Cerpen ::: SATE

Usia lima belas, aku sudah dikenalkan dengan ketuban. Umur dua belas hari, aku nyaris dijual-belikan. Usia empat belas, dikawinkan dengan aparat kelurahan jadi istri ke enam. Ada satu bulan, langsung menjadi janda kembang. Suamiku mati jantungan. Tidak ada warisan. Para janda tawuran. Aku kembali pulang. Kula cek sennengnga, otang ebuh sampon lonas[1].

Usia lima belas, aku dipaksa kenalan dengan sperma Idrus. Tetangga sebelah yang mengaku masih ada kerabatan. Bilangnya demi kebaikan, aku digerayang habis-habisan. Aku menangis, dia beringas. Aku menepis, dia membuas. Aku berontak, dia kehilangan otak. Aku pasrah, dia leluasa menggoyang raga. Aku mati, “tidak,” Sengkok tak olle mateh[2].

Usia sembilan, darah membasahi rok seragam kerja di pasar. Sakit rasanya. Aku tanyakan Ibuk, katanya aku sudah pantas mengumpulkan harta. Dan siap nikah. Pilih mana. Aku memilih kerja. Adikku laki-laki semua. Kecil-kecil ada tiga. Akan diberi makan apa mereka, kalau aku dibawa serta calon suamiku pergi dari rumah.Ibuk pasti jadi gila. Hanya aku, anaknya yang bisa dijual. Kakak-kakakku sudah tidak ada riwayatnya. Semuanya sudah menghilang entah kemana.

Ibuk tidak mau lagi mengulang kebodohan yang sama. Walau tetap saja dia sempat mengawinkan aku dengan Pak Lurah. Kali ini bukan kebodohan, hanya sedikit keterpaksaan.

Demmi lek-alek en kabbih![3] rayu Ibuk kepadaku.

Tetap saja itu tidak bertahan lama. Hanya sebulan. Untung atau rugi, aku belum sempat ditiduri. Pak Lurah terlalu sibuk mengurusi istri-istri, yang kemudian mati berdiri lantaran jantungnya tidak kuat melihat tubuhku yang masih asli. Aku senang.

***

Mereka biasa memanggilku Nena. Tak pernah sepotong. Selalu utuh. Nena. Tak pernah Nen, tak juga Na. selalu Nena. Tidak ada alasan mengapa Ibuk memberi nama Nena. Hanya Nena. Tidak ada nama awal dan nama akhir. Cuma Nena. Sempat aku bertanya, kenapa hanya Nena, kenapa tidak seperti Aliyah, yang nama lengkapnya, Aliyah Putri Kalimasadah. Atau nama Rotun, yang lengkapnya Masrotun Hamidah. Kenapa aku hanya Nena.

Sopaja gampang[4],” jawab Ibuk singkat.

***

Dari usia tiga tahun, sudah ikut Ibuk mengambil air di sumur desa sebelah yang jauhnya 4 kilometer dari rumah, hanya dengan berjalan kaki. Ibuk selalu membungkus tubuhku dengan kain bertumpuk-tumpuk. Selain melindungi dari panasnya matahari, Ibuk selalu mengancam, “Sengak jak.sampek ebukkak totop cetakkah![5]

Aku heran. Sampai rambutku memanjang sepinggang, tak pernah aku mendapat jawaban. Cerewetnya aku pada akhirnya membuntu teka-teki Ibuk yang berkecambuk. Sebuah alasan yang terlalu sederhana. “Mon kolekna ba’na sampek gosong, bisa jubah arebban!”[6] Ibuk menahan kesal.

Setelah itu aku berhenti bertanya kepadanya. Malah aku berganti tanya kepada diriku sendiri, “Apa roa massa se bakal deteng?”[7]

***

Pamanku girang ketika melihat aku menangis kesakitan mengeluarkan janin dalam kandungan. Tak perlu ada anak setan yang harus hidup dan tumbuh dibesarkan. Paman membicarakan Idrus. Paman juga yang dulu hampir sepersekian menit membunuh Idrus. Polisi datang, bajingan itu diamankan. Paman berang. Sumpah serapahnya direkam saudaranya dan diinternetkan. Sempat menjadi tontonan berbulan-bulan.

Kalau ditanyakan kabar bagaimana aku saat itu. Aku “mati.” Serasa mati. Dan baru kali itu aku menyadari betapa rasanya mati itu tidak menyenangkan. Dadaku sakit. Keras sekali. Tidak ada yang bisa menyembuhkan. Tidak ada yang bisa menghilangkan. Aku terenyuh menyedihkan. Kosong. Aku bahkan lupa, saat itu aku sedang memikirkan apa. Ibuk hanya bisa histeris, sambil meracau dia berseloroh, “Dak remmah arebban tang anak daggi’an?”[8] Kosongku mendadak terisi. Aku merinding tentang sebuah masa depan.

***

Ternyata masa depan adalah satu-satunya nyawa dan harapan aku melanjutkan proses kehidupan. Aku harus melangkah ke depan. Walau saat itu ada banyak pertentangan. Hamil atau digugurkan. Aku membiarkan. Namun selama itu juga aku hanya bisa uring-uringan. Tidak gampang membesarkan benih kebencian di dalam lahir yang tak pernah sekalipun berhasrat memberi tumpangan jiwa baru. Bukan itu yang aku mau. Rahimku rahimku. Ada keakuanku yang sangat kuat di situ. Ibuk memelukku. Menenangkan. Mendamaikan. “Molae sateya, ba’na kodu nantoagi massa arebban![9]” bisik Ibuk penuh kasih.

Kami bukan orang kaya. Yang bisa dengan gampangnya mengeluarkan uang berjuta-juta untuk mengakhiri penderitaan demi sebuah harga diri. Kami hanya orang kurang beruntung yang tidak beruntung. Yang selalu belajar untuk tahu diri dalam mengartikan sebuah harga diri.

tumblr_m6a3sf1bk21qjqndqo1_500Ibuk tidak membawaku ke bidan abu-abu. Dia hanya memberikan sebuah makanan yang tidak asing bagiku. Sate. Hanya saja sate yang aku telan bukan dari daging sapi, kambing atau ayam. Aku mengunyah daging sate dari jenis hewan yang sangat menjijikkan. Ibuk bilang, sangat bagus untuk menggugurkan kandungan. Dia juga mengingatkan, “Ja’ sampe’ bada se tao.sate apah se e kakan!”[10]

Dua hari sekali aku mengkonsumsi. Imbas dari apa yang aku makan memang sedikit terbukti. Badan kadang merasa hangat kadang dirasa panas. “Paste hewan alata,”[11] aku mencoba mengira-ngira. Ibuk tahu, kalau hanya sekedar digoreng, pasti aku tidak bakal mau. Ibuk memang sangat tahu aku, Sate, itu kesukaanku.

Ibuk kerap tegang dengan Bu Kaji Halimah. Siraman rohani disana sini perihal kandungan yang aku emban selalu dipermasalahkan. Ada kalanya dosa itu milik orang-orang yang tidak mau mengindahkan ajakan untuk tetap di jalan yang lurus.

Saat Idrus berbuat bejat, aku disalahkan karena ada yang mengundang di bagian aurat. Saat terbukti di perutku ada isi, aku disalahkan karena hamil di luar ritual pernikahan. Dan saat berniat menggugurkan kandungan, aku semakin disalahkan karena melakukan praktek pembunuhan yang sangat tidak manusiawi. Semuanya salah. Kapan benar, aku tidak pernah minta. Yang jelas, aku semakin beringas menyantap sate ramuan Ibuk tercinta. Panas aku dibuatnya. Marah sejadi-jadinya. Kepada siapa? Sesuatu yang berada di dalam perutku? Ya siaya.[12]

***

Rahasia itu terbongkar. Prediksi daging kadal atau ular itu salah. Tokek. Bahan utama sate yang selama ini aku konsumsi. Aku sempat bergidik. Namun itu tidak lama. Sudah terlanjur niat dengan hasrat untuk menyudahi masa-masa kiamat. Bagiku. Kalau perlu, anak tikus yang masih berumur sehari aku telan hidup-hidup, kalau itu memang benar-benar bisa menyelesaikan masalah. Kata Ibuk, “Daddih reng binik tak.olle lemah, mon bisa kodu lebbih teggih dari sapa.bai.”[13]

“Tak osa ngedingagi ocakna reng laen,”[14] Ibuk menambahkan.

Aku diam. Dalam hati aku berusaha kuat. Seperti yang Ibuk barusan bilang. Lantas aku senang. Lahap aku mengunyah sate. Berharap agar semuanya bisa selesai.

***

Potongan-potongan masa lalu memang sering mampir menjadi kenangan selingan di kala merindu. Bagaimana kabarnya Ibuk, adik-adikku dan juga pamanku. Hampir setahun aku berpisah dengan mereka. Ibuk punya rencana. Terkait masa depan yang pernah kami berdua bicarakan.

Kini aku sudah berada di lain kota. Lain pulau lebih tepatnya. Jarak telah memisahkan kami. “Ka angguy kabeccek an sakabbi na[15],” Ibuk menenangkan.

Bibbik[16], Marlena, bukan dewi fortuna. Dia membawaku pergi dari derita, memindahkan pilu ke tanah harapan baru. Ibuk berharap sangat kepadanya. Sementara aku, hanya bisa mengaca. Apa aku bisa melewatinya?

Ka angguy arebban[17],” Ibuk kembali menegaskan.

Bada bannyak kasembadan e loar dissa. Ba’na kodu nyobak![18]” Marlena menimpali.

Enggih, kulah asadiya[19],” aku mengangguk.

Hanya dialog-dialog itu yang masih bisa aku ingat. Lainnya lupa. Terkikis oleh masalah baru.

***

Aku boleh berbahagia. Di tempatku yang baru aku bisa tertawa-terbahak. Berbagi cerita dengan Zula, Sri, Datul, Maryam dan Suroya. Teman-teman seperjuangan. Kami datang dari satu kecamatan yang sama namun beda kampung halaman. Kami seumuran dengan nasib yang sama. Sama-sama mencari peruntungan di negeri antah berantah. Susah senang kami jalani bersama. Itu hanya awalnya, selanjutnya, perang Bharatayudha.

***

Dibawah juragan yang sama, kami bekerja sebagai penjaja sate keliling. Para lelaki menjualnya dengan gerobak bersepeda, sementara kami para perempuan hanya dengan menaruh dagangan di atas kepala. Seperti umumnya perempuan Bali yang hendak pergi bersembahyang dengan sesajen bawaan di atas kepala. Dan sayangnya, kami semua sudah mahir melakukannya, tanpa bantuan tangan, sudah bisa seimbang. “Namuri na reng binik[20],” kata Maryam.

***

 Aku menjajakan sate menyusuri kampung demi kampung. “Tee satee!!!” teriakku lantang. Membangunkan orang-orang yang sedang asyik tidur siang. Menghirup aroma arang yang membakar daging ayam. Sengaja suara teriakan aku nyaringkan. Berisik pastinya!

Ibu-ibu muda dengan membawa piring plastik keluar dari balik pintu rumahnya. Masih memakai daster kembang-kembang sambil menggendong anaknya yang sedang demam. Dipesannya sate ayam. Tidak pedas, kecapnya yang banyak. Selembar uang lima ribuan aku terima dari tangannya yang masih ada sisa bau minyak kayu putih.

“Alhamdulillah, mbak ayu sing tuku…!”

“Iyo, awak panas iki lho… cerewet ae ket isuk!”

Dan obrolan basa basi pun mengiringi kibasan kipas sate bututku. Saking semangatnya, beberapa kali percikan bara arang lompat kecil-kecil dari tatakannya. Si anak senang melihatnya. Tak jauh beda dengan kembang api rupanya.

***

Setoran hari ini tidak banyak. Sama seperti biasanya. Bagiku, tidak ada istilah kejar setoran. Setiap hari selalu sama. Rutinitas yang kulakukan tidak pernah berubah. Hanya usiaku yang sedikit demi sedikit bertambah. Sudah bukan lagi belasan. Dadaku juga sudah bukan lagi sumpelan. Banyak yang iri dengan apa yang aku miliki. Banyak yang bilang aku terlalu sempurna untuk menjadi seorang penjual sate keliling.

***

Slamet, anak sang juragan sering mampir ke kontrakan. Membawakan makanan kadang camilan yang tidak sedikit. Harapannya, aku menjadi maunya. Mau untuk dicumbu, mau untuk dimadu.

Tapi sayangnya aku tidak sebodoh itu. Aku benci dengan makanan yang sering kali dia bawakan. Martabak telor spesial. Selalu itu. Terakhir kali dari yang ke sekian kali, Aku melempar martabak ke teman-teman, mendadak besok-besoknya mereka langsung membicarakan Slamet. Slamet yang tampan, slamet yang baik hati, slamet yang ini dan slamet yang itu. Jampi-jampi itu untungnya tidak berlaku kepadaku. Aku selamat!

***

Di hari-hari berikutnya, Slamet muram. Kesalnya sangat begitu kelihatan. Matanya penuh ancaman. Dia tahu betul, Oleh-oleh makanannya tak pernah aku telan. Karena aku sampai hari itu tidak jatuh dalam pelukan. Slamet wanti-wanti, aku disuruh hati-hati.

Aku masih simpan SMS-nya, mungkin suatu saat bisa berguna.

***

Sudah tidak ada lagi masa depan? Salah besar! Masa depan sebentar lagi akan kujelang. Mungkin sekarang aku sedang berada di balik jeruji tahanan. Terkesan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan salah?! Aku sudah berencana dengan apa yang sudah aku rencanakan.

Mengakhiri urusan yang belum selesai, antara aku dengan Slamet. 3 tahun adalah masa penantian yang cukup lama untuk mengendapkan emosi jiwa yang pernah terluka. Di dalam penjara aku merajut dendam. Perlahan demi perlahan aku mencoba kuat. Melupakan kejadian yang sempat menyeretku pada tuntutan hukuman 5 tahun penjara. Susah. Ujung-ujungnya, aku semakin gila. Kalau tahu dulu jadinya seperti ini, lebih baik kubinasakan saja itu anak manusia. Tidak perlu aku menghujam penisnya dengan 5 batang bekas tusuk sate sisa makan malam. Sia-sia.

***

Banyak mata manusia yang sepaham dengan Slamet. Aku dibilang sundal. Diberitakan bejat. Dikabarkan Tak bermoral. Aku menggagahi Slamet. Menggerayangi Slamet. Merusak iman Slamet. Aku Laknat.

Tidak ada sanggahan, “Mao dak remmah pole?[21]” Yang jelas, aku hanya melawan. Titik. Tidak diam. Aku memang menggagahi Slamet, Menggerayanginya. Tapi, aku menggunakan kekuatanku untuk meluluhkan Slamet. Melumpuhkannya. Itu satu-satunya cara yang terlintas dibenakku. Polana Slamet rowa setan![22]

Terhitung dari sekarang, dua hari lagi aku bebas. Slamet tidak bakal selamat. Ini semua bukan balas dendam. Aku hanya membenarkan tentang apa yang dulu tidak pernah benar bagiku. Slamet aku wanti-wanti. Sengkok nyoro sopaja te ngate![23]

***

Jakarta, 24 April – 24 Juni 2013


[1] Dan Aku senang. Hutang Ibu sudah lunas

[2] Aku tidak boleh mati

[3] Demi adik-adikmu semua

[4] Supaya mudah

[5] Awas kalau penutup kepala itu kamu lepas!

[6] Kalau kulit kamu gosong, masa depan kamu bakal gosong juga

[7] Apa itu masa depan?

[8] Bagaimana masa depan anakku ini nantinya?

[9] Mulai sekarang, kamu harus bisa menentukan masa depanmu!

[10] Jangan sampai ada yang tahu, sate apa yang kamu makan!

[11] Pasti hewan melata

[12] Sia-sia

[13] Jadi perempuan itu tidak boleh lemah, kalau perlu harus bisa lebih tinggi dari siapapun

[14] Tidak perlu mendengarkan omongan orang!

[15] Demi kebaikan kita bersama

[16] Bibi, adik ibu

[17] Demi masa depan

[18] Ada banyak kesempatan di luar sana, kamu harus mencobanya!

[19] Baiklah, Aku bersedia

[20] Naluri perempuan

[21] Mau bagaimana lagi

[22] Karena Slamet itu setan!

[23] Aku suruh dia untuk hati-hati

 

Terima kasih untuk Om Imam Sucipto atas bantuan translate bahasa Madura , Sampang version.🙂

Ilustrasi gambar http://www.tumblr.com/tagged/sate

~ by Imamie on June 26, 2013.

4 Responses to “Cerpen ::: SATE”

  1. Wow… tidak ingat kapan terakhir kali membaca bisa terasa se”mencekam” ini. Benar2 cerpen🙂

  2. Selamat malam, ade, kakak atau om ya??? hehehe. Aku suka cerita yang seperti ini. Sebuah cerita yang kebanyakan orang bilang jorok (tabu) tetapi diramu dengan sesuatu yang indah. Dalam setiap kata mengandung makna. Walaupun cerita ini termasuk cerita yang nyentil, tetapi cerita ini sungguh berkelas. Bahkan bisa aku bilang, gaya penuturanya setara dengan gaya penuturan Djenar Maesa Ayu ( salah satu penulis pavoriteku) dalam karya-karyanya. Btw kapan bikin cerita baru???

    • Selamat malam kang… Panggil imam aja… Terima kasih… Saya juga penggemar djenar… Dan memang dulu terinspirasi oleh dia… Belum tau nih… Masih mandeg bikin film… Semoga bisa nulis lagi…. Terima kasih sudah mengingatkan saya… Kalau saya seharusnya menulis lagi… Terima kasih banyak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: