Film ::: Cinta Tapi Beda (2012)

Cinta Tapi BedaEmosi…. Kejujuran….

dua kata diatas menjadi pembuka monolog dalam film Cinta Tapi Beda. Sebuah film yang mengambil tema percintaan yang terhalang olah dua keyakinan yang berbeda. Seperti biasa. Cahyo dan Diana. Jogja dan Padang. Islam dan Katolik. Chef dan Penari. perbedaan-perbedaan itu  menjadi pemanis konflik di film yang penyutradaraannya ditangani oleh dua orang sekaligus, Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra.

Ada apa dengan Cinta yang kali ini beda. Apakah cinta yang “berbeda” itu masalah? Apa yang berbeda dari cinta? tidak ada yang beda dengan cinta. Hanya pelakon cinta itu sendiri yang merasa beda. Keadaan yang membuat Cinta menjadi bermasalah. BERBEDA.

Cahyo (Reza Nangin) adalah seorang Chef kawakan di salah satu Cafe di Jakarta. Mempunyai pengalaman buruk soal percintaan. Diselingkuhi pacar di depan mata kepala sendiri. Cahyo memilih fokus di karirnya sebagai Chef.

3 bulan berselang, dia bertemu dengan Diana. Seorang penari yang sedang menyelesaikan tarian kreasi barunya di Jakarta. Mengapa memilih menari? “Karena menari adalah mengolah hati, mengolah rasa,” ungkap Diana, ketika dia ditanya Cahyo soal ketertarikannya di dunia tari. Tante Cahyo adalah guru tari Diana.

Pertemuan demi pertemuan membuat keduanya semakin bertambah akrab. Hingga Diana memperkenalkan Cahyo kepada Tante dan Omnya yang rupa-rupanya pasangan yang juga beda keyakinan. Hal itu membuat Cahyo semakin mantap, bahwa perbedaan itu tidak menjadi masalah besar kalau bisa menjalaninya.

Cerita bergulir seiring waktu. Kini giliran Cahyo yang akan memboyong Diana ke Jogja untuk diperkenalkan kepada orang tuanya. Seorang aparatur desa. Bapak Cahyo cukup disegani. sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Penjelasan Cahyo cukup beralasan untuk membuat Diana “aman” dengan kekatolikannya.

391903_372024156223276_837241823_n

“Cantik kamu…!” Puji Ibu Cahyo saat menatap gandul salib di kalung Diana. seakan-akan Ibu Diana paham, basa basi masih diperlukan untuk menjaga perasaan seseorang, ketimbang ungkapan hati yang terus terang atas ketidak terimaan/sukaan. Tipikal orang Jawa yang memang bukan rahasia umum. Walau pada akhirnya, Diana lebih menyarankan untuk melepas kalung dan tunduk pada ketidak-nyamanannya di rumah Cahyo yang sangat tersirat sekali kehidupan agamisnya. Cahyo tetap bersikukuh. Toleransi harus ditegakkan. Sang Bapak tetap dengan pendiriannya. Keangkuhannya atas status “bapak yang paling tahu dari segalanya” membuat Cahyo memilih meninggalkan rumah.

Oke… selanjutnya kita akan dibawa pada konflik yang menggalaukan. Bagi yang sedang merasakan bagaimana “capek”nya hubungan beda agama, Film ini bisa jadi alternatif untuk menemukan “pencerahan” terselubung. Film ini sebenarnya sangat terlihat sekali tidak bermaksud menggurui. Namun banyak pemahaman-pemahaman baru yang bisa didapatkan di dalam film ini.

Ada salah satu statement yang terlontar dari mulut Ibunda Diana mengenai KeberTuhanannya, “Masalah dua hal yang tidak pernah bisa bersatu.” Begitu juga dengan ucapan David (diperankan dengan pas oleh Hudson ) yang seakan-akan menegaskan realitas yang harus dihadapi oleh Cahyo dan Diana, “Muallaf atau diBaptis?”

Banyak simbol di film ini yang sengaja dipaparkan lekat-lekat. Kemunculan karakter David, yang di film ini berprofesi sebagai “two face” singer, menjadi simbol bahwa dua karakter-pun bisa bersinergi menjadi satu tampilan utuh yang bisa dinikmati keindahannya. Kemudian tarian kreasi Diana yang berjudul “Dua Hati” (kalau tidak salah) juga menyimpan simbol dari apa yang dialaminya. Dan yang lebih kentara lagi adalah simbolisasi dari “Kalung Salib” Diana. Kecil tetapi menjadi “inti” dari tema film itu sendiri.

Penulis film ini sadar dengan tema yang diangkat. Sehingga sepanjang film, tidak ditemukan adanya “stagnan” penceritaan. Semuanya mengalir sesuai dengan semestinya. Tidak ada yang berlebihan. Pas untuk menjadi sebuah tontonan. Sebuah film yang terlihat jelas telah melakukan riset. Sehingga dialog-dialog yang biasa tapi “megang” sering kali muncul di moment yang pas dan tidak diduga-duga sebelumnya.

“Biarkan kami bersama….Apa yang bisa dipersatukan Tuhan, Tidak bisa dipisahkan oleh manusia!!!” Teriakan Cahyo saat dia ditolak mentah-mentah ketika hendak meminang Diana.

Bagusnya film ini sedikit “tercoreng” dengan momen-momen klise. Ketika si Diana memilih untuk kabur dari rumah misalnya, mendadak sang ibunda langsung dirundung sakit yang “parah.” Sehingga kesan SAKIT adalah jalan yang terbaik untuk mencari simpati untuk anak yang “Durhaka.” Walau memang kenyataannya kejadian itu sering terjadi di dunia non maya.

Keseluruhan, film ini memang pantas untuk dinikmati oleh siapapun yang ingin belajar tentang makna toleransi yang sesungguhnya. Bukan toleransi yang sekedar dibaca di mata pelajaran PPKn.

CINTA-TAPI-BEDA1Toleransi, Beda agama dan cinta pada akhirnya adalah satu kesatuan. Bisa melebur beda adalah sebuah anugerah. Kebesaran hati dan kelapangan dada lah yang membuat itu semua menjadi nyata. Aku, Kamu, Dia, Kita dan Mereka adalah satu dengan (pastinya) beda masing-masing. Menjadi satu tak perlu berubah satu. Karena untuk melebur beda, hanya dengan hati lah jawabannya.

~ by Imamie on December 28, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: