All About Homoseksual

All About Homosexuals

1. Perilaku seksual seseorang tidak harus sama dengan orientasi seksual bawaan yang dimiliki. Patut diingat bahwa orientasi seksual seseorang belum tentu sama dengan perilaku seksualnya karena kesadaran diri seseorang akan orientasi seksualnya mungkin tidak diekspresikan dalam perilaku seksualnya. Jadi seorang homoseks bisa saja berperilaku seksual sebagai heteroseks dengan berhubungan badan bersama seorang lawan jenis dan begitu juga sebaliknya.

2. Menurut Bloch, perbuatan homoseksual tanpa mentalitas homoseksual disebut pseudohomoseksual. Pada homoseksual, perbuatan merupakan produk mentalitas homoseksual. Istilah pseudohomoseksual menunjukan pada perbuatan orang-orang yang tidak bersumber pada mentalitas homoseksual tetapi dilakukan berdasarkan yang di luar impuls seksual. Heteroseksual, sebagai ciri utama kepribadian mereka, tetap bertahan

3. Seorang pseudohomoseksual biasanya meyakini bahwa dirinya lemah dan tidak memiliki kuasa / kekuatan untuk dapat memenuhi kebutuhannya dan meraih apa yang diinginkannya sendirian. Karena itu ia mencari seseorang yang dapat dijadikannya sebagai pegangan, sebagai tempatnya berlindung dan bergantung (contoh : gigolo yang melayani om – om gay). Dengan latar belakang pengalaman hidupnya, ia menemukan kenyamanan dan rasa aman ketika berhubungan dengan sesama jenisnya. Oleh karena itu seorang pseudohomosexual menjadi dependent kepada sesama jenisnya.Akan tetapi, di antara mereka sering terdapat biseksualitas. Homoseksual didapat (acquired) dan temporer kebanyakan termasuk dalam kategori biseksual.

4.Kemampuan untuk mendeteksi gay = gaydar dari kosa kata gay + radar

5.Homoseks yang bisa menerima dirinya sendiri disebut homoseks ego sintonik(sinkron dengan egonya), untuk yang menyangkal dirinya sendiri disebut homoseks ego distonik. Seorang homoseks ego sintonik adalah homoseks yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkan, serta tidak ada desakan, dorongan atau keinginan untuk mengubah orientasi seksualnya. Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan, orang-orang homoseksual ego sintonik mampu mencapai status pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi sama tingginya dengan orang-orang bukan homoseksual. Bahkan kadang-kadang lebih tinggi. Wanita homoseks dapat lebih mandiri, fleksibel, dominan, dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, dan tenang. Kelompok homoseks ini juga tidak mengalami kecemasan dan kesulitan psikologis lebih banyak daripada para heteroseks. Pasalnya, mereka menerima dan tidak terganggu secara psikis dengan orientasi seksual mereka, sehingga mampu menjalankan fungsi sosial dan seksualnya secara efektif. Sebaliknya, seorang homoseks ego distonik adalah homoseks yang mengeluh dan merasa terganggu akibat konflik psikis. Ia senantiasa tidak atau sedikit sekali terangsang oleh lawan jenis dan hal itu menghambatnya untuk memulai dan mempertahankan hubungan heteroseksual yang sebetulnya didambakannya. Secara terus terang ia menyatakan dorongan homoseksualnya menyebabkan dia merasa tidak disukai, cemas, dan sedih. Konflik psikis tersebut menyebabkan perasaan bersalah, kesepian, malu, cemas, dan depresi. Karenanya, homoseksual macam ini (ego-distonik) dianggap sebagai gangguan psikoseksual. Penelitian Columbia University menemukan remaja yang mengidentifikasi dirinya sebagai gay, lesbian dan biseksual lima kali lebih mungkin mencoba bunuh diri daripada rekan-rekan heteroseksual mereka. Lebih dari 20 persen dari 1.400 remaja tersebut dalam penelitian itu mengatakan mereka telah melakukannya. Di daerah yang lebih menentang homoseksual, tingkat upaya bunuh diri 20 persen lebih tinggi bagi kelompok remaja tersebut.

6. Mengacu pada teori penyebab homoseksual, dr. Wimpie Pangkahila menyebutkan ada empat kemungkinan penyebab homoseksual. Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu (contoh : Reog Ponorogo). Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat. (contoh : army, prison, boarding houses)

7. Heteronormativitas adalah sistem sosial yang menganggap heteroseksualitas sebagai satu – satunya orientasi seksual yang sesuai dengan norma (bersifat normal) sehingga menganggap homoseksualitas dan biseksualitas sebagai bentuk penyimpangan norma (bersifat abnormal)

8.Sama halnya seperti heteroseks yang menyukai lain jenis tapi tidak berarti membenci sesama jenis, homoseks yang menyukai sesama jenis, bukan berarti membenci lawan jenis. Beberapa gays bahkan menjadi teman baik bagi wanita.

9.Sama halnya juga seperti heteroseks yang memiliki tipe tertentu untuk bisa menyukai seorang lawan jenis, begitu juga seorang homoseks memiliki tipe tertentu untuk bisa menyukai sesama jenisnya. Tidak semua sesama jenis dilahap mentah – mentah oleh homoseks. Apabila ada sebuah anggapan seorang homoseks terutama gay menyukai setiap sesama jenis yang tampan, hal ini lebih disebabkan karena memang sifat lelaki sendiri yang “lapar mata” alias makhluk yang menyukai keindahan visual, sama sepertinya seorang lelaki heteroseks bisa menggoda setiap wanita cantik.

10. Lesbian cenderung untuk menutup diri mereka dan tidak terdeteksi dengan mudah mengingat salah satu indikator yang paling mudah terlihat dalam lesbian yaitu perilaku maskulin mudah ditemui di antara wanita heteroseks dan juga perilaku saling menyayangi dan dekat secara fisik antara sesama wanita adalah hal yang lumrah.

11. Untuk peran seksual di ranjang, seorang gay berperan sebagai lelaki disebut “top”, seorang gay yang berperan sebagai perempuan disebut “bottom”, dan seorang gay yang bisa berperan sebagai keduanya disebut sebagai “versatile”. Untuk lesbian, yang berperan sebagai lelaki disebut “butchy”, sebagai perempuan disebut “femme” dan yang bisa berperan sebagai keduanya disebut “androgene”.

12. Baik top maupun butchy tidak harus berperilaku maskulin, hal ini juga berlaku bagi bottom dan femme, keduanya tidak harus berperilaku feminim

13. Tidak semua gay baik bottom maupun top berperilaku feminin, beberapa bahkan berdiri dengan tegap, kekar dan berperilaku persis seperti seorang lelaki sejati. Pria feminin dan wanita maskulin sekalipun tidak harus memiliki orientasi homoseksual.

14. Transgender bukanlah orientasi seksual. Transgender adalah orang yang merasa dirinya memiliki identitas gender berbeda dengan jenis kelamin yang dimiliki. Mereka bisa jadi memiliki orientasi homoseksual, heteroseksual ataupun biseksual. Ciri khas transgender adalah mereka biasanya berpakaian dan berperilaku “berseberangan” dari jenis kelamin biologis yang mereka miliki. Transgender juga bukan tahapan selanjutnya dari homoseksual. Pria homoseksual cenderung menganggap diri mereka adalah pria. Mereka tidak merasa sebagai wanita. sedangkan bagi lesbian, mereka menganggap dirinya seorang wanita. Tidak ada masalah antara bentuk tubuh dan jenis kelamin mereka. Perlu diketahui, meski kebanyakan homoseks bersifat feminin, banyak di antara mereka yang juga takut dan agak merendahkan kaum transgender yang satu ini. Kenyataan ironis, melihat homoseksualitas sendiri sering direndahkan oleh kaum homophobic.

15. The British Medical Association has taken a major stand against so called gay ‘cures,’ arguing that therapies that claim to turn people straight are not only ineffective, but also harmful. “Sexuality is such a fundamental part of who a person is that attempts to change it just result in significant confusion, depression and even suicide,” said Tom Dolphin, vice-chair of the BMA’s junior doctors committee. “You can’t just wish away same-seks attraction no matter how inconvenient it might be.” Dr Dolphin added,”This isn’t about therapy designed to help to reconcile people to their sexuality, which is laudable and appropriate.”

16.Pria biseksual sendiri tidak selalu berperilaku maskulin dan menjadi top saat berhubungan seksual dengan sesama jenis, begitu juga dengan wanita biseksual. Sebagaimana transgender, biseksualitas bukanlah suatu tahapan berikutnya dari homoseks. Biseksualitas adalah orientasi seksual yang berbeda dari homoseksual.

17. Pria homoseks meski kebanyakan berada di bidang art, entertainment dan juga bidang2 lainnya yang lebih banyak digeluti oleh wanita, beberapa dari mereka juga cukup banyak aktif di bidang yang sangat “maskulin” seperti teknik industry, teknik informatika, olahraga dan lain sebagainya. Beberapa peneliti bahkan mencurigai setidaknya ada 10 pemain Bundesliga yang memiliki orientasi seksual sebagai homoseks.

18. Dari sudut pandang agama Samawi, hanya kaum liberal yang memperbolehkan homoseksualitas dan bahkan mengadakan pernikahan sesama jenis.

19. Pemberitaan pers dan media kepada homoseks seringkali menyudutkan orientasi seksual seorang homoseks ketika melakukan sebuah kejahatan (contoh : kasus Ryan Jombang). Pada kenyataannya, orientasi seksual seseorang tidak menentukan sifat, karakter, dan aspek mental yang lain ataupun penyimpangan mental. Orientasi seksual semata – mata hanya menunjukkan kepada jenis kelamin apa yang disukai.

20. Kaum homoseks diidentikkan dengan free sex dalam arti suka bergonta ganti pasangan dalam hidupnya, hal ini sendiri perlu dipertanyakan lagi penyebabnya, jika saja homoseks diperbolehkan untuk menikah, akankah tingkat free seks dalam kaum homoseks akan sama parahnya seperti sekarang ini? Bukankah heteroseks meski banyak juga yang melakukan free seks tapi setidaknya masih bisa lebih menjaga diri mereka dalam kehidupan seksual karena adanya sebuah pernikahan bagi mereka?

21. 1 dari 10 pria adalah gay. Data statistik menunjukkan, 8 – 10 juta populasi pria Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. Dari jumlah ini, sebagian dalam jumlah bermakna terus melakukannya.

22. Sejak 1973, homoseksual dikeluarkan dari daftar jenis kelainan psikologis. Bersama-sama dengan hasil penelitian empiris lainnya, hasil penelitian Dr. Evelyn Hooker  (Evelyn meneliti 30 orang homoseksual dan 30 orang heteroseksual. Kedua kelompok tersebut dicocokkan berdasarkan umur, IQ, dan pendidikan. Tidak seorang pun yang menjadi partisipan merupakan pasien kejiwaan maupun narapidana. Evelyn menggunakan tiga tes proyektif yang digunakan untuk mengukur pola pikir, sikap, dan emosi manusia: Thematic Apperception Test (TAT), Make-A-Picture-Story Test (MAPS Test), dan Rorschach inkblot test. Setelah satu tahun penelitian, Evelyn menyerahkan hasil tes para partisipan pada tiga orang pakar untuk dievaluasi tanpa memberitahukan orientasi seksual dari masing-masing partisipan. Evelyn memutuskan untuk menyerahkan interpretasi hasil penelitiannya pada orang lain untuk menghindari praduga pribadinya. Pertama, Evelyn menghubungi Bruno Klopfer, seorang pakar Rorschach test, namun Klopfer tidak berhasil mengidentifikasi orientasi seksual partisipan berdasarkan hasil tes. Kedua, Edwin Shneidman, pencipta MAPS Test juga menganalisis 60 profil tersebut. Setelah enam bulan, dia juga menyimpulkan bahwa kedua kelompok tersebut tidak berbeda.Ketiga, Mortimer Mayer, pakar TAT yang sangat yakin bakal mampu membedakan orientasi seksual para partisipan. Bahkan dia sampai dua kali melakukan pemeriksaan sebelum akhirnya mengakui bahwa dia pun tidak mampu membedakan.) mendorong American Psychiatric Association untuk mengeluarkan homoseksualitas dari DSM pada tahun 1973. Walaupun prasangka dan stigma masih ada hingga kini, hasil penelitian ini telah banyak mengubah komunitas psikologi maupun masyarakat umum dalam memandang dan memperlakukan kaum gay. Sebagai pengakuan atas hasil kerjanya, Dr. Evelyn Hooker menerima penghargaan dari APA pada tahun 1992, Dalam kesempatan itu, beliau mengakhiri pidato sambutannya dengan membacakan surat yang diterimanya dari seorang gay yang berterima kasih kepadanya, “Saya pikir anda melakukannya karena anda tahu apa itu cinta ketika anda melihatnya, dan anda tahu bahwa cinta gay sama dengan cinta lainnya.”

23. Bukti-bukti yang didapat dari kesalahan pengasuhan sebagai salah satu faktor penyebab homoseksualitas tidak terbukti sama sekali. Masalahnya “pengasuhan” adalah istilah yang sangat umum dan tidak jelas. Ketika ditanyakan secara lebih spesifik, orang-orang cenderung memunculkan dua ide kuno yang tercantum di bawah ini:
a. Ayah yang jauh, ibu yang dominan? Ini adalah suatu ide kuno yang tidak dapat dibuktikan secara resmi melalui riset apapun. Ini hanya suatu perkiraan yang datang dari sebuah ide bahwa pria gay menjadi sangat kewanita-wanitaan karena pengaruh ibu mereka yang sangat dominan, sementara sang ayah yang diharapkan berperan sebagai contoh model tidak berfungsi.Masalah yang ditimbulkan dari perkiraan ini adalah pria gay cenderung sangat feminin, hal yang sama terjadi pula terhadap wanita lesbian. Hal ini sangat bertolak belakang dari hasil penyelidikan yang didapat. Ternyata banyak pria gay yang sama maskulinnya dengan pria normal.Bagi para peneliti yang serius mendalami kasus homoseksualitas ini menyatakan bahwa faktor ini adalah sama sekali tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
b. Penganiayaan/penyiksaan seksual waktu masa kecil. Salah satu ide yang juga tanpa data-data yang mendukung.Hal ini diakibatkan dari anggapan yang salah dari orang-orang yang berpembawaan heteroseks, tetapi “berubah” menjadi homoseks melalui pengalaman-pengalaman buruk yang mereka dapati, atau melalui hubungan dengan kaum homoseks yang mereka alami pada awal tahun-tahun perkembangan.Faktor ini tidak efektif semenjak bertambahnya bukti-bukti dari riset biologi yang mendukung kehomoseksualitasan.Dipercaya pula bahwa banyak dari kaum homoseks tidak mengalami penganiayaan/pelecehan sebagaimana yang terjadi pada kaum heteroseks.Bagi mereka yang tidak beruntung yang pernah mengalami penganiayaan oleh sesama jenis, sebagian menjadi homoseks, sementara sebagian lainnya tetap menjadi heteroseks. Demikian pula yang terjadi kebalikannya.

24. Seseorang tidak langsung menjadi homoseks kerena ia mempunyai teman yang homoseks. Sebagaimana, seorang homoseks tidak langsung berubah menjadi heteroseks bahkan jika ia bergaul dengan kaum heteroseks. Orientasi seksual, bagaimanapun juga, telah ditentukan dalam setiap diri manusia.Bahkan anak-anak atau remaja tidak bisa langsung berubah menjadi seorang homoseks hanya karena mereka bergaul dengan para homoseks yang telah dewasa. Bagaimanapun juga, mayoritas terbesar dimana anak-anak bergaul dengan, adalah kaum heteroseks. Apakah sesuatu yang logis, hanya karena mereka mengenal seseorang/banyak orang homoseks, akan merubah masa depan perkembangan seksualitas mereka?

25. Tak seorangpun “menjadi” homoseks. Kebanyakan seorang homoseks melaporkan bahwa ia menyadari bahwa dirinya homo pada saat usia remaja. Jumlah yang lebih kecil dilaporkan bahwa mereka telah menyadari bahwa mereka berbeda dari teman-temannya sejak usia 9 atau 10, walaupun pada usia tersebut, mereka belum dapat mengistilahkan perbedaan tersebut. Bagi orang asing/luar rasanya hal demikian kelihatannya sebagai, wah orang itu tiba-tiba “berubah” menjadi homoseks. Pada kenyataannya, dia selalu sebagai homoseks, hanya saja ia mengingkari kenyataan itu sementara waktu.

26. Berdasarkan penelitian Prof. Adams dari University of Georgia  : 80 % pria homophobic ternyata homoseks itu sendiri, hal ini dilihat dari penelitiannya dimana para pria homophobic yang mengaku sebagai heteroseks eksklusif ditunjukkan film porno gay ternyata mengalami ereksi ketika direkam oleh plethysmograph, alat pengukur pembesaran penis. Penelitian ini diterbitkan dan diakui oleh APA. Hal ini berkaitan dengan system pertahanan psikologis bernama reaksi formasi. Reaksi formasi atau penyusunan reaksi mencegah keinginan yang berbahaya baik yang diekspresikan dengan cara melebih-lebihkan sikap dan prilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan untuk dilakukannya.

27. Skala Kinsley adalah skala yang digunakan untuk menggambarkan tingkat homoseksualitas – heteroseksualitas seseorang:

0 Exclusively heterosexual

1 Predominantly heterosexual, only incidentally homosexual

2 Predominantly heterosexual, but more than incidentally homosexual

3 Bisexual

4 Predominantly homosexual, but more than incidentally heterosexual

5 Predominantly homosexual, only incidentally heterosexual

6 Exclusively homosexual

28. Homoseksualitas dapat terjadi pada hewan. Studi pada koloni albatros oleh University of Hawaii mengungkapkan bahwa sepertiga dari ‘pasangan’ yang berkomitmen untuk bersama satu sama lain, terdiri dari 2 jenis betina. Setelah melakukan perkawinan dengan albatros jantan, pasangan betina membuat sarang bersama ‘istri’ mereka dan menginkubasi telur bersama-sama. Kecendrungan ini awalnya tidak disadari karena albatros jantan dan betina hampir tidak bisa dibedakan satu sama lain. Beberapa ahli biologi mengklaim perilaku hewan ini telah tampak di 1500 spesies yang berbeda dan dipercaya tercatat di sepertiga kasus-kasus ini. Berdasarkan penelitian, sekitar seperlima dari pinguin raja yang berada di penangkaran adalah ‘gay’, di mana secara umum angsa hitam jantan memiliki pasangan dengan betina, maka bisa jadi ini dilakukan untuk meningkatkan penjagaan. Lalat kotoran jantan, memiliki hubungan dengan pejantan lain dengan tujuan untuk melelahkan pasangannya guna mengurangi kompetisi mendapatkan betina. Perilaku yang menunjukkan ‘gay’ juga telah dibservasi pada jerapah, kupu-kupu, koala, lumba-lumba, gurita, domba, serta hewan lain.

29. Orientasi seksual ini terlalu mendasar dalam diri kita untuk dapat diubah. Anda tidak dapat merubah seorang homoseks menjadi seorang heteroseks, atau kebalikannya!!! Ada saatnya seorang psikiater menggunakan terapi elektro-shock. Hasilnya sama saja dengan metode cuci-otak. Walaupun demikian, percuma. Sekarang ini, pengobatan seperti itu dianggap tidak etis dan sebuah bentuk penyiksaan. Namun, banyak dari kaum homoseks memperoleh keuntungan dari penyuluhan dan bantuan para ahli. Mereka adalah orang-orang yang merasakan beban berat dari tekanan sosial, depresi, dan bahkan berada dalam tahap awal bunuh diri (homoseks ego distonik). Para ahli dapat membantu mereka menyadari situasi ini dengan cara yang lebih positif, dan memperbaiki kepercayaan diri mereka. Bagaimanapun juga, mayoritas terbesar kaum homoseks tidak membutuhkan bantuan para ahli. Mereka dapat beradaptasi dengan baik, sangat percaya diri. Secara psikologis, mereka dapat mengatasinya dengan baik meskipun banyak sekali prasangka dan diskriminasi yang dialami dalam lingkungan hidup mereka

30. Klaim yang menyatakan bahwa orang dengan orientasi homoseksual dapat berubah menjadi heteroseksual sudah banyak dimuat di media massa dan internet tetapi sulit sekali untuk dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Hal ini dikarenakan klaim-klaim yang menyatakan “kesuksesan” konversi orientasi seksual melalui terapi perbaikan (reparative therapy) dinilai ambigu secara metodologis, hasilnya meragukan, dan dinilai tidak etis untuk dilakukan.Dalam banyak percobaan tersebut, “sukses” didefinisikan sebagai penahanan diri terhadap rangsangan homoerotis atau memperlihatkan kemampuan fisiologis untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Banyak percobaan yang ditujukan untuk mengubah orientasi seksual berhasil hanya dalam mengurangi atau menghapus perilaku homoseksual dibandingkan dengan menciptakan atau meningkatkan daya tarik heteroseksual. Percobaan-percobaan tersebut menghilangkan kapasitas seseorang untuk memberikan respon secara seksual kepada orang lain. “Terapi” tersebut sering mengekspos korbannya pada kejutan listrik atau obat penyebab mual sambil menunjukkan gambar-gambar telanjang sesama jenis (teknik yang tampaknya sudah tidak umum lagi di zaman sekarang). Masalah lainnya dalam laporan yang diterbitkan mengenai “kesuksesan” terapi konversi tersebut adalah bahwa orientasi seksual awal dari partisipan sering kali diabaikan. Banyak biseks yang disalahartikan sebagai homoseks dengan konsekuensi bahwa “kesuksesan” yang dilaporkan tersebut sebenarnya disebabkan oleh biseks yang termotivasi untuk memilih pola perilaku heteroseksual. Tingkat di mana orang benar-benar mengubah perilaku mereka – bahkan dalam batas-batas definisi operasional yang tidak memadai tersebut – sering tidak dinilai secara sistematis. Melainkan, hanya berdasarkan kesan subjektif dari peneliti maupun pengakuan pasien semata, sedangkan penilaian objektif yang akurat sangatlah kurang. Beberapa psikoanalis mengaku bahwa mereka telah menjalankan riset empiris yang menunjukkan bahwa “terapi” mereka dapat mengubah gay menjadi heteroseks. Namun penelitian mereka memiliki banyak kelemahan, termasuk adanya bias dan kurangnya grup pengendali. Penelitian tersebut umumnya tidak mengevaluasi pasien melalui pihak ketiga yang independen dan tidak mengetahui sama sekali pasien mana yang menerima “terapi” tersebut, melainkan hanya merupakan kompilasi dari laporan pribadi si peneliti yang melakukan terapi untuk mengubah orientasi seksual pasien mereka (dan biasanya sangat termotivasi untuk melaporkan “ kesuksesan” penelitiannya). Jika kemudian muncul klaim bahwa terjadi perubahan orientasi seksual, penelitian tersebut tidak dapat memberikan bukti bahwa perubahan tersebut dihasilkan oleh terapi tertentu. Individu yang berubah tersebut mungkin saja berubah tanpa melalui terapi.Menanggapi perdebatan mengenai percobaan yang ditujukan untuk mengubah orientasi seksual, American Psychological Association (APA) membentuk satuan tugas (satgas) yang diberi namaTask Force on Appropriate Theurapeutic Responses to Sexual Orientation untuk mempelajari literatur riset yang relevan.Pada tahun 2009, satgas tersebut melaporkan bahwa telah ditemukan masalah yang serius dalam metodologi riset tersebut, di mana hanya sedikit riset yang memenuhi standar minimal untuk dijadikan bahan evaluasi apakah tindakan pengobatan psikologis yang berusaha untuk mengubah orientasi seksual benar-benar efektif.Satgas tersebut menyimpulkan bahwa ”perubahan permanen atas orientasi seksual seseorang merupakan hal yang tidak biasa. Partisipan dalam penelitian tetap mengalami ketertarikan pada sesama jenis setelah mengikuti upaya mengubah orientasi seksual tersebut dan tidak melaporkan adanya perubahan yang signifikan mengenai ketertarikan pada lawan jenis yang dapat divalidasi secara empiris, walaupun ada yang menunjukkan penurunan rangsangan fisiologis pada semua stimulus seksual. Sulit menemukan bukti yang meyakinkan mengenai adanya penurunan perilaku seksual sesama jenis dan adanya ikatan perilaku seksual dengan lawan jenis. Sedikit sekali penelitian yang memberikan bukti kuat bahwa perubahan yang dihasilkan di dalam kondisi laboratorium dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hasil riset yang valid secara ilmiah menunjukkan bahwa tidak mungkin seseorang dapat mengurangi ketertarikan pada sesama jenis atau meningkatkan ketertarikan pada lawan jenis melalui upaya mengubah orientasi seksual.”

Di samping itu, satgas tersebut menemukan bukti yang menunjukkan bahwa percobaan tersebut dapat membahayakan partisipannya.Menanggapi laporan satgas tersebut, APA mengeluarkan resolusi pada tahun 2009 yang menyatakan “APA menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti yang memadai untuk mendukung penggunaan intervensi psikologis untuk mengubah orientasi seksual” dan “APA menyimpulkan bahwa manfaat yang dilaporkan oleh partisipan yang mengikuti upaya mengubah orientasi seksual mungkin diperoleh melalui pendekatan-pendekatan yang tidak berupaya mengubah orientasi seksual.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1998, American Psychiatric Association secara bulat mengukuhkan posisinya dalam menentang reparative therapy melalui pernyataan berikut:

“Potensi risiko ‘terapi perbaikan’ sangatlah besar, meliputi depresi, kecemasan, dan perilaku yang merusak diri sendiri (self-destructive), mengingat keterkaitan terapis dengan prasangka masyarakat yang menentang homoseksualitas dapat memperkuat pengalaman membenci diri sendiri (self-hatred) yang telah dialami oleh pasien.”

“Banyak pasien yang menjalani ‘terapi perbaikan’ menuturkan mereka mendapat informasi yang tidak benar bahwa homoseks itu adalah individu yang kesepian dan tidak bahagia yang tidak pernah mendapatkan pengakuan maupun kepuasan diri.”

“Kemungkinan bahwa seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan memenuhi hubungan interpersonalnya sebagai gay atau lesbian tidak diberitahukan. Demikian pula halnya dengan pendekatan alternatif untuk mengatasi efek stigma masyarakat tidak didiskusikan.”

“Dengan demikian, American Psychiatric Association menentang segala tindakan pengobatan psikiatri, seperti terapi ’perbaikan’ atau ‘konversi’ yang didasarkan pada asumsi bahwa homoseksualitas pada hakekatnya adalah kelainan jiwa atau didasarkan pada asumsi bahwa pasien harus mengubah orientasi seksualnya. American Psychiatric Association mengakui bahwa dalam tindakan pengobatan psikiatri yang sedang berjalan, ada kemungkinan terdapat indikasi klinis yang wajar untuk mengupayakan perubahan perilaku seksual.”

Secara profesional selama lebih dari tiga puluh tahun terakhir sudah diakui bahwa homoseksualitas bukanlah suatu penyakit atau kelainan jiwa, sehingga sebetulnya tidak ada yang perlu ‘disembuhkan’ atau ‘diubah’. Janganlah menyalahkan homoseksualitas jika masalah utamanya justru ada pada masyarakat yang memberikan stigma kepada kaum gay. Walaupun tidak dapat dipungkiri masih ada kalangan profesional dalam bidang kejiwaan yang sampai saat ini masih terpengaruh atau percaya pada stigma tersebut. Sehingga jika memang diperlukan psikoterapi, maka tujuannya yang tepat untuk seorang gay bukanlah untuk mengubah orientasi seksualnya, melainkan bagaimana secara psikologis membantu seorang gay untuk bisa menerima dirinya, bisa mengatasi efek stigma dari masyarakat, atau bahkan bisa membuka diri. Hal yang sangat penting dan patut diingat adalah bahwa secara ilmiah sampai saat ini orientasi seksual seseorang tidak mungkin diubah, hanya perilaku seksualnya yang mungkin diubah. Dengan demikian, percobaan atau klaim yang menyatakan “sukses” mengubah orientasi seksual adalah tidak benar dan bahkan menyesatkan.

28. Homoseksualitas dapat terjadi pada hewan. Studi pada koloni albatros oleh University of Hawaii mengungkapkan bahwa sepertiga dari ‘pasangan’ yang berkomitmen untuk bersama satu sama lain, terdiri dari 2 jenis betina. Setelah melakukan perkawinan dengan albatros jantan, pasangan betina membuat sarang bersama ‘istri’ mereka dan menginkubasi telur bersama-sama. Kecendrungan ini awalnya tidak disadari karena albatros jantan dan betina hampir tidak bisa dibedakan satu sama lain. Beberapa ahli biologi mengklaim perilaku hewan ini telah tampak di 1500 spesies yang berbeda dan dipercaya tercatat di sepertiga kasus-kasus ini. Berdasarkan penelitian, sekitar seperlima dari pinguin raja yang berada di penangkaran adalah ‘gay’, di mana secara umum angsa hitam jantan memiliki pasangan dengan betina, maka bisa jadi ini dilakukan untuk meningkatkan penjagaan. Lalat kotoran jantan, memiliki hubungan dengan pejantan lain dengan tujuan untuk melelahkan pasangannya guna mengurangi kompetisi mendapatkan betina. Perilaku yang menunjukkan ‘gay’ juga telah dibservasi pada jerapah, kupu-kupu, koala, lumba-lumba, gurita, domba, serta hewan lain.

29. Orientasi seksual ini terlalu mendasar dalam diri kita untuk dapat diubah. Anda tidak dapat merubah seorang homoseks menjadi seorang heteroseks, atau kebalikannya!!! Ada saatnya seorang psikiater menggunakan terapi elektro-shock. Hasilnya sama saja dengan metode cuci-otak. Walaupun demikian, percuma. Sekarang ini, pengobatan seperti itu dianggap tidak etis dan sebuah bentuk penyiksaan. Namun, banyak dari kaum homoseks memperoleh keuntungan dari penyuluhan dan bantuan para ahli. Mereka adalah orang-orang yang merasakan beban berat dari tekanan sosial, depresi, dan bahkan berada dalam tahap awal bunuh diri (homoseks ego distonik). Para ahli dapat membantu mereka menyadari situasi ini dengan cara yang lebih positif, dan memperbaiki kepercayaan diri mereka. Bagaimanapun juga, mayoritas terbesar kaum homoseks tidak membutuhkan bantuan para ahli. Mereka dapat beradaptasi dengan baik, sangat percaya diri. Secara psikologis, mereka dapat mengatasinya dengan baik meskipun banyak sekali prasangka dan diskriminasi yang dialami dalam lingkungan hidup mereka

30. Klaim yang menyatakan bahwa orang dengan orientasi homoseksual dapat berubah menjadi heteroseksual sudah banyak dimuat di media massa dan internet tetapi sulit sekali untuk dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Hal ini dikarenakan klaim-klaim yang menyatakan “kesuksesan” konversi orientasi seksual melalui terapi perbaikan (reparative therapy) dinilai ambigu secara metodologis, hasilnya meragukan, dan dinilai tidak etis untuk dilakukan.Dalam banyak percobaan tersebut, “sukses” didefinisikan sebagai penahanan diri terhadap rangsangan homoerotis atau memperlihatkan kemampuan fisiologis untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Banyak percobaan yang ditujukan untuk mengubah orientasi seksual berhasil hanya dalam mengurangi atau menghapus perilaku homoseksual dibandingkan dengan menciptakan atau meningkatkan daya tarik heteroseksual. Percobaan-percobaan tersebut menghilangkan kapasitas seseorang untuk memberikan respon secara seksual kepada orang lain. “Terapi” tersebut sering mengekspos korbannya pada kejutan listrik atau obat penyebab mual sambil menunjukkan gambar-gambar telanjang sesama jenis (teknik yang tampaknya sudah tidak umum lagi di zaman sekarang). Masalah lainnya dalam laporan yang diterbitkan mengenai “kesuksesan” terapi konversi tersebut adalah bahwa orientasi seksual awal dari partisipan sering kali diabaikan. Banyak biseks yang disalahartikan sebagai homoseks dengan konsekuensi bahwa “kesuksesan” yang dilaporkan tersebut sebenarnya disebabkan oleh biseks yang termotivasi untuk memilih pola perilaku heteroseksual. Tingkat di mana orang benar-benar mengubah perilaku mereka – bahkan dalam batas-batas definisi operasional yang tidak memadai tersebut – sering tidak dinilai secara sistematis. Melainkan, hanya berdasarkan kesan subjektif dari peneliti maupun pengakuan pasien semata, sedangkan penilaian objektif yang akurat sangatlah kurang. Beberapa psikoanalis mengaku bahwa mereka telah menjalankan riset empiris yang menunjukkan bahwa “terapi” mereka dapat mengubah gay menjadi heteroseks. Namun penelitian mereka memiliki banyak kelemahan, termasuk adanya bias dan kurangnya grup pengendali. Penelitian tersebut umumnya tidak mengevaluasi pasien melalui pihak ketiga yang independen dan tidak mengetahui sama sekali pasien mana yang menerima “terapi” tersebut, melainkan hanya merupakan kompilasi dari laporan pribadi si peneliti yang melakukan terapi untuk mengubah orientasi seksual pasien mereka (dan biasanya sangat termotivasi untuk melaporkan “ kesuksesan” penelitiannya). Jika kemudian muncul klaim bahwa terjadi perubahan orientasi seksual, penelitian tersebut tidak dapat memberikan bukti bahwa perubahan tersebut dihasilkan oleh terapi tertentu. Individu yang berubah tersebut mungkin saja berubah tanpa melalui terapi.Menanggapi perdebatan mengenai percobaan yang ditujukan untuk mengubah orientasi seksual, American Psychological Association (APA) membentuk satuan tugas (satgas) yang diberi namaTask Force on Appropriate Theurapeutic Responses to Sexual Orientation untuk mempelajari literatur riset yang relevan.Pada tahun 2009, satgas tersebut melaporkan bahwa telah ditemukan masalah yang serius dalam metodologi riset tersebut, di mana hanya sedikit riset yang memenuhi standar minimal untuk dijadikan bahan evaluasi apakah tindakan pengobatan psikologis yang berusaha untuk mengubah orientasi seksual benar-benar efektif.Satgas tersebut menyimpulkan bahwa ”perubahan permanen atas orientasi seksual seseorang merupakan hal yang tidak biasa. Partisipan dalam penelitian tetap mengalami ketertarikan pada sesama jenis setelah mengikuti upaya mengubah orientasi seksual tersebut dan tidak melaporkan adanya perubahan yang signifikan mengenai ketertarikan pada lawan jenis yang dapat divalidasi secara empiris, walaupun ada yang menunjukkan penurunan rangsangan fisiologis pada semua stimulus seksual. Sulit menemukan bukti yang meyakinkan mengenai adanya penurunan perilaku seksual sesama jenis dan adanya ikatan perilaku seksual dengan lawan jenis. Sedikit sekali penelitian yang memberikan bukti kuat bahwa perubahan yang dihasilkan di dalam kondisi laboratorium dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hasil riset yang valid secara ilmiah menunjukkan bahwa tidak mungkin seseorang dapat mengurangi ketertarikan pada sesama jenis atau meningkatkan ketertarikan pada lawan jenis melalui upaya mengubah orientasi seksual.”

Di samping itu, satgas tersebut menemukan bukti yang menunjukkan bahwa percobaan tersebut dapat membahayakan partisipannya.Menanggapi laporan satgas tersebut, APA mengeluarkan resolusi pada tahun 2009 yang menyatakan “APA menyimpulkan bahwa tidak ditemukan bukti yang memadai untuk mendukung penggunaan intervensi psikologis untuk mengubah orientasi seksual” dan “APA menyimpulkan bahwa manfaat yang dilaporkan oleh partisipan yang mengikuti upaya mengubah orientasi seksual mungkin diperoleh melalui pendekatan-pendekatan yang tidak berupaya mengubah orientasi seksual.

Bahkan jauh sebelumnya di tahun 1998, American Psychiatric Association secara bulat mengukuhkan posisinya dalam menentang reparative therapy melalui pernyataan berikut:

“Potensi risiko ‘terapi perbaikan’ sangatlah besar, meliputi depresi, kecemasan, dan perilaku yang merusak diri sendiri (self-destructive), mengingat keterkaitan terapis dengan prasangka masyarakat yang menentang homoseksualitas dapat memperkuat pengalaman membenci diri sendiri (self-hatred) yang telah dialami oleh pasien.”

“Banyak pasien yang menjalani ‘terapi perbaikan’ menuturkan mereka mendapat informasi yang tidak benar bahwa homoseks itu adalah individu yang kesepian dan tidak bahagia yang tidak pernah mendapatkan pengakuan maupun kepuasan diri.”

“Kemungkinan bahwa seseorang dapat mencapai kebahagiaan dan memenuhi hubungan interpersonalnya sebagai gay atau lesbian tidak diberitahukan. Demikian pula halnya dengan pendekatan alternatif untuk mengatasi efek stigma masyarakat tidak didiskusikan.”

“Dengan demikian, American Psychiatric Association menentang segala tindakan pengobatan psikiatri, seperti terapi ’perbaikan’ atau ‘konversi’ yang didasarkan pada asumsi bahwa homoseksualitas pada hakekatnya adalah kelainan jiwa atau didasarkan pada asumsi bahwa pasien harus mengubah orientasi seksualnya. American Psychiatric Association mengakui bahwa dalam tindakan pengobatan psikiatri yang sedang berjalan, ada kemungkinan terdapat indikasi klinis yang wajar untuk mengupayakan perubahan perilaku seksual.”

Secara profesional selama lebih dari tiga puluh tahun terakhir sudah diakui bahwa homoseksualitas bukanlah suatu penyakit atau kelainan jiwa, sehingga sebetulnya tidak ada yang perlu ‘disembuhkan’ atau ‘diubah’. Janganlah menyalahkan homoseksualitas jika masalah utamanya justru ada pada masyarakat yang memberikan stigma kepada kaum gay. Walaupun tidak dapat dipungkiri masih ada kalangan profesional dalam bidang kejiwaan yang sampai saat ini masih terpengaruh atau percaya pada stigma tersebut. Sehingga jika memang diperlukan psikoterapi, maka tujuannya yang tepat untuk seorang gay bukanlah untuk mengubah orientasi seksualnya, melainkan bagaimana secara psikologis membantu seorang gay untuk bisa menerima dirinya, bisa mengatasi efek stigma dari masyarakat, atau bahkan bisa membuka diri. Hal yang sangat penting dan patut diingat adalah bahwa secara ilmiah sampai saat ini orientasi seksual seseorang tidak mungkin diubah, hanya perilaku seksualnya yang mungkin diubah. Dengan demikian, percobaan atau klaim yang menyatakan “sukses” mengubah orientasi seksual adalah tidak benar dan bahkan menyesatkan.

Diambil dari pelbagai sumber

~ by Imamie on January 12, 2012.

11 Responses to “All About Homoseksual”

  1. Pengalaman ini menunjukkan kuasa hebat dari kepercayaan seseorang yang dapat menyembuhkan keluhan keluhan penyakitnya.

    • Gak ngeh sama komentar diatas… saya sedang tidak membahas penyakit. Tulisan di atas membahas Apa itu homoseksual… bukan membahas sebuah definisi penyakit…..

  2. Oh la la… a very long description. nice article.🙂

  3. Lengkap, akurat, dan mencerahkan, Bang!
    Saya lebih ingin tahu banyak mengenai biseksual nih …
    Sepakat … bahwa kebanyakan homophobic itu muncul dari seorang gay juga. Soalnya, kadang yang saya ekspresikan ke teman-teman juga gitu heheheh <— gue muna kali ya😀

    • Fian, kalo gue bilang, yg pernah kamu lakuin itu mungkin sebagai bagian dari heterosentris… jadi bisa dimaklumi… tapi seiring dengan waktu dan mau untuk belajar, kamu akan bisa tau dan paham… siapa diri kamu sebenarnya…. 🙂

      • Yap … itu mungkin semacam “pertahanan” diri dan cara gue menutupi kekhawatiran berlebihan terhadap reaksi lingkungan sekitar. Oke, bang … ditunggu sharing-sharingnya yaaa …

      • seeeep!!!!

  4. no commen

  5. call me 081285210220

  6. enak

  7. Bertobatlah sebab tidak ada orang Gay yang masuk ke surga, demikian kata firman Tuhan dalam Alkitab. Bertobatlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: