Kumpulan Cerpen Q! Stories (2010)

Q! Film Festival adalah sebuah festival film yang memutar film-film dengan tema LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transexual, Intersex, Questioning), HIV/AIDS, dan HAM. Di tahun 2010, Q! Film Festival tampak kembali menegaskan dirinya sebagai sebuah festival untuk kaum minoritas. Dengan peluncuran sebuah buku antologi cerpen berjudul “Q! Stories”, berbagai hal tentang kehidupan kaum LGBTIQ diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda-beda dan semakin memperkaya wawasan akan kehidupan kaum LGBTIQ.

Meski Q! Film Festival adalah sebuah festival film, tapi film sendiri bukanlah satu-satunya medium seni yang dihadirkan oleh festival ini. Untuk mencapai tujuan akan terbentuknya kesadaran akan keberadaan kaum LGBTIQ, medium sastra turut menjadi sasaran. Berisikan cerpen dari Debra H Yatim, Soe Tjen Marching, Imam Ocean, Dee Dee Sabrina, Joe Andrianus, Hally Achmad, Mudin Em, Drupadi, RuPa, Rizal Iwan, Hendri Yulius, dan Indra Herlambang, “Q! Stories” dianggap sejalan dengan tujuan tersebut

Diselenggarakan di malam pada hari yang sama dengan gerakan dari FPI (Front Pembela Islam) yang menginginkan festival ini dihentikan, suasana cemas masih terasa di peluncuran buku “Q! Stories”. Meski tidak ada tindak kekerasan yang terjadi, tapi teror yang disebar tentu sangat berbekas bagi Q! Film Festival. Namun, pihak panitia terlihat tetap menjaga semangat dan kewaspadaannya dalam menyelenggarakan acara malam itu.

Peluncuran “Q! Stories” ini diawali dengan pembacaan cerpen dan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Cerpen pertama yang dibacakan adalah cerpen karya Debra H Yatim yang berjudul “Sang Pemula”. Cerpen ini terinspirasi dari karya sastra yang berisikan cerita tentang kaum lesbian di zaman Romawi yang berkali-kali muncul dan dibahas oleh berbagai kalangan, meski sudah pernah dihujat dan bahkan dibakar setiap kali muncul kembali. Setelah itu, tujuh penulis lainnya pun ikut membacakan cerpen karya mereka.

Suara-suara para penulis yang lantang menyuarakan jiwa dan emosi cerita mereka seolah-olah membuat pendengarnya terlupa sejenak akan apa yang terjadi pada festival film ini di hari itu. Mereka kembali diingatkan akan pentingnya keberadaan festival film ini yang tidak hanya sekedar menyuarakan keberadaan kaum minoritas. Q! Film Festival juga mengajarkan semua orang yang hadir untuk melihat perbedaan dan persamaaan bukan sebagai sesuatu yang memisahkan manusia, tapi sebagai jembatan untuk membangun melihat bahwa Tuhan membagi kebahagiaan dan kesusahan dengan adil kepada seluruh manusia. Di luar dari segala aturan kehidupan yang kita tahu, ternyata ada orang-orang yang hidup dengan aturan yang sangat berbeda dari kehidupan kita dan tetap menjalani sebuah kehidupan yang tidak jauh lebih bahagia atau lebih menderita dari kehidupan yang kita jalani.

Sumber: Flick Digital Movie Magazine

~ by Imamie on May 10, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: