film ::: Lovely Man (2011)

The Lovely Teddy

Kalau saya boleh berterima kasih kepada seseorang. Mungkin orang itu adalah Teddy. Yup. Teddy Soeriaatmadja. Seorang sutradara dari film “Lovely Man“.

Dan hari yang paling gue tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dari semua jadwal yang di geber sama Q!Munity Film Festival… hari inilah gue yang paling antusias. Pemutaran film “Lovely Man”. Kabarnya, sang sutradara juga menyempatkan hadir di Salihara, selaku tempat pemutaran film. Well, dengan mengaku (lebih tepatnya dituduh) sebagai mahasiswa, gue agak tersanjung setengah hati Yah wajah gue ternyata masih terlalu muda untuk disandingkan dengan para panitia-panitia Q!Fest. Haizzz. Alaaah…Apalah arti sebuah umur….

Back to the lovely…

Kata-kata pertama gue tentang film ini…. Kereeeeeen….kereeeen…kereeeeeeeeeeeeeeeeeen!!!!

Film ini dibuka dengan adegan Ipuy/Saiful(Donny Damara), seorang waria yang pulang dari kerja dalam keadaan babak belur di menjelang shubuh. dan selanjutnya cerita berlanjut ke sebuah kereta yang membawa Cahaya (Raihaanun), 19 tahun yang menuju ke Jakarta hanya untuk menemui Bapaknya.

Menginjak Jakarta, Cahaya mulai mencari alamat yang diberikan oleh ibunya, tentunya bukan “alamat palsu”nya Ayu Tingting…..Dimana…dimana…dimana….??? Halaah! Setelah Nanya-nanya, akhirnya sampai juga Cahaya di sebuah rumah susun. Hanya saja semua orang yang ditemui Cahaya menyangksikan kalau Saiful atau Ipuy adalah bapak Cahaya. Dalam pemikiran heterosentris, seorang waria diragukan kejantanannya untuk bisa mempunyai anak. Padahal Waria adalah mantan pria. Yang masih bisa mendayaguna “senjata”nya (tentunya dengan segala bentuk keterpaksaan tingkat tinggi).

Setelah mendapat petunjuk dari Ibu-ibu tetangga Ipuy, Cahaya bergegas menuju ke Jembatan, tempat dimana Bapaknya bekerja. Anggapan Cahaya, Bapaknya bekerja di kantor, toko atau ladang pekerjaan lainnya. Tak ada bayangan kalau Saiful adalah Pekerja Seks Waria. Sesampainya di Jembatan, Cahaya kebingungan. karena hanya ada waria-waria yang mangkal. Dan dengan polosnya dia menanyakan keberadaan Saiful bekerja. terang saja tidak ada yang tahu, karena nama panggung Saiful adalah Ipuy. dan Setelah Cahaya menanyakan keberadaan Ipuy, barulah waria yang ditanyainya memberitahukan. bahwa Ipuy sedari tadi juga udah ada di jembatan. Sempat tak percaya. Dan fakta memang berkata benar. Polosnya Cahaya (yang sebenarnya ada motif terselubung juga sih), membuat dia bisa menerima keadaan Bapaknya secara tak langsung. Bagi Cahaya mungkin tidak ada istilah Mantan Bapak.

Akhirnya terjadilah drama yang intens. konflik Ipuy yang berlapis, tampak begitu tipis. Dengan pasrah dia berusaha menerima segala macam masalah yang menghinggapi dirinya. Mulai dari kasusnya dengan  mafia, dengan kekasih lelakinya, dan kini, ketambahan anaknya yang datang jauh-jauh dari jawa untuk memberikannya masalah yang baru.

Menonton film ini, kita akan dipaksa untuk bertanya dalam hati, akan ada apa habis ini? Bagaimana nasib si Ipuy? Sebuah guliran dialog-dialog sederhana namun terdengar puitis saat Jakarta memutuskan istirahat sejenak dari jam sibuknya. Sebuah film yang mengutamakan rasa, begitu kata sang sutradara. Sehingga mengalahkan logika sejenak. Bagaimana bisa dilihat, ada sebuah adegan di bus transjakarta sekitar jam shubuh. tetapi kembali lagi, untuk sebuah film, rasa lebih penting ketimbang logika. Hal intim apalagi selain naik busway ketimbang naik bajaj atau metromini yang CROWD!!!

Jajaran cast yang patut diacungi jempol. standing ovation buat Donny Damara yang bisa berakting dengan begitu senatural mungkin. gestur dan dialek waria sudah dia dapat. sehingga disini kita memang beanr-benar melihat Ipuy. bukan melihat Saiful. coba saja amati cara dia ngomel, marah, genit, sedih, panik dan luapan emosi-emosi lainnya. Semuanya benar-benar ala Waria. Bukan Lelaki yang mencoba menjadi wanita. Tak ada kekakuan.

Film minimalis idealis yang diproduksi sebelum Teddy membuat RUMAH MAEDA ini, terbilang cukup sukses merubah stigma. bahwa waria itu bisa bersedih juga. bahwa waria juga punya perasaan. Dan yang terpenting bahwa waria itu manusia juga. Selama ini, di sinetron dan film, stereotype waria diidentikkan dengan “lelucon”, “bahan lawakan” dan “menyedihkan”. Bisa jadi Waria memang produk sanguinis, yang selalu tampil menyenangkan bagi semua orang, tanpa perlu memikirkan dirinya sendiri atas susah dan sedihnya….

Hanya di film ini, untuk pertama kalinya saya menonton film Indonesia bisa menangis sambil tertawa secara bersamaan. Betapa sebuah ketegaran memang diperlukan untuk bertahan hidup. Banyak sekali petuah-petuah “nendang” yang keluar dari bibir Ipuy, yang secara gak langsung menohok gue. “Jangan pernah lari dari masalah…”, salah satu nasihat ipuy untuk anaknya, Cahaya.

Hal ini malah membuktikan, bahwa sudah gak jaman lagi menggunakan kata “banci” untuk menilai seseorang atas kelemahan dan ketidak mampuannya akan melakukans suatu. Justru Banci(baca:waria) sendiri lebih “jantan” dalam menghadapi masalahnya ketimbang “pria” yang sebenarnya. gue suka sama pengambilan gambarnya, dan scoring-nya. pas banget…..

Gak salah kalau Q! Film Festival 2011 menjadikan film Lovely Man sebagai film opening. Sukses buat Lovely Man…. Sukses buat Q! Film Festival…. semoga tahun depan makin kereeen….. buat yang mengikuti Q! Fest, JHANGAAAN PHELLIIIIT!!!! silahkan berdonasi……

4,5/5 bintang

~ by Imamie on October 5, 2011.

2 Responses to “film ::: Lovely Man (2011)”

  1. wah jadi pengen lihat, kyaknya bagus tuh :p
    Oiya saya mampir ni di blog imamocean..🙂

  2. Thanks yaaa…. tapi kayaknya film ini film festival…dan kayaknya gak bakal tayang di bioskop komersil….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: