Film ::: Demi Ucok (2013)

Mengejar Mimpi(mu) atau Dikejar Mimpi(nya)

Demi UcokKawin!!!

Siapa sih di dunia ini yang gak kepingin kawin? Nikah kalau orang intelek bilang. Jawabannya pasti beragam. Kalo gue pribadi sih, antara kepingin gak kepingin. kepinginnya sih karena gue terkadang merasa harus punya legalitas atas hubungan gue (yang sayangnya masih belum ada legalisasi) yang terkadang diperlukan untuk tetek bengek hahahehe. Sementara kenapa “gak kepingin” ya karena tanpa nikahpun gue sudah hidup layaknya orang yang sudah menikah. Simpel saja.

Gue mau narik garis lurus dulu. ——————————————-  Nikah /= Kawin ?

Okeh deh! mendadak gue ngomongin kawin. Pasti bertanya-tanya kan? Ada apa dengan gue? Gue sih sebenarnya tidak ada masalah. Dan merasa tidak ada apa-apa. Kenapa kawin, ya karena semalam gue habis nonton film “DEMI UCOK”. Film lokal garapan Sutradara pere’ (baca: perempuan) jebolan workshop film pendek yang digeber tahunan oleh salah satu produk rokok ternama di Indonesia. Dan mirisnya, gue juga satu angkatan dengan si Samaria, The Director. Bedanya, dulu dia di kelompok Bandung. Sementara gue di kelompok Surabaya. Dia sampai sukses memproduksi film pendeknya, sementara gue stag hingga 50 besar saja. Kayaknya peruntungan gue gak bagus di tahun itu.

Semenjak kejadian itu, gue gak kepikiran untuk “nyesel”, semangat untuk mengejar mimpi menjadi filmaker masih tetap nemplok di jidat. setiap tahun ngikut. Dan setiap tahun pula hasilnya nihil. Dan sampai sekarang gue tidak memproduksi film se-sen-pun, sementara si Samaria sudah duduk manis dengan film cin(T)a dan Demi Ucok-nya. Alhamdulillah! Something yaaa?!!!!

Film Demi UcokItulah sebabnya kenapa gue akhirnya mau menonton film Demi Ucok, karena gue sudah terlanjur cinta dengan cin(T)a. Apalagi yang bakal disuguhkan Samaria kali ini. Kisah “cinta” apalagi? (jawabannya: kisah cinta tentang mencintai film, mencintai ibu dan mencintai diri sendiri). Ngerasa gak sih kalau film ini tuh Samaria bangeeet??!!!!!

Okeh! Ceritanya sih sederhana. Si Samaria yang stag dengan kesuksesan film pertamanya… Ups! Tokoh utamanya bukan Samaria, tapi Glo (dimainkan cantik oleh Geraldine Sianturi) cewek 29 tahun yang baru nyadar kalau masa-masa jaman keemasannya dari film perdana dia, RAJAKATA (kalau tidak salah judulnya itu) mulai redup. Dan Glo berusaha keras untuk membuat film keduanya. dengan konseksuensi yang sangat prinsipil, TIDAK BOLEH AMATIR lagi. Musti bikin film, itu janji Glo. Janji Glo beda dengan janji Mama-nya, Mak Gondut (dimainkan dengan natural oleh Mama-nya sang sutradaranya sendiri). Mak Gondut kepingin anaknya cepet-cepet nikah dengan “Ucok”. Sama-sama Batak. Itupun setelah beliau divonis hidupnya tinggal setahun lagi oleh Dokter (Walau terkadang vonis dokter kadang juga lebay).Segala upaya dilakukan sang Mama demi mendapatkan menantu yang cocok dengan Glo. Segala upaya juga, Glo mencari-cari alasan agar sisi idealismenya tidak menghilang begitu saja. Membuat film itu yang utama, sesuai dengan mimpi besarnya, yang kedua adalah hidupnya tidak mau mengikuti jejak mamanya. Mimpi musnah karena mencari aman, yaitu dengan menikah. Dan hidup membosankan sepanjang masa. BORINGLY EVER AFTER!

Ada saja ide. Jadi jangan pernah merasa gak punya ide. Bisa jadi ide itu belum muncul. Mungkin itu juga yang dialami sang penulisnya. Pengalaman sang penulis dalam mewujudkan kontribusinya di dunia film rupa-rupanya tertuang “habis” di film ini. Bagaimana mimpi bisa membuat seseorang menjadi sosok yang “idealis” atau Sok sok Idealis.

Demi_Ucok-_Film_Komedi_Menyentuh_Tentang_Ibu_Dan_AnakTokoh utama di film ini jelas-jelas digambarkan sebagai pejuang mimpi yang “bebas”. Pergaulannya yang tidak mengenal batas. Dengan Lesbian penjual DVD bajakan pun okeh-okeh saja. Dengan produser film, yang biasa memproduksi film yang isinya Banci, Hantu dan “Susu” yang terkadang terpaksa dilakukan. Atau dengan “tokoh pujaan” yang sebenarnya absurd sekalipun.

Dari semenjak menulis cerita untuk film cin(T)a, gue  selalu menunggu gebrakan ide apalagi yang bakal ditulis oleh Samaria. Ketika mendengar gaung bahwa Demi Ucok akan melenggang di layar lebar, langsung membayangkan banyak sekali ekspektasi. Mungkin ini jugalah yang menjadi alasan kenapa setiap filmaker yang sukses dengan film pertamanya, terkadang ada “takut” dengan rasa optimisnya untuk memproduksi film yang kedua.

Jujur gue salut, untuk film ini, gue sangat memberikan Samaria applouse karena berhasil membawa kultur Batak dengan begitu “anggun”. Mengusung issue LGBT dengan begitu renyah dan menggigit. Termasuk membongkar stigma perempuan yang selama ini menjadi momok mengerikan bagi perempuan di era yang sekarang ini dengan begitu cadas. Riset yang memakan waktu lama gue kira untuk mendapatkan dialog-dialog ringan tapi “dalam” banget maknanya.

Penambahan slide-slide animasi di beberapa scene untuk film ini sangat “eye cathy”. Sehingga tidak mengganggu isi cerita. Malah semakin membantu menekankan maksud dari cerita yang sedang bergulir. narasi dari “Glo” juga pada akhirnya tidak menjadi garing saat muncul di scene yang memang diperlukan untuk muncul.

Yang menarik di film ini adalah, ada salah satu cerita yang menerangkan dengan terselubung bahwa bikin film pun bisa menjadi gampang. Ketika kita dihadapkan pada finansial biaya produksi dan segala macamnya, ada fasilitas dari internet yang bisa dijangkau. banyak sekali web-web yang menawarkan jasa bantuan untuk mempromosikan “calon” karya yang membutuhkan modal. Dari web tersebut bisa mengumpulkan “produser-produser” dadakan atau penyandang dana yang dengan tulus mempercayakan uang mereka untuk dijadikan modal tambahan menghasilkan karya seseorang yang dianggap menjanjikan kalau calon karya tersebut bener-bener menjadi karya. Dan Samaria memanfaatkan fenomena itu. Cerdik bukan?!!

sp-s4-a_6.img_assist_custom-560x373Pada akhirnya, gue berterima kasih sama Samaria, entah kenapa semangat untuk membuat film (baca: menulis skenario) akhirnya muncul lagi. Dan pada akhirnya kepingin juga mengajak “Emak” gue untuk unjuk kebolehan menjadi ARTIS. Cerita tentang Gue…. cerita tentang Emak Gue…. cerita tentang Gue dan Emak Gue!

Terakhir, gue hanya bisa mengacungkan dua jempol untuk film ini. Sederhana dengan kompleksitas tema yang tidak begitu berat. Tapi patut untuk dicermati. Selamat menentukan pilihan. Mengejar mimpi-mu atau Dikejar Mimpi-nya….

~ by Imamie on January 4, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: