Cerpen ::: Rawon

Darah. Awal pertama saya lahir. Disambut dengan darah. Dan itu sudah biasa. Hingga sekarang. Tidak begitu lama. Hanya 30 tahun saja. Melihat darah mengalir, mengucur, muncrat hingga semburat, pernah. Dan itu sudah biasa.

Hidupku, sudah hampir jauh dengan darah. Daging. Kini aku bergelimang dengan daging. Kadang sapi kadang kambing. Masih sedikit bau darah. Kadang anyir kadang nyiyir. Tapi tidak apa-apa.

Rawon. Kini aku bergelimang dengan rawon. Berjibaku meracik bumbu mendapatkan rasa yang selalu membuat orang selalu merindu. Itulah rawonku.

Sebuah warung kecil tanpa papan nama. Hanya sebuah kain bekas bendera partai yang sudah usang menutupi kedai. Aku hanya menjual aroma dan rasa. Warungku tidak butuh iklan. Bukan sombong, karena aku hanya menjual rawon untuk orang-orang yang memang gemar memakan rawon. Aku tidak melayani orang yang hanya sekedar penasaran dengan rasa rawon. Aku juga sedang tidak membuka lowongan agar orang-orang menyukai rawon. Salah kalau tujuannya seperti itu. Karena rawonku berbeda. Penuh cita rasa!

Pertama. Daging. Kedua. Bumbu. Ketiga. Rahasia.

Rahasia. Selalu saja ada yang menanyakan rahasianya apa? Kalau aku menjawab apa rahasianya, bagaimana mungkin aku menceritakan kisahku nanti. Selalu ada rahasia, walau nanti dan mungkin sudah tidak ada rahasia lagi. Untuk saat ini, aku perlu sejumput rahasia. Biar ada kisah yang terus bertutur tentang rawonku.

Seperti halnya Bibi Ori, usianya sudah menginjak 60 tahun. Lebih. Hanya prediksi. Aku tidak tahu pasti. Kulitnya masih kencang, walau jalannya sedikit pincang. Jangan pernah macam-macam. Masa mudanya dihabiskan di pedalaman hutan. Penelitian. Rahasia.

Dia salah satu pelanggan yang tidak pernah sama sekali memakan rawon di warung. Selalu dibawa pulang. Dikemas dalam rantang. Jangan pernah ditanya alasan. Kalau tidak ingin ditendang.

Pernah suatu ketika, sesama pelanggan, lancang iseng menanyakan alasan. Bibi Ori tersenyum. Dikira akan ada jawaban. Bibi Ori terdiam. Besoknya, pelanggan lancang iseng tidak pernah kelihatan. Semenjak kejadian itu, tidak ada yang berani lancang, apalagi iseng.

Aku penjual yang tidak ramah. Susah basa basi. Pesan. Ladeni. Bayar. Pulang. Pesan. Ladeni. Makan. Bayar. Pulang. Tidak ada pembicaraan. Pernah aku mengusir wartawan dengan senapan angin. Dengan alasan sudah mengganggu kenyamanan. Memaksa aku membuka kisah, tentang rawon, resep, mimpi dan cita-cita. Semenjak itu, tidak ada lagi tukang tanya. Karena aku memang malas dengan tanda tanya. Biar saja rahasia.

***

Sudah empat hari, aku tidak berani sudi mempertanyakan alasan Bibi Ori kenapa tidak membeli Rawon sampai detik ini. Aku tahu, semua langganan di sini pasti bertanya-tanya. Ada apa dengan Bibi Ori. Dan aku juga tahu, mereka pasti tidak mau lancang dan iseng menanggapi hal ini. Mereka tidak mau menjadi orang yang tidak pernah kelihatan lagi di warung ini.

Pernah ada pelanggan yang tidak sengaja membicarakan Bibi Ori. Entah tahu entah tidak tahu, hanya berlagak tahu. Seolah-olah ada aib yang menempel di Bibi Ori, naas bagi pelanggan tersebut. Semenjak kejadian yang tidak disengaja itu, batang hidungnya sudah tidak pernah nampak lagi. Dan pelanggan akhirnya memilih untuk tahu diri. Tidak perlu ada tanda tanya lagi.

***

Bibi Ori datang. Kali ini dia tidak membawa rantang. Dia datang membawa sebuah penawaran. Perjanjian. Rahasia. Aku terima.

Bibi Ori bertutur. Baru tahu kalau dia hidup menjadi hamba seseorang. Ada tuan besar dibelakangnya. Berdua saja. Bibi Ori pengabdi setia. Katanya, sudah 30 tahun dia berkutat dengan setia. Tidak pernah hilang kendali melepaskan kepercayaan yang dipertanggungjawabkan kepadanya. Kepercayaan dibalas kepercayaan. Begitu prinsipnya.

“Nanti malam, kamu ikut saya. Jam delapan saya jemput!”

“Harus ada alasan yang kuat saya ikut Bibi!”

“Ndoro Kakung ingin bertemu”

Siapa Ndoro Kakung, Jam delapan malam, dijemput. Tidak pernah aku mengira-ngira, apakah seperti ini yang dialami oleh pelanggan-pelanggan yang pada akhirnya tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Bibi Ori bisa saja membuat kisah. Aku terpaksa tersenyum pahit.

***

Aku sedang terhipnotis. Bajuku rapi. Tidak biasanya. Memakai batik tulis sogan motif parang kencana. Semua karena Ndoro Kakung. Aku bukan lagi penjual rawon yang kaku dengan kemeja lusuh yang kancingnya hilang satu. Aku sedikit berdarah biru. Se. Di. Kit.

Jarang aku dandan. Mengaca melihat pantulan wajah yang aku sendiri jengah. Aku tidak tampan. Tidak rupawan. Tatanan rambut yang sedikit acak-acakan. Aku tidak punya sisir, hanya menggunakan jari-jari tangan yang membelah ke pinggir.

Jangan ada yang heran kalau aku dandan seolah-olah hendak kencan. Tidak. Aku hanya ingin terlihat tidak biasa ketika Bibi Ori melakukan hal yang tidak biasa kepadaku. Konyol kalau aku hanya tampil seadanya.

Bibi Ori datang. Kali ini dia tidak membawa rantang. Dia datang membawa sebuah peringatan. Aku harus membawa rahasia. Aku pegang kata-katanya.

***

Sepanjang perjalanan, Bibi Ori hanya diam. Duduknya tenang. Sopir taksi seakan-akan berada didalam kendalinya. Seolah dia tahu arah mana yang dituju. Tidak ada pertanyaan lewat mana ibu. Tidak ada jawaban lewat jalan itu. Aku paham. Aku harus ikut diam.

Jalanan pun larut dalam titahnya. Bukan macet yang menjadi penghambat, memang taksinya yang berjalan lambat. Aku semakin betah dengan situasi seperti ini. Tidak ada bising. Hening.

Bibi Ori sesekali memandangiku. Matanya awas. Buas. Seperti hendak menerkam.

“Terakhir kali saya naik taksi, saat saya dibawa lari laki-laki yang menyukai saya,” Bibi Ori memulai cerita.

“Dia diusir Ibuku. Istri dari laki-laki yang menyukai saya.”

Bibi Ori diam. Sopir taksi diam. Aku tidak ingin diam.

“Terakhir kali saya naik taksi, tiga hari yang lalu…”

Bibi Ori diam. Sopir taksi diam. Aku akhirnya juga memilih diam.

Aku tidak betah dengan situasi seperti ini. Tidak ada bising. Hening.

Taksi yang kami naiki lambat laun berjalan semakin pelan. Memasuki areal perkampungan yang penuh dengan tetumbuhan berakar gantung. Sepi. Jarang ada orang. Sesekali nenek-nenek duduk di beranda sambil kipas-kipas dari kertas koran bekas. Menatap kami sebentar kemudian pura-pura tidak melihat. Perlu tanda tanya.

***

Taksi berhenti di depan sebuah rumah yang halamannya cukup luas. Banyak sekali bonsai yang menghias di setiap sudutnya. Entah apa jenisnya. Aku tidak peduli. Bibi Ori pandai sekali bermain teka-teki.

Mengekor Bibi Ori dari belakang. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Berjalan tenang pelan-pelan. Bibi Ori membuka pintu rumah. Bunyi yang berat mengingatkan akan pintu-pintu milik rumah hantu. Tidak ada apa-apanya. Aku dipersilakan duduk. Tanpa kata-kata. Hanya gerakan tangan. Bibi Ori menghilang dari pandangan. Dia masuk ke dalam. Kejutan apa yang bakal dia suguhkan. Aku berusaha untuk tidak penasaran.

Bibi Ori datang. Kali ini dia membawa sebuah nampan bertahta cangkir yang beraroma kopi. Dipamerkannya minuman panas itu kepada aku. Harum. Kopi mahal. Aku berterima kasih. Bibi Ori duduk di seberangku. Kami berhadap-hadapan dipisahkan meja ukiran Jepara. Kukira.

“Ndoro Kakung sedang di kamar mandi,” Bibi Ori membuka obrolan.

“Saya mau ke dalam dulu,” kamu tunggu disini.

Bibi Ori meninggalkan ruangan. Aku masih tidak paham, kisah apa yang sebenarnya akan dituturkan Bibi Ori kepadaku setelah ini. Tidak kusangka, aku menjadi begitu senang dengan kolam tanda tanya yang ada dihadapanku sekarang.

Naluriku gatal. Aku ingin tersenyum. Sudah. Tidak perlu berlama-lama. Mahal.

“Kamu yang di sana, masuk!” suara Bibi Ori menggema.

Aku bangkit dari singgasana singkat. Pindah tempat ke tahta yang katanya lebih terhormat. Berlebihan. Aku hanya masuk ke ruang makan. Disitu sudah tersaji tudung yang menutupi hidangan meja. Bibi Ori menunjuk kursi yang paling ujung. Berhadap-hadapan dengan seseorang. Seseorang yang duduknya membelakangi kami. Aku dan hidangan. Bibi Ori hanya partisipan tangan kanan. Tidak masuk hitungan. Yang diseberang duduk di kursi roda bukan goyang. Tak tampak aku menyapa wajahnya. Syal tebal menyangga lehernya. Bibi Ori mendekatinya dan membisikkan kata-kata yang seharusnya aku dengar, samar aku tidak bisa mendengar. Sial! Aku pingsan.

***

Mataku terasa berat untuk terbuka. Memaksanya untuk melihat apa yang seharusnya aku lihat. Karena aku mendengar apa yang seharusnya aku lihat. Lirih terdengar ada suara lelaki meringis kesakitan. Menangis kesetanan. Samar terlihat ada perempuan senja melumat bengis laki-laki renta.

Aku tidak bisa bergerak. Tergerak untuk berontak. Tubuhku dibalut bulir besi yang terjalin gemerincing. Setiap gerakan balasannya erangan. Aku kesakitan. Tapi aku masih tahan. Tidak ada suara yang aku timbulkan. Mulutku menganga berisi sumpalan kain perca. Tidak bisa apa-apa. Walau hanya untuk sekedar tersenyum saja. Tetap saja tidak bisa.

“Lebih baik kamu diam, Saya hanya menyisakan matamu untuk melihat dan telingamu untuk mendengar.”

Aku menurutinya.

Mendadak penglihatanku mulai tak samar. Aku bisa melihat dengan jelas apa yang aku lihat. Bibi Ori membawa sekeranjang sesuatu yang aku sangat mengenalnya. Kluwek. Sekeranjang kluwek yang lumayan banyak. Bibi Ori meletakkannya di meja. Tepat di depan Ndoro kakung. Kalau memang dia yang dimaksud Bibi Ori sebagai Ndoro kakung.

Aku menunggu Bibi Ori bercerita.

Akhirnya…

“Laki-laki ini membenci saya. Sejak seminggu yang lalu. Dulunya…”

Bibi Ori membalik posisi duduk Ndoro Kakung menghadap ke meja. Laki-laki keriput lanjut usia yang hanya diam terpejam tanpa kata-kata. Dia hidup tanpa nyawa.

“…Dia sangat-sangat mencintaiku!”

Terima kasih Bibi Ori sudah mengajakku mencampuri masalah keluarga. Terima kasih. Sekarang apalagi.

“Dia mengajari saya mencintai manusia. Sampai ke daging-dagingnya…!”

Bibi Ori tersenyum. Aku ingin tersenyum, tapi mulut masih mengulum.

“Dari dia saya bisa membedakan, mana daging orang, mana daging binatang…!”

Bibi Ori mendekati Ndoro kakung. Diambilnya sebutir kluwek. Satu saja. Dirabanya bibir Ndoro perlahan dengan tangan kirinya. Dibuka pelan-pelan, pelan-pelan juga Bibi Ori memasukkan biji Kluwek. Kluwek masuk ke dalam mulut. Lenyap. Diambilnya lagi sebutir kluwek. Dua butir. Dua saja. Dirabanya bibir Ndoro perlahan dengan tangan kirinya. Dibuka pelan-pelan, pelan-pelan juga Bibi Ori memasukkan dua biji Kluwek bergantian. Kluwek masuk ke dalam mulut. Diambilnya lagi sebutir kluwek. Satu saja. Dirabanya bibir Ndoro sedikit memaksa dengan tangan kirinya. Dibuka sekenanya, sekenanya juga Bibi Ori memasukkan biji Kluwek. Kluwek masuk ke dalam mulut. Tidak begitu lenyap. Penuh. Mulutnya penuh dengan biji-biji kluwek. Bibi Ori paksa-paksa. Tekan-tekan. Emosi.

Bibi Ori meraih pisau daging yang sudah ada di meja.

“Crasssshh!”

Darah muncrat. Bibi Ori berdarah mukanya. Cipratan dari darah laki-laki yang pernah mencintainya. Leher Ndoro kakung berlubang. Pelan-pelan darahnya mengalungi lehernya. Sempat bergerak, hanya sekejap, lantas lemas. Ndoro kakung tak lagi bernafas.

Bagus. Sekarang giliranku.

“Setiap hari dia selalu menyuruh saya membeli rawon. Setiap hari!”

Bibi Ori menyudahi dramanya dengan menancapkan pisau yang digenggamnya tadi ke mulut Ndoro kakung dengan paksa. Hingga sebagian biji kluwek ada yang terjatuh keluar dari mulut. Bibi Ori menjerit histeris kemudian tertawa. Lega. Dia menghampiriku. Aku lemas. Pura-pura cemas.

Bibi Ori dan aku dekat. Bisa kurasakan kulitnya yang pekat. Yang terbiasa mengeluarkan keringat. Sangat dekat.

Dirogohnya saku celana. Sebuah kunci. Diletakkannya di meja. Menghadap tepat kearahku. Merogoh lagi dia di saku celana satunya. Bergandul kunci-kunci. Lebih dari lima. Dia memutari kursiku. Menghadap tepat dibelakangku. Terasa rantai besi mulai melonggar. Badanku sedikit melebar. Aku terlepas.

“Saya sudah tahu semuanya!” Bibi Ori mulai mendongeng lagi.

“Tentang rawonmu, tentang daging-daging mereka, tentang akal-akalanmu,” nada bicara Bibi Ori mulai tinggi. “Kamu tidak bisa bohongi saya, kamu tidak bisa bohongi Ndoro!”

“Ndoro suka sekali rawon buatanmu!”

Bibi Ori membuka tudung saji di meja. Menghampar alat-alat masak semirip dengan pisau semua. Dari yang pisau buah hingga pisau daging. Aku tersenyum. Bibi Ori tersenyum.

“Dan saya tidak begitu suka daging manusia!”

Bibi Ori mempersilahkan aku untuk mengambil alat penggorok.

“Saya sudah tidak seperti dulu lagi,” Bibi Ori duduk dipangkuan Ndoro Kangkung.

Aku tersenyum.

Dengan hormat, aku menggorok Bibi Ori menggunakan pisau buah. Pisau yang paling kecil diantara pilihan pisau yang lain.

***

Sekarang, diantara kita sudah tidak ada lagi rahasia. sampai sejauh ini kamu sudah mengetahuinya. Jangan berani mencoba, kecuali kamu ingin menjadi pelanggan lancang iseng yang tidak akan pernah kelihatan lagi!

 

 

Kramat Sentiong – Jakarta, 3 Maret 2013

~ by Imamie on March 8, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: