Kopi dan Secangkir Cinta…

Tiba-tiba ada seorang teman dari jauh yang menanyakan apakah saya pernah bikin artikel tentang “cinta”. Dalam benak saya, Cinta? Apa itu Cinta? Sebuah pertanyaan sederhana. Tetapi entah kenapa, saya kebingungan untuk menjawabnya. Hingga sampai pada akhirnya, saya menyadari bahwa seorang saya pun seharusnya bisa mengerti apa itu sebenarnya cinta.

Cinta. Suatu permainan emosi yang melibatkan pihak lain (dan bisa juga dengan banyak lainnya) dengan kadar perasaan yang lebih condong menghamba (dan akan dikatakan “cinta” bila ada proses “dihamba”) agar supaya pemenuhan tuntutan emosi yang bergejolak terpenuhi. Dalam artian, menggilai benda mati pun bisa dinamakan cinta. Itu pendapat awal saya tentang cinta. Tetapi seiring berjalannya waktu, semuanya (sedikit) berubah.

Seperti halnya saya, dulu, saya dengan hebohnya sangat-sangat mencintai “KOPI”. Ya. Kopi. Saya sangat mencintai kopi. Mungkin kalau kopi bisa berbicara, dia pasti akan sependapat. Setiap malam, dia selalu menemani. Dia tidak menuntut sesuatu. Dia pendiam. Dia pengertian. Dia bijaksana. Dia sopan. Dia memang kriteria saya yang paling saya idam-idamkan. Dan yang terpenting, dia setia.

Cinta itu kesetiaan. Kemana-mana saya selalu ditemani kopi. Di cafe, di rumah teman, di warung pinggiran dan dimana-mana. Saya dan kopi selalu terlihat bersama. Saya tidak peduli, kalau kopi itu warnanya hitam, berampas, dan kadang pahit (kata orang). Saya tidak peduli kopi itu candu, kopi itu penyakit. Saya tidak peduli. Bagi saya, kopi adalah yang hal terindah bagi hidup saya.

Cinta itu keindahan. Kemana-mana saya selalu membicarakan kopi. Tak ada yang lebih keren selain membicarakan kopi. Kopi saya. Cinta saya. Lambat laun ada cibiran dari sana sini. Banyak yang bilang kopi saya mulai berubah rasa. Kopi saya berubah warna. Kopi saya hilang ampasnya. Saya tidak peduli. Itu mungkin suara-suara sumbang yang ingin memisahkan saya dengan kopi saya. Saya lebih percaya kopi saya, ketimbang orang-orang. Karena saya dan kopi pernah berjanji. Kami berdua selamanya akan saling mengisi. Tidak peduli kata orang. Saya lebih peduli kata kopi. Walau kopi sendiri tak pernah mengumbar janji. Tuli dan buta lah saya oleh secangkir kopi.

Cinta itu buta. Karena kopi, saya menjadi penyendiri. Saya menjadi pembeda. Saya menjadi orang yang berbeda. Saya menjadi egois. Saya menjadi keras kepala. Saya menjadi antagonis. Saya menjadi pesimistis. Dan saya menjadi gampang menangis. Dan Kopi lambat laun membuat saya pedih. Suatu kali kopi tak sehari menemani. Saya sedih. Kemana kopi? Dimana Kopi? Banyak yang bilang, Kopi pergi karena dikhianati. Banyak yang bilang, Kopi hilang karena ada yang curang. Banyak yang bilang, kopi minggat karena ada yang lebih hebat. Ujung-ujungnya, Saya dibilang jahat.

***

cinta itu….. secangkir TEH HIJAU HANGAT. Saya merasa bersemangat. Badan saya sehat. Segar dan berbinar. Saya bercermin. apa yang saya lihat, berbeda dengan dulu apa yang saya dapat. Dulu dan sekarang berbeda. Saya lebih nikmat. Di samping teh hijau hangat. Kini. Cinta itu TEH HIJAU HANGAT. Selalu menemani di setiap ada waktu. Saya memaklumi. Tak selamanya Teh Hijau hangat meluangkan waktu untuk saya. Di cafe mungkin dia sempat, di warung pinggiran, saya tidak berharap. Tetapi, di lubuk hati yang terdalam, Teh Hijau Hangat selalu akan saya ingat.

Posisi saya memang terlihat jahat. Mencampakkan kopi demi pilihan yang lebih baik. Tetapi percayalah, sejahat-jahatnya saya, apa tidak lebih jahat bila kopi terus mencintai saya, menemani saya malam-malam hingga saya kecanduan. Kadar cafein berlebihan! percayalah! Insomnia! Bisa jadi. Saya tidak mau patah hati lebih dalam lagi. Saya tidak mau dicurangi. Dicintai tetapi ujung-ujungnya disakiti.

Selamat tinggal kopi, bukan sebagai kenangan. Hanya ujian. Seberapa kuat saya bertahan. Hingga akhirnya yang saya dapat, Secangkir Teh Hijau Hangat. Cinta saya. Tambatan hati saya. Kami sama-sama berusaha saling mengerti, memahami dan memaklumi. Apa-apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan kami. Kami berkomunikasi. Untuk menggapai makna cinta sejati.

Cukup sudah dongeng saya tentang Kopi dan Cinta Sejati…

Sekarang saya memandangi jeruk nipis yang menghias dibibir gelas Teh Hijau Hangat dengan manis….  🙂

 

~ by Imamie on June 30, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: