Film ::: Selamat Pagi, Malam (2014)

Teman-teman, saya Yuni,

dan saya akan menemani anda sepanjang matahari terbenam..

Tapi maaf, saya bukan Sofia, jadi sepanjang tulisan nanti saya tidak akan bernyanyi, terlebih menghibur anda semua… saya hanya akan sedikit berbagi cerita tentang “selamat pagi, malam”

Jakarta,

hampir 3 tahun sudah saya menginjakkan kaki di Jakarta. banyak hal yang telah saya alami, baik suka maupun duka. Tak bisa dipungkiri duka massal di Jakarta adalah milik bersama. Kemacetan, Banjir, Korupsi dan Disfungsi sosialita adalah fenomena wajib yang harus ada untuk melengkapi atribut Jakarta sebagai salah satu kota internasional yang tidak selamanya menjual kemapanan.

Di Jakarta, tidak berkawan itu rasanya mustahil. hidup dalam berkesendirian itu janggal. Maka tak heran, sering kali, sebagian kaum urban memilih berteman dengan teman pilihan. Dan Jakarta lah sang teman itu. Jakarta menjadi teman untuk berkeluh kesah. Terkadang tanpa disadari, terlalu sering kita menusuk Jakarta dari belakang. Busuknya Jakarta kita agung-agungkan, dan yang terlupa, jasa Jakarta atas kerelaannya untuk dijajah dan diubah sesuai dengan stereotyping yang kita inginkan. Tak ayal, mau jakarta model yang seperti apa, semua ada. Karena pada akhirnya Jakarta menjadi teman untuk kita bersama. Kita-kita yang memilih untuk diselimuti angkuh dan ego setinggi monas. Sosok teman yang sempurna bukan?!!

Menyalahkan Jakarta, seperti menampar diri sendiri. Jangan mengeluh soal macet, Kalau berangkat kerja menggunakan mobil pribadi.Jangan mengeluh soal pelanggaran peraturan, kalau masih saja bawa motor melewati trotoar. Jangan mengeluh soal korupsi, kalau semua adminstrasi digampangkan oleh pihak ketiga. Well, just pretend this is Gresik….

Jujur, saya bukan asli Jakarta. Hanya saja, Jakarta ternyata punya kuasa melebihi apa yang saya rasa. Jakarta mengubah saya menjadi pribadi yang multi-hampa. Selalu menyempatkan diri untuk menempatkan ruang kosong pada hal-hal baru yang terkadang harus mengasupi pemikiran-pemikiran yang terkadang tidak terlalu penting tapi kesannya penting sekali.

Jakarta membuat saya ada tapi tidak ada…..

Mungkin itu juga yang dialami oleh Indri, Gia dan Cik Surya. Masing-masing punya kisah. Kisah pergulatan tentang bagaimana berteman dengan Jakarta.

Bagaimana Jakarta mengajak Indri untuk berjuang menjadi social climber yang sukses. Sementara ada Gia yang harus disibukkan dengan penyesuaian atas Naomi, “teman dekatnya” yang sudah akrab dengan Jakarta semenjak Naomi Mudik dari New York. Perjuangan Gia untuk memahami perubahan Naomi, nampak terlihat bagaimana Gia berusaha untuk menyetubuhi Jakarta. Dan Ada pula Cik Surya yang justru terlalu lama terlena bersahabat dengan Jakarta. Jakarta yang terlalu pendiam. Jakarta yang hening. Jakarta yang memang pada akhirnya membentuk karakter Cik Surya menjadi seorang yang Misterius. Misterius bagi Jakarta itu sendiri.

Image

Image

Image

Dan sesuai dengan judulnya, Selamat pagi, malam hanya berumur semalam suntuk. Memang tepat rasanya, Jakarta terlihat aslinya saat Jakarta memejamkan matanya. Saat matahari mulai terbenam. Saat itulah Jakarta yang sebenarnya menyapa kita…

Image

Tidak banyak dan tak bisa berkata-kata, Terima kasih Jakarta sudah menjadi teman yang terindah….

 

Selamat Pagi, Malam

Selamat Malam, Jakarta…

 

 

~ by Imamie on June 24, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: