Cerpen ::: Merajut Jaring Tarantula

Merajut Jaring Tarantula

By Imam Ocean

Diam menatap rentetan cakram digital yang terbungkus kertas berplastik. Semua judul film memajang berbaris di rak-rak putih yang tersusun dramatis. Degradasi alphabetical niatnya, namun sayang, para pegawainya tak becus merapikan secepat guna. Apalagi para pelanggan yang dengan sengaja mengambil dan mengembalikannya tidak pada tempat semula. Urutan DVD bajakan itu tak lagi indah, bagi dirinya. Bagiku, tak masalah. Karena tak ada yang indah untuk nilai sebuah pembajakan. Hanya saja, jasanya lah yang memberiku formula untuk bisa mempelajari semua kisah dibalik setiap kemasan ceritanya.
Setelah browsing di internet, beberapa judul film telah kudapat. Dan sudah saatnya memang untuk berburu film-film yang patut kutonton. Bukan film buatan hollywood yang menjadi box office, ataupun film indonesia yang sok horror, sok drama, sok komedi, sok porno dan sok-sok lainnya. Film ini bukan film itu. Film yang kucari adalah film yang kebanyakan indie, bukan dari major label hollywood dan bukan pula buatan negeri sendiri. Film tentang gay.
Aku gay. Dan aku suka film, apalagi yang berbau homoseksualitas. Tapi pada faktanya, lambat laun lingkup yang kusenangi bertambah ruang ke dimensi yang lebih kompleks lagi. LGBTIQ.
“Hahaha,” tawaku disambut kejut oleh seorang teman.
“Berhentilah bermimpi,” dia menutup telponnya seolah petuahnya adalah jimat kesaktian yang membuatku luluh pada kekuatan mimpiku.
Seorang teman dari ibu kota yang sakit hati ketika mendengar sebuah pengakuan dari diriku, bahwa aku akan menjadi sutradara film gay masa depan. Dia seperti menarik jangkar. Dan dengan jelas meninggalkanku jauh berlabuh. Beruntung dengan tegar aku masih bisa melambaikan tanganku padanya, agar kalau aku sukses, tak malu dia dibuatku. Selamat tinggal sahabatku. Kini aku akan menentukan jalan. Yang terbaik, tentunya bagiku.
***
Siang itu aku sudah berada di dalam sebuah mall yang cukup besar di Surabaya. Lucunya, didalam mall itulah aku bisa menemukan beberapa gerai yang menyediakan dagangan berupa DVD bajakan. Walau juga, basis yang ditawarkan di depan gerai memang DVD asli, namun ujung-ujungnya dibalik tampilan luarnya, dibelakang itu semua terkuaklah sebuah ruangan yang memuat ribuan keping DVD bajakan aneka judul dan genre.
Memasuki salah satu gerai dengan disambut manis oleh penjaganya yang lumayan menarik, yang sempat mengingatkanku pada film The Masseur. Sayangnya gerai yang aku masuki bukanlah gerai pijat plus-plus. Gila, fantasi liarku membludak kemana-mana.
Dan akhirnya, tak peduli dengan judul, tak peduli dengan genre, action atau drama. Yang kucari hanya satu, fokus pada LGBTIQ. Mataku bak mercu suar, hingga mengingatkanku pada film Ang Lalake Sa Parola. Satu persatu judul film itu kusisir. Dari barisan atas kiri ke kanan hingga barisan terbawah kanan ke kiri. Yupe! Dapat satu. SERBIS. Lumayan berbunga hatiku. Kali pertama menemukannya hati langsung membuncah. Seperti layaknya saatku pernah bergairah dengan para sang empunya lingga. Setahuku Serbis tak ada dalam daftar pencarian, hanya saja film ini terlalu menyentil mataku untuk merunut isi ceritanya. Ganti sasaran target. Kuamati daftar film yang ku-print semalam. Sambil mengingat, pandanganku gatal mencuri 4 detik mengarah pada sang owner yang sedang sibuk menerima telpon.
“Dia taruh dimana, film-film yang kucari?”, gumamku protes.
Tak satupun ada judul film yang cocok. Semuanya lolos sensor. Mataku ngelonyor boros. Hampir sebal aku dibuatnya. Malah ingin kurobohkan saja rak-rak yang berdiri tegak itu. Kurang ajar sekali aku hari ini, karena tak jua menemukan hasrat, sampai berani menghancurkan ladang dagang orang. “Hebat,” otakku kumat.
Biasanya ada dua atau tiga film gay asia yang nangkring di rak merah muda. Kenapa kali ini tak nampak. Padahal film gay asia bulan-bulan ini makin marak. Dominasi Filipina dan thailand, ditambah dengan jepang dan taiwan, malah korea juga ikut peran. Kenapa kontingen asia tak mewakilkan salah satupun kontestan? Ada apa?
Sial atau tidak beruntung. Dua duanya mempunyai makna yang sama. Yaitu sama-sama tidak menyenangkan. Berdiri lama aku mematung di depan rak merah muda. 10 detik lebih 3 menit. Sang waktu sepertinya sudah ahli mempermainkan emosiku, dia tahu kapan diriku gundah. Dan bahkan dia tahu kapan diriku buncah. Mendadak pundakku terkesiap. Di dalam ruangan ber-AC itu seolah ada kehangatan instan yang tercipta. Tangan yang lembut itu menguncang punggungku. Menyadarkanku dari duga yang terlena.
“Maaf ya! Koq gak bilang-bilang kalau mau kesini?”
Ternyata sang owner sudah megetahui kelabakanku atas ketidak beradaan stok asia di rak merah muda. Dengan senyum khasnya, dia mengisyaratkan padaku untuk menunggu beberapa menit. Dia bergegas menuju ke balik meja lemari penyimpanan. Dia keluarkan bungkusan tas kresek hitam. Sambil tersenyum girang, lelaki berhati ayu itu menuju ke arahku. Diserahkannya bungkusan kresek itu.
“semoga kamu suka,” celotehnya lugas.
Kukeluarkan isinya. Permanent Residence, Pleasure Factory, Antique Bakery, Frozen Flower, No regret dan empat judul inggris lainnya.
Hatiku langsung binar. Girang tiada kira. Ternyata sang owner pintar juga. Dan tidak seperti biasanya, dimana ia selalu lupa atas pesananku terhadapnya. Sayang, dia terlalu cantik untuk menjadi seorang lelaki. Kalau saja dia lebih lelaki, aku mau di buat mati olehnya. Hahahahaa…..Ini soal selera, aku pun juga punya hak atas nama cinta bukan? Lagi pula sang owner ternyata jauh lebih bahagia ketimbang aku, mempunyai kekasih yang gagah perkasa. Yang siap direbahi kapan saja. Sang kekasih yang sempat juga membuatku terngangah di depan rak merah muda, bahkan menjadikanku gelap mata dan memaksa sang owner untuk segera mati muda.
“Whoey mam, gimana, suka?” sang owner membuyarkan nafsu bejatku. Dia rupanya tahu ada niat jahatku padanya.
“Siiip! Ya sudah deh. Aku mau ke sebelah, barangkali ada judul yang lain selain ini,” sambil kumasukkan bungkusan tadi ke dalam tas.
“berhubung masih 9 biji, aku tambah DVD MILK jadi sepuluh buah. 60 ribu kan?”, tawarku terkekeh melihat muka sang owner yang kecut.
“nyesel aku tadi pake acara nyimpen segala,” ketus sang owner.
“Sudahlah….rugi sedikit aja demi temen kan gak papa, lagian segitu aja gak ngurangin niatmu buat merit di belanda kan?”, gurauku.
***
Memang sempat juga sang owner bercerita tentang hidupnya. Tentang pilihannya. Tentang keluarganya. Tentang kekasihnya. Tentang penderitaannya. Tentang kebahagiaannya. Dia ingin semua itu terdokumentasikan olehku. Dia yakin kepadaku
bahwa cara bertuturku dalam menyajikan cerita pasti sebagus dan sebahagia apa yang sang owner rasakan. Kepercayaan yang diberikan sang owner kepadaku itulah yang sebenarnya menjadi pemicu bagiku atas cita-cita dan pengharapanku, untuk menjadi sutradara gay film gay. Tetapi ada yang mengganjal di pikiranku. Bagaimana dengan hidupku? Pilihanku? Keluargaku? Kekasihku? Penderitaanku? Kebahagiaanku? Sudah cukup kah saku yang kukumpulkan sekarang. Menghadapi dunia yang tak hanya Indonesia saja?
Sang owner pernah berkata. “Apa salahnya mencoba?”
Ya. Apa salahnya mencoba. Tidak ada yang salah dengan mencoba sesuatu. Karena hal yang belum dilakukan belum tentu itu akan menjadi imbas dari apa yang kita takutkan. Justru dari berani mencoba dan mau menerima konsekuensi itulah yang membuat kita bisa memaknai arti hidup. Kali ini aku sangat setuju sekali dengan sang owner.
***
Enam bulan lewat begitu saja. Entah lupa atau sengaja, sang owner tak mengabarkan sebuah berita. Mungkin dia terlewat suka. Hingga seorang aku pun dilupa. Oke lah. Aku beranjak saja. Tak perlu lagi memberi janji, mengabar akan datang ke gerainya. Siapa tahu, kejutku kali ini akan sangat mengagetkannya. Tentang film pendek gay pertamaku yang berjudul MARIO/MARIA.
Tentunya bukan tentang maria ozawa atau mario lawalata. Film ini tentang bias berujung jelas. Mau jadi apa sang tokoh utama. Ketika pilihan membelah fakta, bahwa hidup itu sebenarnya mudah.
Sang owner pasti berbangga. Melihat filmku berjaya di festival dunia. VIVA LA VIDA!
Di gerai DVD bajakan sang owner, aku sedang terkagum. Pengunjung yang lumayan sepi, membuat aku bisa bebas memilih. Mengitari sekat demi sekat, memilah rak satu sampai ke rak yang lain, mengambil Brokeback Mountain yang sempat dipesan oleh seorang teman. hingga tak sadar, badanku menabrak pilar bernyawa bercat putih mempesona. Gubraak!!
“Astaga!! Maaf.” Spontan ku memelas.
Lelaki itu santai menatapku kalut. Dia hanya tersenyum. Di tangannya memegang SHORTBUS. Tanganku manja terlupa telah menjatuhkan brokeback mountain begitu saja. Di pungutnya film cowboy pilihanku. Matanya nakal mencincang jantungku. Terburai sudah gejolak batinku.
Aku mengenalnya. Teman dekatnya biasa memanggil dia dengan nama Bro, sementara sang owner lebih suka memanggilnya Say. Dan aku hanya memanggilnya…
“Hey!”
“………”
Kekasih sang owner itu hanya tersenyum. Dia tahu aku salah tingkah. Seperti kucing mesir yang kebelet ketemu pasir. Plintat plintut seperti mengidap ayan akut. Sudah kubilang, hanya pria buncit gendut berbalut kadut yang tak bisa membuatku kalang kabut. Kalau lelaki keren jangan sebut.
Seketika itu juga ragaku langsung terlumat. Aku hilang oleh pesonanya. Melayang menerabas awang-awang. Mendadak tanganku dijabat kuat, hingga lamunanku pudar menghilang.
“koq tangannya dingin?”
“………..”
“Hahahaa…bego ya gue? Kayaknya AC disini kekencengan”
“Enggak koq, enggak dingin”, jawabku tersipu malu-malu tai.
“……….”
“Si anu koq gak kelihatan?”
“Oh iya, dia sakit. Terpaksa aku yang gantiin. Sudah tiga hari sih”
“……..”
“bosen juga sih lama-lama, gak ada yang bisa diajak ngobrol.”
Ternyata bawel juga ya si pilar ini. Tapi tak menyurutkan niatku untuk tetap mengaguminya. Malah sempat berharap, biar si owner mati saja. Dan aku akan menggantikan tempatnya dengan suka cita.
“ya udah, aku temenin deh. Mumpung hari ini aku gak ada acara”
“thanks ya”
“kalau perlu sampai malem, sambil nonton filmku. Tapi pulangnya aku yang susah”
“ya udah, nginep aja di tempatku. Kebetulan dia minta ditunggu sama keluarganya. Jadi aku bebas malam ini”
Ahaaa!!! akhirnya skenarioku berjalan sukses. Aktingku sungguh menawan. Terpancing dia karena umpan lezat. Sang owner yang malang. Sahabatmu ini sungguh jahat. Semoga kau memang sakit berat, bahkan sekarat. Agar ku tak susah mencari nikmat. Siapa suruh kau punya kekasih hebat.
bersiap ku memintal jaring tarantula. Menyekat menjerat kuat.
“Hey! Akan kuhisap kau malam ini”.
Gresik, 23 November 2009

~ by Imamie on September 30, 2010.

3 Responses to “Cerpen ::: Merajut Jaring Tarantula”

  1. Based on real event ??

  2. This is Fiction….. with big F.

  3. Oh.. kecewa. Dengan k kecil aja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: