Film ::: Facing Mirrors (Aynehaye Rooberoo) (2011)


04
Menjadi diri sendiri. Siapa sih di dunia ini yang gak kepingin menjadi diri sendiri. semua orang pasti ingin menjadi dirinya sendiri. Gak ada pemaksaan, gak ada pengekangan dan gak ada cuci otak. Hak untuk mendapatkan kemerdekaan atas asasi sebagai manusia seutuhnya. Sejatinya muncul dari diri sendiri.

Bukan nyinyir, tapi agak menyindir, Di Indonesia, penegakan HAM (Hak Asasi Manusia) masih gak konsisten. Bisa dilihat sendiri, kejadian apa-apa aja yang bikin bulu kudung kita berdiri (bagi yang melek HAM sih bakal kesentil, tapi yang masih meraba-raba kayaknya kudu belajar). Disini gue gak mau membahas pernikahan sejenis (tapi bukan berarti gue gak respek), secara sekarang lagi musim orang-orang membicarakan hal itu.

Penting gak penting, Gue lebih interest dengan penerimaan diri, persamaan HAK dan kesetaraan jender ketimbang ngurusin legalitas pernikahan sejenis. Bagi gue, pendiskriminasian atas LGBT (Lesbian Gay Biseks Transjender/Seksual) aja masih nge-hits, gimana dengan pernikahan sejenis?! Jadi come on, fokus dulu ke hal-hal yang kecil. SAME SEX MARRIAGE untuk sementara dihidden dulu yaaa…. too hard too discuss… bukan Ievel gue…xixixixixii…

Perjuangan seseorang yang ingin medapatkan hak-nya sebagai manusia seutuhnya bisa terlihat gamblang di sebuah film Karya Negar Azarbayjani ini. Judulnya Facing Mirrors. Tapi entahlah, korelasi antara judul film dengan ceritanya, gue masih belum nemu, btw itu gak penting, yang jelas gue suka banget film ini…

03Berkisah tentang seorang transjender FTM (Female to Male) yang bernama Eddie/Adineh Tolooyi (Shayesteh Irani) yang berhasrat untuk bersegera mungkin melakukan penyesuaian kelamin (operasi) ke Negara Jerman. Perlu diketahui, di negara asal Eddie, Iran, yang notabene masih menjunjung tinggi kultur budaya dan agama sehingga dipastikan pihak keluarga pasti bakal menentangnya. Apalagi orang tua.

Di kisah yang lain, Rana (Qazal Shakeri) seorang Ibu muda beranak satu yang terpaksa menjadi supir taksi menggantikan suaminya yang dipenjara. Hal itu dilakukannya untuk bisa tetap menghidupi keluarganya. Beruntung, peraturan pemerintah mengizinkan seorang perempuan untuk berprofesi sebagai sopir taksi. Untuk alasan keamanan, hanya melayani penumpang perempuan.

10Hingga pada suatu kejadian, Eddie dan Rana dipertemukan. Eddie terlibat dalam masalah yang cukup komplik dengan ayahnya, Mr. Tolooyi (Homayoun Ershadi). Dimana sang ayah sudah tidak bisa mentolerir lagi sikap Eddie yang telah  melakukan “pemberontakan” berkali-kali.

Dan akhirnya, Eddie merencanakan pelarian sambil membawa “bekal” untuk kebutuhan selama diperjalanannya. di perjalanannya, Eddie “diselamatkan” oleh Rana. saat dia terlibat masalah dengan seseorang dijalan. Memang, sikap Eddie yang urakan sering kali menimbulkan masalah.

Ternyata, dari awal, Rana sudah mengetahui, bahwa Eddie adalah seorang perempuan yang kebetulan berpenampilan maskulin. Merasa diuntungkan, Eddie memanfaatkan Rana untuk mengantarkannya ke luar kota. Tentunya dengan iming-iming uang yang lumayan banyak. Awalnya Rana kebingungan dan “menolak”, namun karena keadaan ekonominya yang menyedihkan, akhirnya Rana menyepakati perjanjian itu.

12Segepok uang kertas diterima Rana dan dia akhirnya melanjutkan perjalanannya. Padahal, Rana sendiri masih pikir-pikir mengingat dia adalah perempuan, yang tidak bisa bekerja ke lewat jam malam. Namun apa mau dikata, bila uang sudah berbicara.

Selama dalam perjalanan, timbul interaksi diantara keduanya. Hingga sampai pada waktunya, Rana mengetahui niat Eddie yang sesungguhnya. Keterkejutan Rana membuat dia shock sehingga mengalami kecelakaan.

08Dan cerita bergulir dengan intents. Sungguh sebuah drama yang cukup menguras air mata. Dua insan dengan latar belakang yang berbeda sama-sama berjuang untuk mencari arti hidup yang sesungguhnya. Eddie yang terlahir dari lingkungan keluarga yang berada dihadapkan pada kondisi, dimana dirinya merasa yakin terlahir laki-laki, namun sang ayah menolak keras sikap anak bungsunya tersebut.

Sementara Rana sendiri, yang hidup tidak lebih dari cukup, hanya bisa mampu bertahan menghidupi keluarganya dengan menggantikan posisi suaminya sebagai Sopir taksi.

Film yang sama sekali tidak menampilkan simbol seks(sensualitas tubuh) ini berhasil mengangkat isu Transjender (FTM) ke permukaan. Dengan drama yang memang khas film-film Iran, menjadikan film ini berjalan lambat namun konsisten dalam segi penceritaan.

07Dialog-dialog yang muncul dari bibir Rana sangat-sangat menohok. Ketika “kebaikan” itu datang bukan dari keluarga kita sendiri, tetapi dari orang lain, sebut saja teman, terkadang ada rasa yang muncul dan menitahkan hasrat kita untuk sangat berterima kasih kepada orang/teman kita tersebut. Karena keberadaan dia-lah kita menjadi “ada”.

Dukungan memang kadang selalu datang dari orang-orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Karena memang dukungan itu muncul dari orang-orang yang mau mendengarkan curahan isi hati kita, tentang siapa kita, apa maunya kita. Sekalipun itu Ayah/Ibu/saudara/teman/dan siapapun, kalo tidak mau mendengarkan, ya percuma aja.

Satu pelajaran yang bisa diambil dari sikap Rana di film ini adalah, berteman dengan seorang LGBT tidak serta merta akan menjadikanmu seorang LGBT juga. Mungkin secara perilaku/ekspresi jender bisa terbawa, tetapi secara prilaku seksual, hal itu sangat disangsikan. Karena LGBT bukan penyakit.

Awalnya Rana memang termasuk perempuan yang tidak begitu mengerti apa itu jender dan seksualitas. Ada salah satu scene dimana Rana ketakutan setelah mengetahui bahwa Eddie adalah Laki-laki. Ketakutan akan “dilecehkan”. Namun Eddie hanya menganggapinya dengan santai, selama belum menjalankan operasi penyesuaian kelamin, hal yang dibayangkan oleh Rana tidak bakal terjadi. Dan itu yang membuat Rana sedikit bisa bernafas lega.

Nima Shahrokh Shahi as Emad

Nima Shahrokh Shahi as Emad

Di film ini juga digambarkan betapa kediktatoran seorang Ayah yang tidak tergoyahkan sedikitpun kearogansiannya dalam memperlakukan Eddie. Bahkan sang Kakak Eddie pun, Emad (Nima Shahrokh Shahi) hatinya luluh saat mendengar “curahan hati” Rana atas penilaiannya terhadap Eddie. Walau sebelumnya pun Emad dari dulu memang sayang kepada adiknya.

Menonton film ini, seperti menjalani sebuah terapi kejiwaan. Betapa hal-hal yang berkaitan dengan pertentangan itu selalu bisa datang dari mana aja.

01Kalo sudah membicarakan masalah “aib” biasanya, orang tua yang lebih dahulu unjuk gigi dan merasa paling benar dalam menentukan “kebahagiaan” anak/anak-anaknya. Alhasil, sang buah hati harus menurut demi tujuan “kebahagiaan” itu. Intinya, orang yang tidak peka akan cinta dan kasih sayang jadinya ya kayak ayahnya Eddie, “Masalahnya, gue sebel ajah saat ngeliat ayah Eddie, udah tubang (tua bangka), sukanya maen kekerasan!!!”

Untuk akting, gak usah diragukan lagi. Benar-benar jempolan. Terlebih Shayesteh Irani, yang bener-bener bisa membawakan peran dengan baik seorang transjender FTM yang berkeinginan menjadi transseksual FTM.

Lebih lagi Qazal Shakeri, aktingnya sungguh meyakinkan. Sebagai Ibu yang dirundung masalah bertubi-tubi. Tegar sosoknya namun terkadang masih nampak sebagai sosok yang rapuh. Justru disitulah letak kekuatan performa Qazal. Tidak melupakan juga para pemeran pendukung yang lainnya juga.

Terakhir, gue hanya berpesan satu hal. Sediakan tisu.

09

4.1 / 5 Bintang

Screening film yang digeber oleh Q!Munity (Erasmus Huis – 30 Juni 2013/6pm)

Foto dari berbagai sumber internet.

~ by Imamie on July 3, 2013.

2 Responses to “Film ::: Facing Mirrors (Aynehaye Rooberoo) (2011)”

  1. kalau dibuat versi indonesia pasti banyak yang protes mam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: