Cerpen ::: MALIN

MALIN

By Imam Ocean

Nama saya Yamin. Saya lelaki yang mempunyai sebuah kisah. Cerita dari seribu duka dan cita. Tentang  sebuah kesaksian. Kesaksian atas nama cinta.

Saya tinggal di sebuah kampung nelayan tepatnya di daerah pesisir pantai. Para saudagar dari negeri seberang sering menyebutnya Perkampungan Pantai Air Manis, tepatnya di daerah Padang, Sumatera Barat. Mitos, banyak yang percaya, bahwa air mata para perawan yang ada di kampung kami rasanya manis. Sehingga banyak sekali para pedagang yang singgah, akhirnya memilih menyunting mereka dan dibawa ke negeri asalnya. Dan tidak menutup kemungkinan, tak satupun pemuda kampung yang bisa dengan begitu gampangnya melamar mereka. Terkecuali dalam keadaan kaya raya atau anak orang terpandang pula. Ya begitulah aturannya. Akan tetapi, bagi saya, tidak bisa langsung percaya begitu saja. Tentulah para gadih itu mempunyai nilai jual tinggi, logikanya, wajah mereka cantik-cantik, bahkan seperti pendar cahaya bulan dimalam hari. Sebuah kutukan yang teramat manis. Tutur mereka lembut tidak dibuat-buat. Laku mereka sopan tidak menjadi gunjingan. Pantas saja banyak pemuda yang pergi merantau, ikut berlayar mencari tenar untuk sebuah yang namanya kehormatan harga diri yang artinya kekayaan materi. Tak terkecuali Malin. Sahabat saya sejak kecil. Teman bermain dan mengaji. Teman mencari ilmu dan mencari musuh. Yang bercita-cita mengawini Saodah, jando jelita awet muda yang suka memberi pelo rebus tatkala kami dan teman sebaya habis mandi di banda pinggir rumahnya. Dasar Malin.

***

Hingga suatu ketika, bila kami berdua habis selesai mengaji di rumah Haji Azwar, Malin selalu mengajak beranjak ke kediaman Jando Saodah. Alasannya mampir karena kebetulan lewat, padahal sejatinya Malin lebih suka memandangi payudara janda tanpa anak itu lebih dekat. Setelah berpura-pura habis perkara, Malin dan saya pamit pulang, namun bukan pulang dalam arti yang sebenarnya. Kami berdua menuju sungai tempat biasa kami mandi. Di sana Malin menelanjangi diri. Tidur telentang di atas sebuah batu kali yang besar membelah hilir. Malin menatap mata saya sayu. Dia butuh disentuh. Dia memejamkan mata. Tangannya meraih tangan saya. Dipaksanya dengan lembut, saya dipandu menjamah batang zakarnya. Malin keenakan. Saya tidak keberatan. Untuk usia 15 tahun, Malin lumayan matang. Otot lengannya terasa menonjol dan menjalar hasil tempaan menjadi kuli angkut di pasar. Malin menikmati dan saya meladeni. Bagi saya, kami berdua tampak serasi. Bulan kelihatannya bersedia menjadi saksi. Bahwa tak perlu air mata manis untuk bisa merasakan hal yang manis-manis. Kami berdua meringis. Dasar Malin.

***

Mande Rubayah, ibunda Malin, orangnya sangat baik hati dan begitu penyayang. Sejak kecil Malin tak punya Abak. Sehingga terkadang, Malin sendiri tidak begitu paham, sosok seorang ayah itu seperti apa. Pernah suatu ketika, Malin menanyakan kepada saya, apa enaknya punya seorang abak. Dan jawaban saya sederhana saja, “sangat tidak enak sekali!” Malin bisa memahami. Pernah suatu kali, Malin mendapati saya menjalani hukuman karena lupa mengisi bak mandi. Abak memukulkan rotan seratus senti di punggung dan betis hingga membilur. Saya menangis kecil. Malin tidak tahan dan dia memohon pada Abak untuk menghentikan hukumannya. Apa lah arti sebuah Malin—bagi Abak—hukuman tetaplah hukuman. Bila sudah begitu, Malin pasti berjanji. Akan membawa saya pergi dari rumah bila dia kaya raya suatu saat nanti. Dan dari situlah, Malin tidak sudi mengungkit-ungkit kegunaan figur ayah di kehidupannya. Cukup Mande Rubayah yang bisa ia sayangi dan kasihi. Begitu pula sebaliknya. Dan saya benar-benar iri. Beruntung Mande ini orangnya bisa mengerti. Sehingga saya bisa merasakan punya ibu. Cinta kasihnya dan ketulusannya. Menyejukkan hati. Bila saya dan Mande Rubayah terlanjur mesra, Tak ayal Malin mencak-mencak. Dia jengkel setengah mati. Takutnya ada yang jatuh hati dan tidak akan cinta lagi kepadanya. Kalau sudah begitu, Mande Rubayah pasti memeluk Malin penuh cinta. Dasar Malin.

***

Dulu, saat kami masih sama-sama menyusu, pernah suatu ketika, Malin mendadak jatuh sakit. Tubuhnya panas sekali. Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Badannya menggigil dingin. Dan menangis tiada henti. Mande Rubayah kebingungan. Dia takut ada apa-apa dengan Malin. Hingga akhirnya dia membongkar celengan yang selama ini dia kumpulkan dari hasil menjual kue di pasar. Tabungan modal Mande Rubayah untuk Malin kalau sudah besar nanti. Dengan berat hati—demi kesembuhan Malin—Mande Rubayah ikhlas menggunakan tabungannya untuk  biaya mengobati Malin dengan mendatangkan tabib yang terkenal hebat mengobati penyakit paling gawat.

Nyawa Malin yang hampir melayang itu akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya, Mande Rubayah makin menyayangi Malin. Dia menjadi penuh kasih dan takut akan kehilangan Malin. Perhatian Mande Rubayah tak pernah pupus kepada Malin. Dan dari cerita Mande kepada saya itulah, akhirnya saya menyimpulkan, Kenapa Malin sangat menyayangi Mande sepenuh hati dan tiada henti. Dan lucunya lagi, saat Malin sakit dulu, Mande Rubayah bercerita, bahwa saya kala itu menangis terus tak henti-henti. Hingga membuat Abak kuwalahan. Di kiranya saya sakit, tetapi ternyata bukan karena penyakit. Ahli nujum di kampung saya bilang, kalau saya itu bisa merasakan sakit yang Malin rasakan. “Belahan jiwa,” ahli nujum itu menyebutnya. Saya lantas tersenyum mendengar cerita Mande Rubayah. Sementara Malin yang ikut menyimak cerita ibunya, menjadi salah tingkah. Dasar Malin.

***

Hal yang paling menyesakkan dada adalah ketika Malin berpamitan kepada saya untuk pergi merantau. Pertama kali dia bilang sayang kepada saya, yang menggantikan ucapan perpisahan. Saya sempat marah kepadanya. Kenapa harus pergi meninggalkan saya dan Mande. Dia hanya bisa diam. Walau sebenarnya saya sudah tahu maksud kepergiannya. Dia ingin sukses dan membahagiakan bundanya. Dan juga saya.

Sempat dia menggoda, dia bilang akan meminang Jando incarannya. Saya tampar pipinya pelan. Kuremas bibirnya yang tipis. Saya tatap wajahnya. Matanya pun sayu mengadu. Saya menangis. Dia juga menangis. Kami beradu badan menjalin pelukan. Kami menangis. Untuk yang pertama kalinya, kami menangis bersama-sama. “ini bukan akhir, percayalah!” Malin menenangkan. Dan malam itu, sehari sebelum keberangkatannya, saya dan Malin memilin intim. Entah kenapa malam itu berbeda dari malam-malam biasanya. Dasar Malin.

***

Saya dan Mande Rubayah hanya bisa melambaikan tangan, tatkala kapa gadang tempat Malin berpijak mulai berlabuh menjauhi dermaga. Mande Rubayah membuang air matanya di dada seorang lelaki yang jantungnya berdetak tak karuan, terkoyak oleh perpisahan. Lelaki itu hanya bisa berpura-pura tegar. Kenapa harus seperti ini. Dasar Malin.

***

Hari-hari berlalu terasa lambat. Setiap pagi dan sore yang saya kerjakan hanya memandang ke laut. Saya bertanya-tanya dalam hati, sampai di manakah Malin kini? Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dada ini berdebar-debar. Jika ada kapal yang datang merapat saya selalu menanyakan kabar tentang Malin. Tetapi semua awak kapal atau nahkoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya, terlebih kepada saya. Itulah yang saya lakukan setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuh saya semakin kurus karena jarang makan. Kepikiran seseorang nun jauh disana. Bisa-bisanya Malin membuat saya menjadi begini. Dasar Malin.

***

Desas-desus beredar, ada kabar dari nakhoda yang dulu membawa Malin. Bahwa sekarang Malin telah menikah dengan seorang gadih cantik turunan seorang bangsawan kaya raya. Mande Rubayah turut gembira mendengar kabar itu. Tetapi bagi saya, menyakitkan. Dasar Malin.

***

Masih sering, Saya mengunjungi Mande Rubayah. Menyaksikan sendiri dengan mata kepala, melihat transformasi wajah dan kulitnya. Dia menjadi tua. Renta. Dan tidak bertenaga. Kulitnya menyempurnakan kesedihan itu. Keriput kusut. Saya hanya bisa berharap. Dia—Malin—kembali cepat. Yang saya takutkan hanya satu. Mande Rubayah sekarat. Dasar Malin.

***

Suatu hari yang cerah, harapan saya dan Mande Rubayah terkabul. Dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat-tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Kapal itu mulai merapat di dermaga, tampak sepasang pria dan wanita berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena siraman sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar kencang. Dia sangat yakin bahwa lelaki gagah nan rupawan itu adalah anak kesayangannya si Malin. Belum sempat tetua adat melakukan upacara penyambutan, Mande Rubayah langsung menghampiri Lelaki itu. Dipeluknya erat-erat. Seolah takut kehilangan lagi. Sementara saya, hanya melihat dari belakang. Memupuk cemburu yang siap meluncur seperti peluru. Saya mengikat sabar.

“Malin, anakku,” Mande Rubayah berteriak sambil menahan isak tangis karena gembira.

“Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”

Herannya, mengapa Malin hanya terpana ketika dia dipeluk amak sendiri. Dia terdiam sejenak, seakan-akan dia memikirkan sesuatu. Namun, sebelum dia bisa berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludahi Mande Rubayah sambil berkata, “Cuih! Padusi buruk muka ini amak kau? Mengapa kau bohongi aku?” lalu dia meludah lagi. “Bukankah dulu kau katakan amak uda adalah seorang bangsawan sederajat dengan kami?”

Mendengar kata-kata wanita angkuh itu, Lelaki yang ada dihadapan Mande Rubayah segera mendorong wanita tua renta itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada Malin, ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, nak!”

Malin yang tidak biasanya memelihara jambang itu tidak menghiraukan perkataan Mande Rubayah. Ia merasa dipermalukan telak oleh wanita melarat itu. Melihat Mande Rubayah beringsut hendak memeluk kakinya, Malin langsung menendangnya sambil berkata, “Hai, perempuan tua! Amak ambo tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”

Mande Rubayah terkapar di pasir. Saya hanya bisa membantunya bangun berdiri. Mande Rubayah menolak bantuan saya. Dia bersimpuh dan menangis sedih. Orang banyak terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tak disangka Malin yang dulu penyayang sekarang berubah perangainya. Mande menangis sepanjang hari. Dia mengusap air matanya yang mungkin terasa pahit, hingga tak sadar ia, kalau Pantai Air Manis sudah sepi. Dilaut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Ada rasa sedih, benci dan rindu menumpuk menjadi satu. Mande Rubayah berbicara dalam hati. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. “Anak Durhako,” jerit saya dalam hati. Dasar Malin.

***

Betapa saya terluka menganga. Saya tidak dianggap. Sama sekali. Di pesisir pantai yang penuh batu karang ini, saya umumkan bahwa Malin bukan lagi kawan. Bukan lagi idaman. Batu karang cadas dihadapan saya ini akan menjadi saksi, bahwa tiada kata maaf untuknya, walau dia memohon bersujud serta. Batu karang ini akan saya ukir dengan sekuat tenaga. Mengatasnamakan luka hati yang teriris perih.

Malin sudah bersujud. Ya. Batu perwujudan Malin itu sudah selesai terpahat. Saya berkeringat. “Ini semua gara-gara kau Malin,” Dasar Malin.

***

Bulan memerah. Beberapa kapal silih berganti bersandar. Berjejal orang hilir mudik. Saya hanya bisa memandangnya dengan tanpa harapan. Saya memilih pulang. Namun—belum genap selangkah saya hengkang—mendadak ada seseorang yang menepuk pundak dari belakang.

“Yamin…?!” Suaranya terdengar menghanyutkan.

Saya menoleh heran. Astaga. Malin sudah ada dihadapan. Ya benar. Dia Malin. Benar-benar Malin. Bukan Malin palsu yang berjambang lebat penuh amarah rancu. Saya memeluknya erat. Begitu juga dia. Kami berjabat cumbu. Melepas rindu. Dia kembali untuk saya. Dasar Malin.

***

Malin bercerita—di tengah lautan lepas—dia berpapasan dengan puing-puing kapal yang hancur oleh badai. Tak ada satupun awak kapal yang selamat. Saya bisa menebak, kapal yang mana itu. Kami berdua lantas bergegas. Memberi Mande Rubayah sebuah kejutan indah. Anaknya—Malin—telah kembali pulang. Dan dia tetaplah seorang Malin, tanpa jambang. Yang masih sayang dan tetap cinta terhadap ibunya dan juga kepada saya. Sahabatnya. Kekasihnya.

Dan malam itu juga, saya, Malin dan Mande Rubayah, segera pindah rumah. Meninggalkan kenangan manis yang sulit untuk dilupakan. Kami pergi diam-diam tanpa memberi salam perpisahan terhadap warga kampung setempat. Tak perlu saya pamit bapak. Bisa-bisa saya dilabrak. Saya sudah terlanjur nekat. Karena Malin. Benar, karena Malin. Dasar Malin.

***

Jakarta, 14 Agustus 2011

~ by Imamie on August 14, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: