Teman Bagiku… (bag.1)

Teman….

Aku mengenalnya saat masih dalam kandungan. Bahkan dia ada sebelum aku. Membayangkan ketuban bisa berjalan-jalan mengelilingi tubuhku yang masih awut-awutan. belum berbentuk, masih setengah matang. Belum mengerti benar apa itu kehidupan.  Ketika Ragaku mulai membludak, kantung rahim tempat aku berpijak seakan-akan ingin kukoyak. Hingga, reaksiku, ulahku, temanku, ketuban, lari entah kemana… dia pergi meninggalkanku. Aku berontak. Mencari celah menyusup hela. Nafasku terengah-engah. Aroma keringat menyeruak. Bukan kecut lebih mirip bau kancut. Sedianya aku mendongak meraih nyinyir amis bekas seorang kawan. Sang ketuban. Hingga melipir diantara selangkang. Sebuah tenaga dalam mendorongku hebat. Bukan bantuan tangan apalagi benda permesinan. Dorongannya sangat kuat. Aku kalap. Jungkir balik melepas jangkar. Niat hati agar tidak jadi keluar. Namun. Nafasku sesak. Padahal dulu, dengan temanku, aku tidak begitu. tidak perlu megap-megap. Apalagi sampai mangap-mangap. Kini. Dunia di luar dunia hendak menyambutku. Dengan atau tanpa temanku. Aku tak ikhlas terpaksa. Menyerah takut binasa. Dan….

“Plaaak,” Pria uzur berkacamata itu menampar pantatku. Aku diam saja. Aku memilih diam tak bersuara.

“Plaaak-plaak!!!” Sekali lagi pantatku memar merah tertampar.

Aku kesal, pria yang membuat dunia baruku terbalik mulai menatap mataku. masih lama aku ditantingnya. mirip ikan asin yang diasapkan. Aku pusing. Entahlah, mendadak aku ingin berteriak. dan…

“Oeeek…oeek..oeeek..ooeeek!!!” pita suaraku mengembang. Bergetar. Telingaku Terhenyak. Kaget akan suara-suara. Suara pertamaku yang aneh tapi entah kenapa membuat semua yang ada di sekitaran iba. Semua bilang, “Syukurlah”

Lidahku terpotong. Dan mendadak kumerasa lapar. Dahsyat. Oleh Pria tua tadi, diriku dipaksa tengkurap. Merayap diatas gundukan kulit longsor. Menggelambir ke kiri dan ke kanan. Aku malas merambat. Hanya sesekali rasa haus yang menyengat. Akhirnya aku semangat. Kakiku menginjak pedal kulit. Merapikan setelah 9 bulan melar tak karuan. Dengan gontai, aku merambat memijat. Menelungkup diatas bukit bersusu. Memijat lelah dengan gigitan lucu. Aku melahap. Menghisap dan Nikmat. Aku terhangat. Mengingat hangat, aku teringat sahabat…

… Dimanakah dia? Sahabatku! Temanku. Niat awal aku mau keluar ke dunia baru juga karena dia. Kemana dia? Mungkinkah dia malu? Karena bentuknya tidak seperti diriku. Atau… Ah Sudahlah! Kalau teman, pasti ada alasan yang terbaik bagi kita berdua…

KALAU TEMAN, PASTI ADA ALASAN YANG TERBAIK….(bagi kita berdua)…

Mungkin sampai sekarang, saya masih (gila) beranggapan, Kenapa juga ada dua sumber air susu ibu. Itu karena satu untukku, dan satu untukmu. Wahai kawanku….. Ibuku tahu itu…..

*teruntuk sahabat-sahabatku*

Pejaten, 3 Agustus 2011

~ by Imamie on August 3, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: