Cerpen ::: (Bukan) Timun Mas

cerpen ini dimuat di Majalah Bulanan GAYa NUSANTARA Tahun 06/No.01

(BUKAN) TIMUN MAS

Oleh : Imam Ocean

Pada jaman dimana manusia masih belum mengenal dongeng, terkisah ada seorang janda tinggal di hutan sendirian. Walaupun hidup sebatang kara, kenyataannya, perempuan tua itu baik-baik saja. Hidupnya damai dan tentram. Kebutuhan makannya tercukupi. Rumahnya pun masih kokoh kuat berdiri. Walau berdinding anyaman bambu dan beratap alang-alang, wanita yang tak lagi muda itu bahagia bukan kepalang. Bukan karena menang judi, tapi karena telah lepas dengan masa lalunya yang suram. Pernikahannya tidak bertahan lama karena dirinya sering dianiaya oleh mantan suaminya yang seorang tukang jagal. “Kalau saya terus hidup bersama dia, bisa-bisa saya digorok kalau sewaktu-waktu amarahnya meledak,” pikirnya. Karena itu, Mak Inah, nama perempuan tua itu biasa dipanggil, lebih memilih mengasingkan raganya ke tengah hutan. Demi menyelamatkan diri dari kejaran suaminya yang selalu meradang.

Berpuluh tahun dalam pengasingan, Mak Inah hidup seorang diri. Dengan berbekal keberanian, keterampilan dan keuletan, Mak Inah mampu bertahan. Seorang diri di dalam hutan. Memakan buah dan sayuran hasil dia bercocok tanam, menyantap ayam hutan dan segala macam hewan yang bisa diburu dan dibiakkan.

***

Pada suatu sore, di saat dia sedang mencari ranting kayu yang berceceran di tanah basah akibat hujan, ada perasaan yang sangat mengancam. Mak Inah kelabakan. Ada mata buas yang sedang mengawasinya. Mak Inah pasrah. Walau dalam hatinya tetap waspada.

“Siapa kamu?” teriaknya.

Mata Mak Inah menerabas lepas ke setiap sudut celah hutan, “tunjukkan dirimu!” Mak Inah mulai kesal. Terdengar tiupan angin tipis yang menyayat kuping Mak Inah. Miris. Nyali Mak Inah menipis. Nafasnya mulai senin-kamis. bergegas Mak Inah mengambil ranting-ranting yang sudah dikumpulkannya. Diikat dijadikan satu dengan selendang kain goni, kemudian ditaruh di atas kepalanya. Seolah-olah dia tidak mempedulikan ancaman yang sebentar lagi ditemuinya. Mak Inah melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

“Hai kamu!” suara itu menghentikan langkah Mak Inah.

Mak Inah tertegun. Tangannya gemetaran. Dia sadar, suara yang menghentikan langkahnya itu sangat berbeda dengan suara manusia kebanyakan. Tetapi Mak Inah tetap melanjutkan perjalanan.

“Saya Lelah! Jangan ganggu saya!” suara Mak Inah pura-pura memelas.

Mak Inah masih saja melanjutkan langkahnya.

“Berani kamu ya!” suara itu menggelegar.

Dan tiba-tiba tubuh Mak Inah tersentak diam. Kaku tidak dapat berkutik. Matanya mendelik. Nafasnya putus macam leher tercekik.

“Kamu pikir sedang berhadapan dengan siapa?”

Mak Inah masih mematung. Tetapi dalam hati dia memohon, agar tubuhnya kembali seperti sedia kala. Bisa bergerak dan bernafas lagi tentunya.

Dan serasa ada yang mendengar permohonan Mak Inah, dia langsung terlepas dari jerat magis yang baru saja membelenggunya.

“Terima kasih!” Ucap Mak Inah lirih.

Mak Inah memperbaiki cara bernafasnya. Dia meletakkan ranting-ranting itu. Dan mendudukinya.

“Sebenarnya apa yang anda kehendaki dari saya? Saya hanyalah Janda yang sudah mulai tua!” sambil mata Mak Inah nanar mencari sumber suara.

Mendadak gumpalan asap mengepul tepat dihadapan Mak Inah. “Jangan takut! Saya hanya ingin memberimu sesuatu,” suara itu muncul bersamaan dengan sosok makhluk tinggi besar yang keluar dari kepulan asap. Mak Inah terlalu tua untuk takut. Dia berusaha tenang.

“Dari awal tinggal di hutan, saya sudah mengawasi kamu. Dan sekarang kamu saya nyatakan lulus ujian!” Raksasa menjelaskan perihal kemunculannya di hadapan Mak Inah.

“Maksud anda?” Mak Inah kebingungan.

“Saya hanya ingin meminta tolong!”

“Apa itu, semoga saja saya bisa membantu,” Mak Inah mencoba santai.

“Terimalah ini!” Raksasa itu memberikan sebungkus kain yang berisi benih tanaman.

Mak Inah tampak kebingungan. Namun dia mencoba paham dengan semua itu.

“Baiklah jangan khawatir. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Ini jimat kan?” Mak Inah sok tahu.

Raksasa terlihat senewen. Tampak giginya gemeretak geram. Kepingin sekali dirinya mencak-mencak, hanya saja hal itu akan menghilangkan wibawa seorang raksasa.

“Yang kamu lakukan hanya menanamnya saja. Apapun yang nantinya akan menjadi hasil dari benih yang kamu tanam itu, saya akan mengambilnya kembali, terhitung tujuh belas tahun lagi dari sekarang.” Terang Raksasa.

“Memangnya akan menjadi apa ini?” Mak Inah kerepotan berpikir sambil mengamati benih yang dibawanya.

“Sudahlah jangan banyak tanya. Apapun itu, kamu harus merawat dan membesarkannya,” Raksasa mulai kehilangan kesabaran.

“Oh iya, kalau boleh tahu, mengapa harus tujuh belas tahun?”

“Memangnya umur kamu sekarang berapa? Lagipula saya tidak yakin kamu bisa hidup dua puluh tahun lagi.”

Mak Inah hanya bisa mengangguk. Dan kemudian berpamitan. Mereka bersalaman. Namun itu urung dilakukan. Mengingat telapak tangan Mak Inah empat kali lebih kecil. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memilih melambaikan tangan saja. Asap mengepul dan membungkus raksasa itu. Hilang dalam senyap. Sore hampir berganti malam. Mak Inah buru-buru pulang. Karena bila malam sudah gelap, hutan bukan lagi milik dia.

***

Tujuh belas tahun telah berlalu begitu cepat. Mak Inah tidak merasa bahwa sekarang umurnya sudah tiga per empat abad. Perubahan yang mencolok dapat terlihat dari kulitnya yang sangat kering keriput. Jalannya mulai ringkih. Meski sudah uzur, rupa-rupanya masih ada sisa tenaga yang digunakan Mak Inah untuk mencari kayu bakar. Kini dia berada di tempat dimana pernah ada jumpa dengan raksasa. Yang dulu sempat memberikan hadiah istimewa sebuah benih kehidupan. Mak Inah mendadak menangis dalam hati. Betapa dia merasakan sebuah beban berat yang dia hadapi. Air matanya lancang menerabas pelupuk, membasahipipinya yang menggelambir. Malas dia mengusap.

Hutan itu masih sama. Ribuan pohon pinus sibuk menggugurkan daunnya. Rantingnya berserakan, hanya saja tenaga Mak Imah sudah tidak banyak. Secukupnya ranting itu disisir. Dipilih mana yang terbaik. Setelah terikat erat, Mak Inah beranjak pulang. Di pucuk pinus, senja telah memerah. Kalau tidak cepat-cepat, dia khawatir yang di rumah ada apa-apa.

Dapat lima langkah, Mak Inah menghentikan niatnya. Karena seketika itu juga, perasaan yang sama tujuh belas tahun yang lalu kini muncul lagi. Mak Inah mencari sumber yang membuat dirinya bergidik.

“Haloo…!” Mak Inah mencoba menyapa. Suara rentanya terdengar perih dan pedih. Alhasil, tak perlu asap mengepul dan wewangian, Raksasa itu muncul dengan sopan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Raksasa berusaha mengakrabkan diri.

“Anda sama sekali tidak berubah!” Mata Mak Inah menelanjangi Raksasa dari ujung mahkota hingga ujung kuku panjangnya, “Sementara saya, kini hanya tinggal tulang dan kulit. Kering pula!” Mak Inah merendah.

Raksasa merasa prihatin mendengar keluhan nenek tua itu. Hanya saja, sebagai raksasa, tentunya ada etika dimana tegas dan seram harus dipegang teguh. Jadinya, belas kasihan itu sebaiknya jangan. Tanpa berusaha merusak mood Mak Inah, Raksasa mencoba untuk mengingatkan kembali perjanjian mereka tujuh belas tahun yang lalu.

“Saya ingin mengambil titipan yang dulu pernah saya berikan padamu,” ucap Raksasa dengan suara gaharnya.

“Benar sekali. Anda ternyata tidak lupa.” Wajah Mak Inah langsung berubah ceria.

“Kenapa kamu tersenyum, bukan kah itu aneh?” Raksasa kebingungan.

“Tahukah anda, saya tujuh belas tahun hidup bersamanya. Dan kini dia akan kembali kepada anda. Bagi saya, itu suatu pengorbanan,” tegas Mak Inah.

“Bukankah kamu telah berjanji?” Raksasa mulai sedikit emosi.

“Ya. Tetapi… Alangkah baiknya kalau sebuah janji yang ditepati itu mendapat imbalan yang pantas. Anda tahu kan, betapa beratnya menjadi seorang saya di hutan yang rimba ini?”

“Jadi kamu meminta imbalan?”

“Ya. Saya meminta itu! Coba anda pikir, saya sekarang sudah tujuh puluh lima tahun, dan sebentar lagi pasti mati. Saya ingin di saat-saat terakhir saya, ada seseorang yang bersedia merawat saya.”

“Baiklah! Saya punya sesuatu untukmu, imbalanmu akan kamu dapatkan sesaat setelah kamu mengantarkan saya ke rumahmu. Mengambil titipan saya”

Mak Inah langsung bersemangat. Dan dengan langkah gontai, dia berjalan membimbing Raksasa yang mengikutinya dari belakang. Tak pelak sebuah keajaiban terjadi. Setiap langkah Mak Inah, kulit tubuhnya mengencang. perlahan tubuh Mak Inah mulai tampak berisi. Dia tidak menyadari dengan perubahan yang terjadi. Langkah demi langkah, uban yang menghiasi kepalanya menghitam. Masih saja dia tak sadar. Payudaranya yang menggelambir di sanggah kemben kumal, kini mendadak mengencang dan berubah sintal. Hingga perubahan terakhir sesaat berbarengan dengan sesampainya dia di rumah, badannya yang bungkuk perlahan kembali tegak. Dadanya membusung. Mak Inah mulai sadar diri. Dia kebingungan. Di depan rumahnya dia kalang kabut.

“Apa yang terjadi dengan saya?”

“itulah bentuk imbalan saya. Coba kamu bercermin sekarang.” perintah Raksasa menepis keheranan Mak Inah.

Dengan perasaan campur aduk, Mak Inah menghampiri gentong yang biasa dia gunakan untuk menyimpan air hujan. Kebetulan saat itu, gentong airnya terisi penuh. Karena pagi tadi Mak Inah mengisinya dengan air sungai yang mengalir di belakang rumah.

“Itulah dirimu sekarang!” suara Raksasa menuntun pantulan bayangan air Mak Inah yang terlihat cantik jelita.

“Benarkah itu saya?” Mak Inah masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Sekarang dimana titipan saya?”

“Sebentar, akan saya panggilkan,” Mak Inah bergegas masuk ke dalam rumah dengan girang atas kembalinya kemolekan tubuhnya. Sementara itu, Raksasa sangat terlihat tidak sabar.

Selang beberapa menit, Mak Inah keluar rumah sambil menarik paksa lengan seorang pemuda tampan. Parasnya elok. Mata siapa yang tak tertarik untuk tidak memandangnya. Terlihat pemuda ini bingung dengan sosok perempuan yang menariknya keluar rumah.

Sampeyan ini siapa?”

“Aku ini emakmu!”

Sampeyan bukan emak saya!”

“Aku ini emakmu!” Mak Inah mulai geram, “Sudah! Kamu nurut saja!”

Mak Inah berhasil menyeret pemuda itu ke hadapan Raksasa.

“Siapa dia?” tanya Raksasa kebingungan.

“Titipan anda!”

“Kenapa dia? Seharusnya kan…!”

“Anda ini bagaimana? katanya dulu—apapun itu saya harus merawat dan membesarkannya—lha dulu saya dapatnya begini—yasudah, saya jalankan perintah anda,” Mak Inah buru-buru masuk rumah, “Maaf, saya sudah tidak ada urusan, silahkan ambil titipan anda.”

“Sebentar, benih yang saya berikan kepadamu itu benih timun mas kan?

“Aku bukan Timun mas”, sela pemuda itu kebingungan. Dia rupanya ingin menjadi bagian dari perseteruan kedua makhluk beda jenis itu.

“Sial, saya keliru telah memberikan biji semangka,” raksasa itu mengeluh.

“Bukan—Bukan semangka,” Mak Inah urung masuk rumah. Sambil sesekali ia membetulkan kembennya yang kekecilan.

“Aku Melon!” pemuda itu menyahut genit.

Mendadak saat itu juga Raksasa langsung meradang. Karena tanpa dia sadari tangan Melon sudah menggelayuti tubuh Raksasa yang besarnya tiga kali lebih besar tubuhnya.

“Ini kesalahan!” sang raksasa kewalahan berusaha untuk melepas pelukan Melon.

“Pantas saja! Aku suruh berburu rusa , dia memilih di dapur bermain rasa!” Mak Inah membantu melepaskan pelukan Melon yang masih menempel di tubuh Raksasa.

“Memangnya, kalau dia timun mas, akan anda apakan dia?” Mak Inah ingin tahu.

“Kujadikan selir!” Jawab Raksasa singkat.

“Mau dong jadi selir!” sela Melon kemayu.

“Bagaimana ini?” Raksasa mulai panik.

“Anda ini kan raksasa! Jadikan santapan saja dia!” Mak Inah menunjuk Melon setengah bercanda.

“Mau dong disantap!” Melon masih saja centil menggoda Raksasa yang mulai gerah.

“Di dalam peraturan dunia kami, Makhluk seperti dia tidak boleh dimakan,” Raksasa serius menjelaskan, “Karma.”

Mak Inah yang semula sibuk dengan dirinya sendiri, akhirnya simpatik. Melon pun mulai lelah menjahili Raksasa. Mak Inah memilih duduk di amben dan menceritakan kisah yang dialaminya kepada Melon.

Setelah Mak Inah menyelesaikan ceritanya, mendadak Melon kegirangan karena menemukan sebuah ide, “mengapa bukan Emak saja yang jadi selirnya dia.”

“Tidak! Emak tidak mau!” Mak Inah sewot.

Raksasa hendak membalas ucapan Mak Inah, tetapi dia malu, dan memilih diam menutupi gelagat anehnya. Mendadak Melon nyengir kegenitan, “Halah! Kalian ini! sama-sama dewasa! Yang satu perempuan, yang satu laki-laki. Nunggu apalagi?”

Raksasa langsung tersenyum geli. Dia tidak menyangka bakal mendapat calon selir Mak Inah. Begitu juga Mak Inah, dia salah tingkah. Pandangan mata Raksasa membangkitkan gairahnya. Tanpa dikomando, berdua, spontanitas, mereka saling menatap dalam-dalam. Dan… ajaib. Ada CINTA.

***

Akhirnya Melon dan Mak Inah berpisah. Sang raksasa pun menghadiahkan Melon beberapa benda yang bermanfaat. Sebungkus garam dan terasi ajaib, serta sepuluh biji jarum. “Suatu saat kamu pasti akan membutuhkannya,” tegas Raksasa.

Melon pasrah menatap kepergian Mak Inah yang sirna bersama Raksasa dalam bungkusan kepulan asap putih pekat, “Semoga kalian berbahagia selamanya!” ucap Melon menahan haru.

***

Dan di akhir petualangannya, Melon menjadi Enterpreneur sukses. Dia membuka warung makan tempe penyet. Berbekal terasi dan garam pemberian Raksasa, bisnis kulinernya berjaya. Hanya saja, dia masih bingung, bagaimana cara memberdayakan fungsi jarum yang dimilikinya. Jasa konveksi atau akupuntur? Entahlah, yang jelas Melon telah menemukan Semangka yang mencintai dia apa adanya. Dan keduanya hidup bahagia selamanya.

Gresik, 11 02 2011

~ by Imamie on February 20, 2011.

6 Responses to “Cerpen ::: (Bukan) Timun Mas”

  1. Wkwkwkwkwwkwkwkk….ngakak nih…ceritanya hancur…XD tapi keren kok…XD

  2. lho emang e kamu udah baca dimana???? perasaan itu cerpen kan…

  3. mosok gak mudheng? coba deh di baca sekali lagi…..

    penceritaan dua obyek yang bergantian dan mengerucut di akhir penceritaan…

    lebih jelasnya, entar aku jelasin pas di Surabaya nanti…. heheheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: