Surat Untuk Ibuk…

Dear Ibuk,

Entah saya harus mulai dari mana…

Semoga Ibuk selalu sehat, dan dalam lindungan Allah SWT.

Apa kabar Ibuk hari ini ? Semoga selalu baik. Begitu pula dengan saya. Saya selalu berdoa semoga Ibuk senantiasa diberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas. Seperti yang biasa Ibuk lakukan sehari-hari, beli nasi bungkus buat sarapan untuk Bapak yang selalu berpesan agar tidak dicampur sambal. Cara jalan Ibuk yang sudah tidak sekuat dulu, selalu awas dalam melangkah, karena bila tidak, bisa-bisa tulang menjadi linu. Masih ingat bagaimana wajah Ibuk menggambarkan kengiluan itu. Karena Ibuk pernah mengirimkan foto itu, semoga Ibuk masih ingat….

Buk….
Terakhir kali, lebaran kemarin, saya gagal pulang kampung. Namun saya beruntung punya kesempatan untuk berjumpa dengan Ibuk di bulan Oktober kemarin. Memang hanya sekitar satu Minggu. Dan itu cukup singkat, saya benar-benar menyesal. Saya juga melihat serpihan sesal di wajah Ibuk. Saya minta maaf, tidak bisa berlama-lama. Saya minta maaf…

Buk…
Sudah hampir 5 tahun kita berjarak. Antara Gresik dengan Jakarta…
Ibuk masih ingat, siapa yang paling canggung berpelukan saat saya akan pergi? Iya, saya lah yang sangat canggung, karena niat saya memang untuk mengejar impian ke Jakarta. Dan benar, Saya merasa Ibuk berat sekali dengan semua keputusan saya. Saya yang sejak dulu selalu berada di dekat Ibuk, mendadak berkeputusan untuk meninggalkan Ibuk. Saya merasakannya Buk… Sungguh saya merasakannya… Ibuk menahan tangis, agar saya tidak menangis. Tapi malah saya yang menangis dengan perpisahan itu. Dan Ibuk malah menyangkal dibilang menangis, walau ada air mata menetes di pipi. Tidak ada lagi rasa canggung. Bagaimana Ibuk menampar saya dengan kesal gara-gara melihat saya menangis sehingga Ibuk ikut menangis.

Anak kesayangannya akan meninggalkannya….

Enggak Buk….

Saya selamanya tidak akan meninggalkan Ibuk…

Buk…
Masih ingat sama janji kita yang dulu kan ? Apapun yang saya lakukan, Ibuk selalu dukung… Walau terkadang seringkali Ibuk malah menentang. Dulu, saya masih belum paham kenapa ada banyak alasan di benak Ibuk yang selalu menyudutkan saya. Membuat saya selalu merasa bersalah. Ujung-ujungnya, saya menjadi orang yang peka. Ibuk pernah bilang, “semakin kamu sering merasa bersalah, setidaknya kamu dimudahkan untuk melihat kebenaran, selama kesalahan itu tidak berasal di kamu.”

Buk…
Banyak hal yang telah kita lewati bersama. Menjalani masa transisi. Dari seorang saya yang dulu hingga menjadi saya yang seperti sekarang. Masih ingat sekali, bagaimana jaman masih SD dulu, ketika teman-teman sekelas mengatai saya “banci” hingga sampai-sampai saya ditelanjangi, Ibuk yang datang ke sekolah. Mempertanyakan keadilan sambil nangis-nangis. Karena Ibu Kepala Sekolah hanya mengeluarkan pernyataan, “LUMRAH, NAMANYA JUGA ANAK-ANAK…” Dulu saya tidak paham dengan kalimat itu, tapi sekarang saya paham, kenapa saat kejadian itu Ibuk marah besar. Saya benar-benar paham.

Tiap berangkat ke sekolah, Ibuk selalu berbisik, saya masih ingat, “jangan pernah menangis di depan teman-temanmu, jangan pernah…”
Dan gara-gara nasehat itu, saya selalu berusaha untuk tidak menangis ketika dipukuli, dilempari kerikil, diceburkan ke dalam got, disuruh memanjat pohon yang kemudian dilempari biji-bijian dari bawah. Dan saya hanya menangis di bawah kolong ranjang Ibuk. Yang sebenarnya Ibuk tahu tapi pura-pura tak tahu. Saya merasa paham, mengapa Ibuk bersikap seperti itu. Ibuk pernah bilang kan, “manusia suatu saat akan dihadapkan pada kesendirian, terkadang ada kekuatan di balik berkesendirian.”

Buk…
Semenjak kejadian di SD itu, tak pernah sekali pun, Ibuk datang ke sekolah untuk mengambil Raport kenaikan kelas. Selalu bapak. Hingga saya STM. Tak sekalipun, dulu saya menganggap itu biasa, tapi kini saya paham. Sangat paham.

Buk…
Kita semakin berteman akrab semenjak saya lulus STM. Kemana-mana berdua. Soal kostum apa yang bakal Ibuk kenakan buat menghadiri undangan pengajian, saya yang selalu diandalkan. Ibuk bilang, saya hebat memadu-padankan pakaian. Terima kasih dorongan semangatnya yang terselubung. Karena Ibuk tahu kan, kalau saya dulu haus pujian. Entah sekarang…

Selalu banyak semangat…

“boleh pacaran, asal gak lupa sama yang ngasih kehidupan di dunia dan akhirat”

Saya menganggap kalimat itu artinya ungkapan rasa syukur Buk….

Buk…
Dari semua anggota keluarga, Ibuk adalah orang pertama yang sadar bahwa saya tidak seperti anak-anak Ibuk yang lain. Dari semuanya, Ibuk yang selalu memperlakukan saya berbeda. Bukan mengistimewakan, tapi lebih kepada memperjelaskan bahwa saya spesial. Karena menjadi spesial atau unik, tidak perlu dan tidak juga harus diistimewakan. Saya masih ingat, Ibuk selalu berpesan, “menjadi berbeda bukan berarti harus diperlakukan istimewa, karena keistimewaan itu sendiri lah yang membuat kita menjadi terlihat berbeda, kalau sudah begitu jangan pernah menuntut untuk mendapatkan hak yang sama….”

Buk….
Tepat setahun yang lalu, sekarang, di tanggal yang sama, semua anak-anak Ibuk berkumpul di rumah. Entah mereka merayakan apa. Apakah mereka berbagi cerita tentang kesuksesan mereka masing-masing, atau sekedar memperingati perayaan seremonial hari Ibu. Saya senang bila semua saudara-saudara saya berkumpul. Apalagi khusus untuk memeluk Ibuk. Saya terkadang iri. Namun lewat surat ini, setelah membaca surat ini, saya selalu berharap ada ruang untuk pelukan, antara Ibuk dengan saya. Sisakan sedikit celah, satu inchi saja untuk saya. Ada kangen yang menjelma menjadi rasa bangga. Kebanggaan saya selama ini atas apa yang telah Ibuk berikan kepada saya, ketulusan atas apa yang telah Ibuk ajarkan kepada saya, dan beribu-ribu kebaikan yang ternilai yang selalu tercurahkan dalam berbagai cara dan kesempatan. Yang bahkan di setiap amarah saya, selalu saja ada kandungan kebaikan yang justru menampar saya.

Kasih macam apa yang kau punya Buk, hingga terkadang perasaan bersalah saya begitu sangat besar, karena saya begitu banyak sekali melihat hal-hal benar di mata Ibuk.

Untuk Ibuk, yang tersayang, yang pernah kubenci tapi akhirnya saya sesali, yang telah menjadikan saya kuat, tangguh sekaligus fabulous, yang agak kurang pede kalau rambut ubannya kelihatan, yang paling susah kalau balas SMS, yang suka nanya saya masih single atau sudah in relationship, yang suka mengaku bottom kalau dikenalkan pada teman dekat saya, yang seringkali “klik” kalau saya ada masalah, dan yang seringkali tidak mau ngomong kalau sedang bermasalah, sekali lagi, untuk Ibuk, saya mengucapkan TERIMA KASIH…..

I Love You, Selamat Hari Ibu

Salam hangat penuh sayang,

Imam…

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/879/15841518/files/2014/12/img_1144-1.jpg

~ by Imamie on December 22, 2014.

2 Responses to “Surat Untuk Ibuk…”

  1. Wow… saya pembaca baru blog kamu. Saya sangat senang dgn tulisanmu ini.. to the point dan mengena menurut saya… salam kenal Imam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: