Film ::: Diaspora Cinta di Taipei (2014)

140185753499180_300x430Dan film ini adalah film kedua, gue nonton film Indonesia di Bulan Juli. Film pertama yang gue tonton adalah “Toilet Blues” (TB). Berhubung gue menganggap bahwa TB adalah film yang menggunakan bahasa dewa, alhasil gue memilih untuk diam tak berkata. Dosa besar bagi gue, mengometari film yang sampai sekarang gue masih mikir. TB itu film tentang apa? Walaupun sudah disodorin sinopsis dan garis besar ceritanya oleh sang empunya film, tetep aja masih tanda tanya. Well…

Balik lagi ke film yang kedua. Huh!!! Setelah TB, gue pun tergelitik buat nonton Diaspora Cinta di Taipei (DCDT) setelah rela dengan ikhlas sepenuh hati yang sebenernya gak ikhlas juga menukar jadwal nonton film Deliver Us from Evil. Secara mengubah Eric Bana ke bentuk Jonathan Frizzi itu drama banget. Dengan pertimbangan kalo gak sekarang, bisa-bisa udah turun dari bioskop tuh diaspora.

Berikut list alasan gue kenapa nonton DCDT:

  1. Penasaran dengan judulnya yang menggunakan kata DIASPORA dan kata TAIPEI, btw sampe sekarang gue masih males googling soal apa itu diaspora…. tapi dalam benak gue awalnya, diaspora itu semacam kayak “jamur” sempat juga terlintas kata “BIAS” namun kepikiran juga dengan kata “LEBAY”.
  2. Penasaran dengan promo yang mengatakan bahwa film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama yang “katanya” best seller…
  3. Penasaran dengan trailer filmnya yang menggunakan bahasa mandarin, actually gak bener-bener penasaran sih…
  4. Penasaran dengan si Afdhal Yusman (ikon Indosiar yang ngebintangin serial laga yang hobi topless) yang melakukan adegan “mesra” dengan Jonathan Frizzi.
  5. Penasaran dengan sutradara-nya walo pun jelas dan nyata gue gak bakal ngeliat batang hidungnya di dalam film ini.
  6. Penasaran sama isu yang diangkat dalam film ini, (homo erotica, HIV-AIDS, Playboy cap walang)
  7. Dan yang terakhir penasaran sama wajah-wajah penonton yang sudi menonton film ini.

Lumayan membantu juga kan daftar rasa penasaran gue yang akhirnya menggiring gue untuk menonton film yang wow ini. Well, tiket udah dibeliin… (kebetulan ada temen lama yang bermurah hati membelikan tiket masuk teaternya)… btw puter lagunya Radja-Mimpi Indah & Parah… dulu, biar jiwa kita menyatu dengan film ini. Sumpah!!

Let’s the war begin….

Tiba-tiba dilayar muncul anak sekolahan SMA yang berkejaran di jalan raya, ternyata bukan tawuran pelajar, tapi ada satu anak pelajar yang jadi inceran pelajar lainnya, ternyata eh ternyata, si anak ini bermasalah karena ngerebut pacar temennya. Hendak dihajar, muncul bapak-bapak dengan membawa anak gadisnya menghalangi. Sebilah golok berbicara. Mengatakan bahwa Anton, si bocah tengil playboy harus bertanggung jawab, belum selesai urusan, muncul bapak-bapak maduranesse dengan anak gadisnya pula yang lagi hamil. Meminta pertanggung jawaban. Sebilah clurit mengancam nyawa Anton. Namun kerennya, Anton menanggapi ancaman itu dengan becanda, dia berjanji akan mengawini semua anak gadis itu. Gak rela anak gadisnya dilecehkan, mereka siap-siap menebas Anton… dan ZZZAPPPPPP, suasana sudah berganti di dalam Bus, dengan konteks Anton mengigau dalam tidurnya.

Okay… tadi openingnya.

Kemudian cerita bergulir dengan bego begitu saja. Ternyata Anton ini adalah manusia cakep ber-IQ jongkok. Dengan isi otak yang kalau diibaratkan harddisk, habis diformat ternyata digunakan untuk nyimpen film film bokep. Jadinya yang ada di pikirannya cuman cewek, cewek dan cewek…hmmm kayaknya untuk semua jenis film bokep deh…soalnya… ntar deh gue bahas…

Dan intinya, Anton ketemu dengan dambaan hatinya. Sebut saja mawar. Merasa saling mencintai, Anton dan Mawar berikrar di depan gunung bromo… bahwa cinta mereka berdua akan abadi selamanya. Anton bahkan berjanji, bahwa jikalau dia mendustai cinta mawar, Anton rela terkena AIDS. Whaaat the hell???? #noted #stigmaNo1 dalam sebuah cerita mungkin sumpah Anton adalah untuk kekuatan sebuah cerita, tapiiii kenapa menempatkan AIDS sebagai sebuah kutukan? Ini semakin menempatkan posisi orang-orang yang hidup dengan AIDS (ODHA)adalah orang-orang korban kutukan. Kenyataannya tidak segampang itu. Justru banyak realita, mereka yang menjadi ODHA adalah orang-orang yang kurang informasi dan pemahaman atas HIV-AIDS itu sendiri dan juga mereka-mereka yang korban dari keadaan ketidak-beruntungan karena hidup bersama orang-orang yang tidak bisa bertanggung-jawab atas nama komitmen dalam berelasi.

Well, cerita bergulir lagi… dan 10 tahun kemudian. Wajah masih sama, fisik masih sama, semuanya masih sama, cuman ceritanya ajah yang dipercepat, 10 tahun kemudian…. dan kelakuan Anton masih sama, walaupun dikisahkan dia baru saja menikah dengan si mawar…

Di tempat kerja Anton yang keren bingitz itu, dia mendapat tawaran dari bosnya untuk menunaikan pendidikan bahasa Mandarinnya dengan mengambil kelas di MANDARIN TRAINING CENTER.  Nggak tanggung-tanggung cuy, langsung di Taipei. Kurang kaya apa coba bos satu ini? Orang bego dong kalo nolak tawaran kayak tersebut diatas! Beruntung sih, Anton punya istri semi-bego a.k.a gak bego-bego amat, jadinya Anton mendapat restu untuk mengambil kesempatan tersebut dan siap buat belajar bahasa Mandarin.

Agar budgetnya gak membengkak, si istri dan sahabatnya Anton cuman bisa nganter dari depan rumahnya. Kayaknya untuk di film ini, melepas kepergian seorang suami gak perlu ikutan nganter ke airport, itu namanya lebay, eimmm?!!!

Daaaaaaan…. Anton telah sampai lah pada saat-saat yang berbahagia. Dia mendarat di Taipei dengan selamat.  Terpampang nyata MANDARIN TRAINING CENTER… terlihat banget Anton mulai nyaman dengan kondisi tempat barunya. Banyak cewek cantik (versi tukang casting) berseliweran… radar playboy Anton meletup-letup. Godain cewek sana sini, flirting-flirting gak jelas. Intinya, niat Anton buat belajar bahasa mandarin MUSNAH! Gara-gara cewek di Taipei cantik-cantik (versi tukang casting).

jonathan1Anton tidurnya sekamar bareng Bejo (Afdhal Yusman). Entah nemu dari mana si Bejo ini, yang jelas, Bejo ini orangnya gak seperti namanya. Bejo yang ini lebih muscle, enak diliat dan perhatian sama Anton. Berdua mereka berbisnis pulsa.

Sambil menyelam minum air. Anton mendapatkan dua keuntungan sekaligus dari bisnis yang dia jalankan. Dengan memperdaya cewek-cewek Indonesia yang bekerja di Taipei, Anton memasang CV di biro jodoh beberapa majalah. Tentunya dengan banyak nama samaran. Mulai dari Prakoso, Sakti, Agus, Bondan, Prabowo, Slamet, Budi, Agus, Dhani, Dwi dll.

Jurus kadal kehabisan pulsa ternyata bisa menipu cewek-cewek Indonesia yang jadi buruh migran di Taipei. Seolah-olah, mereka adalah cewek-cewek bego yang begitu gampangnya percaya sama laki-laki bego model Anton. Apa memang ketampanan itu adalah salah satu jebakan paling ampuh? Well, hanya penulis cerita yang tau!!!

Betewe, konsep bisnis pulsa tuh kayak gimana? Jadi, runutnya gini, si Anton pura-pura kehabisan pulsa dan minta dikirimin pulsa. Dan cewek-cewek korban minta pulsa ini dengan indahnya mengirimkan nomer voucher pulsa. Yang kemudian nomer voucher pulsa ini disimpen. Yang kemudian apabila nanti ada yang ingin beli pulsa, tinggal diberi lah nomer voucher yang udah dicatet tadi. Begitu….. berhubung korban-korban Anton banyak, dan juga gak pake modal, oleh karena itu, Anton berani buat pasang tarif lebih murah ketimbang harga voucher yang dijual kebanyakan.

behind the scene, afdhal yusman dan Jonathan Frizzi

behind the scene, afdhal yusman dan Jonathan Frizzi

Dan bisnis mereka awalnya lancar. Selancar Bejo yang pura-pura jatuh dari tangga dan memegang lengan Anton. Dan kemudian lagu Lionel Ritchie – Hello pun berkumandang… Anton terpaku terdiam dengan begonya. Sementara Bejo beraksi layaknya seseorang yang baru saja menemukan kekasih lamanya yang baru saja bertemu setelah terpisah sekian tahun lamanya. Tangannya mengelus pipi Anton (yang masih saja terdiam tanpa ada penolakan). Mata Bejo memandang dalam-dalam mata Anton (yang masih tetep ajah diam tanpa seribu bahasa…). Dan dengan gampangnya Bejo menggiring Anton menuju kesebuah tugu simbol cinta. WHAT THEE FAAAK!!! Segampang itu kah memangnya mengungkapkan perasaan tanpa kata kepada seorang heteroseksual? Jadi si Anton ini siapa? Biseksual kah? Secara dia getol banget memproklamirkan diri sebagai playboy gatel cap gareng. Tapi sekali elus langsung hanyut dalam buaian Bejo. Okeh, gue bisa paham. Kalo Anton Biseksual. TETAPI, apakah semudah itu bisa mengajak seseorang untuk bisa langsung menerima atraksi homo erotika yang dilancarkan, ketika seseorang sedang sibuk mengeksplore kuasa heterosentrisnya.

Reaksi awal, seharusnya, seharusnya nih, tanpa berlandas dari film-film sebelumnya, pasti ujung-ujungnya penolakan, bisa berupa MARAH, KAGET DAN HISTERIS TERUS DIEM-DIEMAN, MENOLAK DAN BINGUNG MAU NGAPAIN TENTUNYA DENGAN EMOSI JIWA YANG MELETUP-LETUP, APALAGI KALO SI ANTON BELUM MENGUASAI KONSEP GENDER DAN SEKSUALITAS, tentunya bakal ada rejeksi dong… lahir dari stigma yang ntar katanya ketularan, ujung-ujungnya ada pertanyaan, “ LOE HOMO YAAA????”

Well, kalo reaksinya standart kayak yang di film ini, oke deh. Gue maklumi, dengan ekspektasi, bahwa si penulis cerita/sutradaranya punya pengalaman “menarik” terkait – tips bagaimana cara gay menggaet seorang hetero. Tonton deh film ini, karena ada tips and triknya. tapi jangan berharap banyak. Namanya juga film toh… apa aja bisa terjadi.

Betul banget, apa aja bisa terjadi. Habis adegan absurd bin awkward itu, Bejo membawa Anton tidur bareng, dan ML. Yuuup… Making Love….

Dan dari sini gue langsung yakin. Okeh. Melihat dari kondisi mental dan mimik wajah Anton, kayaknya dia menikmati. Biseksual? Maybe… stop labeling deh… hanya Anton, Upsss hanya penulis cerita yang tau siapa Anton sebenarnya…. karena persahabatan antara Anton dengan Bejo semakin erat. Tidak ada tanda-tanda kiamat, apalagi ketakutan Anton terkait identitas Bejo yang ternyata seorang Gay.

Bisnis jualan pulsa semakin kenceng. Flirting demi flirting juga makin kenceng. Sampai-sampai konsep keperawanan yang diangkat  dalam film ini semakin bias. Terlalu maen fisik, bahwa yang berbody gemuk itu pasti buruk dan gak nyenengin, Stigma muncul lagi disini. Gue ngomong dalam hati, apa jadinya ya orang yang gemuk yang nonton film ini, apa gak sakit tuh, jadi bahan lelucon? Plis lah, cari bahan guyonan yang lain, 2014 meeen!!! Ini bukan era warkop!!!

Huh! Males deh ngelanjutin ceritanya…

fc35a40637ac60f103284872e43220ddJadi sebagian besar film ini sangat dangkal pemikirannya. Genre komedi memang bisa menjadi senjata ampuh menghindari kritikan-kritikan tajam terkait isu yang diangkat. HIV dan Gay lumayan ngangkat di film ini. Tapi tetep aja, ketika interpretasi salah kaprah, yang ada semakin memperkuat stigma, bahwa HIV–AIDS itu kutukan lah, Gay itu gak bener lah. Bener-bener Parah. Cocok banget dengan judul soundtrack film ini.

Udah gitu, penggunaan ekstras pemain yang kayaknya emang asal ngambil dari orang-orang Indonesia yang di casting di Taipei. Well, serem ah… gue gak bisa berkata-kata. Ada pula temen-temen Anton yang entah temen apa… bener-bener kelihatan maksa banget. Skala usia gak matching. Memang sih berteman gak memandang usia, tapi di usia yang setua itu, mbok ya temen-temen Anton sadar, bahwa usia mereka udah gak muda lagi….

Kayaknya petinggi-petinggi di balik produksi film ini pengen eksis juga…. well…

Ada potongan scene, saat Anton berkelakar, bahwa dia gak perlu pake kondom, dengan alasan cewek-cewek di Taipei bersih. HELOOOOO…. bersih maksudnyaaaa? Emang cewek-cewek Indonesia di taipei itu cucian gitu? Bersih apa nggak gitu? Emang tau, gimana ngeliat bersih gak nya??? Yang namanya HIV-AIDS itu tidak bisa diukur dari kondisi fisik seseorang bersih atau enggak. Tapi ukurannya hanya bisa dilihat memalui tes HIV (tes VCT). Dokter aja gak bisa melihat langsung seseorang terinfeksi HIV kalo nggak dengan bantuan lab. Ini, si bego yang isi kepalanya cuman ada “enak” doang, dengan mudahnya bisa mendefinisikan seeorang bersih atau tidak. Iya kelleesss!!!

Memang sih, santer di luar negeri (gak cuman di Taipei doang) praktik maen dukun masih marak. Ada yang menggunakan dukun lokal maupun dukun import. Ada yang bilang berhasil, ada juga yang gagal. Mungkin isu dukun di film ini, hanya sekedar mengangkat fenomena perdukunan di luar negeri, tanpa perlu melakukan riset khusus. Jatuhnya, adegan-adegan yang berkaitan dengan dukun, jadinya kayak orang bego yang lagi belajar menjadi orang bego.

Kembali ke keadaan Mawar, yang selalu gundah. Merindukan Anton nun jauh di Taipei. Sampai-sampai jadi bego akut. Gak bisa ngebedain antara kondom dengan chewing gum. Mungkin mawar anak dukun juga kali ya, sampe-sampe dia bisa melihat kondom nyangsang di meja, padahal layar laptop saat skype aktif hanya menunjukkan gambar Anton dengan background foto cowok gak jelas. Gak ada sekalipun background meja dibelakang Anton. Anak dukun nih… pasti nih…!!!

Oia, gue belum ngenalin korban-korban Anton yaa, ada yang namanya Nanik, yang kebetulan sahabat mawar di Jakarta sejak kecil, ada Sri, Atun, Tina, Ponirah, Poniti, Sumiati, Susi, Denok, Juwita, Ita dan lain-lain yang gak bisa gue sebutin satu-persatu di tulisan ini.

Semuanya intinya satu, tergiur dengan ketampanan Anton. Karena tergoda dengan kebengisan Anton dalam merayu perempuan-perempuan malang tersebut.

Sampai-sampai di suatu adegan, Anton ketahuan belangnya. Al hasil, perempuan-perempuan malang itu bangkit, meskipun ada yang sempet menggugurkan kandungan juga. Bahkan ada yang masih sempet-sempetnya mengandung. Anton memang kurang ajar. Gak salah sih mereka semua balas dendam. Ada yang dengan cara BDSM, ada yang pura-pura menyuntikkan darah yang terkontaminasi virus HIV, ada pula yang mengancam untuk menyebarkan foto syur saat Anton dan salah satu korbannya berbuat mesum.

Anton kelabakan. Menyadari ulahnya semakin berbuah fatal, dia memutuskan balik ke Jakarta. Ternyata, bener banget. Agus, temen dekat Anton, yang dipercaya Anton untuk menjaga istrinya, malah “pagar makan taneman”. Alhasil, Anton kesel setengah mati. Tapi ajaibnya, Anton gak sekesel setengah mati sih, soalnya, Agus mati gak setengah-setengah. Entah karena apa Agus di rumah sakit, sekarat dan masih sempet-sempetnya drama… gak jelas, prahara apa yang terjadi pada Agus… hanya Tuhan, Agus dan Penulis cerita yang tau….

Well…dan cerita pun bergulir dengan begonya…. dimulai dengan scene Anton harus memecahkan teka-teki siapakah cewek yang menulari HIV, terus ketemu dengan cewek inceran yang bernama Sinta, yang diduga membawa virus HIV, kemudian ketemu Sinta di Jakarta, kemudian ngobrol dengan baik-baik, kemudian bertobat, Anton menawari Sinta bekerja di kantornya sebagai penerjemah. Dan mereka berdua pun aktif sebagai aktivis HIV (walo gak dijelasin apa yang mereka lakukan, yang ujung-ujungnya gue tau banget, kalo gak adapun scene yang merubah stigma di awal-awal terkait HIV)gak jelas, dan jangan lupakan Mawar juga. Gara-gara suaminya positif, dia jadi liar. Main laki, gak cukup satu, langsung dua lelaki sekaligus. Intinya. Selesai sudah hubungan Anton dengan Mawar…..

Dan cerita pun selesai… Oke lah… akhirnya pertunjukan Operet  Agustusan kelar sudah. Dan hipnotis lagu Radja pun musnah…. gue akhirnya bisa kembali sadar dari biaspora Cinta…

Jangan ada lagi kloning film seperti ini…. cukup sekali ini saja…. plissss… Kalo Indonesia tercintah masih memproduksi film kayak beginian, guweh bakal nyapres Untuk 2019-2024… !!!!! camkan itu baik-baik!!!

IMG_20140711_093411

 

rate: 0,5 bintang dari 5 bintang

kalo emang nge-fans sama JF and AY, tontonlah dengan rasa tanpa bersalah….

 

 

~ by Imamie on July 11, 2014.

One Response to “Film ::: Diaspora Cinta di Taipei (2014)”

  1. mas tau gak daftar lagu radja yg ada di film diaspora cinta di taipei ..
    selain mimpi indah dan paraaaah ..
    thank,s ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: