Film ::: Get Real (1998)

Ketika kita lelah dengan harapan-harapan yang sepertinya sulit terwujud, kadang ada sosok rebel dari dalam diri kita yang melakukan sebuah tindakan yang mengandung pola penegasan. Maju atau stop. Dan bila harapan itu terlalu mustahil, lebih baik stop.

Contoh halnya, ketika saya dulu berangan-angan kepingin hidup apa adanya, tanpa modus kamuflase menjadi seorang heteroseksual. Tetapi lebih ke homoseksual dan bebas mengekspresikan pikiran dan naluri. Dan faktanya…. kenyataannya, dulu saya selalu menganggapnya mustahil dan hampir kayaknya gak bisa saya lakukan. Sering kali saya memilih jalan tengah dengan menghentikan mimpi-mimpi itu dan lebih mencoba untuk menerima keadaan saja, sebagai minoritas yang harus “takut” pada mayoritas.

Tetapi kesadaran dan lingkungan yang baru membuat saya tergugah. Bahwa selamanya saya tidak akan seperti ini. Dan well, memang benar, saya menjadi saya seperti sekarang ini. Rebel with cause.

Ujung-ujungnya, imbas dari moment yang sering kali membuat saya harus mengatakan GET REAL!!!!

Ngomongin soal get real. Kemarin saya baru saja menonton film Get Real  produksi tahun 1998. Sebuah film yang mengangkat isu bully, gay dan coming out.

Seorang pelajar bernama Steven Carter (Ben Silverstone) yang mempunyai bakat terpendam sebagai jurnalis terlahir dengan kondisi “gay”. Sejak kecil pengetahuan akan sex didapat dari teman sepermainan dan secuil pelajaran biologi di sekolah. Sehingga kadang dia mempertanyakan apakah sex memang seperti yang dia dapatkan?

Beruntung Steven sangat  memahami dirinya sendiri. Dia menyadari bahwa di dalam tubuhnya terdapat sosok gay yang mencintai cowok. Dengan membanggakan kalau dia pertama kali menyadari bahwa dia menyadari ke-gay-annya saat berumur 11 tahun. Sementara dibanding saya, wahahahaaa…saya sejak 7 tahun sudah merasa berbeda dengan yang lain, hanya saja spesifikasi I’m gay or whatever it called masih belum “ngeh” di bocah seumuran saya kala itu. Hmmm it’s so humiliating me. But it’s oke!

Di lingkungan tempat tinggal Steven, terdapat taman dengan toilet yang biasa menjadi jujukan para gay untuk mencari pasangan “ML” atau bisa jadi sampai ke jenjang “Hidden Relationship.” Dan rupa-rupanya Steven sudah berpengalaman untuk hal itu. Dia juga sadar untuk melakukan “safe sex.”

Berbanding dengan kehidupan di sekolah, Steven sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa geng di sekolahnya. Total di bully, hampir setiap hari. Steven tak menampik keadaan itu walau dia terkadang sangat lelah dengan keadaan itu. Ketakutan, kesakitan dan kecemasan menghinggapi benak Steven bila berangkat ke sekolah.

Seperti mitos kebanyakan, every gay has women close friend. Selain berteman dengan Mark (Patrick Nielsen) sejak kecil hingga SMU bareng, Steven juga berteman dekat dengan Linda (Charlotte Britain). Untuk persoal kamuflase hetero Steven bergumul dengan Mark dan untuk mencurahkan hati di true life-nya, Steven butuh Linda.

Setiap gay di mana saja, selalu punya cowok impian yang bisa diajak “tidur” atau terlebih lagi “pacaran.” Dan itu juga berlaku untuk Steven. Rupa-rupanya, dia kagum “diam-diam” terhadap John Dixon (Brad Gorton) cowok populer di sekolahnya. Sosok atletis yang beruntung mempunyai badan oke dan wajah rupawan sehingga digandrungi semua cewek di sekolah. Tak terkecuali Steven. Hanya saja itu rasanya mustahil bagi dia.

Hanya Linda-lah yang tahu jati diri Steven sebenarnya. Sehingga mau tidak mau, Steven berusaha untuk membagi kisahnya dengan Linda. Termasuk mengajak Linda untuk ketemuan dengan seseorang di Toilet taman.

Hingga pada suatu saat, hal tidak terduga terjadi. Steven bertukar informasi dengan seseorang misterius dari bilik toilet. Setelah ada kesepakatan, Steven mengajak pria misterius itu ketemuan di bangku taman. Ternyata trik “mencari pasangan” di film ini lumayan oke juga untuk tahun 1998.

Siapa yang tidak shock kalau ternyata pria misterius yang kita tidak tahu identitasnya nyata-nyatanya adalah seorang “pria impian” kita. Yupe. Steven ternyata ketemuan dengan John Dixon. Cowok nge-hits di sekolahnya. Idaman cewek-cewek. Yang pacaran sama Christina Lindmann, cewek tercantik di lingkungannya. Steven langsung deg-degan gak jelas. Begitu pula dengan John. Keduanya saling menggagu dan panik. Berusaha sama-sama mencoba tenang. Dan akhirnya terjadilah obrolan “kopi.” Yang berakhir dengan Steven membawa John ke kamarnya. Hanya sebatas trial+denial. John melarikan diri dari kenyataan yang dihadapi barusan dengan Steven.

Usut punya usut, John ternyata ketakutan identitasnya diketahui orang. Ya iya laah, sosok populer pasti akan merasa jatuh bila kondisi sebenarnya dibeberkan di muka umum. Apalagi itu menyangkut ke-gay-annya. Tapi dilain sisi, John menyukai Steven. Apalagi sebaliknya. Tetapi itu semua dilakukan dengan satu syarat, yaitu DISCREET.

Mengalir lah konflik demi konflik, sangat dramatik untuk sosok anak manusia yang hidupnya cukup pelik. Mulai dari keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Semuanya seakan-akan bersatu-padu menyerang mental Steven. Hingga Steven mencoba membuat artikel yang mengulas tentang apa itu menjadi orang yang selalu hidup hanya dalam angan. Itu juga setelah Artikel Steven yang berjudul Millenium Generation  berhasil memenangkan kompetisi, yang ternyata sebenarnya artikel itu sudah dibuangnya, namun dipungut oleh ayahnya dan dikirimkan ke panitia lomba.

Well… film ini menunjukkan bahwa yang namanya bully selamanya akan menjadi momok mengerikan. Hanya monster-lah yang sudi memelihara si “bully” di dalam dirinya. Dan sebenarnya, sosok yang mem-bully seseorang justru hidupnya yang lebih bermasalah. Kebetulan saya banyak sekali makan garam untuk urusan di-bully. Jadi gak heran kalo pas saya lihat film ini, hati ini rasanya pengen marah dan gemes melihat Steven yang diam saja ketika di Bully. Saya pengen teriak kepadanya, “FIGHT BACK OR DIE.”

Bagaimanapun juga, yang namanya Bully pasti-dan-jelas sangat merugikan dan membawa dampak yang “berbahaya” bagi si tukang Bully maupun korban Bully itu sendiri. Dan seperti sudah tradisi, Seseorang yang berbeda, itulah korban pertama. Dan salah satu diantaranya adalah berbeda karena dia Gay, berbeda karena dia aneh, berbeda karena dia Miskin, berbeda karena dia gendut, berbeda karena dia hitam dan berperbedaan lainnya yang terkadang tak jelas dan terkesan dibuat-buat.

Saya menangkap pesan di film ini, bahwa ada hak individu seseorang yang harus didengar dan dimengerti sekaligus dipahami. Keberanian untuk speak up, dan menerima kenyataan (GET REAL) akan pengkondisian atas diri kita. Dan yang utama. Stop Bullying!!!! It’s mental Crime, berujung kekerasan fisik juga….

Dan saya suka dengan ending dari film ini,

“segokil apapun pasangan kita mencintai kita, tapi di saat berhadapan dengan publik malah berbalik membenci kita…Suruh ke laut ajah deh!!!!”

Dan terakhir, dalam hati saya ini bertanya, “kapan ya hubungan antara gay dengan bully bisa berakhir???”

Jakarta, 23 November 2011

Rate: 3/5

Love Scenes:   ZzzZzzzzZzzz…….

Chemistry:    (@_@)

~ by Imamie on November 23, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: