Film ::: Gending Sriwijaya (2013)

Selamat Tinggal Mantili, Selamat datang Malini…

12_0

Pertama, saya tidak sengaja melihat trailer film ini di saat mengantri tiket nonton film Demi Ucok. Sebuah film berlatar “kerajaan” yang “menjual” Julia Perez sebagai bintangnya. Tetapi entah kenapa, mata saya tidak berpaling untuk melihat trailer tersebut. Alhasil, tanggal rilis saya ingat-ingat dan berjanji dalam hati, demi mengobati rasa (yang akhirnya) penasaran dengan akting Julia Perez, akan saya tonton film ini.

Dan hari itu telah tiba. Saya mencoba menonton dengan (tanpa) ekspektasi apa-apa. Hanya menutupi rasa penasaran atas performa Julia Perez dibawah kendali Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya (namun kayaknya bukan Hanung sepenuhnya yang menyutradarai). Sampai sejauh mana batas kemampuan Julia Perez berakting mengimbangi Mathias Muchus. Termasuk juga ada jajaran aktor watak sekelas Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo hingga Agus Kuncoro. Nama yang terakhir ini kayaknya disukai performa-nya oleh Hanung. Namun jangan kaget ketika membaca nama Sahrul Gunawan juga muncul di jajaran pemainnya. Entah dengan alasan apa yang jelas hal ini juga yang sempat membuat saya merasa “remeh” dengan keikutsertaan Sahrul di film ini.

Lagi-lagi cerita film dibuka dengan animasi. yang kali ini animasinya lebih “klasik” dan bisa dikatakan gak norak. Kedatuan Bukit Jerai Nama “kerajaan” itu. Yang menurut cerita, kerajaan tersebut adalah pecahan dari kerajaan Sriwijaya. Tersebutlah di kerajaan itu, hidup seorang raja bernama Dapunta (Slamet Rahardjo) yang mempunyai dua orang anak. Anak pertama bernama Awang Kencana (Agus Kuncoro) dan adiknya Purnama Kelana (Sahrul Gunawan).

Dikisahkan, sang raja sedang dalam kondisi sakit-sakitan. Pada kenyataannya, saat Purnama Kelana baru pulang dari belajar di Cina, Raja mendadak sembuh. Alhasil diadakan pesta besar-besaran. Dari awal, Awang Kenana sudah mencium bau “ketidak adilan”. Hingga akhirnya ketakutan Awang terbukti. Sang Raja menitahkan kepada Purnama untuk menggantikan tahtanya. Sang Ratu (Jajang C. Noer) sendiri merasa bahwa yang lebih pantas menduduki kursi kepemimpinan adalah anak pertama, sesuai adat dan tradisi kerajaan. Bagaimanapun juga, keputusan sang Raja sudah bulat. Penilaiannya tentang Purnama yang dirasa lebih matang pemikirannya ketimbang sang kakak membuat Raja merasa optimis, bahwa Purnama lebih berhak atas tahta itu. Awang sangat tidak bisa menerima keputusan itu. Walau Raja sudah menawarkan posisi menjadi Patih.

Alhasil, terjadilah tragedi dimana Purnama di fitnah telah melakukan pembunuhan atas Raja. Adanya bukti tidak bisa membuat Purnama berkutik. Purnama dipenjara.

Sementara di luar kerajaan sendiri, bermunculan orang-orang yang mencoba bertahan hidup dari penindasan demi penindasan. Kelompok pemberontak Ki Goblek (Mathias Muchus) dibantu anak buahnya dan sang puterinya Malini (Julia Perez) melakukan aksi perampasan harta benda demi meneruskan perjuangan untuk bertahan hidup dan demi sebuah kebebasan.

Semenjak kematian sang Raja, Bukit Jerai menjadi kacau sistem pemerintahannya. Keruntuhan kedatuan mulai terlihat. rakyat jelata semakin miskin dimana-mana.

Kayaknya, saya tidak perlu bercerita panjang lebar. karena saya lebih suka menyarankan untuk menontonnya tanpa perlu ada background cerita, siapa sebelumnya yang telah bercerita kepada kita. Cukup tahu yang main adalah Julia Perez.

Akting Julia Perez untuk menjadi jagoan cewek sangat patut diacungi jempol. scene beladiri yang ada dirinya gak ada yang jelek, semuanya bagus-bagus dan menggigit. Sehingga saya kerap kali tidak sabar menunggu aksi Julia Perez “membantai” laki-laki bernasib malang.

Padahal selama perjalanan untuk menonton film ini, saya terlalu iseng untuk mempertanyakan, “Kenapa judulnya Gending Sriwijaya?”

Gerombolan "Gending Sriwijaya"

Gerombolan “Gending Sriwijaya”

Ternyata, judul film Gending Sriwijaya diambil dari sebuah gerakan tarian yang menggambarkan kekuatan-kekuatan “betina” (baca: perempuan). Bayangkan saja, seorang ibu-ibu dan para remaja putri, semua diajarkan cara untuk membela diri. Bagaimana caranya menghunuskan pedang, memanah termasuk menggunakan bela diri tangan kosong. pukulan, tangkisan, bantingan, jepitan dan lain-lain. Sayangnya disini tarian lengkap Gending Sriwijaya kurang dikupas. Melihat model tarian yang menjadi “alat perang” teringat dengan film madame X (2010). Namun kembali lagi,Gending Sriwijaya bukan Madame X.

Mungkin kalau ada pemilihan karakter film terbaik, saya akan memilih karakter Malini sebagai pilihan saya. Sosok Perempuan yang mempunyai pemikiran “maju” ketimbang perempuan-perempuan lain di masa itu. Ada pemikiran bahwa kepintaran seseorang lebih penting ketimbang hanya sekedar mengandalkan otot tanpa menggunakan otak. Dan itu tergambar dari upaya dia untuk mengirim adiknya ke Cina atau India untuk belajar.

Julia Perez berperan sebagai Malini

Julia Perez berperan sebagai Malini

Berbicara soal Malini, pasti tidak lepas membicarakan sosok yang memerankannya. Acungan jempol untuk “Jupe” (baca: Julia Perez). Baru kali ini saya melihat Julia Perez berakting. Andai Jupe dari dulu sudah jatuh ke pelukan Hanung di film yang dia garap, mungkin JuPe sudah bisa disejajarkan dengan “bintang film” perempuan sekelas Atiqah Hasiholan. Tinggal bagaimana Jupe memoles kualitas aktingnya. Semoga film ini menjadi jalan bagi Jupe untuk mendapatkan peran-peran yang lebih bagus.

Walau terkadang saya ada perasaan, bahwa film GS ini berisi orang-orang “teater”. Bagaimana tidak, melihat sosok menyebalkan Awang Kencana yang dengan “lebay”nya mem-bully sang adik (Purnama Kelana) menjadi terlihat begitu pas. Jiwa-jiwa teatrikal masih nampak, dan itu tak hanya bisa dilihat di karakter Awang, coba lihat karakter Ki Goblek, Sri Ratu (Jajang C. Noer), Suradija (T. Rifnu Wikana)… Emosinya dapeet!!! Termasuk penampilan Aktris asli Palembang, yang bermain sebagai istri Awang Kencana.

Dan yang mencuri perhatian di film ini adalah….WARDROBE. Bayangan saya, akan ada banyak tahta emas mutiara yang kocar-kacir menghiasi setiap scene dan adegan. Ternyata dengan indahnya (entah karena riset mendalam atau ada motif lain) “kain” menjadi komoditas untuk menarik perhatian penonton. Jangan melihat pakaian Malini, tapi tengoklah busana yang dikenakan Sri Ratu, Purnama Kelana dan Raja Dapunta. Semuanya mencerminkan elegan dan sangat tidak norak. Kemegahan sebuah kerajaan bisa terlihat dari busana apa yang dikenakannya. Dan “aura” megah itu terpancar dari SONGKET. Membicarakan kain yang satu ini, kayaknya sangat begitu sakral. Salah sedikit cara pemakaiannya pasti bakal ada yang “protes”. Namun saya tidak akan pernah menyalahkan apabila ada sebuah film yang ternyata “melenceng” dari kebiasaan. Justru dengan penuh kesadaran bahwa apa yang dilakukan pihak manajemen produksi film tersebut adalah sebagai bagian dari kontribusinya untuk “menjual” kain tersebut.

Jujur, saya pribadi sangat tidak paham dengan sejarah Sriwijaya. Awalnya juga saya mengira Gending Sriwijaya adalah Strategi perang atau sekumpulan pasukan perang Sriwijaya. Ternyata itu semua salah. Mungkin kalau benar adanya Gending Sriwijaya adalah nama kelompok pasukan perang, film ini akan menjadi KOLOSAL. Hanya saja, greget kolosal disini tidak terendus dengan sempurna. Prajurit istana yang tidak seberapa banyaknya, penduduk desa yang itu-itu saja. Semakin menjauhkan saya untuk melirik film impor yang proses syutingnya mengambil penuh di wilayah Selandia Baru. (tanpa menyebut judul film). Saya juga pasti akan menduga, akan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan fakta. Kalau mau teliti, bahasa yang digunakan di film ini masih belum “pure” bahasa penduduk setempat. Kata “Fitnah” yang sempat dilontarkan Purnama Kelana bagi saya terdengar “merusak” kaidah penceritaan. Hanya saja saya memaklumi. Karena sadar, betapa riset itu sukar dan belum lagi kebutuhan “sihir” dalam kepenulisan skenario. Fitnah menjadi kata yang akhirnya bisa saya kompromikan. Termasuk hal-hal “ajaib” lainnya yang tidak perlu saya beberkan satu-persatu di film ini.

Tentu saja harap maklum. Siasat demi siasat untuk menutupi budget produksi film semakin terlihat, ketika beberapa scene-scene mahal tidak dituangkan secara live action, melainkan terwakili dengan gambar-gambar animasi. Yang terkadang jadinya menjadi “maksa”. Apalah daya… itu semua sedikit tertutupi dengan “nyanyian-nyanyian magis dan lantunan lagu-lagu mistis khas Sumatra Selatan”. Komposisi lagu dan nyanyian itu dituangkan Djaduk dengan penuh penghayatan. Pantas pula Sahrul di dapuk peran sebagai anak raja yang bisa membacakan isi “lontar” dengan berirama.

Yang menjadi pertanyaan saya sebenarnya, cerita Gending Sriwijaya ini benar-benar ada, atau hanya dongeng rakyat yang turun temurun? Bagaimanapun juga, sisa-sisa pertanyaan atas kekuatan perempuan yang sangat menonjol, mampu melawan ketidak adilan. Bahkan yang membuat saya sangat salut, ketika di akhir cerita, digambarkan tokoh Malini yang saat itu dipinang oleh salah satu anak dari Dapunta untuk menjadi istrinya, dengan penuh percaya diri, Malini menolak itu, yang dipilih adalah kebebasan. Malini sadar, bahwa kebahagiaan seorang perempuan tidak serta merta selalu berakhir dan terpuruk menjadi “pelengkap”. Perempuan juga punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Dan yang lebih menarik lagi, proses pembiaran atas pilihan Malini itu sendiri akhirnya menjadi ending yang manis.

46522_10151142770134226_785653462_nPerlu diingat pula, Gending Sriwijaya dalam cerita ini adalah sekelompok penari perempuan yang berjumlah tidak sedikit, yang kemampuan menarinya diimbangi dengan kemampuan bela diri. Dan saya sangat salut dengan ide-ide munculnya perempuan-perempuan hebat di film ini. Memang film ini penuh dengan darah dan kekerasan. Tanpa bermaksud membela, perlu dicerna pula, jaman dulu (baca: jaman perang kerajaan), untuk mempertahankan sebuah tahta, mahkota atau kerajaan, bahkan sebuah harga diri saja, kalau perlu Nyawa yang menjadi taruhannya. Jadi jangan heran kalau menjumpai banyak darah dan kebrutalan/kesadisan dimana-mana. Perempuan-perempuan cantik yang “terpaksa” menjadi pembunuh berdarah dingin. Itupun demi sebuah kemerdekaan atas tubuh mereka yang tidak mau tertindas oleh ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan atas tirani. Dan Malini mewadahi itu. Kemampuan beladiri yang dia dapatkan dari sang Ayah (Ki Goblek) ditularkan ke semua perempuan-perempuan desa.

Jujur, selama menonton film ini, saya selalu menantikan aksi serangan para gerombolan “Gending Sriwijaya”. Saya tidak melihat darah, saya tidak melihat amarah, tetapi saya melihat upaya betapa untuk mempertahankan hak atas hidup/merdeka sangat begitu susah di jaman itu. Darah bukan lagi menjadi “barang” yang menakutkan.

Perlu digaris bawahi, ada indikasi feminisme yang sangat berhembus kencang di film ini. Lihat saja tokoh sang Nyai Ratu saat membuat keputusan atas pengesahan dirinya menjadi “Raja” sementara setelah mengetahui bahwa suaminya tewas terbunuh. Kuasa ada di tangan seorang Ibu/Perempuan. Begitu pula yang terjadi dengan diluar kerajaan. Bagaimana istri Ki Goblek yang pada akhirnya mengambil alih kuasa, tatkala Ki Goblek tewas dibunuh pengkhianat yang tidak lain orang kepercayaannya sendiri. Ibunda Malini dengan penuh semangat berkobar api menggerakkan semua pengikut setia Ki Goblek untuk melawan ketidak adilan. Menjadi pemimpin perempuan terlihat sangat lazim di jaman itu. Dan tergambar jelas di tokoh Malini.

Alhasil, saya jadinya menyarankan untuk perempuan-perempuan Indonesia agar menonton film ini. Sudah saatnya perempuan Indonesia “melek”. Jangan mau terjajah sia-sia. Jadilah perempuan-perempuan “Gending Sriwijaya!!”

Negara (kerajaan) ini lahir karena pengkhianatan dan akan berakhir dengan pengkhianatan juga

gending-sriwijaya-rilis-official-poster-85ffef

~ by Imamie on January 13, 2013.

One Response to “Film ::: Gending Sriwijaya (2013)”

  1. wah biasane penilaian film jupe agak gimana gitu… tapi film ini membuktikan jupe ternyata bisa akting juga. wah patut dicari link film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: