Film ::: Lost in Paradise (Hot Boy Noi Loan) (2011)

Pernah gak berkeinginan untuk merantau? Meninggalkan tanah kelahiran demi sebuah cita-cita! Atau merantau karena terpaksa? Ya karena suatu sebab hingga akhirnya memilih untuk meninggalkan rumah. Mungkin minggat atau lebih tepatnya diusir dari rumah adalah cara terburuk untuk merantau. Memang apa alasannya sehingga bisa diusir dari rumah? Separah itukah orang rumah membuat keputusan sepihak tanpa mempedulikan nasib yang terusir?

Tapi apa jadinya kalau ternyata alasan mengapa bisa diusir adalah dikarenakan mempunyai orientasi seksual yang berbeda. Ya sebenarnya, mau tidak mau selalu ada pilihan sih, tapi kenyataannya, tak ada kesempatan untuk bisa memilih itu. Karena bila sudah menyangkut masalah “aib” , beberapa kalangan masyarakat masih berpegang teguh pada prinsip, lebih baik kehilangan satu anak dari pada kehilangan derajat dan martabat nama keluarga.

Cover 2Begitu juga yang terjadi dengan Khoi (Ho Vinh Khoa) salah satu tokoh utama dalam film Lost in Paradise. Gara-gara ketahuan kalau dirinya gay, akhirnya dia memilih untuk kabur ke Saigon demi melanjutkan hidup. Dengan setting negara Viet nam yang mempunyai kemiripan dalam aktivitas penduduknya sehari-hari dengan yang ada di Indonesia, menjadikan film ini seperti punya nyawa dan memang terlihat Indonesia “banget”.

Dikisahkan, setelah Khoi sampai di Saigon, langkah pertama yang dia lakukan adalah mencari kost. Setidaknya murah dan tidak mengecewakan. Dan kebetulan sekali ada seorang kenalan baru yang dia jumpai di taman. Gayung bersambut, ternyata Dong (Linh Son) juga sedang berencana untuk berbagi kontrakan. Sehingga problem pertama Khoi terpecahkan. Dia tidak perlu bersusah payah lagi mencari tempat untuk tidur yang tidak terlalu mahal.

lost-in-paradiseTernyata di kontrakan ada sodaranya Dong, namanya Lam (Luong Manh Hai) yang awalnya keberatan. Namun pada akhirnya menyetujui Khoi untuk gabung bersama mereka. Beruntung sekali Khoi bertemu dengan mereka yang sangat baik hati. Hingga dia terlena bahwa ada niat busuk dari Dong dan Lam. Rupa-rupanya, Khoi ditipu mentah-mentah. Saat Khoi dibujuk untuk mandi, barang-barang khoi semuanya raib dibawa kabur oleh keduanya. Hanya menyisakan sepotong kaos dan celana pendek.

Ibarat kata, jangan terlalu gampang percaya dengan orang. Sebaik-baiknya orang, belum tentu niatnya itu baik. Alhasil Khoi menggelandang di kejamnya kota Siagon. Terpaksa dia mengambil jalan pintas demi sesuap nasi dengan menjadi tukang panggul barang di pasar.

20450805.jpg-r_640_600-b_1_D6D6D6-f_jpg-q_x-xxyxxLain halnya dengan Lam. Ternyata dia sendiri menjadi korban penipuan oleh Dong, yang sebenarnya adalah kekasihnya. Lam merasa tertipu, Dong pergi meninggalkan dirinya. Dong memilih pergi dari Saigon untuk menjalani hidupnya sendiri.

Ujung-ujungnya, Lam terpaksa pindah kontrakan dan memulai hidup baru tetapi masih dengan pekerjaan lama. Yaitu menjadi “kucing” (baca: gigolo untuk gay) yang setiap harinya mangkal di pinggir jalan bersama kucing-kucing yang lainnya. Berbicara soal kucing, Lam juga mendapat “warisan” dari Dong sepasang kucing persia. Sehingga mereka berdua terkadang menjadi pengisi waktu Lam disaat dia sedang merasa kesepian.

vlcsnap-2012-02-04-15h54m55s97Selain berkisah tentang Lam dan Khoi, di film ini juga ada stock plot untuk drama Cuoi (Hieu Hien) dan Tran Thi Phouc Hanh (Phuong Thanh). Cuoi yang mempunyai keterbelakangan mental, kesehariannya menjadi pemulung sampah dan bertempat tinggal di sebuah bangkai kapal yang sudah tidak bisa dipakai di pinggiran danau. Tak pernah ada suara yang keluar dari bibirnya. Hanya isyarat dan mimik wajah yang kerap kali dijadikan alat komunikasinya dengan orang-orang. Termasuk dengan Tran Thi, seorang Pekerja seks yang sudah tidak muda lagi.

Tran Thi sebenarnya perempuan yang baik, hanya saja nasib yang membawa dia pada pilihan untuk menjadi seorang pekerja seks. Dan yang lebih sial lagi, dia mempunyai sepasang germo yang pemarah dan suka main pukul. Sehingga tak jarang dia mendapat perlakuan yang semena-mena dari mereka berdua. Hanya karena setorannya sedikit, Tran Thi tak jarang menjadi bulan-bulanan mereka. Apalagi ditambah dengan kedekatan Tran Thi dengan Cuoi yang bagi penilaian germo mereka bisa menurunkan omset pendapatan Tran Thi karena dekat dengan “orang gila”, sebutan dua germo itu untuk Cuoi yang mentalnya terbelakang.

23670_31187_ww_hhTerkadang Tran Thi menjadi kasar kepada Cuoi dan mengusirnya ketika germonya datang melakukan inspeksi. Inipun juga demi kebaikan Cuoi agar dia tidak ikut dipukuli oleh germonya tersebut. Namun yang ada dipikiran Cuoi tidak bisa seperti itu. Kepolosan Cuoi malah akhirnya membuat Tran Thi semakin iba dan membuatnya terharu. Apalagi saat-saat Tran Thi mengajak Cuoi ngobrol soal telur bebek dan janji-janji bahasa lacur yang diumbarkan ke telinga Cuoi.

Ngomongin soal telur bebek, Cuoi bertekad untuk menetaskan telur tersebut, ketika ada seseorang yang berkata kepadanya, bahwa telur bebek suatu saat akan bisa menjadi bebek jika dierami dan dirawat. Tapi hal itu mustahil dilakukan oleh seorang Cuoi.

Phim-Hot-boy-noi-loan-thau-cam-ve-tinh-yeu-dong-tinh-hot-boy-noi-loan-1toBerbuah niat dan tekad yang tulus, Cuoi merawat dengan penuh kasih telur bebek itu. Hingga sampailah telur itu menetas dan menjadi anak bebek yang lucu. Betapa girang dan bahagianya hati Cuoi. Begitu juga dengan Tran Thi yang melihat keberhasilan Cuoi menetaskan telur bebek.

Well, sebuah film garapan anak negeri Vietnam. Yang dengan apiknya menceritakan dua plot kehidupan anak manusia dari dua sudut pandang. Pertama dari sudut pandang kucing dan pemimpi dari kampung, serta sudut pandang Pekerja seks dan Pemulung dengan keterbelakangan mental.

Dari sudut pandang pertama, masih berkutat tentang cinta. Mempertanyakan apakah cinta itu, haruskan komplit satu paket, jiwa dan raga, ataukan jiwa saja, sementara raga bisa dimiliki orang lain. Seperti apa yang dialami Lam. Hatinya untuk Khoi (yupe, Khoi sempat jadian dengan Lam) namun raga/badannya untuk customer. Mungkin itu yang ada dipikiran Lam. Lam menganggap bahwa itu adalah sikap profesionalitas dalam tuntutan pekerjaan. Bisa membedakan mana urusan hati/cinta, mana urusan bisnis.

20450807.jpg-r_640_600-b_1_D6D6D6-f_jpg-q_x-xxyxx

hot-boy-noi-loan-lost-paradise-vietnam-2011_4_1753838Bagi Khoi, mungkin Lam lupa, tempat bersemayamnya hati adalah di raga. Indikasi prinsip itulah yang akhirnya menjadikan Khoi tidak betah untuk berlama-lama hidup bersama dengan Lam. Khoi ingin Lam meninggalkan pekerjaannya, sementara Lam sendiri bersikukuh bahwa takdir lah yang memilih dia untuk terus menjalani sisa hidupnya dengan menjadi kucing. Alasan yang tidak masuk akal, Khoi bersikukuh. Dia beranggapan bahwa Lam terlalu naif dan tidak mau berjuang. Terlalu pengecut untuk menjalani hidup di dunia ini.

t669492Sementara dari sudut pandang kedua, cinta itu ketulusan. Cinta tidak memandang kepada siapa yang akan bercinta. Cinta bisa tumbuh dari raga siapapun. Termasuk itu dari seorang pemulung terbelakang mental, ataupun seorang pekerja seks. Dua-duanya adalah sama-sama manusia. Dan layak untuk bisa merasakan arti cinta yang sebenarnya. Ketulusan yang nyata justru lebih nampak dari diri mereka berdua, ketimbang dari orang-orang yang hanya mendapatkan cinta tanpa perjuangan dan ketulusan yang murni.

Bagaimana, sikap seorang Cuoi yang dengan penuh perhatian memberikan payung (meskipun payungnya bolong) kepada Tran Thi yang kehujanan saat mangkal. Begitu juga dengan sebaliknya, Tran Thi yang akhirnya punya sikap dan membalas perbuatan kedua germonya selama ini, karena telah memperlakukan dirinya dan juga Cuoi tidak selayaknya manusia. Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Tran Thi, dia hanya membela diri. Membela dari hak-haknya yang telah terampas. Mereka berdua punya apa untuk membela, kecuali sisa tenaga dan pikiran minim. Melampiaskan kekesalan yang berujung dengan hilangnya nyawa. Yang menjadi pertanyaannya sekarang, apa salahnya menjadi seorang Tran Thi? Menjadi seorang Cuoi? Mereka hanya menjalani peran itu. Terus kenapa kita-kita juga yang harus ada andil menghakimi? Siapa kita? TUHAN?

20450803.jpg-r_640_600-b_1_D6D6D6-f_jpg-q_x-xaaxyxx

Ada banyak sentilan-sentilan sosial dalam masyarakat yang diramu dengan apik oleh sang sutradara di film ini. Termasuk dialog-dialog yang begitu mengena. Salah satunya dialog Lam dengan Dong. “percuma saja ingin menjalani hidup yang baru tetapi masih menjalani pekerjaan yang lama (baca: menjadi kucing), dengan tegas Lam menjawab, setidaknya kehidupan saya yang baru tanpa ada kamu lagi disisiku.

20450806.jpg-r_640_600-b_1_D6D6D6-f_jpg-q_x-xxyxxBegitu juga dengan kondisi di sekitaran komunitas pekerja seks gay. Ada anggapan bahwa sesama teman sepermainan atau bahkan seprofesi yang ada keinginan untuk mencoba melakukan hubungan seks akan terlihat sangat pathethic alias menyedihkan. Apalagi sama-sama whore!

Dan memang kondisi itu tak jarang gue temui di lingkungan teman-teman gue yang juga punya profesi sebagai kucing. Memang sih, argumen tadi bisa dimentahkan apabila ternyata di lapangan masih dijumpai sepasang kucing yang ternyata berelasi.

Muncul juga di scene peradegan solidaritas antar sesama. Ketika salah satu teman dipukuli oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dengan dukungan moril dan spirituil sekecil apapun itu, selalu datang. Karena perlakuan yang tidak adil dari masyarakat lah yang membuat hubungan seperti ini menjadi sangat kental, bahkan melebihi hubungan persaudaraaan.

Makanya tak heran, tingkat persaudaraan dari komunitas yang termajinalkan ini sangat tinggi. Mungkin itu lah kenapa dinamakan komunitas.

hot-boy-noi-loan-3toFilm ini bicara banyak soal refleksi hidup. Tentang sebab akibat. Walaupun ada beberapa scene yang kurang rasional, namun bisa jadi itu adalah dari sudut pandang sang peramu cerita di dalam menaikkan tensi penonton ketika bergelut dengan drama yang ada di dalamnya.

Sungguh film yang luar biasa dari film-film yang bertema gay interest dari asia. Kali ini Vietnam mulai angkat bicara dan unjuk gigi. Bahwa sudah saatnya ada gelombang perubahan. Apapun itu, LGBT or not, sama-sama manusia. Walaupun berbeda kemasannya, berbeda orientasi seksualnya, berbeda agamanya, berbeda warna kulitnya. Selalu ada yang sama. Sama-sama punya rasa cinta.

Mengutip dari quote Khoi, “kamu sekarang tau kan, gimana rasanya menunggu kamu semalaman dengan seorang customer? Mengerikan bukan? Ya begitulah yang setiap hari gue rasakan… harusnya kamu menyadari itu…!!!”

vietnamesefilmMAINAkhirnya, surga itu pada hakekatnya bisa di mana saja. Sesuai dengan judul film ini, hanya niat dan ketulusan hati yang akan membawa kita kepada surga kita sendiri. Karena ujung-ujungnya setiap umat manusia sudah mempunyai surganya sendiri-sendiri. Terkadang mereka tidak sadar, bahwa apa yang ada dihadapannya adalah surga mereka, hanya saja mereka tersesat dalam menentukan langkah untuk bisa merasakan surga itu. Karena kebahagiaan itu adalah bentuk dari surga itu sendiri. Jadi, dengan menjalani kehidupan yang kita lalui dengan bahagia, disitulah kita sebeanrnya sedang menikmati surga.

 

~ by Imamie on November 3, 2013.

8 Responses to “Film ::: Lost in Paradise (Hot Boy Noi Loan) (2011)”

  1. Pengen nonton ini

  2. ADUH kayaknya hot ni,, mata ga bakal tahan
    bakal ga lulus uji sensor…
    wah.. gimana ya? keren ya?
    ahhh.. penasaran

    • Hmmm filmnya sih biasa saja. Dan kayaknya gak perlu sensor. Karena ini bukan film Forno… Hahahahaaa

      • ada rekomen gmovie yg bagus?
        aku belum bisa move on dari gmovie timeline yg dari thailand itu, udah noton kan pasti?

      • Banyak banget gmovie… Saat ini yang masih berkesan The Imitation Game sama Pride… kalo thailand… hmmm… belum ada…

  3. Coba nonton Flight Night besutan Korea, mengangkat isu bullying di sekolah karena status Gay. Kalo Thailand gue sih rekomend film Boys Next Door 1, bagusss.. temanya tentang “kucing” jg tapi lebih ke komedi satir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: