Cerpen ::: Pertemuan Pertama

PERTEMUAN PERTAMA

Oleh : Imam Ocean


Hampir sore. Langit tampaknya bersahabat. Sinar matahari sudah kehilangan nyali untuk bertanding sakti dengan awan yang sedianya melindungi bumi. Sesosok pemuda melangkah dengan senyum yang sangat sumringah seakan hendak menjemput asa yang telah sekian lama tak disandangnya. Pemuda itu menyulut rindu. Entah pada siapa. Girang wajahnya. Ada banyak kantong tawa yang dia bawa. Mungkin. Itu sebabnya dia sering meringis tanpa sebab. Yang pasti ada secercah kebahagiaan di benak pemuda itu.

Tak dirasakan kini sang pemuda sudah ada di dalam angkutan kota. Ada penat yang disimpannya. Tapi dia tak mau semua orang tahu. Pemuda itu memasang wajah lugu. Agar tidak banyak yang ingin tahu, kepada siapa dia akan bertemu. Pemuda itu diam. Menggenggam ponsel CDMA buatan cina. Ada wajah risau memantul di kaca spion. Pemuda itu gelisah. Dia sesekali memandangi ponselnya. 03.00 PM-5/07/10.  Pantas dia gelisah, karena mobil yang dia tumpangi masih saja tak mau jalan dengan alasan menunggu penumpang lain datang. Ingin rasanya sang pemuda berang. Tampak dari genggaman tangannya yang semakin keras mencengkeram ponselnya. Bahkan bibirnya merapat pekat. Seperti merasakan pancaran amarah yang dahsyat, mendadak sang sopir melunak. Yang tadinya angkuh menunggu calon penumpang ngumpul penuh. Kini sopir itu tanpa ba-bi-bu menyalakan mesin dan langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan terminal bayangan yang kata pak polisi sangat mengganggu.

Angin menghembus menerpa kerisauan. Laju kendaraan hijau muda itu seirama dengan detak jantung sang pemuda yang berdegup kencang karena takut misinya gagal untuk menuju ke Surabaya. Menemui seseorang yang telah dikenalnya cukup lama. Tapi baru sekarang ada kesempatan untuk menemuinya. Memang istimewa seseorang yang akan ditemui pemuda itu. Pasti semua ingin tahu, siapakan orang itu.

Nyata-nyatanya jarak Gresik-Surabaya tidak membutuhkan waktu begitu lama. Kurang dari satu jam, pemuda itu sudah sampai di Jembatan Merah Plaza. Turun dari angkutan kota setelah membayar ongkos empat ribu rupiah. Oh leganya!, Gumam pemuda itu sambil sesekali meremas bokongnya yang panas. Perjalanan pun berlanjut. Pemuda itu mencari titik temu dimana dia bisa ketemu dengan seseorang yang hendak ditemuinya. Dia menerawang. Pemandangan Surabaya tampaknya masih sama seperti biasanya. Ramai di sore hari. Apalagi hari itu hari senin. Jam pulang kantor memang dipatok pas jam empat sore. Dan kebetulan pemuda itu dijanjikan seseorang yang hendak ditemuinya untuk menunggu pada jam itu. Jam empat sore.

Akhirnya. Disela-sela kebingungannya mencari tempat beristirahat, ponsel hitam yang sedari awal digenggam pemuda itu berdering. Kaget bercampur senang.

“Wa’alaikum salam”

“Assalamu’alaikum, sampeyan ada dimana sekarang. Aku sudah nunggu di depan JMP.”

“Bentar ya, 10 menit lagi! Ini mau keluar kantor”

“Oke!”

Pemuda itu risau. Ternyata seseorang yang akan ditemuinya itu memang sangat mengganggu nuraninya. Bagaimana tidak, semua prinsip dan konsep hidup yang telah dia susun lamat-lamat pupus dengan sendirinya. Dalam benaknya pasti akan terjadi sesuatu. Atau entah, karena firasat pemuda itu kadang tidak pernah salah. Seperti halnya ketika dia urung naik kereta ke Bandung, padahal tiket sudah ada di tangan. Karena ternyata ada berita kereta yang hendak ditumpanginya terguling ke jurang yang lumayan dalam. Untuk kali ini. Pemuda itu tidak setia pada firasatnya. Ada kalanya manusia meniti tahap pendewasaan diri. Membuka peluang menemukan jati diri. Mungkin itu yang dia cari. Atau bahkan lebih. Sebuah cinta sejati.

Pemuda itu punya waktu lima menit lagi untuk memutuskan. Lanjut atau berhenti. Gelisah atau semakin gundah. Hingga kesadarannya dipertanyakan, apa yang telah dia lakukan sekarang? Apa tujuan dia bertemu dengan seseseorang yang akan dia jumpai? Diam. Pemuda itu terdiam. Dia duduk di bibir trotoar dengan masih menggenggam ponsel hitam usangnya. Tak ada getaran yang muncul dari genggamannya. Otomatis tak ada pula nada panggil yang keluar dari ponselnya. Pemuda itu masih terdiam. Sesekali dia menatap ke sebuah papan nama sebuah hotel. Sesekali dia mengernyitkan dahi. Dan akhirnya tersenyum sendiri. Lagi. Sang pemuda sempat terlena. Walau hanya satu menit saja. Apa yang ada dipikirannya tentang hotel yang dilihatnya sekilas membuat silap hatinya. Pemuda itu membatasi mimpi. Tak sudi berharap lebih. Karena pemuda itu tahu malu, siapakah dia layaknya. Masih ada harga diri, dengan siapa nanti dia menemui. Seseorang yang menurutnya istimewa setengah mati. Pemuda itu hanya berjanji, bahwa kalau suatu saat nanti ada kisah yang menggetarkan jiwa raganya, dengan seseorang yang akan ditemuinya saat ini, sampai umur bumi, pemuda itu akan selalu setia menemani. Dan kembali lagi, itu hanya sebuah janji dalam hati. Yang tak semua orang tahu pasti. Akankah berfungsi atau hanya menjadi memori usang yang miris untuk dibuang.

Lamunan pemuda itu buyar. Ponsel yang digenggamnya mendadak bergetar. Dia langsung berdiri dan celingak-celinguk mencari petunjuk. Adakah seseorang itu sudah siap berjumpa dengannya. Dengan limbung pemuda itu membuka obrolan lewat ponselnya.

“Wa’alaikum salam”

“Assalamualaikum, wes nyampe mana?”

“Aku sudah ada di depan Jembatan Merah Plasa. Kamu kesini saja!”

“Oh…oke!”

“Aku tepat dibawah papan petunjuk jalan yang ada tulisan ke Monumen dan Jembatan Merah Plaza”

“Iya, aku kesana!”

Pemuda itu semangat menghampiri seseorang yang akan sebentar lagi dia temui. Sirna sudah kegalauan-kegalauan yang menderanya. Tujuannya kini hanya satu. Melebur dengan seseorang yang akan ditemuinya. Menjadi teman, sahabat, saudara atau kekasih.

Seseorang itu duduk diatas motor dibawah papan bertuliskan “Ke Monumen & Jembatan Merah Plaza (J.M.P).” Dia memakai setelan kemeja oranye kotak-kotak dipadu jaket jeans warna biru. Dengan senyuman kosong dia menatap singkat profil pemuda itu. Entah apa yang ada di benak orang itu. Kemungkinan besar hanya sebuah pertemuan biasa. Tidak lebih. Karena si pemuda sadar, bahwa orang itu memang semula tidak menjanjikan apa-apa padanya. Hanya berniat bertemu, berteman dan selebihnya mungkin bisa berhubungan lebih jauh dan dalam. Itupun kalau ada kesempatan dan sekali lagi, kemungkinan.

Pemuda itu tersenyum senang. Walau sangat tampak di wajahnya keringat bercucuran karena grogi bertemu orang baru untuk yang pertama kali dengan spesifikasi tingkat tinggi. seorang pria. Pemuda itu ternyata menemui seorang pria. Yang selama ini ternyata dia kagumi. Pria yang sedari dulu ia impikan. Seorang pria pujaan. Melambunglah bayangan pemuda itu. Tinggi. hingga uluran jabat tangan pria itu tidak terdeteksi dengan baik oleh sang pemuda. Terlena.

Berbenah secepat kilat dan mereka berdua dengan segera melesat meninggalkan tempat pas dibawah papan tulisan “Ke Monumen & Jembatan Merah Plaza (J.M.P).” Menuju ke beberapa lokasi yang menjadi saksi atas sebuah kisah pertemuan pertama. Tidak romantis dan tidak begitu manis. Mungkin. Bagi pria itu. Namun bagi pemuda itu, berharap akan ada jilid pertemuan berikutnya dan berikutnya. Karena romantis dan manis sebenarnya yang dia rasa. Pada  sebuah pertemuan pertama.

Gresik, 07 Juli 2010, 12.23 AM.

~ by Imamie on September 13, 2010.

3 Responses to “Cerpen ::: Pertemuan Pertama”

  1. Gue suka cara tutur yang bersahaja kayak gini. Well done.

  2. Thanks udah membacanya…..

  3. Ijin copy bang…buat tugas!!

    tutur katanya mantep….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: