Film ::: Iron Ladies (2000)

Menjadi seorang Waria sangat sangat dan sangat sulit. Terlebih di Indonesia. Jangankan di Indonesia, di Thailand saja, yang mayoritas penduduknya sudah bisa menerima keragaman, masih saja mengkotak-kotakkan gender dan identitas seksual orang lain. Entah sampai kapan problema “Karet merah” terus berlangsung.

Image

Dalam film “Iron Ladies (Satree Lek)” karet merah menjadi tokoh utama. Bernama Mon (Sahaphap Tor) yang bercita-cita menjadi seorang pemain voli profesional. hanya saja disini, tidak semudah membalik telapak tangan, penolakan atas bergabungnya Mon sebagai anggota tim bola voli pria membuat dirinya memilih untuk pulang kampung. Tetapi Jung (Charnchai Nimpulsawasdi), sebagai sahabat sejati malah menyemangati Mon untuk terus berusaha agar cita-citanya tercapai. hingga kesempatan itu benar-benar datang.

Mon dan Jung mendaftar di klub bola voli Lampang. Dengan macam diskriminasi dan bentuk protes, nyaris keduanya tidak diterima. hanya saja sang pelatih sangat bijak dan menjunjung sportivitas, sehingga keduanya dinyatakan lolos dan menjadi anggota klub.

Akan tetapi, semuanya tidak berjalan dengan mudah. Karena Mon dan Jung seorang Waria, banyak yang tidak setuju dan memilih keluar dari klub. dan karena itulah, Mon dan Jung berupaya mencari pengganti dari anggota klub yang menyatakan out dari klub. Tak jauh-jauh, keduanya memilih teman lama mereka sewaktu kuliah dulu. Ada Nong serdadu gay, Pia bintang penari kabaret, Wit gay discreet dan Trio genit (April, May dan June). Bergabungnya kembali kelompok IRON LADIES ditambah trio genit ternyata membuahkan hasil. Tidak disangka-sangka mereka ternyata pebola voli handal. dengan spesifikasi keahlian khusus di tiap-tiap bagian membuat kekuatan tim tersebut menjadi solid. Kemenangan mereka di pertandingan tingkat kecamatan menjadi konsumsi media dan menjadi berita sensasional. Perjuangan mereka tidak hanya berhenti sampai disitu. karena masih ada pertandingan di tingkat regional yang akan membawa mereka pada gelar prestisius. Lawan tanding yang “remeh” dan terkadang “melecehkan” tak jarang mereka hadapi. Namun tak ada cara lain selain menghadapi semuanya. Menjadi yang terdepan adalah jalan untuk menembus ke tingkat Nasional.

Jauh sebelum Bangkok Love Story, Yongyoot Thongkongtoon sudah menulis cerita dan sekaligus menyutradari film ini di tahun 2000an. Dengan embel-embel “based on true story” film ini semakin terasa berisi dan mengandung kekuatan cerita yang dalam. Bagaimana tidak, sebuah fakta yang kadang orang tidak yakin untuk mengakuinya. Kumpulan waria, gay dan transeksual bisa mengalahkan Heteroseksual yang selama ini diposisikan selalu berada di”atas” angin.

Penggambaran karakter Jung yang mempunyai orang tua yang bisa menerima keadaan/kondisi anaknya yang seorang waria. Rupa-rupanya menjadi bagian dari misi terselubung atas pendekatan tentang pemikiran, bahwa tak selamanya ada penolakan atas orang tua kepada anaknya yang waria/gay/lesbian/transeksual.

Termasuk juga penampilan Wit yang kehidupannya berkebalikan dengan Jung. Wit adalah Gay discreet yang memutuskan untuk memilih melamar wanita dan hidup bersama kebohongan. Disini digambarkan bahwa apapun bentuknya, orang tua memang mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. hanya saja, kadang yang terbaik untuk anaknya belum tentu baik untuk anaknya sendiri. Padahal kejelasan sudah terbukti, yang bisa merasakan sebuah makna kebahagiaan adalah “kita” sendiri. Bukan orang lain, bukan pula orang tua kita. Mereka hanyalah media atau jembatan saja atas kebahagiaan yang akan kita tuju.

Ada dialog yang cukup mengena,

Mon: Apakah kamu pernah mempunyai teman gay?

Chai: Tidak pernah.

Mon: Ada berapa banyak gay yang kamu kenal?

Chai: (terdiam)

Mon: Itulah masalahnya. Kamu tidak punya hak untuk meremehkan kami.

Karena genre yang diusung adalah komedi, tak ayal kelucuan yang ditampilkan pun kadang slapstik namun tetap mengandalkan logika. pencitraan gay yang berdasar pada kenyataan pun tak melenceng jauh. Semua memang terasa nyata. Gay dan Make up memang tak bisa dipisahkan. Waria dan “rebutan Lekong” juga tidak bisa untuk tidak diceritakan. Romantika seorang Transeksual yang galau juga pas untuk diangkat. Apa yang kurang dari film ini? Tidak ada yang kurang dari film ini. Yang ada malah berlebihan. Alias Lebay. Tetapi ada pemakluman kalau hal ini terjadi. Setuju kan kalian kalau saya berpendapat Waria/Gay/Lesbian/Transeksual/Heteroseksual itu semuanya memang LEBAY???

Rate: 4.5/5

~ by Imamie on February 1, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: