Risoles Difabel (Keterbatasan bukan berarti harus berhenti di tengah jalan)

Gue suka masak. Dan parahnya, gue selalu masak dengan diluar nalar tukang masak. Tetapi dari situ pula, gue merasa punya ciri. Bahwa takaran dan ukuran itu penting, tetapi masih lebih penting “pasion” untuk memasak. Kebetulan, Inang (Kakak sepupu gue yang menampung gue) menyuruh gue bikin Risoles. Well, sesuatu yang kayaknya ribet tapi sebenarnya mudah. Alhasil dengan melihat persediaan di kulkas, apa-apa saja yang sudah tersedia. Membuat Risoles adalah tentang Kulit dan tentang isi. Tentang penampilan dan tentang kepribadian (hati).

Gue mulai dari “hati”. Memanaskan Margarine, kemudian menumis satu Bawang Bombay yang gue iris kecil-kecil. Setelah keluar bau harumnya gue masukan tepung terigu dua sendok makan. dan terus gue aduk-aduk. Baru setelah itu gue tambahin dua sendok Susu bubuk Full cream yang sudah gue cairin dengan air segelas. Dan tetep gue aduk-aduk. Setelah itu gue masukin irisan dadu wortel, dan Apel segenggam-segenggam. Sekitar dua menit gue aduk, hingga adonan mulai mengental. Gue masukkan kacang polong, jagung pipilan yang gampang di dapat dari supermarket. Masing-masing segenggam. Dan setelah itu gue tambahin Kembang kol dan Brokoli. Suka-suka ajah sih. Gue cuman sedikit ajah menambahkannya. Baru setelah itu gue cicipin dulu, rasanya sudah mantap apa belum. Hmmm, kayaknya cukup.

Hati sudah mantap… kini giliran Penampilan…..

Gue pisahkan putih telur dari kuningnya. Biar tahu rasa, gimana rasanya dipisahkan!!! Kalo saja gue doyan, bisa langsung gue telen tuh kuning telur, berhubung eneg, jadinya itu kuning telur cuman gue simpan aja. Siapa tahu ada fungsinya suatu saat nanti. Lantas gue masukkan tepung terigu 10 sendok makan ke tempat dimana putih telur tadi di pingit, kemudian gue tambahin 5 sendok Susu bubuk full Cream dan gue cairin dengan air biar mereka bertiga menyatu.Perlahan-perlahan mereka gue guyur. Sekalian mengukur kadar keencerannya. Kira-kira cukup segelas saja. yaaah kayaknya segitu deh. Aduk pelan-pelan, gue hanya menghindari agar adonan tidak menggumpal dan prongkol-prongkol kecil. Dan Well done!!!

Gue ambil teflon. Beruntung dunia menciptakan teflon…Membuat dadaran kulit itu sangat mudah banget bagi gue. Secara, pas kelas enam SD, gue di kirim ke Jepang untuk misi tukar tambah pelajar, gue diwejangi publik jepang membuat risoles sipit…….*mulai berkhayal….. kembali ke kulit, Gue memanasi teflon dengan api yang gak gede-gede banget. Setelah itu gue beri minyak sedikit saja, masalahnya, gue takut kalo itu dadaran gak bakal lepas dari penggorengan, sehingga kalo gue beri minyak sebagai alasan, gue yakin itu dadaran bisa lepas dengan sempurna. dan yupe….. dadar demi dadar mulai terbentuk dengan sempurna. Dan….jeng….jeng…jeng….!!!!!! Sempurna!

Saatnya finishing Touch!!!!

Gue panasin minyak goreng diatas api sedang. Sementara nunggu minyak panas, gue mulai menyatukan hati dan penampilan. mengisi dadaran dengan isian tadi. kemudian gue rendam di kocokan putih telur dan Oh my god!!! gue lupa tepung roti! Oke deh. Hari ini tanpa tepung roti. The show must go on….Alhasil, setelah gue cangkok antara kulit dan hati…gue akhirnya menggoreng satu persatu mereka tanpa dengan balutan tepung roti. Biarlah.

Dan dengan sepenuh hati, Jadilah….Risoles difabel…..

Hmmm….gue santap mereka dengan sahabat setia….mari makan!!!!!!

 

*Sementara di luar sana masih hujan yang turun dengan malasnya…..

Jakarta, 2 November 2011

~ by Imamie on November 2, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: