untuk bermusikal.

Isu yang diusung untuk jenis film ini pun tidak main-main. ada isu perdagangan manusia yang diucung cukup dramatis, ternyata juga ada isu LGBT yang bikin gue adem ngeliatnya, kayak, owalaaah jadi dia suka dia toh, hmmmm. gitu-gitu lah. Dan bersyukurnya, isu yang ini balutannya sedikit absurd dan cukup mengajak gue untukj berseru, “kampreeet!”

Overall, gue cukup terhibur dan sangat terhibur malah, tumben-tumbenan gue gak ngantuk sama sekali, padahal gue ngambil jam nontonnya di jam 7.15 PM. Padahal kalo biasanya di jam-jam segitu pasti akan dan bakal tertidur–kalau filmnya gak bagus–dan hal ini bisa ngebuktiin kalo Premika gak sesumbang suara gue kalo lagi nyanyi…

premi

Walo agak telat nontonnya, tapi rekomended sih buat kalian yang pengen hiburan segar. sesegar darah Premika yang muncrat ke muka karaoke lovers.

 

premika

Advertisements

Kangen Komentar Miring

•April 6, 2018 • Leave a Comment

Hari ini gue menyempatkan diri untuk menulis. Mungkin tidak ada spesifikasi jenis apa tulisan gue. Yang jelas, tulisan ini hanya untuk membuktikan bahwa gue masih ADA.

Beberapa waktu belakangan, masih ada saja komentar-komentar yang muncul di postingan blog gue. Dan sepertinya, sudah mulai mengecil intensitas komentarnya. sekarang, sebulan bahkan, sudah gak ada lagi hiasan komentar yang notif-nya muncul di henpon. mendadak gue kangen dengan komentar-komentar menggatal itu. yang bilang gue dilaknat lah, gue diini lah gue diitu lah. Pokoknya seram. tapi ya begitulah,

Semoga besok sudah lebih baik.

IMG_8980

Film ::: HOAX (2018)

•February 1, 2018 • Leave a Comment

Saat menulis review film ini, suasana peta politik di Indonesia sedang genting-gentingnya. Barang dagangan yang paling banyak dan laris tergoreng dan terjual habis adalah LGBT fried Chicken…

Tapi hal tersebut tentunya gak menyurutkan gue buat stop untuk ngelakuin sesuatu walo hanya sekedar menulis review film. Apalagi ternyata film Hoax ini ternyata banyak sekali sempilan-sempilan yang sebenarnya mengandung sentilan yang sesiapapun bisa kesentil.

Lucunya, film yang sempat diberi judul “Rumah dan Musim Hujan” ini gue jadikan jujukan nonton dengan hanya menonton trailernya 2 kali. Dalam hati gue cuman ngomong, “oke, ada Tara Basro, Vino G. Bastian dan juga sutradara Ifa Isfansyah…fix”.

Tertatih karena masih dalam masa karantina (ceritanya gue lagi bed rest, oleh dokter, gue didapuk memiliki tekanan darah tinggi, dan lagi naik-naiknya setelah kejadian tempo hari. Dan juga masalah psikologis yang tak kunjung lenyap. Butuh hiburan gue rasa. Jadi toh, daripada membengong tak berdaya di kosan, mending menggelepar manja ke mall belakang, menonton film yang baru saja rilis, karena film Indonesia selalu keluar di hari kamis.

Ya intinya, suka tidak suka, bagus gak bagus ya harus diterima, efek nanti dampaknya buruk, itu konsekuensi terberat yang harus gue terima. Setidaknya, gue udah lama gak menyaksikan film Indonesia. Yang ada Tara Tora nya…

Dan untuk lebih mengurangi patah hati di kemudian menitnya, gue mengupayakan tidak berekspektasi macem-macem, ya minimal cuman ngebayangin aja, itu si Tora Sudiro mau jadi apa di situ.. mengingat sudah ada Vino standby menjadi karakter Ragil yang memakai celana cingkrang yang gemar religi itu.

Baiklah, langsung saja gue perkenalkan siapa aja yang ada dalam keluarga Ragil. Ada sang Ayah yang dengan apik diperankan oleh Landung Simatupang. Kemudian tokoh Adek yang dibawakan oleh Tara Basro dan juga Mas Raga yang diperagakan oleh Tora Sudiro. Terus ada Aulia Sarah yang berperan sebagai Sukma pacar barunya Raga.

Dikisahkan dalam semalam saja saat manusia di bumi menjalankan puasa Ramadhan, keluarga ini diperkenalkan dengan permainan sebut nama berapa kali yang diimport oleh ayah dari korea. Sukma rupa-rupanya suka dengan kebiasaan keluarga Raga, namun tidak dengan Ayah. Ayah lebih memilih menjadi (tetap) kejawen ketimbang harus meninggalkan kearifan lokalnya demi agama Istrinya. Semenjak suami ini berpisah, Ayah dan Mama mempersulit ke tiga anaknya. Namun untungnya mereka ber tiga tak terbujuk untuk berkeluh kesah. Mereka dewasa dengan caranya masing-masing.

Sang ayah yang ternyata memiliki penyakit pikun pun tak berdaya untuk bisa memaksakan apa yang menjadi kehendak anak-anaknya. Mau hidup dengan ayahnya atau mama-nya, semua berhak untuk memilih. Dan Adek memilih untuk bersama Mama, sementara Raga sudah memiliki rumah sendiri.

Setelah acara buka puasa bersama selesai, malam itu sepertinya menjadi malam yang panjang buat masing-masing anak-anaknya.

Perkisah kita akan disuguhkan dengan plot-plot ngawur yang indah. Bagaimana cuilan-cuilan scene yang menghiasi satu sama lain, adegan per adegan menjadi cover untuk adegan yang lainnya. Unsur klenik yang diusung dan yang kebetulan gue sukai pun lumayan dibahas. Ada weton, dulur ari-ari dan lain-lain. Dan sepertinya hal-hal kayak gini lah yang akhirnya membawa unsur film drama menjadi sangat horrific.

Walau terkadang karakter Sukma sangat menyebalkan, namun sebagai kebutuhan film, biasanya yang model beginian selalu di ada-ada-in. Beruntung endingnya gue suka dengan apa yang terjadi dengan Sukma jadi, well… mampus kau Sukma… hahahahaa….

Kemunculan Jajang C. Noer yang dengan selalu senantiasa gayanya yang kalem tapi serem mampus juga bikin gue kayak kengerian sendiri. Emak-emak satu ini makin lama makin minta dicipok deh… tek-tok-an dengan Tara Basro-nya bikin gue ngeri-ngeri sedap.

Dan kalipun ini adalah film yang ke entah nya si Tora, akhirnya gue mengampuni dia apa adanya. Sebagai mantan, kamu berhasil membuat gue lupa, kalau dulu gue sempet gak suka sama kau…

Banyak pesan-pesan yang bisa jadi bukan pesan yang sebenernya. Akhirnya kalo gue ma bilang, film ini akan memiliki pesan yang berbeda-beda bagi sesiapapun yang sudah menontonnya.

Terkait si Ragil, nantikan kejutan di akhir-akhir penghujung film, memang sih sudah ada sinyal bahwa siapakah Ragil, toh bagi yang ngeh dengan pertanda itu pasti bakalan ngeh, tapi kalo gak ngeh ya jangan dipaksain juga. Film ini kemudian membawa gue flashback ke tahun-tahun lampau, saat Vino lagi ranum-ranumnya, dia sempat membintangi film pendek bersama Mariana Renata yang berjudul Matchmaker yang disponsori oleh ikan sabun mandi yang dulu pernah jaya di jamannya.

Well, beruntung gue nonton film ini pas hari rilisnya… entah deh apakah turun cepet atau gak. Yang jelas sukses terus buat penulis cerita dan semua kru yang bertugas, karena nonton film ini kayak menggerakkan stabilo warna kuning pada tulisan di buku diary gue.

Walo udah gitu, kenapa judulnya Hoax kadang masih bertanya-tanya, hoax-nya di mana?memang sih di akhir-akhir semuanya pelan-pelang kebongkar, tapi kan tapi kan… ya udah lah, pokoknya jangan lewatkan closingnya. Karena ada sesuatu di endingnya… (lagi-lagi)…

Rating: 3/5

S__10313747

Film ::: Guardians of The Galaxy vol 2

•January 16, 2018 • Leave a Comment

Produk Marvel adalah sangat tidak mungkin untuk gue lewati. Film apapun itu. Mungkin ada sebagian orang yang bilang film superhero adalah tema film buat anak-anak… well itu salah besar. Justru kalo menurut gue, film dengan sekelas Guardians of The Galaxy pun bukan pula hanya untuk anak-anak… pendapat itu menjadi salah besar. Tema superhero adalah tema film yang bisa dinikmati oleh sesiapapun. Malahan jangan salah, Deadpool adalah film tema superhero yang justru tidak dianjurkan untuk ditonton oleh anak-anak. So… masih menganggap film superhero adalah hanya untuk anak-anak?

Well, ga ada salahnya di gue, kalo gue nonton film Guardians of athe Galaxy sendirian. Setelah kisah kasih yang kemaren (baca tulisan Fate of the Furious 8) kandas gegara perpelontoan yang tidak sehat. Jadi ga ada lagi romansa indah yang menghiasi petualangan nonton gue bersama orang terkasih. Menonton sendiri pun tak kalah romantis dibanding bersama pacar atau kekasih (yang ini emang maksa sih).

Guardians of The Galaxy bukan film yang bagus tapi juga bukan film yang jelek. Gue mungkin mengkategorikannha sebagai film yang cukup entertaining. Menghibur dari beberapa sisi. Pertama, gue suka film yang mengandung unsur luar angkasa. Yang kedua gue nge-fans si prattprattpratt dan yang ketiga gue udah nonton GoTG yang vol 1, jadi sepertinya akan sayang kalo gue lewatkan begitu saja. So far, disini, mas Pratt tampil seperti biasanya. Ada beberapa nuansa kocak yang kocaknya ga sekocak yang pertama. Palingan scene Marry Poppins yang bikin gue ngakak…. selebihnya, semuanya… dubidubidam….

Mendambakan Pratt bisa lebih berkembang lagi kualitas aktingnya. Ahay… kayaknya gak bisa panjang deh menceritakan apa yang perlu diceritakan di seri GoTG vol 2 ini. Masih ada bayangan mantan yang sempat jadian hanya 2 hari saja kemudian pisahan ( baik-baik).

Mungkin besok-besok bisa lebih panjang dan lama. Tanpa besar tanpa berurat! Hahahaaa

Rating: 2.5 dari 5 bintang

Guardians of The Galaxy vol 2 | 2h 16minutes | James Gunn

Film ::: Grown Ups (2010) | Grown Ups 2 (2013)

•January 15, 2018 • Leave a Comment

Grown Ups (2010) | Grown Ups 2 (2013)
1 h 42 minutes | 1 h 41 minutes
Dennis Dugan

Totally sexist film…. Bullying film….. Dari otak Adam Sandler yang kayaknya berisi kelucuan slapstik yang dikelola dalam sebuah skenario payah. Berisi eksploitasi tubuh perempuan. Gaya Hollywood yang sampai sekarang dimitoskan selalu menghasilkan pundi-pundi uang yang lumayan.

Emang sih, di amrik sono, filem bergenre comedy selalu mendapat tempat di hati penggemarnya. Termasuk filem filem action yang notabene menjual nama sang pemain atau sang sutradara. Lain amrik, lain negara sini. Horror dan action lebih menjual ketimbang genre comedy. Mungkin bangsa sini sudah terlalu lelah untuk mentertawai hidupnya yang cenderung absurd tanpa bunga-bunga.

Filem yang dibintangi juga oleh Chris Rock, Kevin James, David Spade dan Rob Schneider mengambil tema persahabatan kekal.
Dari kecil mereka terbentuk menjadi sebuah team basket di sekolah, hingga menjuarai kompetisi. Dan nama team mereka pun melegenda hingga usia mereka menginjak era digital terkini.

Dan akhirnya dimunculkan konflik dengan ke-khas-an Adam Sandler. Teori-teori yang berhubungan dengan bagaimana meng-capture bodi perempuan, sehingga kesan perempuan sebagai object sangat begitu kental.

Sehingga dampak yang muncul adalah, cowok yang gak ngiler kalo ngeliat cewek seksi pasti “bukan” cowok. Cowok yang gak “ngaceng” kalo liat cewek berbikini pasti “doyan” cowok!! Stereotype banget!

Padahal jauh sebelum ada film ini, Adam Sandler cukup sukses membintangi 50 First Dates.

Namun entahlah, bagi gue, film ini kehilangan daya tarik. Sangat tidak begitu personal. Sangat sangat Hollywood….

Bagaimana lagi, Adam Sandler sudah terlanjur menjadi icon comedy bagi para pecinta genre penghasil gelak tawa ini, khususnya warga Amrik.

Jujur, gue suka karakter Roxanne yang dimainkan Salma Hayek… Rasanya bodi gue pun sepantaran…. Gak usah protes!!!!

Semoga gak ada sekuel nya lagi… Plisss!!!!

Film ::: Justice League (2017)

•November 23, 2017 • 2 Comments

justice_league_ver9_xlg

Di saat lagi galau-galaunya dengan kerjaan yang gak ada ujungnya, secara gue ada kerjaan handle admin sosmed suatu Festival Film, jadi selalu dikondisikan ready everywhere everytime. Tersudah berlarut juga dari masa ke masa kalau label Single masih nempel gak mau copot. Salah gue apa coba ya? atau jangan-jangan gue udah gak bisa lagi bedain menjadi single itu kutukan atau prinsip…

ngomongin single jadi homok tulen, lha dilalah inget kemaren pas nonton Justice league… gue berasa Bruce Wayne. Sayangnya, secara nasib, gue gak sekaya dia dan gak se-juara dia. Sudah dalam keadaan satu paket komplit. Toh juga akhirnya nyadar, mending jadi diri sendiri ajah. Capek kalo niruin orang mulu. Gue juga gak mau nyesel di kemudian hari gegara keseringan copy-paste orang lain. Kalo hanya mengidolakan, lain soal kali yaa…

Justice League

Akan sangat pedih bila menonton film ini sendirian di bioskop, alhasil dapat temen nonton dari Fesbuk. Ya lumayan buat menutupi kesendirian yang sangat teramat nyata. Dia berstatus magang di salah satu portal media yang cukup progresif di jamannya, membuat gue gak ragu. Secara sebelum dia bergabung di apalah-apalah(dot)co itu, Dia pernah menjadi kontributor untuk tulisan di portal yang gue kelola. Namanya hidup, roda perputaran bumi memang selalu bisa ditebak. Dan hari itu adalah moment bagi dia untuk unjuk kebolehan menjadi manusia super yang baik yang rela menemani. kayaknya kita emang sama-sama butuh temen sih. Gak ada yang dirugikan dalam hal ini.

justice_league_ver21_xlgMenyadari bahwa ada serangan dari alien yang berusaha untuk menguasai bumi, Batman mulai ketar-ketir, jangan-jangan serangan alien itu tidak pandang waktu dan tempat. Pelan-pelan tapi pasti, terror itu sudah digaungkan dengan indah. Tidak butuh waktu berlama-lama, Batman menghubungi Diana Prince, Sang Wonder Woman untuk bergabung dalam menghalau sang pengacau.

Satu-satu dari mereka yang dikategorikan MetaHuman bermunculan untuk menghadapi alien. Atas andil dari Batman juga mereka bertemu. Sebut saja, Wonder Woman, Flash, Cyborg dan Aquaman. di moment-moment ini lah gue merinding. Tokoh – tokoh yang dulu hanya bisa diandalkan lewat imaji kini bisa tergambarkan jelas kayak gimana para superhero itu..

justice_league_ver29_xlg

Dari dulu gue juga membebani otak untuk selalu nafsu bila melihat Superman. Jatuhnya sih gue gak mau menahan rasa yang muncul begitu saja. Di babak pertama, Gue menang banyak. banyak sekali quota livestory yang memadai. kembalinya Ben Affleck yang sempat menjadi Daredevil di Marvel universe, pun semakin menyemarakkan parada lelaki gagah berbungkus “lateks manjhaa”. (pengecualian buat yang Cyborg)

justiceleague-steppenwolf-missile

Rasa bersalah Batman atas Kematian Superman tempo hari itu, ingin ditebusnya dengan bersatu padu bersama Hero yang lain agar misi alien gagal. dengan batuan kawan-kawan barunya, Batman berjuang matian-matian. Memberangus Steppenwolf menjadi sulit dan gak gampang justru di saat mereka goyah dengan mudahnya.

Secara cerita, gue sangat suka. tanpa banget. Dalam konteks ini, gue gak bisa membenci apa yang menjadi alasan gue buat membenci. ya karena ngapain juga benci kalo gak ada yang dibenci… LoL… Yang pasti gue sudah siap mental apabila, Jakarta diserang alien dan gue bisa mengabari siapa aja yang masih terbang di langit.

Jangan sedih, kali ini gue mengubah pola nonton gue. kalau dulu asal nonton aja, kini lebih selektif dan gak mau kecewa. Bioskop 21 Gandaria City IMAX pun bisa jadi andalan selama hampir 3 (tiga) film terakhir yg gue tonton. Dan FYI, imbas dari semua itu, gue terpaksa puasa. Puasa untuk mengurangi jatah makan. ini pun juga seminder-minder-nya lihat perut Ben Affleck dan Henry Canvil. Gak ada salah juga sih kini punya role mode. Bukan berarti Marvel’s Hero gak ada yang bener, cuman secara kalau disuruh milih mana yang lebih mengena di gue, Gue lebih sreg dan cocok bila dipasangkan sama babang DC. Tapi pas liat Aquaman dengan gaya Anjay-nya mendadak mimisan se-anjing-anjing. Itu orang nyebelin banget gaharnya. Apalagi porsi dialognya yang bangsat bedebah… langsung klepek-klepek tak berdaya. Ugal-ugalan, semoga James Wan menjadikan sosok Mermaid ini jadi pribadi yang mengundang birahi.

Justice-League-Movie-Still-1

Kemudian berhenti sejenak, Ini film action superhero atau film bokep? Eiii ada kali film bokep parodian. Jadi jangan sedih. Etapi, kalo JL ini mah gak perlu naked udah bikin kluget-kluget.

Jelasnya, kalo suka komik superhero, nonton JL udah pasti bahagia dunia semesta. Setidaknya dalam waktu 2 jam-an, kita diajak berpetualang menjadi saksi ketangguhan orang-orang istimewa yang bisa membuat perubahan. Terkadang kita butuh orang baik yang lebih dari sekedar mother Theresa. Kemudian mendamba yang muscle-muscle gahar gitu lah…

terus ada yang nanya, mana inti dari semua review film ini? GAK ADA. gue capek detail. mending kayak gini ajah lah. Sekalian curcol dikit-dikit, biar ada kenang-kenangan kisah gue walau seuplik.

Rating: 3,5/5

Film ::: Beyond Skyline (2017)

•November 14, 2017 • Leave a Comment

Sebenernya, terlalu lama sendiri pun sepertinya bisa mempengaruhi cara otak untuk berpikir. Mana film kece, mana film berbobot, mana film ecek-ecek. Dan kayaknya semalam adalah efek dari rasa berkesendirian yang berkepanjangan gue sebagai manusia sosial yang gagal untuk bersosialisasi dengan sesama jenis pun dengan lawan jenis (bisa jadi).

Selain alasan Iko Uwais, tak ada alasan surga lainnya yang menggiring malam-malam gue untuk singgah di bioskop menghindari pulang malam yang terlalu sore. Di kosan hanya ada cemilan makaroni bumbu balado kering dengan pilihan menonton film seri Sense 8 session pertama. Tak pelak, Beyond Skyline menjadi selingan manja menutup akhir pekan gue yang seribu kali hambar tanpa cinta. Halah…

Di menit-menit pertama, gue teringat kembali moment masa lalu sewaktu masih di kampung halaman. Hengot ke Surabaya Plaza dengan tujuan kencan, dengan seseorang yang gue temukan di aplikasi dating. Sepakat janjian, nonton film, Skyline. Dan nyadarnya, itu kencan, terjadi tujuh tahun yang lalu. Dan di 2017, gue seakan malas untuk berpikir, apakah ini pertanda, bahwa gue memang terlalu lama sendiri? Tidak dong, kesendirian ini semacam setting-an. Ada kesengajaan hakiki yang disadari, bahwa lebih baik sendiri dari pada lelah hati. Eyaaaaaa!

Masih termasuk sekuel dari pendahulunya, Skyline (2010), kali ini benang merahnya ada pada pesawat alien dan juga Jarrod. Manusia yang otaknya difungsikan untuk menggerakkan raga alien yang menginvasi bumi. Dengan menjadikan tokoh seorang polisi Los Angeles sebagai fokus di jalinan cerita. Film ini langsung terendus mulai akan terasa membosankan saat konflik ayah dan anak diangkat. Gak tau harus ngomong apa, di otak ini hanya ada pertanyaan yang selalu muncul berulang-ulang, kapan Iko Uwais muncul? Pertengahan film, atau dipertiga akhir film?

Seketika itu juga, sepanjang film yang selalu bernuansa cahaya biru manjah, gue terbayang wajah Chuck Norris dan Chynthia Rothrock. Skyline adalah sebangsa aliran Chuck Norris’ films. Dialog-dialog yang super aduhai kaku, sumpah serapah yang nanggung tak berdaya, hingga apa yang seharusnya gak perlu didengar di kuping malah muncrat kemana mana. Kali ini tetep ada berantemnya namun dengan bumbu sci-fi yang sudah gak terlalu kekinian.

Pengen tidur tapi gak rela, nonton di hari minggu itu pantang tertidur. Tiket seharga 50ribu rupiah seakan-akan menjadi nilai yang sangat berharga untuk hanya sekedar numpang tidur sambil didongengi kisah alien yang ga punya integritas.

Hingga pada akhirnya, Iko uwais muncul dengan dialog yang awalnya cuman Kanya-kanya-kanya doang. Dan aduh hai drama yang dibangun pun ambrol seambrol-ambrolnya. Bisa dibilang, Beyond Skyline menjadi kelas B cult di jaman (sekarang) nya.

Gak terlalu kecewa juga. Banyak plot yang semburat kemana-mana. Tapi tetep saja enjoy menikmatinya. Kehadiran Yayan Ruhian pun hanya sebatas mengisi kekosongan saja. Mungkin yang berkesan hanya kehadiranmu.. disisi gue… eaaaaaa

Menjelang akhir, hanya bisa menghela napas panjang sembari bergumam. “Tadi gue nonton film apaan ya?”

Gue hanya inget “KANYA-KANYA…..” wes iku tok….

Rating: 2,5/5 (ini pun juga karena faktor Iko, dan candi Prambanan)