Mudik Vs. Kapan Kawin

Sudah menginjak musim pulkam alias pulang kampung a.k.a Mudik. Beruntung tahun ini, guebisa untuk menyempatkan mudik. Tak terkecuali teman-teman lainnya yang masih mempunyai kampung halaman dan sanak handai taulan.

kartun-mudikTidak ada hukum yang mewajibkan seseorang untuk pulang kampung. Hanya saja ritual ini muncul ketika berbarengan dengan perayaan Lebaran umat Islam yang diyakini sebagai ajang untuk temu kangen dengan keluarga di kampung sekaligus “menghapus kesalahan” . mengingat mayoritas penduduk Indonesia yang muslim masih “semangat” dengan selebrasi tahunan yang tanggal pelaksanaannya terkadang selalu membuat “gerah” umat-umat yang bersangkutan.  Walau begitu, tak jadi hambatan untuk mudik.

Seolah-olah mudik menjadi sesuatu yang wajib dan sangat diharuskan. Tengok saja toko pegadaian. Minggu-minggu menjelang hari H (baca: lebaran), pasti akan ramai dipenuhi dengan orang-orang yang rela menggadaikan barang berharganya untuk hanya sekedar bisa mudik.

Mulai dari perhiasan emasnya, hingga STNK motor dan atau apapun yang masih punya nilai dan layak digadaikan. Semua bisa saja terjadi demi yang namanya mudik ini.

Apapun dilakukan atas nama bisa mudik. Seakan-akan bila tidak mudik, nama baiknya menjadi taruhan. Well, dari pengamatan saya sendiri beberapa hari terakhir, sedikit mengumpulkan informasi dari teman-teman yang mudik. Tentang hal apa yang menjadi alasan untuk mudik dan kenapa mereka mau melakukannya.

Sebagian besar mereka mudik dengan alasan utama ingin kumpul bareng keluarga merayakan lebaran. Kesempatan setahun sekali. Kapan lagi bisa pulang kampung kalo bukan pas momen lebaran. Punya waktu buat kumpul keluarga ya pas lebaran ini.

Berbagai alasan atas nama keluarga menjadi alasan utama yang dijadikan penyemangat mereka untuk bisa mudik. Namun uniknya, dan bisa dibilang tragis, terkadang ritual mudik menjadi momok mengerikan bagi mereka-mereka pejuang tangguh yang masih bersertifikat SINGLE alias LAJANG.

LOVE KAWIN87ENEBagi mereka yang sudah berkeluarga, mudik memang bisa jadi sebuah keharusan. Karena bagaimanapun juga ada bagian dari hidup mereka yang selayaknya harus ditemui. Untuk melepas kangen dan rasa rindu. Namun hal itu seperti tidak berlaku bagi seorang lajang.

Keharusan mudik tak lain dan tak bukan bagi seorang lajang adalah agar mereka bisa mengkoleksi pertanyaan KAPAN KAWIN?

Dua kata diatas adalah perpaduan kalimat yang singkat tapi menyakitkan. Bagi sebagian lajang yang terpaksa mudik terutama.

 

1. Lajang urban brodong (muda)

Untuk kategori lajang ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mau mudik mau gak mudik tidak jadi soal. Karena dua pilihan tadi tidak terlalu berpengaruh pada kredibililitas sang lajang. Usia yang masih di bawah 25 tahun kebanyakan masih leluasa untuk membuat alasan-alasan renyah yang bisa mendamaikan penanya “kapan kawin”. Karena umumnya mereka yang mendapatkan pertanyaan itu bisa dipastikan jawabannya adalah, “belum mapan”, “ingin sukses dulu”, “masih belum pede” dan lain-lain. Dan tidak bisa dipungkiri, jawaban-jawaban diatas memang terdengar seperti membanggakan, tapi konon itu bisa menjadi bumerang. Walau memang berdampak positif.

Dan akhirnya sang penanya bersabar untuk menunggu sang lajang mencapai tangga MAPAN. Kapankah itu? Tentu saja Lebaran tahun depan. Gubrak! So bersiap-siaplah dan bekerja keras demi merealisasikan kemapanan itu. Bagi sang penanya yang kepo banget, sukses itu bisa diraih dalam semalam. Jadi setahun saja sudah cukup untuk bisa mapan.

Jadi untuk mudik tahun depan, tak ayal dibikin list alasan-alasan darurat bila sewaktu-waktu para lajang belum pede untuk bilang sudah mapan.

 

2. Lajang urban bangkotan (tua)

Celakalah untuk lajang yang masuk dalam kategori ini. Dan yang lebih celaka lagi bagi mereka yang sudah mapan. Bahkan sampai sudah punya rumah segala di tanah rantaunya. Mudik menjadi sebuah momok mengerikan. Tidak mudik pasti bakal dicap tidak berbakti sama orang tua, lupa daratan, TAKUT DITANYAI KAPAN KAWIN, ada pula yang TAKUT DIJODOHKAN sama tetangga/ teman masa kecil, pokoknya alasan-alasan yang membuat sulit untuk bernapas.

Sementara kalau mudik ya yang pasti bakal dan pasti banget akan mengalami ketakutan-ketakutan diatas. Padahal ketika para lajang terlanjur cinta dengan karir, jodoh/asmara itu menjadi nomor yang kesekian. (kadang saya sendiri gak yakin dengan pendapat itu, jodoh tetap nomor satu, hanya ketidak beruntungan jodoh yang selalu gak berjodoh dengan dirinya).

Sehingga tidak ada alasan khusus yang bisa menguatkan alibinya mengapa tidak kawin-kawin. Ada sebab dan musabab kenapa hal itu menjadi pilihan hidup (atau terpaksa?).

Pertama, bisa jadi ya karena memang tidak berniat mencari pasangan hidup. Sehingga tidak merasa perlu untuk berpasangan. Kemudian ada lagi faktor, sudah bisa mandiri. Dan merasa bahwa tanpa pasangan pun bisa survive bahkan bisa menghidupi keluarganya d kampung. Yang ketiga, ada faktor trauma. Ketika seseorang sudah memutuskan untuk tidak berhubungan karena masih luka akibat memori masa lalu, apalagi hal itu terjadi berulang-ulang, sehingga akibatnya membuat “pagar kebencian” bahwa tanpa berpasangan pun, hidup pun bisa berjalan.

Sehingga banyak sekali lajang di usia ini yang menganggap bahwa berpasangan adalah pemodelan hidup yang tidak jauh artinya sama menyiksa diri sendiri.

 

3. Lajang urban LGBT

Untuk kategori ini, memang yang sangat kompleks. Karena lajang yang ini eksistensinya masih harus disamarkan (bagi yang belum coming out)

Urban Lesbian, Gay, Biseks dan Transjender/Transseksual (LGBT) yang statusnya kebanyakan statusnya masih dirahasiakan ini adalah yang paling tragis diantara dua kategori diatas yang menimpa lajang-lajang heteroseksual. Mungkin para lajang di point satu dan dua, ada “titik aman” dimana nanti pasti akan muncul moment “suatu ketika” mereka bakal kawin. Walau itu masih statusnya entah kapan. Tetapi tetap saja hal itu tidak bisa disamakan dengan ketika—contohnya gay yang mengucapkan itu. Terlebih gay yang sudah berdamai dengan dirinya. Destinasi hidup yang hanya bakal kawin “hanya” dengan pasangan sejenisnya menjadi satu-satunya alasan kenapa dia tidak mau mengawini perempuan. Karena bagi dia sudah sangat jelas, orientasi seksual-nya memang disetting untuk sesama jenis.

Akan terasa seperti membohongi hati nurani perempuan, ketika dia berniat menikahi perempuan. Walau ada pula yang masih menggunakan “rute” itu demi untuk membahagiakan keluarga, terutama orang tua. Membahagiakan orang tua dengan jalan yang tidak membahagiakan (baca: membohongi) istrinya. Terkadang ada pembelaan kasus, ketika perempuan sudah mengetahui kondisi orientasi seksual dan dia mau menerima keadaan suaminya. Dengan alasan yang sama, yaitu membahagiakan orang tua, sekaligus “siapa tau” suaminya bakal “sembuh” dengan pikat pesona perempuannya.

Yang benar saja bukan? Yang ada bukan menyembuhkan, malah si istri stress dan menjurus kearah yang tidak jelas. Entahlah. Kalau saya yang berada di posisi perempuan itu, saya lebih baik “mundur” dan memilih pasangan yang memang diciptakan untuk menjadi pasangan saya. bukan pasangan yang dipaksakan menjadi pasangan saya.

Ada kalanya yang menjadi masalah, ketika lajang tersebut sudah berdamai dengan dirinya, namun orang-orang yang dikampung belum tentu. Dan memang kenyataannya sering seperti itu. Hal ini lah yang menjadi momok mengerikan bagi para lajang untuk jengah pulang kampung.

Walau terkadang juga, ada sebagian lajang yang mempunyai keluarga dan tetangga kampung yang “tidak peduli” dengan orientasi dan jender. Berbahagialah dia.

Lajang LGBT dengan status brondong mungkin masih bisa terselamatkan bila ingin menggunakan alibi “belum mapan” sebagai tangkisan pertanyaan kapan kawin. Namun apa kabarnya lajang LGBT yang sudah TUBANG (tua bangka). Dan belum ada kondisi coming out yang nyata di keluarganya. Mudik baginya bisa dipastikan seperti kegiatan yang menyiksa diri. Yang sudah seharusnya punya anak 4 kenapa sampai sekarang belum kawin-kawin.

Padahal seharusnya tidak perlu ada keharusan-keharusan yang membuat seseorang itu tidak nyaman. Apalagi hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Konstruksi masyarakat lah yang membuat seseorang lajang point 1-3 akhirnya menjadikan perayaan Lebaran tak ubahnya #Modus Siksa Neraka #kode

Kawin-tidak kawin seharusnya bukan lagi milik umum. Itu menjadi pilihan personal. Mau kawin atau tidak, disini pribadi masing-masing yang punya hak untuk menentukan. Andil seorang keluarga dan kerabat adalah mendukung agar kebahagiaan itu tidak muncul dipaksakan, tapi muncul karena dari dukungan itu sendiri.

Mengenai pasal-pasal agama, Tuhan sudah mempunyai rencana sendiri. Hanya mereka-mereka yang memutuskan untuk kawin dan tidak kawin lah yang berurusan dengan Tuhannya. Kita hanya bisa mendoakan, semoga yang terbaik (yang dipilihnya) adalah yang terbaik bagi kita juga.

Mulai sekarang, stop katakan “KAPAN KAWIN?”

~ by Imamie on August 7, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: