Film ::: Insidious Chapter 2 (2013)

Jeda gue nonton Film arahan James Wan bisa dibilang gak jauh-jauh amat. Terakhir gue nonton The Conjuring (2013) menjelang lebaran kemaren dan semalam gue nonton Insidious: Chapter 2. Well, gue pikir coraknya bakal sama, ternyata walopun ada “sedikit” kesamaan, tetapi pada intinya sangat beda jauh. Jadi akhirnya gue bisa bernapas lega. Semakin gue cinta dengan sutradara keturunan Malaysia ini.

Chapter 2. Otomatis ada Chapter pertama. Dan kebetulan dan memang kesengajaan, gue udah ngikutin Insidious dari yang pertama. Awal dari munculnya teror hantu “perempuan” berkerudung hitam. dari segi penceritaan, gue pikir awalnya ini film sama dengan film-film horor yang lain. Ternyata beda. menggunakan konsep perjalanan “astral” yang mampu menggiring gue untuk bisa berpikir logis dan membenarkan apa yang ada dalam cerita di film tersebut. Pengalaman melakukan perjalanan “astral” terkadang sering gue alami. Walo masih dalam tahap “uncontrol”. Gue masih belum mampu dengan kesengajaan untuk melakukan “perjalanan” tersebut. Biasanya hanya faktor unpredictable.

07Kembali ke Insidious, Melanjutkan dari kisah pertama, Di mana keluarga Lambert akhirnya pindah dari rumah yang lama untuk melanjutkan babak kehidupan yang baru. Selang beberapa hari setelah kematian Elise Rainier (Liz Shaye), cenayang yang berusaha membantu keluarga Lambert untuk melakukan pertolongan kepada Dalton (Ty Simpkins), yang terjebak di dunia astral. Dari kemampuannya, dia menjembatani Josh Lambert (Patrick Wilson), untuk mencari Dalton. Dan di ending film, diperlihatkan Josh berhasil membawa Dalton kembali ke dimensi yang semestinya. Namun apa yang terjadi dengan Josh? disinilah benang merah itu akhirnya yang menjadi tautan antara Insidious pertama dengan yang kedua.

05Renai Lambert (Rose Byrne) masih terguncang. peristiwa demi peristiwa beruntun menimpanya. Apalagi kejadian yang dia alami juga berhubungan dengan kematian seseorang, yaitu Elise. Tak ayal melibatkan pihak kepolisian. Hanya saja, konflik cliche yang terjadi, polisi tak kan pernah percaya dengan alasan bahwa yang membunuh Elise adalah Spirit. Terlepas dari bukti-bukti polisi yang masih menuduhkan bahwa tersangka dari terbunuhnya Elise adalah Josh Lambert.

Dan benar saja, Teror hantu gentayangan pun berlanjut. Jadi sudah jelas, bahwa bukan faktor rumah yang berhantu, tetapi memang ada jiwa-jiwa tersesat yang “mengikuti” kemanapun keluarga Lambert berada.

Pergerakan-pergerakan benda-benda. Bunyi-bunyian hingga penampakan mulai menjadikan Renai  resah. Galau dan depresi. Hingga sampai dia mendapat gangguan fatalistik yang “ditampar” hantu perempuan berbaju putih.

08Melanjutkan dari seri yang pertama, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) masih setia mencari teka-teki dalam misteri yang mereka hadapi. Dengan kekonyolan ala-ala warkop, mereka pun akhirnya kembali membantu keluarga Lambert setelah Lorraine Lambert, Ibu dari Josh meminta bantuan, karena kasus yang menimpa keluarganya masih ada hubungan dengan Elise.

Bisa di bilang, standar horor buatan James Wan menyamai M. Night Shyamalan (dulu). Namun dia muncul dengan membawa genre horor yang lebih eksplisit. Lebih sering menggunakan faktor psikologi manusia sebagai sumber ketakutan terbesar (ngomong apaan sih gue, berasa kritikus handal).

Ketika credit title muncul, mengingatkan gue sama film-film horor jadul semacam OMEN. instrument biola dengan gesekan string nada tinggi yang memekakkan telinga. Iringan musik “serem” ini juga yang menghiasi sepanjang film Conjuring tempo lalu. Ya, kayaknya James Wan ingin membawa suasana “lawas” ke gaya film horrornya.

Well, ansamble cast yang lagi-lagi patut gue acungin jempol. Gak ada yang jelek. semuanya pas. Ekspresi Rose byrne di film ini sangat patut dikasihani. Menjadi Istri yang bimbang, galau dan depresi. Faktor keibuan yang sangat kental.

Lepas dari semua faktor yang ada di film ini.

Gue sangat suka dengan penambahan plot cerita yang menyuguhkan adanya, subtema bahwa Gak semua orang tua itu bener. suatu ketika diceritakan bahwa, asal muasal hantu yang menjadi sentral di film ini adalah berkisah tentang anak kecil yang bernama Parker Crane. Hadirnya dia di dunia dipermasalahkan oleh ibunya sendiri. Ternyata dari awal, sang ibu sangat ingin mempunyai anak perempuan. Sementara Parker Crane sendiri merasa bahwa dirinya adalah anak cowok. Ya seharusnya memang tidak bisa dipaksakan, bahwa jender seseorang itu harus berdasarkan rasa kenyamanan dan siapa yang menjalaninya.

Saking pinginnya punya anak cewek, Ibunya Parker memaksa Parker mengenakan rok dan menggunakan wig. dan segala hal yang sesuai dengan keinginannya. Termasuk mengganti nama Parker dengan nama yang dikehendaki Ibunya (gue lupa namanya). Dan tak ayal kekerasan fisik pun dilampiaskan Ibu Parker bila Parker menolaknya. Dan dari situlah Drama horor berkisah. Sehingga kaitan dendam kesumat yang menimpa masa lalunya dengan intimidasi dari seorang ibu menjadikan Parker Crane seorang psikopat yang sadis.

Well, dari sini gue bisa menarik garis lurus, bahwa memang benar saja, sesuatu hal yang sifatnya dipaksakan, hasil akhirnya pasti tidak akan pernah “sempurna”. Ketika Parker Crane dipaksa menjadi seorang cewek, dalam hatinya sangat menolak keras, namun demi keselamatan diri dia menuruti keinginan ibunya. Namun apa yang terjadi, bukannya menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan, malah yang terjadi adalah horor.

Sekarang coba bayangkan, semisal Parker Crane adalah terlahir dengan kondisi biologis seorang cewek. namun dalam segi orientasi seksualnya, dia merasa punya ketertarikan dengan “female”. Kondisinya pasti akan sama dengan apa yang dialami Parker Crane dalam film ini. Seksualitas apapun itu bentuknya tidak bisa dipaksakan. Karena yang bisa merasakan siapakah diri kita yang sebenarnya ini adalah kita sendiri. Bukan orang lain. Bukan dokter. Bukan profesor. Mereka hanya punya hak untuk mengukuhkan saja. Tell the truth bahwa identitas atas kelamin, jender, seksualitas adalah hak individu yang harus dihormati dan dihargai. Bukan diinjak-injak, karena mentang-mentang sebagai orang tua, sebagai orang yang merasa benar dan sebagai orang yang merasa mendapat pencerahan dari Tuhan yang belum tentu (benar).

Kembali ke Chapter 2, Akhirnya ada pesan moral yang gue tangkep di film ini, entah itu sengaja memang diungkap di film ini, atau memang mereka membuyarkan isu yang sebenarnya “penting” dan sedang maraknya di belahan dunia manapun.

Jujur, gue sangat berterima kasih banget sama James Wan karena sudah bersusah payah membuat film horor ini menjadi begitu penuh warna. Kabarnya akan ada lagi sequelnya. Chapter 3. Entah kapan, kita tunggu saja. Apakah masih bisa menyamai kesuksesan film yang pertama dan keduanya.

Banyak yang bilang, Insidious: Chapter 2 gak serem. Karena ada komedinya. Bagi gue sih, justru inilah hebatnya James Wan. Gue yakin, kalo di film ini tidak ada komedinya, orang-orang pasti akan dengan tegas menghujat dia… MENGAPA MEMBIKIN FILM CONJURING DUA KALI??? Jadi bagi gue, itulah alasan kenapa ada unsur komedi di film horror ini!

Gue bisa ngasih 4 bintang diantara 5 bintang. I love the twist!!!

Selamat menonton….!!!! (Jangan menonton sendirian)

~ by Imamie on September 26, 2013.

2 Responses to “Film ::: Insidious Chapter 2 (2013)”

  1. Parker Crane sama ibunya dinamai Merilyn… Ya ‘kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: