Cerpen ::: Ritual 13

Ritual 13

Oleh: Imam Ocean

“Tetanggaku kemarin ada yang kerasukan. Katanya sih jin gitu!” Danu membuka obrolan, “kamu tahu gak? Ternyata—kata orang-orang, ada yang mengguna-gunai.”

“kamu yakin itu bukan pura-pura?”

“Yakin lah, masak dia akting, gak mungkin lah,” Danu tidak mau kalah.

“Memangnya kamu melihat sendiri?”

Enggak sih,” Danu merendahkan nada bicaranya, “tapi aku yakin itu beneran.”

“Kenapa kamu bisa seyakin itu? Kamu kan gak melihat sendiri!”

“Seisi rumahnya berantakan. Mirip kapal pecah gitu katanya…”

***

Andrei hanya bisa tersenyum pahit. Sesekali dia mengoleskan ampas kopi ke batang rokoknya. Ditiup pelan-pelan berharap cepat kering. Matanya melirik ke seseorang yang duduk disebelahnya. Mengetahui bahwa pria yang disebelahnya bermuka masam, dengan santai, Andrei menyenggolkan bahu kekarnya. Tubuh pria itu goyah tak berkutik. Kembali angkuh pada pendirian. Diam.

“Buruan—bentar lagi—kayaknya  warung ini tutup,” Andrei mengingatkan Danu yang sibuk memencet-mencet tombol hp-nya, “hanya tinggal kita.”

Warung kopi itu tampak sangat lengang. Gadis usia tujuh belasan dengan mata sayu berkantung yang mencoba berusaha agar kuat duduk semalaman sangat membuat Andrei merasa tidak nyaman. justru sebaliknya—Danu—lelaki yang dari tadi sibuk mengutak-atik hp-nya malah tidak mempedulikan itu. Hampir jam dua belas malam. Olesan ampas rokok Andrei mulai kering mengeras. Tanpa menghiraukan Danu, Andrei langsung meminta sang gadis menghitung tagihan mereka berdua.

“Berapa mbak?”

Suara Andrei pun mengejutkan sang gadis yang terbelit kantuk.

“Oh, iya mas!” sang gadis memeriksa apa-apa saja yang sudah mereka berdua nikmati, “kopi susu, es teh tawar, kacang kulit tiga bungkus, sama mie goreng satu mangkok.”

“Lima belas ribu mas,” ucap sang gadis terdengar asal-asalan menjumlah.

Andrei mengeluarkan uang lembaran dua puluhan yang kebetulan ada di saku kemejanya. Sesekali dia menatap Danu yang ogah-ogahan beranjak pergi dari warung itu. Setelah menerima uang kembalian, Andrei langsung menyeret lengan Danu sambil berpamit-senyuman kepada sang gadis. Tampak ada kelegaan di raut wajah gadis itu. Akhirnya pulang juga.

***

“kira-kira kalo aku kerasukan, apa yang akan kamu lakukan?”

“Kamu nggak ngantuk?”

“Kamu akan panggil orang pinter, kyai atau pendeta?”

“Aku biarin aja kayaknya,” Andrei mulai terdengar menyerah dengan pertanyaan Danu, “entar juga keluar sendiri.”

Tampak wajah Danu berubah membatu. Ranjang tempat mereka berdua rebahan sangat terasa dingin dan kaku.

Lagian, jin bodoh mana yang mau merasuki kamu,” Andrei mulai malas mengobrol. Dilihatnya jam meja sudah mulai giat mempertontonkan angka satu besar-besar.

Danu terdiam. Matanya menerawang ke langit-langit. Sesekali memejamkan mata. Sepintas melintas bulir air mata yang lenyap oleh usapan tangannya.

Kalo semisal aku mati, apakah kamu…”

Udah tidur, jangan ngelantur!”

Danu merasakan ketakutan yang tak terkira. Entah oleh sebab apa. Dia mendekatkan badannya ke samping tubuh Andrei. Dan Andrei pun hanya membalas memeluk tubuh Danu—lembut—dengan membiarkan lengan kanannya menjadi alas bantalan kepala Danu.

“Awas kalo kamu nonton film horror lagi!” ucap Andrei dengan mata terpejam.

“Siapa juga yang nonton horror!” Danu tidak mau kalah.

“Maksud aku, denger cerita-cerita serem yang gak penting!”

“Siapa bilang gak penting!”

“Aku yang bilang!”

Hallow! ANDREI PRANABUWANA yang gak penting, kalau gak ada kejadian setahun yang lalu, mungkin kitagak akan ada di sini—di Surabaya!”

“Kejadian apa?” Andre kembali membuka matanya.

“Kasusnya Wawan—Kerasukan di kuburan cina! Inget gak?”

Andrei mencoba mengingat, “Oh, mantanmu itu ya?”

Danu mengiyakan sembari kaki kanannya digeser-geserkan ke kakinya Andrei yang penuh bulu halus.

“Kamu kan yang nolong Wawan waktu itu! Mustahil kamu bisa lupa!”

“Iya aku ingat sekarang”

“Kalau dulu kamu gak ada di situ, mungkin kita gak akan pernah seperti ini,” jemari Danu menarikan tarian goda diatas belahan dada bidang Andrei.

Andrei hanya tersenyum. Sekilas matanya melirik ke arah Danu yang sibuk menjamah tubuhnya.

“Oh iya, besok sudah tanggal tiga belas!”

Andrei terkesiap.

Sadar dengan ucapan Danu barusan, dia lantas mencoba tenang—walau dalam hatinya tegang. Andrei menutupi kegelisahan yang meminta dilepaskan.

“Ada apa?” Danu menangkap percikan rasa panik Andrei.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya kaget, kenapa bisa lupa ya?”

“Heran! Semuanya kok gampang banget dilupakan!” Danu bertingkah, “Semoga yang ini enggak!” Danu beringsut ke atas badan Andrei. Kedua tubuh bugil itu berdempet memanas. Dengan menghidangkan senyum yang menggairahkan, Danu mulai membangunkan “jin” yang siap merasuki dirinya.

***

“kira-kira kalo kamu kerasukan, apa ya yang akan aku lakukan?”

“Aku ngantuk!”

“Manggil orang pinter, kyai atau pendeta ya?”

Gak usah repot-repot,” Danu mulai malas menanggapi ocehan Andrei, “Entar juga keluar sendiri.”

Tampak wajah Andrei yang terlihat kebingungan. Ranjang tempat mereka berdua rebahan sangat terasa dingin dan kaku.

Lagian, jin bodoh mana yang mau merasuki aku,” Ucap Danu kesal. Dilihatnya jam meja sudah mulai giat mempertontonkan angka satu besar-besar.

Andrei terdiam. Matanya menerawang ke langit-langit. Sesekali memejamkan mata. Sepintas melintas bulir air mata yang lenyap oleh usapan tangannya.

Kalo semisal kamu mati…”

Udah tidur, jangan ngelantur!”

Andrei merasakan ketakutan yang tak terkira. Entah oleh sebab apa. Dia mendekatkan badannya ke samping tubuh kekasihnya. Dan Danu pun hanya membalas dengan merebahkan kepalanya diatas lengan kanan Andrei yang sedianya menjadi alas bantalan.

“Kamu nonton film horror ya?” tuduh Danu dengan mata terpejam.

“Enggak.”

“Maksud aku, denger cerita-cerita serem yang gak penting!”

Gak penting dari mananya? Siapa yang bilang?”

“Aku yang bilang!”

Hey! DANUATMADJA yang gak penting, kalau gak ada kejadian dua tahun yang lalu, mungkin kamu gak bakal ada di sini—di Jakarta!”

“Kejadian apa sih?” Danu membuka kelopak matanya.

“Kasusnya Wawan—Kerasukan—di kuburan cina!”

Danu mencoba mengingat, “Oh, yang mantanku itu ya?”

Andrei mengiyakan sembari kedua kakinya terbujur diam—menanti datangnya kaki-kaki nakal yang biasanya akan menggeser-geser kaki-kakinya yang berbulu halus.

“Aku kan yang nolong Wawan waktu itu!” Andrei melirik Danu, “Maklum sih kalau kamu sudah lupa!”

“Iya aku ingat sekarang”

“Kalau dulu aku gak ada di situ, mungkin kita gak akan pernah seperti ini,” Andrei menggoyangkan lengannya yang dijadikan bantalan oleh Danu.

Danu hanya tersenyum. Sekilas matanya melirik ke arah Andrei sambil menggodanya.

“Kamu gak lupa kan? Besok tanggal tiga belas!”

Andrei terkesiap.

Sadar dengan ucapan Danu barusan, dia lantas mencoba tenang—walau dalam hatinya tegang. Andrei melepas kegelisahan yang sulit ditutupi.

“Masih aja gak berubah,” Danu menangkap percikan rasa panik Andrei dengan bosan.

Sorry, aku hanya kaget—kalau besok sudah tanggal tiga belas.”

Gak heran! Selalu aja panik!” Danu membelakangi Andrei, “Semoga lain kali gak panik!” Andrei mengangkat lengan kanannya pelan. Dan menenggelamkan kepala Danu ke dalam bantal. Dengan menghidangkan punggung yang haram disentuh, Andrei kali ini enggan kerasukan.

***

“kira-kira kalo aku kerasukan, apa yang akan kamu lakukan?”

“Kamu nggak ngantuk?”

“Kamu akan panggil pendeta, kyai atau orang pinter?”

“Kita lihat saja nanti,” Lelaki di sebelah Andrei mulai terdengar menyerah dengan pertanyaan itu, “Kenapa bertanya seperti itu?”

Tampak wajah Andrei menyebalkan. Ranjang tempat mereka beradu rebahan mendadak terasa dingin dan kaku.

“Lagi pula saya gak percaya sama hal yang begituan,” Lelaki itu mulai malas mengobrol. Dilihatnya jam meja sudah mulai giat mempertontonkan angka satu besar-besar.

Andrei terdiam. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Sesekali memejamkan mata. Sepintas melintas bulir air mata yang lenyap oleh usapan tangannya.

Kalo semisal aku mati, apakah kamu…”

Udahburuan tidur!”

Andrei merasakan kebingungan yang tak terkira. Entah oleh sebab apa. Dia mendekatkan badannya ke samping tubuh lelaki itu. Dan sang lelaki itu pun hanya membalas memeluk tubuh Andrei—mesra—dengan  membiarkan lengan kanannya menjadi alas bantalan kepala Andrei.

“Awas kalo kamu nonton film horror lagi!” ucap Lelaki itu dengan mata terpejam.

“Siapa juga yang nonton horror!”

“Maksud aku, denger cerita-cerita serem yang kayaknya penting banget!”

“Siapa bilang itu penting!”

“Kamu yang bilang kan?”

Hey! WAWAN SETIAWAN yang penting banget, kalau gak ada kejadian dua tahun yang lalu, mungkin kita gak akan ada di sini—di Jakarta!”

“Kejadian apa?” Lelaki yang bernama Wawan itu membuka matanya.

“Sandiwaramu—yang kerasukan—itu, Kamu pasti udah gak inget kan?”

Wawan mencoba mengingat, “Oh, itu?”

Andrei mengiyakan sembari kaki kanannya digeser-geserkan ke kakinya Wawan yang mulus tak berbulu halus.

“Aku kan yang pura-pura nolong kamu waktu itu! Maklum sih kalo kamu lupa!”

“iya aku ingat sekarang”

“Kalau dulu kamu gak pura-pura kesurupan, mungkin kita gak akan pernah seperti ini,” jemari Andrei menarikan tarian goda diatas belahan dada bidang Wawan.

Wawan hanya tersenyum. Sekilas matanya melirik kearah Andrei yang sibuk menjamah tubuhnya.

“Kira-kira—sekarang sudah tanggal tiga belas untuk yang ke berapa kali ya!”

Wawan terkesiap.

Sadar dengan ucapan Andrei barusan, dia lantas mencoba tenang. Dengan suara jelas dan lantang, Wawan menjanjikan Andrei untuk pertemuan istimewa di tanggal tiga belas melebihi tanggal tiga belas-tanggal tiga belas sebelumnya.

“Ada apa?” Andrei menangkap percikan keanehan sikap Wawan.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya bahagia.”

“Sama! Aku juga merasa bahagia!” Andrei bertingkah, “Semoga tanggal tiga belas kali ini menjadi hari yang tak terlupakan!” Andrei beringsut ke atas badan Wawan. Kedua tubuh telanjang itu bertatap.

Keindahan.

Dengan menghidangkan senyum yang menggairahkan, Andrei mulai membangunkan jin yang siap merasuki dirinya.

***

Gresik, 8 Maret 2011

Dedicated to all my boy-friends

~ by Imamie on April 17, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: