Cerpen ::: Suatu Malam

SUATU MALAM

Oleh: Imam Ocean

07.37 PM.

“……Tak gendong kemana-mana…..tak gendong kemana-mana….”

Lebih pantas aku membiarkan mbah surip menyanyikan lagunya, karena nama yang muncul di layar HP-ku bukan lah nama seseorang yang sedang kutunggu….

“AKI REI Calling”

Ada perasaan malas luar biasa ketika kata-kata itu muncul di layar HP. Karena penggambaran kesedihan akan datang. Apalagi kalau bukan penderitaan yang akan dia cipratkan kepadaku. Dia semprotkan malah. Tak habis di pikir, kehidupan macam apa yang dia jalani. Ingin di cintai tapi benci untuk mencinta. Alasannya sangat gila. Karena dia lelah bercinta. Lelah untuk tersakiti. Lelah untuk terkhianati. Dan kini apalagi keluhnya. Semoga tak lagi cerita cinta. Ya. Bukan cerita cinta. Tapi entahlah, dia tidak ada kapoknya untuk yang namanya “cinta”.

“HALLO Rei?!”

“hiks…..”

…….Rei?!”

“Hikss!!…..”

…….

“Rei! Kalau mau nangis, nangis aja dulu. Entar kalo udah selesai nangis, telpon aja lagi Oke!”

“Hiks!! Gak koq Chin!!! Aku udah selesai nangisnya. Ini cuman efek terharu aja, keinget sama yang tadi siang!”

“Memangnya, tadi siang kamu kenapa?”

“Panjang Chin ceritanya!”

“Mmmmm…..Bisa gak yang pendek-pendek aja?!”

“Idiih Chin, koq gitu sih…..gak biasanya kamu nawar!”

“Sorry Rei. Masalahnya, aku sedang nunggu seseorang. Jadi enggaknya ketemu dia, itu bergantung dari HP yang aku pegang sekarang ini.

“Ya udah deh, Chin!! Tapi aku mau ngasih tahu kamu, kalau tadi siang, aku habis di tembak sama DIA!”

“Dia siapa?”

“Dia!!! Yang dua hari kau rekomendasikan ke aku!!”

“Apa? Dia?! Si Hamdan bukan?!

“Embeer!”

“Gila tuh hamdan.”

“Lho koq gila?”

“Ya iya lah, masak dia doyan sama kempyengan?!”

“Maksud looo??!”

“Hehehehee, guyon! Selamat ya Rei!!! Tapi maaf, cerita selengkapnya besok-besok aja ya! Yuk dada bubyee”

“Tapi Chin…….”

Setidaknya kali ini dia bisa memahami satu hal, bahwa memberikan kawan kesempatan untuk mendapatkan seorang teman kadang juga membutuhkan pengorbanan. Aku harap kali ini dia bisa belajar banyak.

07.48 PM.

“……Tak gendong kemana-mana…..tak gendong kemana-mana….”

Bukan dia. Jantungku yang sempat tertipu untuk terkejut menjadi malu menciut. Malah hatiku yang membludak mengheboh dan susah mengendap meledak-ledak berkesiap. Ternyata bukan dia yang hendak berkabar.

“IWAN Calling”

Apalagi kasusnya kali ini. Semoga saja bukan keinginan bunuh diri yang ke-33 kali. Atau sebaiknya bunuh diri itu perlu baginya. Agar tak lagi mengganggu otak dan pikiranku. Kali ini saja. Ah Iwan. Kau termaafkan malam ini.

“Hallo Wan, Ada apa?”

“Say!!! Ke Kost-an aku yaa sekarang!”

“ngapain?”

“Please!!”

“Emangnya ada apa sih Wan?”

“……..”

“Kamu berantem lagi?!!”

“……..”

“Kamu kenapa? Kalo diem saja, gimana aku tau Wan!!”

“Bisa gak kamu kesini?!”

“kamu ngomong dulu, ada apa, baru aku mungkin akan ketempatmu!”

Gila. Aku terlanjur berserapah mengumbar sumpah. Orang yang satu ini memang tiada akhir penderitaannya.

“Aku mau kamu jadi saksi mata dari kematianku!!!”

“oke…. Tunggu sebentar lagi. Aku sedang nunggu seseorang. Entar, kalo dia sudah kesini, akan kuajak sekalian, melihat detik-detik menjelang ajalmu.”

“………Yo wes.”

“Kali ini caranya apa?”

“Bingung. Masih mikir!!”

“Ya sudah. Pikir-pikir saja dulu gih!!”

“okey”

Ya. Begitulah. Selalu saja seperti itu. Dan pada akhirnya juga akan seperti itu. Dia selalu beranggapan, bahwa kegagalan baginya adalah akhir. Dan akhir adalah Kematian. Dan sayang bagi dia. Dia terlalu takut untuk mati. Mati baginya adalah akhir. Dan semua itu takkan pernah berakhir. Sampai dia benar-benar tidak takut untuk mati. Beruntung bagiku, karena dia tidak akan pernah mau untuk benar-benar ingin mati.

Lagi pula, setelah ini aku pun tahu, apa yang akan dilakukannya. Mengusap air mata, dan dia pasti berkata “Aku tidak akan mati semudah itu!”

08.37 PM.

Ada apa dengan dirinya. Kenapa belum ada tanda-tanda keberadaannya. Dia telat setengah jam. Atau mungkin dia sengaja memalamkan waktuku. Untuk menciptakan suasana syahdu sebagai peralihan gaduh menjadi sendu. Tapi sayang, suasana hatiku makin riuh. Bimbang dan ragu. Hingga pertanyaan lancang mengganggu, “masihkah aku harus menunggu?”

08.59 PM.

Kenapa mbah surip tidak menyanyikan lagunya, untuk kali ini saja. Mbah surip boleh saja tiada, tapi setidaknya jangan pula meniadakan harapanku juga. Terlupa aku berharap

agar mbah surip mau menggendongku….kemana-mana….. agar aku bisa bertemu dengannya.

09.07 PM.

“……Tak gendong kemana-mana…..tak gendong kemana-mana….”

Akhirnya mbah surip menghibur hatiku. Lompong terasa jantung yang semula mengilu. Kini ada harapan dari sebuah lagu penghibur. Mbah surip benar-benar mau menggendongku. Tetapi secepat itu pula mbah surip mendepakku. Karena masih bukan dari dia.

“LINCA Calling”

Haduh. Ada apa gerangan dengan linca. Tidak biasanya malam-malam begini dia nelpon aku. Ataukah dia ingin keluar dari kebiasaannya itu. Sehingga membuat aku menjadi heran dengan ketidakbiasaannya. Ya. Semoga saja keherananku beralasan.

“Hai Ca, tumben. Ada apa?”

“Sob!*&%^%8&^%!!”

“Ca!!! Gak kedengeran!!!”

“Sob!!! Gue sekarang lagi di toilet!!”

“TERUS??!!”

“BENTAR LAGI “DIA” NYUSUL KE GUE!!”

“Dia Siapa?”

“BRONDONG lah”

“Masalahnya???”

“18 senti diameter 3,5!!!! Gue gak pernah yang segitu!!!!”

“lha koq nanya aku?”

“menurut lo gimana, gue bingung sekarang sob!!!”

“ya udah…..ga papa! Kamu mau kan?”

“IYA….”

“dasar….! Alat tempurnya udah ada kan?”

“Ada…..tapi gue takut kalo entar gue teriak-teriak lagii…..gak kebayang sob! TOLIET MALL!! Baru kali ini!!!”

“yah enggak usah dibayangin….kan bentar lagi kamu maen!!”

“Okeh!!! Gue bisa!!!”

“Selama…..”

“Tuut tuuuut tuuut tuuuuut”

Selamat buat kamu ca. dan sukses buat aku. Ha Ha Ha….. Menyedihkan.

09.12 PM.

Aku pikir sudah dan tak perlu lagi mengharapkan mbah surip bergumam. Aku tak mau memaksa beliau untuk menyanyi lagi. Biar dia damai di alam sana. Dan lagipula….

“……Tak gendong kemana-mana…..tak gendong kemana-mana….”

Dan lagipula dia sudah tua, tidak. Lagipula aku sudah lelah. Entah mengapa aku sekarang berharap itu bukan darinya. Dan lebih mengharap, semoga aku tidak bisa bersua dengan dirinya.

“1 message received”

Hal yang menyebalkan dalam hidup. Tak ada kabar buruk selain kabar yang datang dari SMS. Karena itu, dari dulu hingga sekarang tak satupun dari kawan yang ber-SMS denganku. Takut tak tersampaikan pesan kebaikannya. Dan dia. Dia melanggar prinsipku. Dia mengirim aku “pesan Singkat” itu. Dan aku tahu. Isinya pasti kabar buruk. Dan itu selalu benar. Lagipula aku ingin tahu, kabar buruk macam apa yang hendak menyudutku. Kubaca keburukannya….

“…..

08.12.09 09:13 pm

Mr.Sky

Sorry, aku ga bs dtng.

Istriku mendadak minta

operasi caesar di RS!

Maaf ya!

……”

Oke. Itu bukan masalah. Pertanda itu sudah selayaknya tidak perlu aku tolerir dari awal. Tapi kadang menghargai pengharapan juga perlu. Kini semua telah terjadi. Tak harus ada penyesalan. Karena dia memang bukan untukku. Dia memang untuk dia. Sang wanita.

09.29 PM

Ya beginilah hidup. Lucu bukan?! Begitulah. Mengharapkan harapan yang tidak pantas untuk diharapkan. Tapi lupakan saja. Itu semua tinggal harapan. Hidup tak hanya harapan belaka. Masih ada kenyataan yang kadang bisa datang tak terduga. Seperti pada saat…..

“Halo Wan!!! Kamu di mana sekarang? Udah dapet CD-nya”

“udah Say….lagi di food court nih!!!”

“mall biasanya kan?!!”

“ember!!!! Eh ada yang mau kenalan tuh ma kamu!!!”

“SIAPA???”

“Buruan ah!!! Kamu pasti click deh!!! Dia udah tahu kamu loh!!”

“Siapa???”

“penggemar rahasiamu deh pokoknya!!!”

“ya udah, 10 menit lagi deh kayaknya!!!”

“Oke say, Eh tapi kamu sendirian kan?!”

“mmmm….Iya, kenapa?”

“MANTAP!!!Di tunggu say”

“……”

“……”

Itulah kebisaannya. Menghilangkan jenuh dengan melepas jengah. Berburu aksesoris cinta. 33 kali-kayaknya-juga aku terbiasa dengan caranya. Dan itu adalah pertanda. Bahwa dia akan baik-baik saja.

Seperti pada saat aku akan bertemu dengan lelaki kenalannya.

11.59 PM

Inilah yang dinamakan kenyataan yang datang tak terduga. Mengaburkan semua fakta tentang teori cinta. Mengulang kesalahan yang sama bukan berarti kebodohan, karena bodoh tentu saja, jika yang diulang itu jelas-jelas tak bersalah.

“Yah! Kau telat satu menit mas! Tapi entah mengapa aku bisa memaafkanmu!”

“Maaf, aku pikir tak ada alasan yang tepat untuk itu Mam.”

“…………..”

“Tapi, setidaknya berikan aku waktu untuk mengenalkan diriku padamu….lebih dari yang tadi!”,

Senyum itu terbit diwajahnya. Tetapi tidak. Senyuman itu berbeda, tidak sama seperti para pecintaku yang terdahulu apalagi yang beberapa jam lalu. Senyuman yang membekukan amarah, yang menguapkan gundah dan yang mencairkan suasana. Aku suka senyumnya. Renyah. Arghh!!!

Kini dia termaklumi. Berkat senyum ampuhnya. Dan manakala dia membuatku tersenyum juga karena ada kejutan dibalik semuanya.

GRESIK, 08-19-09

~ by Imamie on November 4, 2010.

5 Responses to “Cerpen ::: Suatu Malam”

  1. Gue pikir ini kejadian dalam satu malam… atau memang begitu??
    Ada lompatan waktu yang membingungkan di bagian akhir. Atau sudah berganti malam??

    Sekedar info: 08.30 PM . Tapi kalau 20.30 (tanpa PM).

    • wadow……yup…cerita diatas terjadi satu malam…..dan bego banget…..wahahahhahaaaaa….. thanks atas koreksinya…. akan saya edit lagi…. agar tidak terjadi kebingungan…..hmmmmm…thank you before

  2. kreeeeeeeeeeeeeeeeen,-
    walau ending’y agak kebingungan,-
    tp kren kok k3,-

  3. istana aslinya memang di Kota Gresik? mana tuuuuch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: