Review Film ::: Formula 17

FORMULA 17 di planet mars…

Formula 17

Percayakah kamu dengan cinta sejati? Terlebih cinta sejati di dunia gay! Pasti sebagian dari kalian (yang gay) pasti berani bilang Bullshit. Malah bisa dibilang, cinta sejati hanyalah bonus dari sebuah hasil relationship yang pada awalnya dimulai dari SEX. Dan yang lebih ekstrim lagi, ada banyak kaum gay sendiri yang menyangkal bahwa true love itu tidak sepenuhnya ada.

Well. Disini saya tidak memperdebatkan cinta sejati. Saya disini hanya mengagumi sosok pemuda canggung, bisa dibilang “Ababil a.k.a ABG LABIL” yang bernama Choi Tien-Tsai (diperankan dengan apik oleh Tony Yang) yang masih mempercayai dengan filosofi “cinta sejati”. Dia mempercayai bahwa cinta sejati itu ada dan dengan cinta sejati dia berharap mendapatkan kebahagiaan sama seperti film favoritnya, “Happy Together” yang tertempel gagah di kamar tidur. Dan dengan kondom keberuntungan(kayaknya memang didesain sebagai jimat), Tien berangkat ke Taipei untuk liburan sekaligus “kopi darat” dengan seorang teman gay yang dikenalnya lewat chatting internet (gak di indonesia gak di taiwan semuanya sama). Dengan modal jujur apa adanya, Tien yang memiliki modal ketampanan diatas rata-rata tapi kecerdasan dibawah rata-rata, hanya berharap semoga kenalan yang akan ditemuinya bisa menjadi kekasih (percayalah….kita pasti pernah berharap demikian bukan?). dan sayangnya, apa yang ada dipikirannya tidak berjalan sesuai dengan kenyataan yang ada. Kevin, nama orang yang akan ditemui Tien, tak ubahnya binatang buas yang hanya mencari pasangan untuk kawin semata. Dan itu membuat tien mundur. Dan akhirnya dia tidak berharap banyak dari apa yang didambakannya.

Di Taipei, Tien menginap di rumah teman lamanya Yu (diperankan dengan gila oleh King Chin). Binan yang bekerja sebagai bartender ini sangat menyambut kedatangan temannya. Sehingga apapun keluh kesah Tien, berharap Yu bisa membereskannya. Termasuk mencarikan “cinta sejati” Tien. Dan yang membuat Yu histeris, saat Tien melontarkan sebuah pengakuan yang menggemparkan dunia (lebay….hanya sebatas gay-bar aja kaleee), bahwa Tien masih VIRGIN. Rupanya jimat pemberian Yu, memang benar-benar terlampau berhasil menjaga “kesucian” Tien. Sejauh ini.
Dengan cekatan, Yu dibantu C.C. ( dimainkan Dada Liu dengan menggemaskan) mencarikan pacar buat Tien. Beserta instruktur fitness Alan (Jimmy Yang), mereka bertiga merencanakan misi untuk melepas keperawanan Tien. Yaitu mengundang “Kucing Taipei” yang disamarkan menjadi tukang ledeng. Dialog jenius muncul pada adegan awal dimana si tukang ledeng (Yang Tze-Long) hendak memeriksa pipa toilet. Hampir saja Tien terbawa rayuan si tukang ledeng tadi, tetapi Tien curiga. Dan untungnya (sebenarnya untung atau rugi yaaa? Di renggut keperawanan oleh seorang yang keren???) Tien berhasil menggagalkan misi Yu dkk dengan baik.
Suatu ketika, pada saat Tien yang kebetulan bekerja paruh waktu di sebuah fitness center, bertemu dengan Bai Tieh-nan ( Diperankan dengan sangat natural oleh Duncan), yang sebelumnya hanya saling menatap di gay-bar tempat Yu bekerja. Dan rupa-rupanya, Tien jatuh hati pada Bai, walau Bai sendiri sudah punya stempel PLAYBOY di jidatnya. Tien yakin bahwa playboy hanya label. Yang suatu saat bisa berubah. Namun setelah kejadian di Shower, Tien menyadari, bahwa Bai ternyata mempunyai pasangan. Sehingga dia tidak berani berharap banyak.
Tanpa sepengetahuan Tien, bai sendiri sebenarnya penasaran juga dengan Tien. Sehingga bai mencari cara agar bisa mendekati Tien. Masalahnya, Bai mempunyai problem traumatik untuk barang sesuatu yang disebut “cinta”. Alhasil, Bai tak mau lagi merasakan apa itu cinta. Dan dia lebih kepada “cinta satu malam” saja……
Di sisi lain, Yu yang merasa bahwa kekasihnya Ray (Jeff Locker) perlahan-lahan menjauh darinya, semakin membuat dirinya terguncang. LTR itu tidak berjalan dengan baik. Yu stress.
Mendadak keberanian Bai muncul, dia mencoba pdkt ke Tien. Ketika mereka bertemu di penyeberangan jalan. Berkat bantuan binan flamboyan, Tien berkesempatan menyimpan kartu nama Bai. Begitu pula Bai, dia akhirnya merasa ada jalan untuk mendekati Tien…………

Yaah….. film asal Taiwan ini minim konflik. Dan lebih menjurus pada romantisme yang dikemas full komedi. Chemistry yang keren dari leading actors-nya benar-benar keren. film yang kabarnya ber-budget minim ini sebenarnya telah diproduksi pada tahun 2004 lalu. Dan uniknya tak ada satupun aktris wanita di film ini, bahkan figuran. Setidaknya peran “feminis” sudah terwakilkan oleh para “wanita bertubuh pria”, yaitu Yu dan kawan-kawan. Jangan berharap mendapat tontonan adegan syur yang dahsyat seperti di film-film buatan Crisaldo pablo. Ataupun gambaran-gambaran suram yang pernah kita dapatkan di film Bangkok Love Story. Walau ada juga sih, scene dimana menjadi pesona pamungkas atas pertanyaan,”adakah adegan itu?”

Kita hanya menemukan sedikit rasa pahit diantara kegembiraan di film ini. Karena bagaimanapun juga film ini mengumbar banyak hal-hal konyol tapi anehnya sangat menyenangkan. Dunia yang bebas. Dunia yang tidak mengenal margin. Dan seperti itulah seharusnya dunia. Tak ada yang lebih berkuasa pada diri kita selain diri kita sendiri. Tidak ada yang menderita di film ini. Karena memang tidak harus ada penderitaan. Penderitaan hanya datang dari sudut pandang mereka yang kurang bisa menerima pluralisme semata. Selebihnya kita bebas untuk berharap dan bermimpi untuk kehidupan yang indah dan sekali lagi untuk bisa berbahagia. Banyak pesan positif yang disampaikan dalam formula ini. Utamanya adalah persahabatan. Saya pikir, tak ada persahabatan yang lebih keren di dunia ini selain persahabatan para homoseksual. Dengan landas sama-sama dalam kondisi bias, setidaknya dengan berbagi dengan sahabat itulah mereka berharap bisa melalui masa-masa sulit (toh itupun kalau memang menyulitkan). Dan saling bahu membahu, itupun kalau ada pihak yang selalu datang untuk mempersulit keadaan. Hanya butuh pengakuan dan eksistensi. Bukan cemoohan. Dan film ini sepanjang menit membuat senyum saya tak henti-hentinya mengembang. Sungguh kerja keras yang bagus. Salut buat Yin-Jung Chen, sutradaranya. Terlebih penggarapan skenarionya yang disusun manis oleh Rady Fu. Banyak sekali simbol-simbol yang muncul, baik itu dari segi visual maupun dialognya. Bila mengingat adegan dimana Tien didatangi si tukang ledeng, tak henti-hentinya saya tertawa. Apalagi adegan dimana Yu pertama kali bertemu dengan kekasihnya Ray. Tetapi bagi saya, semua adegan di film ini sangat berkesan. Karena rentetan setiap adegan akhirnya menjalin sebuah cerita ringan tetapi mendalam. Sebuah dunia baru. Kita serasa dibawa sang kreator untuk mengungsi dari planet bumi menuju Mars. Dimana kita tak tampak satupun penghuni dari planet venus yang pamer kecantikan. Karena kembali lagi, semuanya sudah terwakilkan oleh Yu dan kawan-kawan.
Sebuah film komedi yang sebenarnya romantis ini tak ubahnya semacam obat mujarab. Disaat kita mengalami apa itu yang dinamakan kegalauan, niscaya film ini bisa memberikan kita suasana “hati terang” (mengutip dari ucapan seorang kawan). Ada sebuah dialog yang feelnya membuat saya bangga berbunga-bunga sampai merekah.

Tien You see… even love can pass away.
Bai Tieh-nan But… we can run after it.
Tien Run?
Bai Tieh-nan And chase it back.
Tien My feet are tired.
Bai Tieh-nan I’ll carry you.

Hmmm…….apapun itu kemasannya, cinta selalu membuat seseorang menjadi jenius untuk berkata-kata. Dan seketika itu juga cinta bisa membuat kita menjadi bodoh setengah mati. Dan percayalah di dalam Formula 17 ini, ucapan Wo Ai Ni hanya muncul sekali. Malah jawaban balasannya membuat saya terhenyak dan ngakak. Benar-benar komedi yang sangat romantis. Dan dua jempol “up” dengan soundtrack yang mengiringi sepanjang film ini berlangsung. Dinamis dan saling melengkapi. Romansa yang dibawa sangat cocok dengan setiap suasana hati yang dialami setiap karakter. Dari keceriaan, kegundahan, patah hati bahkan kegilaan. Dan yang lebih ampuh tatkala scoring pamungkas di adegan kemunculan Tien di salah satu adegan ekskalator. Sebuah moment yang mengharukan sekaligus membahagiaan. Benar-benar larut. Dan ternyata kumpulan soundtrack untuk film ini lumayan “cen sing ping”. Renyah untuk dijadikan penyemangat hidup saat memulai hari. Dan terakhir, sin2 + cos2 = 1…….

bintang 4/5

~ by Imamie on October 22, 2010.

2 Responses to “Review Film ::: Formula 17”

  1. Gada link nya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: