Cerpen ::: IMAM TAK BERIMAN

Imam Tak Beriman
Oleh : Imam Ocean

“Namanya Imam, tapi kok homo ya?”

Sebuah celotehan bodoh itu sering terdengar dalam setiap obrolan mereka. Mempermasalahkan nama yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Terlahir dengan nama Imam Syafi’i. Nama yang agamis dan sangat religius pasti. Tapi siapa sangka, yang bersangkutan dengan nama itu malah merasa bahwa nama itu bukan sebuah anugerah yang patut disyukuri. Gara-gara nama itu pula, sang empunya nama terbawa pada arus duniawi yang cenderung mencari tiket menuju surgawi. Bila sang pemilik nama gerah dengan nama kandungnya, selalu muncul nama-nama angkat yang bisa mendinginkan suasana dan menyejukkan jiwa. Muncul nama Aldo bila ingin chatting di Mirc, mendadak sekilas nama Rico Real singgah di akun jejaring popular saat ini, hingga obrolan telpon yang memperdengarkan nama Dandy sebagai pembuka channel syahwat. Satu nyawa puluhan identitas berganti-ganti.

Tak pernah nama Imam yang terpakai. Seolah nama itu bagi yang punya nama hanya akses kunci untuk bertemu dengan Tuhan saja. Tentu saja ketika sembahyang. Dan paling tidak, agar tak lupa dengan nama aslinya, biasanya ritual memandang KTP tiap malam selalu dilakukan. Dan itupun dengan dibumbui adegan menghafalkan huruf demi huruf. Deretan abjad berbunyi Imam Syafi’i itu serasa perih diucapkan dan sakit untuk didengarkan. Dan akhirnya nama itu hanya cocok menggema di dalam hati nuraninya saja. Itupun bersela sambung dengan jampi misuh yang paling cela.

Setiap kali mencari teman dan calon cinta, label Imam selalu dibuang. Takut tak laku. Karena nama Imam tidak menjual. Imam hanya beken di masjid dan musholla. Imam tak marak di forum gay. Bahkan pasarannya lebih ramai dengan nama Haram ketimbang Imam. Bunuh Imam. Coret. Titik.

Imam pernah punya usaha. Mengganti nama punggungnya dengan Agus saja. Lebih Indonesia dan manusiawi. Tak melulu beban terselip di badan. Karena mempunyai nama Agus artinya bagus. Namun pasangan lelaki dan perempuan yang merasa bertanggung jawab dengan pemberian nama Imam hanya bisa pasrah. Dan terlebih mempertanyakan alasannya. Mengapa harus diubah?

***

Namanya saja Imam. Pasti tidak lepas dari manusia berjubah putih dengan jenggot bak ekor kambing gibas yang menjuntai manja melambai mesra seraya berkata “akulah calon penghuni surga”. Tetapi apakah Imam harus berpenampilan seperti itu? Imam malah merasa akan ada calon gembong teroris jilid lima. Tak lagi samudera, tapi semesta. Imam Semesta…… beruntung atau tidak, Imam yang satu ini benci dengan senjata dan kekerasan. Cinta damai dan hidup rukun. Imam yang satu ini berbeda dengan Imam yang itu. Imam yang ini lebih keibuan.

***

Suatu kali kebingungan melanda. Imam harus jadi imam di musholla. Imam harus memimpin sembahyang sebagai waktu pembuka sore karena mereka tak ada yang berani menjadi imam. Sebenarnya Imam tidak masalah menjadi imam. Tapi Imam tahu, bahwa dirinya bagian dari larangan rukun tuhan. Bahwa Banci dilarang menjadi imam bagi kaum lelaki jantan. Imam tahu, bahwa dirinya bukan bagian dari lelaki itu. Imam cuma bagian dari banci terlarang. Imam masih bisa memimpin wanita tulen. Tapi untuk beberapa lelaki tulen. Imam meragu. Imam akhirnya tunduk pada Tuhannya. Karena takut sembahyangnya tidak diterima. Imam terpaksa mengaku banci pada para manusia yang sombong dengan kelelakiannya. Mendadak sungut iblis muncul menerabas alur diatas alis. Mereka marah sangat. Babi buta pun tak akan seperti itu amarahnya. Menyeruduk serampangan sasaran selangkangan. Merobek baju putih pertanda kesucian, menampar pipi dengan kopiah dari kulit sapi. Dan menjambak sarung sutera imitasi hingga penis terpental malu berdiri, sang Imam ditelanjangi. Disalahkan karena mengaku banci. Imam yang andai kata tak jujur pasti tidak bakalan dikencingi. Imam yang andai kata mau berbohong pasti tak bakalan di sodomi dengan kemoceng yang biasa digunakan untuk mengelap debu kitab suci. Imam merintih, mereka meringkih. Imam minta ampun, amarah mereka semakin terhimpun. Imam menangis kesakitan dirubung setan. Imam berdoa. “SEMOGA SAYA CEPAT MATI TUHAN!”.

Imam tak berdaya. Bingung harus menjawab apa. “Mengapa ada banci di musholla?” Sebenarnya Imam ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Karena sama halnya ketika dia mendengar obrolan manusia purba yang mempertanyakan bagaimana cara memanggil hujan di lahan gersang. Tetapi tetap saja Imam semakin lebam. Daya khayalnya yang sekuat badak pun tak kuat menghilangkan rasa sakitnya.

Imam terkapar tertelentang seperti habis diterjang ribuan kijang. Bokongnya mengejang menahan darah segar yang keluar dari liang yang bisa membuat dia menggelinjang.

Dan hebatnya, Imam menutup aksi mereka dengan bacaan alhamdulillah. Akhirnya selesai sudah. Imam bisa bernafas lega. Bau pesing dan anyir darah membawa Imam terbang melayang ke angkasa raya. Senyum mesra penuh keindahan yang dahulu pernah diumbarnya kini dia kutuk dendam. Tak akan ada lagi keramahan. Hanya sebatas melepas kerinduan. Bukan berbagi kebahagiaan. Itu janji Imam.

***

Lima hari Imam merentang selangkangan di kamar bersalin. Bukan karena rumah sakit tak menerimanya, terlebih ada Yunita yang mau menolongnya karena iba. Yunita tahu benar, dia menjadi bidan karena didikan Imam. Menjadi manusia berakal dan tidak mirip setan. Beruntung Imam pernah mencetak seorang malaikat yang sangat memikat. Punya hati dan cinta tak bersyarat. Hingga rela merawat Imam untuk sesaat. Guru ngajinya yang sampai sekarang yunita hormat.

***

Sepuluh hari berikutnya Imam menangis. Lagi. Ketika dipertanyakan sebabnya. Imam hanya menggelengkan kepala sekali saja. Malah matanya berisyarat seolah ia ingin mati cepat. Mulutnya terkunci rapat. Membungkam hebat kuat-kuat.

***

Bulan berikutnya Imam menangis lagi. Dan lagi. Kali ini dia terdiam dengan seribu alasan. Imam hanya mempertanyakan, kenapa nasibnya seolah tidak masuk hitungan Tuhan. Imam menyalahkan Tuhan? Itu sudah biasa dia lakukan. Dan ujung-ujungnya, Tuhan yang selalu benar. Itulah mengapa Imam menangis lagi. Walau tak melulu berair mata. Sejelasnya sedih itu tak lagi kentara. Samar antara luka dan duka.

***

Minggu berikutnya Imam bisa tertawa. Ada hidangan cinta yang datang tak diduga. Muncul begitu saja di layar ponsel yang selalu setia menemaninya. Kali ini dia pasrah. Semoga nama Imam membawa berkah, seperti apa yang diharapkan ayah bundanya. Sepasrah ketika Imam melepas kutukan yang pernah dia janjikan.

***

Tiga tahun berikutnya Imam salah tingkah. Menjadi tahanan cinta seorang pria bernama Akhmad. Imam telah dipikat dan terjerat syahwat oleh seorang calon ustad keturunan Gujarat. Takdirnya yang sempat terlumat oleh hal-hal jahat kini menjadi sebuah kisah yang tampak khianat. Tapi Imam dan Akhmad hanya bisa sepakat, mereka siap menjadi pasangan laknat yang siap dihujat sampai hari kiamat. Dan itu semua . . . . . . . bagi sang Imam. . . . . . LEWAAAT!!!

***

Gresik, 19 Mei 2010 (06:21 PM)

~ by Imamie on September 13, 2010.

3 Responses to “Cerpen ::: IMAM TAK BERIMAN”

  1. Adegan di musholla sangat dibuat-buat. But it’s your story, right?
    Kalimat terakhir mending gak usah deh, bro. Apalagi kata terakhir tuh. Ababil bangeeet.😛

  2. Bukankah ini fiksi? my story? no!

    Ababil??? apa itu? burung yang membawa batu api dari neraka(phoenix)??? usah atau tidak usah…. kontradiktif atau tidak….. kebetulan mood sayah menulis seperti itu adanya….. suka atau tidak suka….

  3. Yah maksud gue itu cerita bikinan lo, kan? Jadi ya terserah elo.
    Kalimat terakhir tuh kayak bahasa ABG. Njomplang banget ama kalimat-kalimat sebelumnya. Lihat deh kalo tanpa kalimat terakhir. It done well…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: