Film ::: Foxtrot Six

•February 22, 2019 • Leave a Comment

Menonton film Indonesia itu terkadang kayak harus ikhlas setengah mati. Gak semua film Indonesia sih, hanya saja ada film yang memang kita diwajibkan untuk nyinyir dengan sepenuh jiwa. Alasannya, bisa jadi itu film hancur di penokohan, hancur di penyutradaraan, atau malah yang lebih sadis, hancur di segi penceritaan.

Nah kali ini, Foxtrot Film masuk dalam dimensi kehancuran cerita. Ibarat kata, KIAMAT BENTAR LAGI.

Film yang punya modal gede mah bebas mau dibikin kek mana, tapi kalo hasilnya kayak film ini, sungguh gue kasian banget sama jajaran cast nya yang naujubillah cucok-cucok…

Cerita dimulai dengan kehaluan bahwa masa depan Indonesia sudah dikuasai oleh penguasa lalim yang haus kekuasaan. Terjadi pemberontakan di mana-mana. Sehingga seorang Angga, yang diperankan dengan penuh jantan oleh Oka Antara menyarankan kepada pimpinan negara dan abdi-abdinya untuk menyerang para pemberontak itu. Angga menggagas untuk memimpin aksi dengan dibantu tim regunya terdulu dan juga ada Wisnu di dalamnya. Disini, wisnu dikabarkan sebagai lelaki sengak memuakkan.

Dan disaat, Angga sudah mulai mengumpulkan anggotanya kembali, (minus Wisnu) ternyata, Wisnu sendiri sudah memiliki rencana untuk menggulingkan Angga dan menjadikan Angga kambing hitam. Belum lagi, Angga mengetahui fakta mencengangkan kalau ternyata, Sari, kekasihnya yg dulu menghilang, kini tergabung dalam gerakan pemberontakan.

Alhasil, Angga dan kawan-kawannya bahu membahu untuk menggulingkan pemerintahan yang lalim itu.

Sumpah bin tercengang ketika melihat opening film ini, cerita dibuka dengan canggihnya teknologi masa depan. Dan entahlah, gue kemudian mulai gagal fokus, melihat Oka Antara yang cuman pake celana pendek dengan badannya yang sudah kebentuk walo semi bulki dan pula jejogetan, tetiba dedek hayati menghayal entah kemana. Semacam, “kayaknya, gue ada cerita buat Oka untuk dia bintangi….”

Entah dengan penonton lainnya, yang jelas, gue kiyep-kiyep nahan mimisan melihat si Angga. Oh yes, gue hampir lupa, film ini hampir 100% menggunakan bahasa Inggris. Gak tau juga apakah ini nilai plus or not, yang jelas, kayak nonton film yang ada dubbingannya. Beberapa ada yang sudah fasih, beberapa ada yang masih Indonesia banget. Ya udah lah ya, kembali ke Oka… eaaa

Bisa ditebak, Tim regu Angga terdiri dari cowok-cowok macho bekas anak militer yang wajahnya lebih cocok jadi model ketimbang bawa senapan. Tapi ya udah lah ya.

Bayangin, ada Rio Dewanto, yang gue ternyata suka banget perannya disini, lugu, slengek, rascal, bangsat dan geblek. Tipe gue banget, LoL! Kemudian ada Arifin Putra, yang selalu kebagian peran licik di setiap maen film. Ada Verdi Soleiman, kemudian Chicco Jerricho, dan yang gak nyangka, Mike Lewis, yang sempet berbagi scene jejogetan striptis dengan celana daleman. Oh may gat, ini film apa sebenernya, sempet gue membatin, FIX INI FILM BERNUANSA HOMOEROTIKA. pembelaannya nanti ini film Bromance kok BRO! Tapi lagi-lagi, gak masalah, kapan lagi liat Oka dan Mike bisa jejogetan kayak gitu. Walopun Rio Dewanto juga sempat Shirtless, tapi mengandung unsur kekerasan, jadinya gue kurang greget liatnya. Mungkin bagi penggiat gulat dan pertarungan tangan kosong, pasti demen sama nih bocah.

Sepanjang film mengalir dengan penuh kekaguman, WOOOOW! kok bisa ya film kayak gini halunya ada yang mau maen. ? Ini mengingatkan gue sama film buatannya Michael Bay. Scoring yang terus menghentak yang berharap memunculkan jiwa nasionalis namun sekaligus dilematis. Beberapa adegan slo-mo juga terkadang kayak hendak menghantarkan gue tuk pengen berucap, JANGAN BILANG BENTAR LAGI DECEPTICON MUNCUL.?!!

Banyak sekali scene-scene yang sangat too much. Pertarungan Rio dengan anggota level 10 pasukan GERRAM (anak buah wisnu) sangat tidak masuk akal. Terus ada scene, dimana pecahan kaca masuk ke pelipis mata, tapi matanya gak pecah. Semacam ajaib tapi mau gimana lagi.

Sehingga gaesss, Foxtrot Six adalah film pertama di tahun 2019 yang membuat gue unutk ngejulit lagi setelah sekian waktu. Sekali lagi, buat klaian semua yang mau nonton film ini, ada pesan moral yang bisa kamu ambil, hargai nyawamu. Itu aja.

Trus satu lagi, Oka Antara, aku padamu…. Julie Estelle memang bukan Megan Fox…. gak apple to apple….masih mendingan Julie kemana mana… walo Megan ada yang lebih kemana-mana….. terus, plus, jangan nanya, itu Miller ngapain ya… gue juga ga tau, dia itu apaan di film ini. Presiden? Tapi masih sangat lebih cerdas dari anaknya Angga, si Anak yang inisiatif utak atik listrik, teriak minta tolong, hingga ngasih kode kalo dirinya selamat.

Well, gue salut sebenernya kalo ada genre film Indonesia yang kayak gini, tapi semoga kualitas cerita bisa dinaikkan lagi levelnya. Pun logika nya sekali kali jangan di luar nalar. Boleh science fiction, tapi kaaan? Ya sudah lah ya….

Selamat menonton

🎬⭐️⭐️

Napak Tilas Vol.1

•February 13, 2019 • Leave a Comment

Sekarang domisili gue, terhitung detik dimana gue memposting tulisan ini, adalah di Gresik. Bukan lagi di Jakarta, atau di Denpasar. Tapi lucu juga sih kalo diceritakan dari awal. Kenapa bisa akhirnya kembali ke Gresik, setelah kurang lebih 8 tahun hidup di Jakarta dan sempet di Denpasar kemudian akhirnya mendarat di bumi Gresik.
Baiklah, gue mau merunut, asal muasal kenapa gue bisa sampe di Jakarta. Atau lebih tepatnya kenapa gue bisa punya mimpi dan cita cita untuk hidup di Jakarta.
JAKARTA
2008 – Adalah awal pertama gue menginjakkan kaki ke Jakarta, yang sebelumnya gue sempat singgah ke Bandung. Berhubung di Bandung gak lebih dari 2 minggu, alhasil, gue gak memasukkan Bandung sebagai destinasi tempat pelarian menyambung hidup. Entah kenapa, Bandung gak menyatu dengan jiwa gue. Gak berselang dari baliknya gue from Bandung, gue mendapat kesempatan ke Jakarta. Terpilih mengikuti peserta workshop penulisan scenario yang pemenangnya, ceritanya bakal dijadikan film, seperti sebelumnya. Dari 5-9 Desember 2008. Dan semenjak kejadian itu, gue jadi kenal banyak temen. Ada temen yang semula hanya bisa chat di grup Yahoo Messenger, akhirnya bisa gue temuin. Dan pada akhirnya, first impression gue sama Jakarta menjadi patokan bahwa Jakarta menjanjikan banyak hal. Dan akhirnya, Jakarta…. Gue Jatuh cinta…
Walau akhirnya, gue pulang tidak mendapat kemenangan, tapi bagi gue, pengalaman menjadi bagian festival film sudah sangat sangat membahagiakan. Berpulanglah gue ke Gresik. Karena belum ada kesiapan di Jakarta mau kerja jadi apa.
2011 – akhirnya ada peluang balik lagi ke Jakarta, setelah dari tahun 2010 sudah mulai di ajak untuk gabung di tim penulisan untuk beberapa sitcom dan program ftv di stasiun swasta.di 2011, gue sekali lagi mengadu peruntungan dengan terpilih lagi cerita gue untuk workshop FISFIC VOL 1. Sebuah workshop yang memfokuskan pada pengembangan ide cerita film pendek yang mengambil genre khusus, yaitu thriller, horror, gore dan fantastic. Dan kebetulan, cerita gue yang berjudul RANDOM terpilih menjadi bagian dari 25 peserta workshop dari 400 script yang didaftarkan.
Seneng sih lagi-lagi. Karena disitu, kita akan digembleng sama orang-orang yang sudah biasa berkecimpung di dunia perfilman. Ada Joko Anwar, Gareth Evans, Mo brothers, Lala Timothy, dll. Yang jelas, gue gak sendiri, kebetulan ada tiga orang dalam 1 tim, dan kebetulan juga, gue udah punya temen di Jakarta yang sudah siap untuk menjadi bagian dari Tim Gue. Selama tanggal 11-20 November 2011 sepertinya menjadi pengalaman yang sangat krupuk banget.

FISFIC 2011

Sesaat setelah pitching cerita, dan memamerkan high heels merah. gokil si Sarah & Ibenk

 

 

277666_2249966567718_5584787_oBagaimana tidak, ternyata semangat kita sebagai tim yang sangat membara, tapi untuk ukuran teknis dan kesiapan diri masing-masing pada payah. Hahahahaa… alhasil pada saat presentasi cerita, hasilnya zonk. Tapi dari itu pula kita kembali lagi belajar bahwa ada sesuatu yang kudu dipersiapkan “sebelum berperang”.
Dan memang sudah bisa ditebak. Kita tidak terpilih. Tapi menjadi kebahagiaan tersendiri bagi gue. Pada akhirnya. Bahwa selalu ada hikmah dari sebuah kegagalan. Dan usut-punya-usut gue memutuskan untuk tidak balik ke Gresik.
Luntang-lantung numpang di kost-an temen yang satu tim kemaren hingga sebulan lebih, sampai pada akhirnya mendapat tumpangan juga di rumah saudara gue yang ternyata gue gak nyadar kalo selama ini ada rumah di Jakarta. Terselamatkan lah gue dari daya upaya menjadi gembel untuk sementara.
Sembari menunggu ada lowongan pekerjaan, gue diajak gabung lagi di tim penulisan scenario untuk produksi film animasi dan ftv (again). Dan hasilnya lumayan walo kadang sampe badan rasanya pengen meledak. Gak tidur. Revisi-revisi-revisi-revisi-dst.
Hingga akhirnya bertemu dengan teman yang aktif di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di isu LGBT. Cukup menantang dan siapa tahu banyak hal hal baru yang bisa menjadi bekal gue ke depan selama hidup di Jakarta.
Namanya Ourvoice (sekarang menjadi SuaraKita), dan gaungnya cukup besar kala itu. Sangat aktif dalam menyuarakan isu keberagaman. Kesetaraan gender dan HAM. Gue yang handle sosmed, website dituntut harus update dengan segala informasi yang ada. Selain focus pada format portal media khusus LGBT, OurVoice juga memberikan beberapa pelatihan-pelatihan terhadap kawan-kawan komunitas yang memiliki hobi yang bisa disalurkan menjadi profesi. Ada pelatihan membuat film pendek, fotografi, hingga jurnalistik. Cukup seru. Namun lambat laun ada hal-hal lain yang membuat gue merasa cukup untuk bisa ikut berdedikasi di LSM tersebut. Awal 2013 gue fix resign.
2013 pertengahan tahun, setelah luntang lantung gak maen-maen di lsm-komunitas LGBT, gue masih menjalani penulisan scenario, walau gak total guna menyambung hidup. Sempat gabung di catering juga. Jualan keripik bayam juga. Pokoknya apa aja gue jalanin. Hingga akhirnya kedekatan gue dengan Maestro LGBT Widodo Budidarmo yang akhirnya membuat gue untuk bergabung di LSM Arus Pelangi. Selama hang out – kemana mana nongkrong bareng beliau, gue diperkenalkan kepada siapa aja. Para aktivis, dari lintas isu, hingga orang-orang yang tidak pernah gue kira sebelum-sebelumnya.
Dan fix, pertengahan tahun 2013, gue menjadi tim media kampanye, di Arus Pelangi. (bersambung)

B.T.C.H.C.N.G

•October 2, 2018 • Leave a Comment

Gembar gembor dunia percangcongan pun mulai terusik kembali. Kali ini gorengan politik lagi-lagi mengangkat pemberitaan terkait kawan-kawan sehati kita, yup, kawan cong nun jauh di belahan bumi Jakarta.

Agak shock awalnya ketika membaca berita dari portal media yang menyuguhkan tulisan dengan tajuk berita yang cukup menyiksa mata. “Polisi Amankan 23 Pria Diduga Gay Berpesta Narkoba ….”

Beberapa hari yang lalu, terjadi penggerebekan atas tuduhan pesta narkoba. Namun yang di-highlights-justru identitas seksual-nya. Semacam geram dan lagi-lagi, media menjadi picik dan lumayan nyebelin seketika. Kalau memang yang melanggar pasal adalah narkoba-nya, angkat narkoba-nya, kalaupun mereka (baca: pelaku) adalah pengguna narkoba, tentu saja dengan rehabilitasi akan lebih membantu. Terkecuali kalau memang ada pengedar narkoba atau pemain lama yang bermain di dalam situasi tersebut.

Mengenal mereka yang sedang tidak beruntung sehingga di”aman”kan ke kepolisian dari Instagram, sebagian besar mereka adalah selebgram dengan berbagai macam endorse-an dari berbagai iklan dan event yang mereka sepakati dengan vendor-nya. Dan tentu saja, alasan mereka menjadi sasaran endorse-an ya karena mereka punya modal dan nila jual yang mumpuni yang yang tak semua orang bisa mendapatkannya dengan instant. Ada pengorbanan di balik itu semua. Tubuh bagus, secara mainstream, persona menawan, sehingga berbagai gender menjadi follower-nya, tak terkecuali para cangcong nusantara yang haus akan keberpejalan tubuh lelaki tanpa busana atasan. Yang jelas, wajar saja kalau dia menjadi sasaran iklan.

Balik soal penggerebekan, dan setelah kejadian itu, mendadak para netizen langsung balik bekerja sebagai polisi moral dan polisi syahwat.

“TUH KAN TERCYDUCK”

Kata-kata itu berserakan menghiasi hampir segala akun mega-nyinyir yang ada di Instagram. Belum lagi yang di social media lain. Apa kabar Twitter dan Facebook. Entah lah…

Seakan-akan dengan update terkait penggerebekan itu , seakan-akan ada kepuasan yang tak terbataskan yang muncul di pribadi para nyinyirun. Semakin banyak like, semakin banyak love merah, semakin bergairah untuk mencari sumber-sumber berita teranyar. MENINGGAL kalo kata gue, mereka (para netizen cong) pun justru akan merasa dianggap kucrut kalau-kalau informasi seperti ini tidak diikuti. Secara, takaran kecetaran sesungguhnya diukur dari seberapa update dia mengetahui hal apa aja yang beredar di dunia cangconger.

Berlomba-lomba-lah mereka dalam kenyinyiran. Siapa yang ternyinyir walau dengan postingan foto dan video yang ala kadarnya, tetep aja akan menjadi getir kalau kepsyen-nya bikin mengernyit dahi.

Tahu kah kalian, ada berapa banyak kah kerugian yang terjadi bila kita ikutan menebarkan kenyinyiran ke dunia sosmed? Jawabannya BANYAK.

Diantaranya, pembunuhan karakter yang sebenarnya tidak layak untuk dimatikan. Para korban yang terpaksa menjadi korban karena ada ketimpangan power yang terjadi. Ketika kita sudah tersudutkan dan tidak berkutik di hadapan penegak hokum, biasanya kita bakal manut nurut aja disuruh ngapa-ngapain. Termasuk diambil gambarnya tanpa consent kita sebagai MANUSIA. Dalam proses penegakan hukum yang terjadi di negeri kita, mereka dengan kesewenangan biasanya akan langsung mengambil dokumentasi foto/video sebanyak-banyaknya dengan dalih sebagai bukti. Well, bukti apa? Bukti untuk disebarkan ke public? Jujur, rasa percaya gue pada para penegak hukum di Indonesia tidak terlalu besar, bukan dalam artian merendahkan mereka, karena saya yakin juga kalau gak semua mereka seperti itu.

Kita bisa saja mengajukan keberatan untuk diambil gambar dengan tanpa busana. Hak kita sebagai warga Negara harus dijunjung tinggi. Kita juga sebenarnya juga punya hak untuk diam, dan tidak menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan ke kepolisian, selama kita kooperatif tentu saja. Tanyakan surat tugas atau surat penggeledahan, kalau mereka tidak menunjukkan, kita berhak untuk mempertanyakan itu, dan menolak untuk digeledah. Tentu saja, hal paling utama adalah jangan panic dan parno duluan. Tenang adalah KUNCI.

Kita harus bisa menguasai keadaan. Penegak hukum akan mendadak “tinggi” kalau kita langsung pada merasa guilty. Selama kita merasa dan tidak melakukan hal yang salah, sejogja-nya gak ada yang perlu ditakuti.

Perhatikan segala apa yang terjadi di sekitar kita. Perhatikan detail, memang sih, kita pasti gak jauh dari kata panic, tapi bagaimana pun juga kondisi ini bisa dipelajari sedari dini. Bukan berarti kita mendoakan kalau kejadian seperti diatas akan terjadi pada kita, tetapi apa salahnya kalau kita punya informasi yang bisa diimplementasikan bukan?

Tetapi pun gue juga gak akan berpihak kalau memang mereka yang menjadi korban ini ternyata dan nyata-nyatanya memang melakukan tindakan pidana semacam human trafficking, child abuse dan lainnya.

Setelah gue telisik juga, mereka yang tertahan ini, juga nyatanya adalah dari golongan yang tidak berkekurangan. Berkemampuan secara material. Jadi mustahil kalau mereka menjadi bagian kronologis yang berkongsi untuk mendapatkan uang. Mencari kesenangan? Bisa jadi. Tapi, tunggu dulu, mencari kesenangan juga kan menjadi kebutuhan semua orang, tanpa terkecuali. Mau dengan cara apa dan bagaimana. Tapi menjadi tidak lucu ketika spot kesenangan sudah diutak-atik oleh Negara.

Intinya, akan menjadi sangat tidak biasa jika kita terbiasa untuk mengurusi syahwat orang lain. Sebenernya kamu Ben-cong apa Bitch-cong?

Menjadi Bitch-cong yang baik itu, garis kehidupannya tidak melulu semuanya diisi dengan nyinyiran dan gunjingan. Perasaan paling mulia yang seakan-akan hanya kita yang memiliki dan hanya kita saja yang seakan-akan jauh dari kata dosa, padahal sejatinya kata dosa menjadi nama tengah kita (sebenernya).

Kalo dipikir-pikir tulisan ini sepertinya lari kemana-mana, awalnya bahas apa eh ujungnya bahas apa. Tapi tak masalah, kalau kayak gini jadi tau, sebagaimananya gue melihat masalah yang tak selalu satu. Tapi tetep berusaha menjadikan masalah orang lain adalah urusan pribadi yang kita gak punya andil untuk jadi hakim garis yang senyata-nyata memutuskan orang lain salah atau benar, dosa atau tidak berdosa.

Jadi, siapa kita yang hanya sewujud pejuh pada awal penciptaannya yang kemudian menjadi seonggok daging busuk pada akhirnya. Kalaupun susah meninggalkan kebisaan dalam kenyinyiran, lakukan lah (dengan) dalam hati. Kalau dirasa membuat kepsyen atas duka seseorang adalah hobi yang tak tertahankan, coba berpikir sejenak, apakah kita sudah menjadi manusia yang sempurna?

Kita hanya lah semacam bitchCong yang mencoba untuk bertahan hidup. Yang salah satu diantaranya terpaksa hidup dari menyinyiri masalah orang lain. Sosmed dengan paket netizen-nya yang amazing ini adalah tantangan yang kompliketet. Berusaha untuk mengusahakan agar kita tidak larut dalam euphoria ini. Mencari informasi yang sebenar-benarnya melalui portal media yang memang dengan tersengaja menjadi portal media yang support terhadap kebebasan dan spiritual.

Semoga isu cang cong ini semakin mempertebal iman dan kekuatan kita untuk tetap berpegang teguh, bahwa tak ada yang salah dengan kita semua. Dan semoga segala urusan yang menghantui disetiap tarikan napas kita adalah bisa terselesaikan dengan baik.

Kebayang aja, kalau gue adalah salah satu dari mereka yang digerebek…..

800px-Rainbow_flag_and_blue_skies

Satu hal lagi, masyarakat kita lebih gampang sange’ itu bisa dibuktikan dengan badan yang diblur ketimbang muka yang diblur, dan ini juga semakin membuktikan kalau netizen yang haus kasih sayang, dipenuhi api cemburu entah karena iri gak bisa seperti mereka ini, atau entah lah, mungkin di mata mereka hanya ada kata SALAH. Untuk kesekian kali, netizen kali ini bedebah sekali. Aku jijik…. Aku benci… sekian… dan terima kasih.

Film ::: Sabrina (2018)

•July 20, 2018 • Leave a Comment

Hasrat untuk menonton film ini muncul semenjak di kantor ada 4 anak magang baru. Berasal dari Medan, dan bisa menjadi hiburan tersendiri buat gue. Tetiba, setelah hampir sebulan magang, mereka sempet takut-takut buat ngajak nonton film. Tanpa spesifik film genre apa. Dan dengan santainya gue ngiyain dan memilih film horror. Sabrina…. (btw, mungkin ada baiknya, sebelum baca tulisan ini, baca dulu prequel dari film ini, yang kita menyebutnya Sabrina sebagai Spin-off dari The Doll 2)

Memilih film itu tidak dengan tanpa alasan sih. Pertama, gue penasaran sama akting Luna Maya. Semenjak ada beredar foto first look dia yang akan berperan sebagai Suzanna dalam film remake #BernafasDalamKubur . Jadi menurut gue gak ada salahnya sih.

Alasan yang lain juga karena kita berlima sepakat bahwa tak ada genre lain yang lebih seru kalau ditonton rame-rame kecuali film genre horror. Menonton di Setiabudi One. Tendensinya sih selain murah meriah, juga karena biar gak jauh-jauh pulangnya. (Tetep gak mau rugi).

Gue pikir mereka ini ( baca: anak anak magang ) anak baik-baik yang santun kalau nonton di dalam bioskop. Tapi nyata-nyata-nya jauh dari harapan. Nurani gue seakan-akan terkoyak melihat reaksi saat menonton film. Sangat menyebalkan gue rasa. Sebut saja si A, si B, si C dan si D yang memiliki keunikan sendiri-sendiri saat menonton film.

Si A yang kecenderungan mendadak jadi tukang komentator, si B yang merespon, si C yang cekikian dan si D yang lebih cekikikan. Pokoknya mereka gak ada bener-benernya. Menyesal gue mengajak mereka.

Ini semua gara-gara Sabrina!!

Film dibikin nge-twist. Tetiba si Rizki Hanggono yang tampilannya semacam penikmat agama yang paling magis lari tergopoh-gopoh mencari istrinya. Dan saat ditemukan sang istri menempel kesurupan kayak tokek yang nempel di dinding luar rumah. Gue takut? Masih belum… gak juga tegang…

Dan beralih lah film berjalan dengan menceritakan kisah Maira dan Aiden. Pasangan Luna Maya dan Christian Sugiono ini sangat terasa nyata. Serasi dan goal suami istri banget. Apalagi gaya bicara Christian yang santun banget macam dubber Indonesia di serial telenovela bikinan Spanyol. Mengingatkan gue pada iklan-iklan tv jadul kala itu. Oh nyatanya, mungkin itu bisa jadi karena Christian memang dituntut untuk berakting sedemikian itu.

Soal akting, jangan lupakan kemunculan mas Jeremy Thomas. Wow, sampe gue nulis tulisan ini, gue masih gak pernah kebayang. Mau jadi apa si Thomas ini. Gue pikir dia ini perwujudan Tingky Wingky yang selalu bawa tas tangan kemana- mana. Cucok kali mas mas satu ini. Yang pasti, di awal-awal, Mas Jer ini kayak bener-bener tempelan buat penampilan super over nya si Laras, yang diperankan dengan super (dipaksa) meyakinkan banget.

Well, bener-bener keluarga Warren banget. Selalu ada apa apa pasti berdua. Sara dan Jeremy disetting menjadi pasangan yang serasi karena tragedi. Kesamaan nasib dan sempitnya dunia.

Polemik menjadi panjang, saat “anak titipan” pasangan Maira dan Aiden mempunyai teman sekolah SD yang bahasa komunikasinya pada level profesor. Dalihnya si Ditho (nama bocah berwawasan luas melampaui rata rata bocah biasa) tau kata “Entitas” dari informasi kakaknya.

Dibikin masuk akal, tapi jatuhnya jadi pengen nelen paku bulat-bulat. Ini si Ditho kayaknya kakaknya adalah penulis kamus besar bahasa Indonesia. Yang gemar ngasih semangat untuk Ditho agar menghapalkan kata-demi-kata biar terdengar kece. Secara anak SD sudah terbiasa dengan kata entitas. Alamat…..!!!

Atau memang karena gue nya yang kudet yess, whatever lah, sejak adegan ini, firasat gue semakin kenceng buat mengumpulkan cacian yang berunsur pujian.

Dan selanjutnya, gue menemukan bahwa Luna Maya lebih cocok berperan jadi perempuan yang doyan kesurupan. Bagus banget aktingnya. Tapi agak ruined juga pas nyadar bahwa hampir sebagian dialognya dubbing-an. Jadi lebih jelas sih, tapi ada kekakuan dalam setiap kata-katanya. Atau kalimat dalam dialognya yang memang kaku nauzubillah.

Oh selain itu, gue juga nemu soal teknis pengambilan gambarnya. Entah lah, memang sepertinya bener-bener sengaja menggunakan trik kamera yang nge-zoom hingga masuk ke pori-pori tembok dan nembus. Pergerakan kamera itu jadinya berlebih dan kesan yang gue dapat, mubazir dan jatuhnya kayak sutradara yang baru nemu teknik ngambil gambar yang unyu.

Overall, film ini memang ada unsur-unsur jump-scare-nya. Gak berlebihan, tapi sering kali meleset.

Dan yang terakhir, sepertinya si Aiden emang sakit mental parah. Seonggok boneka Sabrina dikata Cantik dan bagus banget. Sarap sudah. Logika nya gak jalan. Sum deh…

Ya jelas aja kalo Ayah Aiden, lebih memilih kakaknya Aiden. Secara masih waras, bisa bedain mana boneka lucu dan mana boneka absurd. Mungkin di mata Aiden, ada yang lebih penting dari sekedar creepy-nya si Sabri.

Ini yang bikin gue begidik dari awal nonton, itu si Sabrina cantiknya dari sudut pandang mana? Monas? Begidik bukan karena takut, tapi karena aneh.

Ngomongin soal aneh, si anak titipan juga aneh sih. Dari awal kemunculannya juga aneh. Yaha, mau gimana lagi, namanya juga resiko nonton film macam ini, yang aneh-aneh justru gak nemu di setannya, tapi di beberapa karakter filmnya.

Ya sudah lah yaa… semoga Tingky Wingky gak tereak-tereak “siapa yang ngambil tas gue – siapa yang ngambil tas gue – siapa yang ngambil tas gue”

Rating : ⭐️⭐️

Dan mereka pun ketagihan buat nonton film horror lagi… 😭😭😭

SINGLE sampe kapan?

•June 26, 2018 • Leave a Comment

Pernah gak sih, kamu hidup dalam satu garis lurus, yang ngerasa sudah gak ada lagi pilihan. Lurus ajah, dan malah seakan-akan dengan lurus kita seperti ditenangkan dan ngerasa bahwa belok ke kiri atau ke kanan adalah bukan sebuah pilihan, tapi masalah.

Itu yang gue hadapi sekarang. Segala macam rencana dan gambaran masa depan tetiba musnah dan gak nyata. Ada problem social yang muncul dan seakan-akan berperan penting menjadi satu persoalan yang harus gue selesaikan saat itu juga. Namun faktanya, justru menjadi kian larut dan berkepanjangan. Ada rasa yang menghambat semua proses itu. Tidak menemukan kepastian jawaban, dan semakin terjerembab pada kasus tersebut.

Menyedihkan memang. Kondisi ini lagi-lagi membuat gue seakan-akan bahwa gue adalah menjadi orang yang “gagal” banget di dunia ini. Bagaimana tidak, sudah mendapatkan previllage untuk menyelesaikan masalah, namun justru masalah gak bisa kelar dan semakin tak menentu. Ujung-ujungnya orang lain yang dipermasalahkan.

Pagi tadi, gue bangun tidur dan merasa tertohok untuk yang kesekian kali. Kondisi badan lumayan “rusak” dan otak sepertinya jarang gak tegang. Bangun bangun malah body sempoyongan. Kali itu pertama kalinya dalam 2 tahun terakhir, gue ketakutan. Ada rasa yang membuat gue ciut pikir. Ada ketakutan kecil yang sepertinya menjadi momok menyedihkan. GUE SENDIRI.

 

FAAAAK, setelah nulis panjang lebar, ternyata-ujung-ujungnya takut berkesendirian. Hey, gak segampang itu sih, nyinyir soal “sendiri” alias SINGLE.

Sudah hamper 35 tahun, dan gue masih saja sendiri. Itu tuh rasanya kayak mau bilang fak tapi udah hilang esensi dari makna fak itu sendiri. Ibarat kata harimau mengaum, di kuping kita mengeong.

Beberapa kali akhirnya sempat kepikiran, jangan jangan ada yang salah dengan diri kita. Gue maksudnya… Oh may gooot..

Segala hal yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan, pasti disenggol-senggolkan dengan masalah asmara, percintaan, pergendak’an, perewi-ewian dan per-per yang lain. Kayak contoh nih, “kemaren gue sakit, lumayan merepotkan sih” dan kemudian ada yang nyeletuk, “KALAU LU punya pacar, kerepotan itu gak ada dalam kamus hidup lu”, meninggal kan. Udah gitu belum lagi kalau sudah menjurus ke masalah social. Saat jalan kemana atau ada acara apa gitu, pasti selalu saja ada yang bakal nanyain, “pacarnya mana?” “kok sendirian, pacarnya gak ikut?”

Jreeeeeeeng!!! Rasa-rasanya pengen lipsync lagu dangdut – Iis Dahlia dengan diiringi hujan gerimis deh.

Kultur masyarakat sepertinya memang diciptakan untuk menjadi simpatik tapi kebablasan. Tujuannya mungkin dirasa baik tapi jatuhnya semacam kont*L. Awalnya nanyain kabar, berikut-berikutnya nanyain, “kapan nyusul?” *dalam hati gue, “Hellooo siapa andah, main nyusul-nyusul, situ okeeh, situ gak layak keleussss disusul”

Balik lagi soal paragraph di awal tulisan ini. Nah yang gue maksud dengan lurus adalah masalah percintaan gue. Yang notabene hanya lempeng menggelimpang begitu ajah. Gak ada biru-biru-nya, hitam semua. Iya serem banget memang. Sudah beberapa kali membuka diri. Dan itu memang terkadang amat sangat melelahkan. Disaat kita siap membuka diri, namun semesta menutup semua peluang dan kesempatan yang ada, dan disaat kesempatan itu datang dan berserakan, malah justru di saat itu, gue hanya berteman luka dan trauma. Jijay yaaa. Ya emang gitu adanya.

Trus maunya kayak gimana, sebenarnya segala macam usaha udah gue lakuin. Dari yang jualan di daring apps, hingga yang ngobral di jalanan. Lonte ya kedengarannya, tapi gue suka. Tapi konteks lonte disini jangan diinterpretasikan sebagai makna kelontean yang sebenarnya. Penggunaan kata lonte hanya sebatas kiasan. Ya gue sih gak masalah dipadu-padankan semacam lonte. Gak ngaruh juga. Cuman penggunaan kata tersebut belum tentu nyaman disasarkan ke orang lain yess.

So, titik pencerahan yang harus kayak gimana yang bakal gue cari? Apakah tetap optimis bahwa kehidupan itu pada akhirnya bersua dengan kematian yang bisa dengan eksplisit disimbolkan dengan SENDIRI? Atau gak ada salahnya mencoba untuk mencari sesuatu yang bersifat MENJALANI KEHIDUPAN, maksud gue ya hidup dengan mengisi kehidupan untuk orang lain, atau gini deh, hidup dengan berbagi bersama orang lain?

Yang jelas, gue masih sepakat dengan naluri gue yang sebenernya gak berbakat hidup single, jadi apapun yang terjadi, marilah merayakan maunya semesta seperti apa, biar kita sebagai makhluk yang sejatinya tunggal yang tinggal menentukan… kuy!

Film ::: Premika (2017)

•April 25, 2018 • Leave a Comment

premika-thai-movie-poster

Sebenernya sudah lama tau, kalo ada bioskop alternatif selain waralaba 21cineplex. Kalo dulu ada yang namanya Blitzmegaplex. Nah sekarang udah ganti nama menjadi CGV. Pun juga ada lagi jaringan bioskop baru yaitu Cinemaxx yang baru beroperasi beberapa tahun belakangan.

Padahal belum nemu bosan juga dengan yang namanya XXI, maklum emang suka jajan nonton, jadinya ya selalu ada waktu buat mereka (baca: bioskop XXI). Berhubung selentingan dan santer beredar kabar bahwa ada jaringan bioskop selain XXI yang memberikan alternatif tontonan lain, yang memutar film-film non hollywood.

mereka adalah film-film yang diproduksi di luar Hollywood. Seperti film yang berasal dari negara selain Amerika atau Inggris. Sebut saja film produksi Thailand, Jepang, Korea dan juga India. Termasuk juga film Eropa.

Dan kebetulan, gue telah beberapa kali menjadi penikmat bioskop tersebut. Sebut saja Cinemaxx yang semalam gue nonton film Premika. Dan hasilnya di luar kendali. Sumpah, baru kali ini gue bisa ngakak dalam keterkejutan gue karena film ini sendiri adalah film horror yang dibalut dengan unsur komedi. Ada komponen-komponen yang justru rupanya menjadi nilai tawar yang pada akhirnya kenapa gue suka film ini.

Film ini memang konsepnya membahas soal Hantu yang mati penasaran. Ceritanya, Si Premika (nama hantu-nya) adalah korban pembunuhan oleh seorang yang lalim di kota-nya. Premika (Natthacha De Souza) sendiri adalah ternyata seorang pendatang gelap yang pergi dari desa ke kota untuk bekerja, namun sayangnya, dia menjadi korban perdagangan manusia yang sampai akhirnya dia berujung pada profesi sebagai gadis karaoke.

premikaaaaa

Hingga pada suatu ketika, sebuah bangunan penginepan yang dibuka kembali setelah sekian lama terbengkalai. Sebagai bukti bahwa penginapan tersebut ramah dan baik-baik saja, pemilik penginapan sengaja mengundang beberapa publik figur termasuk selebgram untuk menginap di tempat tersebut.

Dan namanya juga film horror komedi, balutan mesum sepertinya gak bisa lepas dari film jenis ini untuk ukuran film Thailand. Dua ikon penyanyi yang hanya menjual body, suara hanya yang kesekian, pun menjadi daya tarik dari awal hingga penghujung film ini. Secara, kalau gue melihat mereka berdua, seakan-akan gue dihanyutkan dengan kisah si Laluna Cinta atau apalah namanya. lupa gue.

premikaaaaaaaaa

kemudian ada karakter dua lelaki konyol yang digambarkan tidak cakep, dan memang tidak ada cakep-cakepnya sih. kedua lelaki ini rupanya juga memiliki andil dalam meramaikan pesta perhantuan sepanjang film berlangsung.

Malas juga mengenalkan satu persatu, yang jelas ada karakter entah Butchie atau Transmen yang muncul dalam film ini. Di beberapa dialognya, Dia memperkenalkan dirinya sebagai laki-laki, namun di akhir film malah dia menampakkan ekspresi gendernya sebagai perempuan. jadi kurang jelas juga dia sebagai apa. but, itu gak penting, karena ternyata yang lebih penting adalah, apakah kamu bisa nyanyi atau tidak!!

Itu lah yang menjadi premis di film ini. Kalau lu ketemu Hantu premika dan ternyata suara lu sumbang alias fals, alemong deh, nyawa lu melayang sia-sia gegara nyanyi yang parah abis. terkadang pun suara bagus gak ngaruh kalau dirimu lupa lirik, itu pun juga bakal dihabisi. Sepertinya, Premika punya motif lain, selain daripada menyuruh korbannya hanya sekedar bernyanyi.

premikaaa

Film ini memang sangat-sangat menghibur, meski darah muncrat dimana-mana, tetap saja gue dibawa untuk ngeri dan ngakak secara bersamaan. adegan-demi-adegan seakan-akan mengingatkan gue akan film musikal, tetapi film ini bukan film musikal, film ini memang muatannya ada adegan bernyanyi, tapi bukan untuk bermusikal.

Isu yang diusung untuk jenis film ini pun tidak main-main. ada isu perdagangan manusia yang diucung cukup dramatis, ternyata juga ada isu LGBT yang bikin gue adem ngeliatnya, kayak, owalaaah jadi dia suka dia toh, hmmmm. gitu-gitu lah. Dan bersyukurnya, isu yang ini balutannya sedikit absurd dan cukup mengajak gue untukj berseru, “kampreeet!”

Overall, gue cukup terhibur dan sangat terhibur malah, tumben-tumbenan gue gak ngantuk sama sekali, padahal gue ngambil jam nontonnya di jam 7.15 PM. Padahal kalo biasanya di jam-jam segitu pasti akan dan bakal tertidur–kalau filmnya gak bagus–dan hal ini bisa ngebuktiin kalo Premika gak sesumbang suara gue kalo lagi nyanyi…

premi

Walo agak telat nontonnya, tapi rekomended sih buat kalian yang pengen hiburan segar. sesegar darah Premika yang muncrat ke muka karaoke lovers.

 

premika

Kangen Komentar Miring

•April 6, 2018 • Leave a Comment

Hari ini gue menyempatkan diri untuk menulis. Mungkin tidak ada spesifikasi jenis apa tulisan gue. Yang jelas, tulisan ini hanya untuk membuktikan bahwa gue masih ADA.

Beberapa waktu belakangan, masih ada saja komentar-komentar yang muncul di postingan blog gue. Dan sepertinya, sudah mulai mengecil intensitas komentarnya. sekarang, sebulan bahkan, sudah gak ada lagi hiasan komentar yang notif-nya muncul di henpon. mendadak gue kangen dengan komentar-komentar menggatal itu. yang bilang gue dilaknat lah, gue diini lah gue diitu lah. Pokoknya seram. tapi ya begitulah,

Semoga besok sudah lebih baik.

IMG_8980