Review Film ::: Prayers for Bobby

Bobby Griffith (Ryan Kelley) …Cute dan masih polos…. dan menjadi kebanggaan keluarganya…. namun dibalik semua itu, Bobby is Gay….

Runtuhlah dunia…. Kiamatlah jadinya. Emaknya Bobby, Marry Griffith (Sigourney Weaver) pun mencari-cari pembenaran atas kenyataan yang dia dapatkan dari fakta mengenai Bobby. Maka dimulai lah usaha demi usaha ibu Marry menguak kitab suci. menggunakan ayat-ayat untuk mencuci otak Bobby agar bersih dari hal-hal yang bersifat dosa (baca : homoseksual). Seorang relijius yang mendadak dihadapkan pada posisi dimana dia harus bisa “menyembuhkan” anaknya yang seorang gay. Mengait-ngaitkan dengan agama malah membuat sang ibu semakin terlihat benci terhadap anaknya sendiri. Jadi sebegitunya kah sebuah agama dalam memanusiakan manusia? Sebenarnya siapa yang salah? Bobby? Ibu Bobby? Atau yang diatas sana???

Mungkin kalau si Bobby diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan diatas, dia pasti menjawab. TUHAN YANG SALAH….KENAPA GUE (baca:BOBBY) DICIPTAKAN BERBEDA!!!! Dan kalau saya (baca:penulis) boleh menebak, Ibunya Bobby pasti akan menjawab, “TUHAN COBAAN APALAGI INI???? KENAPA ANAK SAYA HOMO???” Dan Kalau Tuhan sudi untuk menjawab pertanyaan tadi, pasti jawabannya kayak gini, “HELLOOOOO…..INI YANG TUHAN SIAPA SIH? ELO APA GUE….KALO MASIH NANYA-NANYA TERUS……ELO….GUE…..END!!!!!”

Bobby Griffith tumbuh diantara keluarga yang penuh kasih sayang, namun mendadak hancur seketika saat, dia membuat pengakuan kepada sodara laki-lakinya bahwa kalau ternyata dia gay. Sang kakak yang awalnya berjanji sok bijak mampu menyimpan rahasia, malah menjadi sumber petaka dari awal kehancuran hidup Bobby.

Dari mulut ke mulut, pintu ke pintu….identitas Bobby pun menyeruak ke permukaan. Sehingga Bobby menjadi tertekan. Disepelekan dan merasa terkucilkan. Dan tak ada jalan keluar selain keluar dari lingkungan yang menyudutkannya. Bobby berlibur ikut sepupunya ke kota lain. Beruntung Bobby mempunyai sepupu cewek, Jeanette yang Open minded. Menerima segala ketabuan dan paham dengan minoritas (angel character). Dan dari sepupu inilah, si Bobby akhirnya dipertemukan dengan pacar pertamanya, David. Sungguh sebuah pengalaman yang indah bagi Seorang Bobby. Dan memang sangat indah kalau dibayangkan….

Hingga sampailah kisah Bobby berakhir pada statement ibunya yang tidak sudi mempunyai anak pendosa. Bobby memilih untuk tetap pada pendiriannya. Menjadi diri sendiri. Perpecahan antara ibu dan anak sudah tidak dapat dielakkan lagi. keduanya pada akhirnya saling bungkam.

Bobby memilih pergi menyusul ke pacarnya. Dengan menjadi tenaga honorer di sebuah rumah sakit, Bobby bertahan hidup. Sempat pula bobby dipertemukan dengan kedua orang tua David. Bobby sempat iri dengan sikap orang tua kekasihnya, namun dia menyadari semuanya sudah terlihat terlambat untuk diharapkan.

Ternyata impian indah tak sesuai harapan, kenyataan itu tak sejalan, David selingkuh. semakin lah Bobby dibuat galau untuk pertama kalinya. orang yang dia kasihi dan cintai, menduakannya. Bobby menjadi tidak labil. dan akhirnya memilih “bunuh diri”.

Kehilangan adalah kehilangan. Bobby hanya pulang membawa nama dan mayat. Semua sudah terlambat. Penyesalan selalu datang mentang-mentang di akhir kegundahan dengan sangat melambat. Telat. Bagi Marry, kiamat. Anak yang sebenarnya dia cintai kini telah pergi.

Dari sebuah kedukaan, selalu ada hikmah. Marry menyadari, bahwa pasti ada yang salah dengan apa yang dia yakini selama ini. Membuka tabir lewat Diary Bobby telah membuat Marry sadar. Bahwa tidak ada yang salah dengan Bobby. Tak ada pendosa. Tak ada kutukan. Dan yang terpenting tak ada yang berbeda, pada kenyataannya semuanya sama.

Marry mulai bangkit dari keterpurukan atas rasa bersalahnya terhadap Bobby. Mengikuti berbagai acara dan pertemuan yang membahas isu gay dan lesbian. Kehidupan Marry berubah 180derajat. Dari yang homophobic menjadi pro LGBT. Semua karena proses. Terkadang, proses menuju jalan terang itu membutuhkan pengorbanan, termasuk darah dan air mata.  Ada salah satu Quote dari mulut Marry yang bagi saya sangat menarik,

I know now why God didn’t heal Bobby. He didn’t heal him because there was nothing wrong with him.

Dan dari sini, muncul satu pertanyaan dari saya, “Apa yang salah sih dengan Bobby????” yang pada akhirnya refleksinya ke saya, “Apa ada yang salah dengan saya???”

Kadang orang terlalu heboh dengan cara pandang dia tentang hidup. Melihat sebuah perbedaan, seperti melihat sebuah ancaman. Tidak peduli bahwa sebuah perbedaan itu sebenarnya lebih banyak menguntungkan ketimbang merugikan. Tanpa perbedaan takkan pernah ada istilah pelangi, tanpa perbedaan kita tak akan pernah mendengarkan harmonisasi lagu dari alat musik yang berbeda. Tanpa perbedaan, kita tidak akan pernah menyaksikan film power rangers… (hahahaaa agak nyimpang sih, tapi masih nyentil lah)…..

“yang jelas, apapun itu, orang yang bisa menerima segala perbedaan itu seksi tau…..”

 Berikut saya mengutip pidato Mary Griffith: Homosexuality is a sin. Homosexuals are doomed to spend eternity in hell. If they wanted to change, they could be healed of their evil ways. If they would turn away from temptation, they could be normal again if only they would try and try harder if it doesn’t work. These are all the things I said to my son Bobby when I found out he was gay. When he told me he was homosexual my world fell apart. I did everything I could to cure him of his sickness. Eight months ago my son jumped off a bridge and killed himself. I deeply regret my lack of knowledge about gay and lesbian people. I see that everything I was taught and told was bigotry and de-humanizing slander. If I had investigated beyond what I was told, if I had just listened to my son when he poured his heart out to me I would not be standing here today with you filled with regret. I believe that God was pleased with Bobby’s kind and loving spirit. In God’s eyes kindness and love are what it’s all about. I didn’t know that each time I echoed eternal damnation for gay people each time I referred to Bobby as sick and perverted and a danger to our children. His self esteem and sense of worth were being destroyed. And finally his spirit broke beyond repair. It was not God’s will that Bobby climbed over the side of a freeway overpass and jumped directly into the path of an eighteen-wheel truck which killed him instantly. Bobby’s death was the direct result of his parent’s ignorance and fear of the word gay. He wanted to be a writer. His hopes and dreams should not have been taken from him but they were. There are children, like Bobby, sitting in your congregations. Unknown to you they will be listening as you echo “amen” and that will soon silence their prayers. Their prayers to God for understanding and acceptance and for your love but your hatred and fear and ignorance of the word gay, will silence those prayers. So, before you echo “amen” in your home and place of worship. Think. Think and remember a child is listening.

Film yang sebenarnya mini seri produksi tahun 2009 ini banyak sekali masuk nominasi bahkan memenangkannya untuk diberbagai kategori. dan kebanyakan untuk akting ciamik Sigourney Weaver. Sungguh sebuah totalitas sebuah akting yang tidak gampang untuk memerankan sosok yang loveable di awal kisah, galau di inti cerita dan Strong di akhir cerita. Sigourney melakukannya dengan baik. Termasuk akting para pendukung lainnya. Tidak heran jika film ini sangat enak untuk dinikmati. Dan saran saya sediakan tissue secukupnya.

foto dari berbagai sumber +  imdb.com

~ by Imamie on September 29, 2011.

7 Responses to “Review Film ::: Prayers for Bobby”

  1. kayaknya perjuangannya bagus ini.. Layak untuk di tonton..

  2. Sangat layak….. pencerahan……

  3. kayaknya emang layak untuk ditonton, tapi sayang saya kesulitan untuk mencari kaset dvdnya, maukah saudara imam membantu saya. terimaksaih

  4. Aku dalam posisi Bobby Griffith, bingung, apa yg harus aku lakukan,,,?

    • Semua orang pasti pernah mengalami masa-masa kebingungan dalam mencari jati dirinya. Fase yg tersulit adalah (mungkin) yang sekarang ini kamu alami. Selalu ada jalan keluar. Jangan salah dalam mengambil keputusan.
      Be strong and tought enough!! Kamu pasti bisa!!

  5. aku sudah berusaha untuk ke kehidupan normal, sudah menjalani hubungan berpacaran dengan wanita, akan tetapi aku tidak merasa nyaman ketika berpacaran dengan sesama jenis, disisi lain orang tuaku orang yg religious, enggk mungkin untuk menyatakan yang sebenarnya kepada mereka tentang keadaan ku, terhadap teman, tidak ada teman yg tahu ttg keadaan ku, karena aku takut mereka akan berfikir negative dan menjauhi ku. ini terkadang yang membuat ku merasa “why must be happen to me”. aku enggk memperbanyak teman gay hanya beberapa saja yang aku kenal, dengan alasan aku berharap aku menjadi normal, akan tetapi harapan itu tak pernah kunjung datang, Film Prayers for bobby is my favorite film karena sama dengan keadaan ku bedanya dia sudah mengakhiri hidup sedangkan aku belum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: