Film ::: Ma Vie En Rose / My Life In Pink (1997)

Hidup itu gak adil. Kenapa di dunia ini, yang beda sering kali dipandang sebelah mata. Yang aneh sering kali “wajib” untuk dinyinyiri. Yang unik dengan penampilan eksentrik apalagi… kadang “CUIH” juga kerap nongol bikin dongkol! Ada masalah apa ini?

ma-vie-en-roseSeperti yang dialami oleh Ludovic Fabre (Georges Du Fresne), bocah 7 tahun yang sangat selalu ingin terlihat cantik. Orang-orang disekitarnya melihat sosok Ludovic sebagai bocah laki-laki, sementara Ludovic sendiri merasa dirinya perempuan. Hasrat Ludovic untuk berdandan menggunakan gaun kakak perempuannya, kemudian memakai make up sangatlah kuat. Dia tidak ada rasa “salah” sedikit pun untuk berdandan. Alhasil, saat pesta penyambutan rumah baru keluarga Fabre, para tetangga dikejutkan dengan penampilan Ludovic yang “nyeleneh”.

Ma_Vie_En_Rose-hugsHanna(Michele Laroque), Ibu Ludovic semula memaklumi dan sangat menyayangi anak bungsunya tersebut. Dengan penuh kasih sayang, dia pelan-pelan menasehati Ludo agar tidak lagi memakai baju-baju yang terlihat feminin.

Ludovic sendiri bingung. Mengapa semua orang tampak frontal dengan sikap dan langkah yang dia pilih. Apa yang salah dengan memakai gaun? Toh Ludovic merasa dirinya adalah seorang gadis. Yang ingin terlihat cantik. Tampak terlihat dia tidak mau dipotong rambutnya menjadi pendek seperti Ayah dan kakak-kakak cowoknya.

Walau memang sangat cliche, mainan yang dipilih Ludovic semuanya adalah boneka. Berimajinasi di dunia Barbie, berkenalan dengan Pam, salah satu barbie cantik yang menjadi panutan Ludovic dalam berimajinasi.

ma vie en roseIntinya, seperti kebanyakan yang terjadi sekarang, semua orang yang berada di sekeliling Ludo sangat memarjinalkannya. Apalagi disaat Ludo tertarik dengan Jerome, bocah laki-laki tetangga sekaligus teman sekolahnya sekaligus anak bosnya Pierre Fabre (Jean-Philippe Ecoffey), ayah Ludovic.

Semenjak kepindahan itu, kehidupan keluarga Fabre menjadi sorotan semua tetangga. Ludovic dianggap membawa pengaruh yang tidak bagus untuk pertumbuhan anak-anak seumurannya. Ludovic tidak diperbolehkan bergaul dengan teman sebayanya. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, Ludovic sudah tidak diperbolehkan lagi bersekolah, setelah adanya insiden di Pertunjukan Drama teater Sleeping Beauty, dimana Ludovic mengunci pemeran Putri di dalam kamar mandi, dan dia menggantikan peran itu. Apalagi yang menjadi Pangeran adalah Jerome, yang notabene anak bos ayah Ludovic. Cucok!!!

tumblr_m0brufrXGN1qcf45zo1_1280Pierre kian stress, pemecatan kerja sudah dia dapatkan. Sikap emosionalnya semakin membuat Ludovic bingung. Begitu halnya dengan Hanna. Dia sudah tidak seperti dulu lagi. Sikapnya berubah terhadap Ludo. Jalan pintas untuk memangkas rambut Ludo menjadi pendek pun dia tempuh, berharap agar ludo menjadi seperti kakak-kakaknya.

329418_originalNamun seperti anak-anak korban “Bully” kebanyakan, selalu ada adegan suicidal. Dimana Ludovic masuk ke dalam lemari pendingin makanan. Karena merasa hidupnya sudah banyak dipersalahkan.

Beruntung Ludo mempunyai Nenek yang tahu banyak tentang makna kasih sayang, sedikit tahu tentang identitas jender, sehingga dari awal, nenek Ludo selalu mendukungnya selama Ludo merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri seutuhnya.

Merasa bahwa lingkungan sekitarnya tidak mendukung tumbuh berkembangnya pertumbuhan anak-anaknya, keluarga Fabre sepakat untuk pindah rumah dan mencari habitat baru yang mungkin bisa merubah takdir keluarga Fabre.

60754500Selalu ada kejutan di setiap akhir cerita film. Dan film yang bagus, selalu memberi pencerahan kepada setiap penontonnya. Walau tak jarang juga, ada yang masih teguh pendirian untuk setia pada kontra. Masih saja menyalahkan fakta yang sudah jelas-jelas nyata didepan mata.

Film ini sungguh sangat menggugah nurani gue. Salut untuk Penulis sekaligus sang sutradaranya Alain Berliner, yang menyuguhkan kisah berunut yang membeberkan “pedih”nya bukti kepolosan seorang anak-anak terhadap hal yang tanpa disadarinya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. campur tangan orang dewasa, yang “tujuannya” mengarahkan, malah semakin membuat bingung sang anak. Ya karena sang “dewasa” merasa bahwa arahannya adalah yang paling benar. SANGAT TIDAK DIBOLEHKAN seorang anak cowok berkelakuan seperti anak cewek. kalimat itulah yang sudah terpatri di otak masing-masing PENDEWASA. Sehingga dikhawatirkan, kalau arahan dari sang dewasa tidak diikuti, maka sang anak akan menjadi GAK NORMAL atau tidak seperti orang dewasa di sekitarnya yang merasa NORMAL.

Konsep normal dan gak normal sebenarnya adalah konsep usang yang sudah tidak terpakai lagi sejak dikeluarkannya keputusan WHO, 17 Mei 1990) yang menyatakan bahwa Homoseksualitas adalah bukan sebuah penyakit, dan bukan bagian dari gangguan jiwa. Dan bahkan Depkes RI juga mencantumkannya ke dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993). Sehingga tidak ada lagi alasan-alasan yang bertentangan dengan hal tersebut.

Yang gue ketahui, komponen Seksualitas dalam kehidupan setiap manusia itu meliputi: Seks biologis, Orientasi seksual, Identitas Jender bahkan Ekspresi atas Jender.

Seks biologis atau biasa disebut dengan JENIS KELAMIN (padahal menurut gue gak semudah itu mengartikannya, harusnya ada kata-kata yang lebih tepat, sejauh ini gue lebih nyaman dengan istilah english-nya dari pada terjemahannya), ada tiga jenis. Female (yang kategorinya meliputi keberadaan Vagina, Ovarium dan Kromosom XX), Male (yang kategorinya meliputi kepemilikan Penis, Testikel dan Kromosom XY) dan INTERSEKS (yang merupakan perpaduan dari kedua jenis seks tersebut). Dan untuk di film ini, Ludovic termasuk dalam seks Male (Kalau dia terbukti memiliki beberapa persyaratannya), namun gue yakin, di usia Ludovic yang sekarang, dia masih belum menyadari kegunaan seperangkat alat kelaminnya. Bisa jadi ketika tahu bahwa alat jenital kelamin miliknya adalah bukan Vagina, bisa jadi dia punya keinginan untuk merubahnya. Jadilah Ludovic seorang Transeksual. Sebuah kondisi dimana seseorang yang tidak nyaman dengan alat kelaminnya yang dimilikinya sekarang dan berusaha untuk menyesuaikannya dengan apa yang dia harapkan, agar bisa menjadi manusia yang lebih dari indah.

Identitas Jender, seperti halnya kita, kita siapa? Laki-laki atau perempuan?atau tengah-tengahnya? Orang Australia menyebutnya Jender X, adalagi sebutan Jender ke 3. Terserah apa sebutannya, perlu diketahui, bahwa sejatinya, diantara Laki-laki dan Perempuan ada jender yang membuat beberapa orang yang tidak merasa Laki-laki dan tidak merasa Perempuan menjadi nyaman. Ketika ada seseorang kebingungan ketika ditanya, kamu Laki-laki ato Perempuan? Tidak bisa disalahkan kalau dia menjawab, “I’m Queer”. Bahkan ada yang dinamakan lintas jender, jadi ada proses transformasi dari jender Laki-laki ke perempuan atau sebaliknya. Hal itu karena disebabkan adanya ketidak sesuaian jender yang diharapkan. Sehingga untuk menyesuaikan jender tersebut, muncullah istilah Transjender. Di Indonesia, dikenal dengan sebutan Waria, untuk Laki-laki yang merubah penampilannya menjadi layaknya Perempuan. Dan begitu pula sebaliknya.

imagesUntuk Orientasi Seksual, Kita sudah dikenalkan dengan Istilah Heteroseksual, Biseksual dan Homoseksual. Definisi Orientasi Seksual sendiri adalah sebuah rasa ketertarikan individual secara perasaan dan emosional (yang tidak bisa dipaksakan apalagi DITULARKAN) terhadap individu yang lainnya. Bisa jadi dengan Individu yang berlawanan jenis kelaminnya (Heteroseksual) atau dengan individu yang berjenis kelamin sama (Homoseksual) atau bahkan dengan dua jenis kelamin sekaligus (Biseksual). Dan dari pengkategorian inilah, muncul lah istilah Gay dan Lesbian untuk menggolongkan definisi Homoseksual. Dan salah besar menggunakan istilah Normal (Straight) untuk definisi Heteroseksual. Istilah Normal atau lurus hanya dipakai oleh orang-orang yang tidak mensyukuri ciptaan Tuhannya.

Terkait istilah Feminin, Maskulin dan juga Androgyn yang merupakan bagian dari Ekspresi jender masing-masing orang. Kalau seseorang sudah merasa dirinya adalah Laki-laki,walau secara jenis kelamin adalah Female, tidak ada salahnya dia berpenampilan maskulin. Begitu juga dengan sebaliknya. Ini semua kembali lagi pada titik kenyamanan.

Seksualitas itu cair. Sehingga jargon-jargon sesat yang sering kali dipakai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak diskriminasi suatu saat akan menjadi sejarah.

1760Seksualitas itu seindah Ludovic yang ingin terlihat cantik. Kegelisahan dan kegalauan itu muncul karena adanya rasa yang tidak bisa menerima keadaan seseorang. Baik secara jender maupun orientasi seksualnya.

Ludovic memang masih anak-anak. orang-orang sekitar secara langsung maupun tidak langsung telah mem-Bully-nya!!!

Jangan lupa, dari anak-anak akan selalu menyimpan memori akan sebuah kenangan. Bagaimana dia diperlakukan, bagaimana dia dihargai. Semakin anak-anak mendapatkan diskriminasi, semakin besar kemungkinan di masa depannya akan menjadikan ia seorang penebar teror diskriminasi. Bisa menjadi Homopbhobia, bahkan bisa juga menjadi Heterophobia.

Mulai sekarang Stop Bullying. Anak-anak tetaplah anak-anak. Tindakan mendiskriminasikan karena hanya terlihat berbeda bukan lah sikap yang baik.

karena gue sendiri dari pengalaman yang pernah gue alami, Bully akan berdampak pada dua hal, kalo korbannya bisa kuat bertahan, akan tumbuh besar menjadi sosok yang penuh “amarah” dan dendam, kalo korbannya tidak kuat untuk bertahan, biasanya selalu dekat dengan suicidal dan akhir kehidupan. Sangat menakutkan bukan??? Tukang Bully tak ubahnya Tukang Jagal. Sehingga Tukang Bully lah yang sebenarnya KORBAN!!!

Dan menurut kalian, gue berada di posisi mana?  :)

Film ini gue rekomendasikan untuk orang-orang yang belum pernah merasakan bagaimana menjadi orang yang “beda”. 3.5 dari 5 bintang.

 

Foto diambil dari berbagai sumber. Artikel tambahan diambil dari OutZine! Terbitan Arus Pelangi Edisi VI/ Desember 2012

~ by Imamie on June 13, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: