Ternyata, Yang Bego Kayak Naruto itu Gue…

Suatu ketika, gue tergoda untuk mengagumi seseorang. Entah kenapa, banyak yang bilang dia gak seberapa. Namun bagi gue, dia ada sesuatu. Karena baru kenal, gue hanya bisa senyam senyum judes untuk menilai dia, apakah dia tipikal orang yang terlalu gampang menilai orang.

Tak disangka, ternyata ada rasa yang menyengat pelan-pelan. Rasanya itu lucu, menyebalkan, menyesakkan, menyenangkan dan sekaligus asem.

Gue kecewa sedikit ketika dia bercerita bahwa dia punya pacar di belahan pulau lain di sekitaran wilayah Indonesia. Dan lebih tragisnya lagi, dia ternyata juga mengagumi orang yang ternyata gue kenal juga. Teman gue sendiri.

Kalau disuruh menjelaskan, mungkin karena alasan dia bisa mengimbangi kegilaan gue lah, yang sebenernya membuat gue merasa nyaman di dekatnya. Tapi dalam seketika itu juga gue merasa ditusuk paku santet, bertubi-tubi disaat dia harus “berhubungan” dengan “kenyamanan”nya yang lain.

Beberapa teman menyayangkan hubungan gue ini. Belajar dari pengalaman gue masih sadar dan terkadang masih memegang logika yang tersisa. Seperti rumus cinta yang dulu dulu, tai kucing rasa stroberi.

Baiklah, gue akhirnya hanya bisa bersandar pada satu logika dan dua imaji cinta. Dan perlahan logika pelan-pelan sirna. Gue terpana dengan kegilaannya. Terluka dengan keegoisannya. Dan terlatih dengan kesedihan yang dia berikan.

Entah harus bilang apa. Gue merasa, dia punya dua pilihan dan gue adalah salah satu obyek pilihan itu. Membayangkan menjadi obyek dengan “saingan” dari kalangan temen sendiri, itu menyakitkan. Sungguh…

Terombang ambing dalam kebingungan. Semakin diteruskan, akan semakin tak berujung, menjadi pilihan yang mungkin tidak akan terpilih, atau kalau beruntung tentu saja akan terpilih.

Tapi rasa cinta gue tidak seperti itu. Gue tak punya kuasa untuk menjadi tegar demi memperjuangkan cinta tapi mengorbankan perasaan. Dan gue tak mau melanjutkan perjalanan hidup namun dibelakang gue ada seseorang yang berkesedihan mendalam. Terlebih, sekali lagi, dia temen gue.

Tidak butuh sebulan gue menjadi dekat dengan dia ini. Kita merasa cocok satu sama lain. Namun ada hal dalam pemikirannya yang disposisi. Dia menganggap bahwa sabar adalah bagian dari proses. Proses tidak cepat. Jadi butuh waktu bagi dia untuk memilih, siapa kah yang cocok baginya. Gue atau temen gue?

Mungkin ini adalah buah dari membelot atas prinsip gue yang dari dulu. Dulu, gue, sempet ngomong gini, “gue gak bakal jalan (pacaran) sama temen-temen komunitas sendiri… Itu menyakitkan pada akhirnya.”

Dan kini prinsip itu udah terbongkar. Dan memang menyakitkan.

Karena gue terpaksa harus mengorbankan, agar tidak ada penderitaan yang berlarut-larut. Tentu saja semua yang terlibat pasti dalam keadaan kalut. Atau bisa juga tidak…

Kuakhiri, jangan pernah menyebut gue drama queen. Kronologis berikut terjadi karena gue tau banget bagaimana sakitnya menjadi korban tabrak asmara.

Kuputuskan melakukan kesalahan terjahat yang pernah kulakukan. Meninggalkan dia begitu saja. Kutinggalkan dia. Tanpa pesan tanpa kata, setelah kita berdua sempat sedikit merasakan rasa-rasa indah. Sedikit. Karena gue harus kuat. Gue harus nekat, bila tidak melakukan itu, akan semakin lama penyiksaan yang bakal gue rasa. Percayalah, sakit sekali ketika dia mengecap gue sebagai orang jahat. Orang yang meninggalkan dia begitu saja di keramaian mall Jakarta. Gue adalah orang yang tidak dia duga telah tega melukai perasaannya. harus dengan cara apalagi, karena dia adalah teman gue. Itu saja.

Terserah gue dikata jahat, sontoloyo. Dalam benak gue, harus ada pengorbanan. Gue gak mau menjalani hidup dalam sebuah pilihan.

Dalam hati gue, gue gak merasa melakukan kejahatan. Gue hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk semuanya. Tanpa ada insiden yang dianggap jahat itu, mungkin sampai sekarang, gue akan terkapar dipembaringan meratapi sampai kapan gue berhenti tersakiti. Lebih baik memang harus diakhiri, daripada berlarut-larut dalam kepedihan.

Legowo. Susah memang untuk bisa menerima kenyataan. Setelah pengorbanan yang bagi gue cukup besar itu, dia marah kepada gue. Baiklah, silahkan marah. Dengan begitu akan semakin mempercepat proses keputusan pilihan. Yang pada akhirnya salah satu kandidat terpilih langsung dianggap gugur, tak pantas lagi menjadi calon kekasih. Itu gue. Gue otomatis tereliminasi. Tapi ya sudah lah. Setidaknya tak perlu lagi sakit hati.

Berbuat jahat itu gampang, kata dia, dan memang gampang. Tapi konsekuensi yang didapat bener-bener menusuk jiwa.

Pada akhirnya, biarlah gue dianggap penjahat sepanjang masa. Setidaknya, dia (seharusnya) berbahagia dengan pilihan yang akhirnya menjadi pilihannya.

IMG_0712.JPG

Dan dengan ini, julukan “gue bego kayak naruto” semakin pas bagi gue, gue emang bego kayak naruto… Hahahahaaaa.! Padahal gue sempat jadi Hokage… damn!!!

Hidup itu berputar kok… jadi nyantai ajah men!!!!

 

23.54 11/22/14
Rumahsinggah

 

~ by Imamie on November 22, 2014.

4 Responses to “Ternyata, Yang Bego Kayak Naruto itu Gue…”

  1. ihiiiii.. iya ya NAruto naksir Sakura tapi Sakura jadiannya sama Sasuke
    padahal aku ngarepnya Naruto bisa ama Sasuke
    tapi yaa… semoga mas Naruto bisa menemukan sosok Hinata ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: