Kisah kecil maha cinta (01)

Suatu ketika, gue ngobrol sama seseorang yang ternyata menyukai gue. Lewat aplikasi chat, dia berusaha untuk menyatakan sesuatu yang bersifat suka. Suka pada gue. Ada hal didiri gue yang dianggap menarik. Ahay…

Awalnya, gue kenal Biru (bukan nama sebenarnya) hanya lewat aplikasi path. Dia rupa-rupanya menjadi target inceran sohibul gue, Gerhana (juga bukan nama sebenernya). Dengan berbinar-binar bin berkaca-kaca, Gerhana selalu menceritakan potensi positif yang ada dalam diri Biru. Geu sih, biasa aja.

Mungkin karena Gerhana sudah pernah bertemu dengan Biru dalam sebuah workshop, sehingga sudah mengenal jauh. Toh, gue kenal Biru juga dari Gerhana.

Komunikasi lewat Path dan ternyata usut punya usut, Biru yang berdomisili di luar pulau, akan menghadiri sebuah pertemuan akbar yang diadakan oleh organisasi tempat gue bernaung. Hmmm…. Masih belum ada perasaan apa-apa di gue. Hanya sebatas rasa penasaran. Tanpa melibatkan perasaan.

Namun berbeda ketika gue melihat ekspresi Gerhana yang menyambut kabar itu dengan suka cita. Ya sudah lah, mungkin sudah waktunya Gerhana merasakan api cinta yang sempat hiatus berabad-abad.

Fast motion

Di sebuah pertemuan, rupa-rupanya sosok Biru memperhatikanku. Berbeda dari apa yang gue bayangkan. Dia hanya diam dan mengawasi gelagat gue yang amburadul berantakan tak karuan. Mungkin karena dia melihat aku sangat biadab dalam beradab, jadinya dia hanya bisa diam, mungkin.

Disatu sisi, gue melihat Gerhana nampak begitu antusias melayani Biru. Memfasilitasi Biru dengan segala kenyamanan yang ada. Alangkah, betapa jahatnya kalau gue tiba-tiba bertindak sesuka hati, lompat kesana kesini, tak peduli bahwa ada hati yang sedang bermain-main. Rona merah yang menghiasi wajah Gerhana semakin terang, kebahagiaannya terpancar. Namun alangkah nistanya, ternyata Biru hanya menganggap Gerhana sebatas teman saja. Uhlala…

Gue tidak merasakan sesuatu, tapi ada segala jurus kecurigaan yang mendadak ngumpul. Biru mulai berani dekat-dekat kepada gue. Memegang tubuh gue. Memeluk gue lebih tepatnya. Mungkin dia beralibi sedang melakukan pelukan persahabatan, atau pelukan suka ala-ala. Biru sepakat dengan alam semesta, dia merasa bahwa gue adalah makhluk menarik sepanjang masa. Kata demi kata dia gelontorkan ke gue tak henti-hentinya. Memanggil gue sayang, memanggil gue darling dan sebutan-sebutan mesra lainnya. BIRU SUKA GUE….

ya benar banget. Ini babi banget. Betapa akan kecewanya Gerhana melihat geliat kami berdua. Sekali lagi gue menegaskan pada semesta, bahwa gue bukan dan tidak seperti yang dikira. Biru ternyata juga memiliki kekasih. Tak disangka bukan? Dan yang lebih tak diduga lagi, kekasihnya juga salah satu dari ajang acara pertemuan itu. Klop kaaaan?

Cukup Biru dengan mengumbar kemesraan publiknya. Gue pun usai dengan kebinalan yang tak berwujud. Ada hal yang harus gue selesaikan melebihi kasus gue dengan Biru.

Acara pertemuan itu selesai. Begitu juga dengan perlombaan hati nya. Masing-masing kembali pulang. Gue ke pulau gue, Biru ke pulaunya. Masing-masing menyimpan kisah sendiri. Entah masih berlanjut atau sudah selesai…..

Present…

Dan semalam Biru menyatakan rasa itu. Sebuah rasa yang hanya muncul bila seorang insan diliputi partikel suka dan sayang. Biru menyatakan cinta. Pada gue. Ahay….

Gue tidak bisa menjawab, I DO…. Karena dia sedang tidak melamar gue. Tapi gue hanya bisa bilang, KITA LIHAT SAJA NANTI….

~ by Imamie on December 20, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: