Asal muasal Monster (Bag.1)

Dulu saya pernah kecil. Kanak-kanak kalau bisa dibilang. Maunya main melulu. Gak di rumah, gak di sekolahan, gak di lapangan dan gak menutup kemungkinan di tempat-tempat yang seharusnya tidak boleh digunakan bermain.

Masjid.

Mendengar kata masjid dan masa kecil, sungguh sebuah kombinasi kenangan masa lalu yang tidak akan pernah lepas dari ingatan. seakan-akan memori ini tercipta untuk menyimpan file kenangan “itu”.

Sekitar kelas 3 SD, dan menjelang SMP…. rutinitas sholat maghrib dan Isya’ di Langgar (sebutan lain Musholla kampung yang tidak begitu besar melebihi Masjid) adalah suatu keharusan. Dan jeda waktu antara Maghrib dan Isya, biasanya digunakan untuk mengaji Al-Quran. Hmmm, betapa dulu saya seorang anak yang cukup beriman. Hmmm, kelihatannya memang beriman, tetapi dulu, saya sholat, saya mengaji dan saya berpuasa, itu bukan karena niat pribadi, melainkan karena paksaan, ancaman dan tuntutan. Intinya, saya bukan melakukannya karena atas keinginan sendiri, melainkan karena Orang tua. Ya. Wajar saja. Karena mereka orang tua, yang berkewajiban mengarahkan anak-anaknya menjadi ke arah yang lebih baik. tetapi masalahnya, akankah itu menjadi lebih baik. Itu bisa di lihat sekarangnya. Apakah saya “Baik”? Secara keimanan? Hmm….meragukan bukan?!

Keluarga saya yang memang dari golongan Islam mengajarkan kepada saya, bahwa untuk menjadi sukses itu harus beres dalam urusan keagamaan, dalam hal ini Keislaman harus jelas. Harus benar-benar 5 waktu sholatnya. Harus lancar dan fasih membaca Al-Qur’annya. Harus genap puasa sebulan penuhnya. Dan keharusan-keharusan lainnya. Dan entah kenapa dulu saya begitu patuh dengan segala keharusan itu. Takut masuk neraka lah, takut gak dapat uang jajan lah, takut ini lah, takut itu lah. Alhasil saya hidup di bawah rasa ketakutan. dan saya tumbuh menjadi bocah yang penakut.

***

Kembali ke masa kecil.

Saya sholat di sebuah Langgar yang dikelola dengan sukses oleh seorang Takmir. Saya dan tentunya teman-teman sebaya pasti masih ingat, dengan siapakah kami berhadapan bila sholat di langgar. Bukan dengan Tuhan, melainkan dengan petugas takmir-nya. Kami selalu memutar strategi, bagaimana caranya agar tidak dimarahi oleh tukang takmir berjambang itu. Wudhu pun kami diawasi. Air itu mahal, jangan dibuat mainan. Begitu celotehnya. Memang sih kami membuat ciprat-cipratan di tempat wudhu, but, “Hellooo, kami ini anak-anak!!! Kayak gak pernah punya anak ajah nih orang!!!!” tak urung kami di damprat habis-habisan. di sentil telinga kami hingga mirip kuping kelinci. Ah, itu sudah biasa. Kekerasan semacam itu sudah biasa bagi kami. Cuman, yang sya tidak habis pikir, kenapa mengarahkan anak-anak dengan cara kekerasan? Dia mungkin tidak menyadari satu hal. Bahwa yang namanya anak-anak akan tumbuh besar menjadi dewasa. Dan dengan kedewasaan itu, anak-anak akan berubah cara berpikir dan bisa berpikir bahwa impact dari “kekerasaan” yang mereka alami akan terbawa sampai mereka dewasa. Jadi jangan heran, jika 80% dari mantan anak-anak termasuk saya (dikampung saya) sudah enggan singgah ke Langgar. Ya. Betul sekali. Sudah tidak ada hal menarik di Langgar. Isinya hanyalah orang tua bangkotan yang uzur yang kerjanya marah-marah bila melihat anak-anak (anak-anak setelah generasi saya). Masa kecil kami dimusuhi mereka yang tua-tua, hanya karena kami bermain lari-larian di dalam musholla. Nama orang tua dibawa-bawa, termasuk “wedhus” juga turut serta. Sekali lagi itu sudah biasa. Jadi akhirnya, jangan salahkan saya., kalau saya enggan “bermain-main” lagi ke Musholla/Langgar. Padahal, kalau saja, andai, tidak ada perlakuan kekerasan, bisa jadi saya bercita-cita jadi Imam Makkah. Sayangnya, takdir berbicara beda. Saya kini menjadi saya. hahahaaa….sudah lah. Kali ini saya hanya memberi saran. Anak-anak hanyalah anak-anak. Tidak akan pernah ada niat di diri mereka untuk memberontak hingga merobohkan musholla/Langgar/Masjid. Mereka bermain-main di musholla karena bermain itu memang pekerjaannya. Manusia dewasa hanya mengarahkan, membimbing, dan mendoakan agar kedepannya mereka menjadi lebih baik.

Jadi, kalau dulu para tetua melihat masa kecil saya yang imut, lucu dan tak berdosa. Kini telah berubah menjadi seperti sekarang ini. Jangan salahkan saya, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkan saja sistem. Salahkan saja budaya. Saya kini tak ubahnya monster. Ya, saya monster. Monster yang masa kecilnya dulu terlahir lucu. Tapi itu dulu. Sudahlah. Setidaknya, saya monster yang tahu diri. Tidak akan pernah menjadikan kenangan sebagai pelampiasan. karena bagaimanapun juga, saya juga pernah menjadi anak-anak. Dan pernah berpikir layaknya anak-anak. So….Tunggu apa lagi? Selamatkan anak-anak dari hirarki yang menjerumuskan mereka pada rantai perputaran “kekerasan” yang tidak ada putusnya……

 

*Tulisan ini terinspirasi gara-gara sewaktu iseng sholat Tarawih, ada tukang takmir yang mengusir anak-anak yang lagi rame bermain di halaman masjid*

 

Pasar Minggu, 10.01 Pm, August 10 2011

 

~ by Imamie on August 10, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: