Cara Menulis Naskah yang Bagus…

Sering gue dapat pertanyaan, “nulis yang bagus itu gimana sih?”

Dengan polosnya gue jawab. Gak tau, ngalir gitu ajah. (jawaban klise wakakakak). Tapi emang bener, kalau gue ditanya secara teknis, gimana agar supaya hasil tulisan kita itu(cerpen atau novel) bagus, gue selalu kebingungan menjawabnya. Dan terkadang, gue mencomot teknik-teknik penulis pembesar yang sudah malang-melintang. Hingga akhirnya, gue memilih menjawab, tulis apa yang ingin kamu tulis, temukan gaya lu, dan nikmati. setidaknya itu adalah tulisan lu. Bagus atau tidaknya, urusan belakangan.

Dan kalo saja gue masih dipaksa menjelaskan teknisnya, gue ada kutipan tulisan dari salah seorang Editor Gramedia Pustaka Utama, Donna Widjajanto.

berikut kutipannya;

Syarat Naskah yang Bagus

Oleh: Donna Widjajanto (Editor Gramedia Pustaka Utama)

 

Naskah yang bagus itu seperti apa. Memang cuma sedikit, tapi moga-moga guide ini cukup sahih.

 

1. Bahasa Indonesia

Mari mulai dari yang bisa diukur: bahasa. Naskah yang baik memakai bahasa yang baik (tidak harus benar). Artinya kalimat-kalimatnya runut dan enak dibaca, “bersih”.

Tentu saja ejaan berperan besar. Dan klmt-klmt itu gk dsngkt-sngkat. Emangnya lagi nulis SMS? Ini kelemahan besar para remaja yang lagi dilanda demam wanna-be-writers. Lame excuse: kan ada editor. Hei, dengar ya, kerjaan editor itu more than just mbenerin ejaan, meskipun mbenerin memang ejaan itu part of our job. Kalau terlalu parah, tentu saja naskah akan ditolak mentah-mentah.

 

Next, kalimat. Banyak pengarang yang membuat kalimat berpanjang-panjang, membuat capek yang membaca. Hindari ini. Contoh sederhana: “Dia memukul adiknya tidak keras.” Kalimat ini tidak salah, tapi tidak efektif. Jauh lebih menyenangkan membaca: “Dia memukul pelan adiknya.”

 

Hindari juga tuturan yang terlalu “terjemahan”. Hari gini dengan serbuan berbagai bahasa asing lain (gak cuma Inggris), jadinya kalimat yang kita pakai sering kali bukan kalimat bahasa Indonesia.

 

2. Ide

Semua ide itu basi, yang baru adalah cara penyampaiannya. Yap, sialnya kita tidak hidup di abad ke-12, hari gini hampir segala hal udah ditemukan, semua cerita udah pernah dituturkan. Tapi gimana cara menuturkannya?

 

Balik lagi ke cerita cowok-cewek saling benci tapi akhirnya saling cinta, yang diungkit Siska di posting sebelum ini. Ya ampun, cerita itu udah seribu dua ratus ribu juta kali diceritain sepanjang sejarah. Atau cerita cowok-cewek saling cinta tapi ditentang keluarga. Mmm… inget Romeo dan Juliet? Tapi cerita-cerita begini bukannya gak bisa diceritakan ulang, bikin dong tokoh sempalan. Misalnya buat si Juliet punya oom yang membela dia, atau bikin si Romeo bingung karena ada Julia selain Juliet. Atau… atau… ada seribu atau lagi.

 

Atau kalau saklek mesti cerita Romeo-Juliet ditentang keluarga, bikin dong keluarganya funky, atau masokis. Atau… atau… dan sejuta atau lain. Be creative, gunakan sel abu-abu otakmu itu! Inti cerita boleh sama, polesannya harus beda.

 

Satu contoh TeenLit lama tapi baru yang bagus adalah TeenLit terjemahan: Sang Putri dan si Miskin/The Princess & the Pauper, karyaKate Brian. Dari judulnya saja ceritanya bisa ditebak, tapi apakah ceritanya jadi membosankan? Sebaliknya, ini salah satu TeenLit paling seru yang pernah gue baca.

 

Satu hal lagi tentang ide dan kreativitas ini: awal cerita. Masih inget gak waktu kita SD dulu disuruh mengarang? Mayoritas karangan akan diawali dengan “Pada suatu hari aku… (dst).” Karangan gue waktu SD dinilai bagus karena gue menghindari pakem “Pada suatu hari…” ini. Rupanya pakem ini sekarang bergeser ke “Kring… kriing… Beker berbunyi keras. Aku membuka mata. Oh, tidak! Sudah jam tujuh! Ibu, kenapa Ibu tidak membangunkanku?” Yap, dari 30-an naskah yang kami, para editor, baca tiap bulannya ada paling tidak 20 yang diawali dengan pakem itu. Walhasil, langsung saja ke-20 naskah “Kring-kring” itu kami buang. So, awalilah novel dengan sesuatu yang bombastis dan menarik. Ledakan bom, mungkin? Adegan putus? Adegan ciuman? Hehehe…

 

3. Penulisan 

Mulai main feeling, artinya ini benar-benar pendapat gue pribadi dan agak susah dijelaskan secara faktual. Bagi gue, novel yang bagus adalah novel yang “bulat”. Ini istilah gue, dan gue bisa merasakan novel yang bulat dari beberapa bab awal yang gue baca. Bukan karena gue sakti ya, tapi kalo gue coba pikir, karena:·

 

– Tokoh-tokoh novelnya kuat membuat kita “kenal” mereka. Gimana sih tokoh yang “kuat” itu? Tokoh itu gambaran fisik dan karakternya jelas. Misalnya tokoh Raya dalam Rival, yang langsung kita tangkap sebagai cowok yang lumayan tangguh, tapi ada segi lembutnya juga. Atau tokoh Ira dalam Beauty and the Best yang model. Mudah sekali menangkap seperti apa sih tokoh-tokoh ini.

 

– Jalinan cerita (alur)-nya kuat, membuat kita ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya

Beberapa naskah yang “bulat” dan sekali lirik langsung gue terima adalah Rival/Amalia, Beauty and the Best/Luna Torashyngu, danDokter, Pelukis, dan si Cowok Plin-Plan/Ken Terate. Ini novel-novel awesome dan gue bangga terlibat dalam “kelahiran” mereka.

Dari pengalaman gue sendiri dan tanya-tanya orang lain, novel-novel begini lahir setelah perencanaan matang. Alur cerita dipikirkan betul-betul, baru dituangkan. Kadang ada unsur “magis”-nya seperti “Cerita itu datang secara utuh ke diri gue”. Yap, gak bisa diterangkan dengan logis… hehehe… Tapi gue rasa dengan banyak latihan, unsur magis itu bisa dikikis. Selain itu persistensi, keukeuh mau menulis sampai selesai, “kebulatan” novel itu bisa dicapai juga.

 

4. Persiapan

 

Anyway, menurut gue, sebenarnya novel yang “bulat” itu juga dilahirkan dari:

Riset

 

– mengenai topik karangan

Seberapa jauh si pengarang mengenal topik karangannya? Apakah ada unsur kisah hidupnya dalam karangan itu? Kalau ada–misalnya Esti Kinasih yang mengambil gambaran masa SMA-nya dalam novel-novelnya–tentu lebih mudah untuk memberi gambaran yang hidup. Tapi kalau tidak? Cari tahu sebanyak mungkin, baik dari referensi bacaan maupun dari wawancara dengan orang yang tahu. Clara Ng melakukan wawancara ini untuk memberi gambaran yang hidup akan kawasan Glodok, Jakarta bagi novel Dimsum Terakhir.

 

– di luar topik karangan

Seberapa banyak buku yang sudah si pengarang baca? Bacalah sebanyak mungkin bahan, mau itu buku novel, nonfiksi, self-help, majalah, koran, bahkan koran sekelas Lampu Merah sekalipun. Bacaan yang kaya, meski tidak langsung menyinggung topik karangan, akan memberi warna pada karangan. Dan akan “memberitahu” pembaca seberapa deep si pengarang. Gaya menulis akan terpengaruh, dan pengarang akan tampil cerdas–ya karena dia memang cerdas dengan kekayaan bacaannya.

 

Guide book tentang mengarang

Oke, mengarang katanya gampang. BOHONG! Memang mengarang tidak segampang itu. Bahkan setelah kamu menghasilkan 100 halaman ketik di komputer, membuat karangan yang bagus tetap tidak gampang. Tapi seperti segala hal di zaman ini, ada berbagai guide book soal mengarang fiksi. Beberapa yang bisa dibaca adalah On Writing/Stephen King, Letters to Young Novelist/Mario Vargas Llosa, (lupa)/Ismail Marahimin à buku ini jadi pegangan kuliah Penulisan Populer di UI, covernya abu-abu dan bisa dibeli di toko buku kok. Dan meski tidak teknis tentang novel, tapi bisa memperkaya hidup: Letters to a Young Poet/Rainier Maria Rilke.

 

Coret-coretan

Saat search tentang Phillip Pullman, salah satu yang menarik bagi gue adalah betapa dia merasa Post-It penemuan modern yang sangat penting. Kenapa? Karena dia menggunakan Post-It untuk menulis alur serta adegan novelnya, lalu memindah-mindah Post-It tersebut sampai membentuk cerita yang sesuai yang keinginannya. Cara ini bisa disontek, atau ya paling gampang, temukan cara kamu sendiri. Mungkin dengan cut-paste di komputer? Mungkin dengan kertas buram? Biarpun bukan membuat alur yang saklek seperti diajarkan dalam pelajaran bahasa, tapi pengarang harus membuat coret-coretan.

 

Jadi, begitulah catatan gue yang tidak sempurna. Ini pengamatan dan pemikiran gue pribadi, dan… moga-moga berguna!

 

Donna Widjajanto

(Editor Gramedia Pustaka Utama)

Well, tulisan ini gue tulis oktober akhir 2011, dan bisa jadi akan menjadi tidak berlaku lagi bila tulisan ini di jumpai di tahun-tahun berikutnya. Karena trend sudah pasti akan berganti. Jadi mumpung belum terlambat, selamat mencoba….

Jakarta, 25 Oktober 2011, 7:22pm.

~ by Imamie on October 25, 2011.

6 Responses to “Cara Menulis Naskah yang Bagus…”

  1. HI Imam, numpang kasih info ya. kalo mau menulis skenario film udah ada panduan e-book komplit di bahasa Indonesia dateng aja ke http://tintascreenplay.com thank u

  2. masbroh, pertama aye buka halaman ini (dikasih temen) aye langsung terpana liat potonya, nyium budha..😮 *itu doang yang mau aye komentarin*:mrgreen:

  3. same, keren banget foto nyium budha.. ngakak bentar sebelum baca ni artikel.
    thc gan

  4. Thanks atas panduannya

  5. Kalo bingung nentuin endingnya gimana yaa?

    • Secara teori… Ending cerita lahir berbarengan dengan segenap cerita itu sendiri. Namun kendalanya kadang banyak penulis yg pada akhirnya bingung menentukan sebuah ending. Well, sehingga keberadaan ending jadi sangat penting.
      Kalo ditanya, gimana nentuin ending, saya pribadi biasanya sudah menentukan ending disaat ide cerita itu muncul. Langsung dibikin coretan kasar. Dr awal sampai akhir, cerita mau bergulir kayak gimana. Ending sudah ditentukan otomatis. Dan saya biasanya mengutak atik ending setelah menulis ulang cerita. Tentu saja proses utak atik ini harus dng esensi bahwa tujuan kita mengutak atik ending utk mendapatkan cerita yg kita inginkan. Mood pada ending biasanya mewakili karakter seorang penulis… Bebaskan saja ending seperti apa yg mai kita bikin… Jadi gak ada pakem khusus harus kayak gmn ending itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: