DALAM ISLAM, SATU-SATUNYA OTORITAS FINAL UNTUK DIMINTAI FATWA ADALAH “HATI NURANI”. TITIK.

Oleh : Akhmad Sahal

DALAM ISLAM, SATU-SATUNYA OTORITAS FINAL UNTUK DIMINTAI FATWA ADALAH “HATI NURANI”. TITIK. 

Itu Nabi sendiri lo yang bersabda. Suatu ketika beliau pernah ditanya tentang apa itu kebaikan dan apa itu keburukan, apa itu maksiat dan apa itu dosa menurut Islam. Nabi pun menjawab:

“istafti qalbak! istafti nafsak! Al-birru ma ithma’annat ilaihi al-nafs (dalamversi lain: ma ithma’anna ilaihi al-qalb), wal itsmu ma haka fi al-nafs wa taraddada fi al-sudhuur.” 
Dalam versi lain: al-itsmu ma haka fi shadrika wa karihta ‘an yattholi’a ‘alaihi al-nas.”

“Mintalah fatwa pada hati nuranimu! Mintalah fatwa pada dirimu! Kebaikan adalah sesuatu yang membikin jiwa/hati tenang. Sedangkan keburukan/dosa adalah sesuatu yang membuatnya resah (merasa bersalah).”
Dalam satu versi hadits lain: “dosa/keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan hatimu dan kamu tidak suka bila orang lain tahu.”

Hadits di atas sebenarnya cukup populer. Tapi yang menarik buat saya adalah implikasi maknanya. Ada beberapa:

1. Islam sangat mengakui kemampuan manusia untuk menimbang-nimbang, melalui akal dan perasaannya, tentang mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang ma’siat dan mana yang dosa. Dengan kata lain, Islam mengakui tiap2 orang adalah pribadi dewasa yang punya otak, bukan sekedar tiang listrik. 

2. Dan suara hati nuraninya lah yang menjadi hakim tertinggu buat dirinya sendiri. Pendapat kaum cerdik pandai, ulama, kitab2 tetap sangat penting, tapi posisinya bukan sebagai hakim tertinggi pemberi fatwa final. Mereka lebih tepat diposisikan sebagai sumber inspirasi dan teman dialog. Tapi fatwa terakhir tetap dipegang oleh hati nurani, bukan yang lainnya.

3. Tentu saja hati nurani bisa saja “kapalen”, tidak lagi peka dan murni lagi, seperti misalnya pada para pelaku kejahatan yang sudah jadi rutin. Lagipula, isi dan perintah hati nurani betatapun adalah konstruksi sosial juga. Ia tidak muncul dari ruang vakum. Terus bagaimana?

Poin ketiga ada benarnya…. (gimana sih nih, nanya2 sendiri dijawab-jawab sendiri. udah gitu sok bijak lagi🙂 ). Hati memang bisa bengkok dan isinya bisa juga terbentuk oleh konteks sosial historis tertentu. Tapi harap diingat, Islam mengenal konsep fithrah (kesucian) yang melakat dalam tiap diri manusia. Dan kesucian itu adalah anugerah Tuhan, yang memungkinkan manusia condong kepada nilai2 kebenaran universal (seperti keadilan, kesetraan dan perdamaian). Dengan kata lain, potensi bengkoknya hati tidak dengan sendirinya membatalkan posisi asasinya sebagai pemegang otoritas tunggal dalam memberikan fatwa doal kebaikan dan keburukan

4. Mengingat bahwa hati nurani bisa bengkok, dan isi/seruan fatwanya bisa semata-mata berdasar self-interest dan keuntungan jangka pendek semata, hati nurani perlu terus menerus diasah. Bukankah Qur’an sendiri sering menyerukan agar kita selalu tadabbur (merenung) dan tafakkur (berpikir) tentang ayat-ayat Allah, bukan hanya ayat-ayat Qauliyyah yang tertulis di Qur’an) tapi juga ayat kauniyyah (alam semesta)? Anjuran Tuhan tersebut, menurut saya, adalah cara yang sangat efektif untuk menghindarkan kita dari kecenderungan hati yang hanya memikirkan vested interest pribadi.
Meminjam lagu Iwan Fals: “Nyanyian jiwa haruslah dijaga//kata hati haruslah diasah. Bener banget tuh sang penyanyi idola kita. Kata hati harus diasah dengan tafakkur bdan tadabbur.

5.Jadi menurut Rasulullah SAW, dalam Islam, pemegang otoritas tunggal dalam memberikan fatwa final ttg kebaikan atau keburukan, tentang ma’siyat atau dosa hanyalah HATI NURANI. Bukan MUI, atau lembaga sejenis yang getol banget bikin fatwa. Yang mereka sebut fatwa itu tidak lain hanyalah opini hukum belaka. Opini2 mereka tetap layak untuk ditimbang dan dikaji, tapi pemegang kata finalnya bukan mereka, melainkan hati nurani kita sendiri.

~ by Imamie on January 6, 2012.

One Response to “DALAM ISLAM, SATU-SATUNYA OTORITAS FINAL UNTUK DIMINTAI FATWA ADALAH “HATI NURANI”. TITIK.”

  1. ‘Hati’ bisa bengkok bahkan mengeras seperti batu, tetapi ‘Hati Nurani’ tetap bersih dan murni, tidak bisa terkontaminasi oleh apapun, karena merupakan Dzat Illahi.
    Hati Nurani ada di bagian hati yang paling dalam. bila Hati yang bagian luar kotor, maka pancaran cahaya dari Hati nurani tidak sampai keluar.

    maaf.. hanya berbagi saja.
    untuk lebih jelasnya dari apa yang saya maksudkan, dapat brosing http://www.padmajaya.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: