Part of The Gay Men Project

2014, gue mengetahui sebuah blog yang lumayan inspiring. Sebuah blog yang berisi kumpulan foto-foto “gay” dari belahan bumi lain. Dari benua Amerika hingga Eropa. http://www.thegaymenproject.com nama situs tersebut. Dikelola oleh individual Kevin Truong, berdarah Asia (Vietnam) namun besar di Amerika. Seorang Photographer yang aware dengan issue penerimaan diri terkait homoseksualitas. Dan timbul ketertarikan gue buat ikutan mengirimkan tulisan seputar pengalaman hidup gue sebagai seorang gay di Indonesia. Ternyata tidak berhenti sampai disitu. Mendengar kabar kalau Kevin bakal melakukan perjalanan keliling dunia untuk mengumpulkan foto teman-teman gay dari berbagai negara di dunia. dan Indonesia menjadi salah satu jujukannya. Dan akhirnya, Februari 2015 Kemaren, kami bertemu.

With Kevin Truong, Di sebuah restoran di Kota Tua, Jakarta

With Kevin Truong, Di sebuah restoran di Kota Tua, Jakarta

Setelah proses foto-foto yang ternyata cukup melelahkan juga menjadi model, (pantes jadi model papan atas itu bayarannya mahal….) Dan sempat ngobrol banyak hal, kebetulan saat itu, gue juga ditemani temen gue yang pada akhirnya menjadi model juga. well well well…

Akhirnya gue diminta menuliskan beberapa hal terkait kebutuhan dia yang nantinya akan dipublish di situs http://www.thegaymenproject.com dan berikut tulisan gue.

“Bagi saya, menjadi seorang gay adalah bagian dari sebuah proses hidup untuk menjadi seorang manusia seutuhnya. Tidak ada bedanya dengan seorang heteroseksual ataupun orientasi seksual lainnya. Belum lagi bila dihadapkan pada keberagaman gender. Pada dasarnya terlahir menjadi apa dan siapa, tak lantas menjadikan kita berbeda. Dulu saya menganggap diri saya berbeda. Tapi sekarang, sampai detik ini, sebagai seorang gay saya merasa tidak ada bedanya dengan manusia lainnya.
Di dunia ini, hidup adalah tantangan. Hidup adalah perjuangan. Terlahir sebagai gay, ataupun sebagai hetero, tidak lantas menjadikan kita seorang pecundang yang bersembunyi dari balik perasaan karena kita merasa berbeda. Bukan itu. Tapi bagaimana cara kita untuk melanjutkan hidup, tanpa memperdulikan apa identitas seksual kita, apa identitas gender kita, tapi lebih kepada kita sudah berbuat apa untuk menjadikan hidup ini lebih baik. Dan disitulah tantangannya.

Saya adalah termasuk gay yang memilih coming out kepada teman terlebih dahulu. Dulu sempat ada kekhawatiran untuk coming out kepada keluarga. Ada banyak gambaran ketakutan-ketakutan berlebihan terkait pilihan saya untuk memutuskan coming out terhadap keluarga. Namun yang menjadi alasan kuat saya hanya satu. Yaitu mencoba. Karena bagaimanapun, saya tidak akan pernah tahu kebenaran macam apa yang bakal saya terima apabila saya memilih coming out terhadap keluarga. Tentunya sebelum coming out, saya sudah mempersiapkan banyak hal. Yang terpenting pertama, tentu saja, saya sudah berdamai dengan diri saya sendiri. Siapa saya. Karena percuma saja bila kita memilih coming out kepada keluarga, namun urusan penerimaan diri belum selesai. Dan yang kedua selain penerimaan diri, tentu saja kemapanan. Kemungkinan terburuk adalah diusir dari rumah. Dan solusi adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup. Dan saya pribadi yakin, apa yang menjadi pilihan saya bukan pilihan yang salah. Dan ketika membuat pengakuan ke orang tua, reaksinya justru berbalik dari apa yang telah saya bayangkan. Ibu saya hanya bisa diam. Berusaha untuk belajar memahami siapa saya. Dan dia berusaha keras untuk bisa menerima kondisi saya. Dan disitulah tugas saya untuk membantunya memahami kepribadian saya. Dan pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit, komunikasi dan sharing informasi terkait apa itu homoseksualitas terus berjalan. Walhasil, tidak ada pengusiran. Keluarga pelan-pelan ternyata bisa menerima. Dan life is beautiful.

Komunitas gay di Jakarta ini sangat beragam. Banyak jenis. Dari yang tertutup hingga yang terbuka. Dari yang kelompoknya orang menengah biasa hingga yang mengkhususkan diri hanya yang punya koleksi prada, whatever lah. Sehingga disitu kadang saya merasa sedih…. Memangnya kenapa kalauhal tersebut benar-benar ada? Karena pada kenyataannya itu adalah pilihan. Toh, di lingkungan kaum heteroseksual pun juga ada yang tak kalah heboh terkait komunitas hetero-nya. Justru dari situ bisa saya tarik garis kesimpulan, kita menjadi (dianggap) berbeda, ya karena kita tidak dianggap sama. Kita (gay dan hetero) akan setara justru bila kita bisa memandang bahwa tidak ada yang berbeda diantara kita semua. Bukan berarti juga orang lain dipaksa untuk bisa memahami kita, namun dari gay nya sendiri malah ingin dieksklusifkan, sama juga bohong. Mau bergabung di komunitas mana, semua ada konsekuensinya.

Kalau kita ingin dianggap sama atau setara, jangan pernah kita merasa berbeda. Tapi merasa lah bahwa kita terlahir istimewa dan diciptakan untuk melengkapi perbedaan yang pada dasarnya satu sama. SAMA-SAMA MANUSIA!”

Untuk versi bahasa Inggrisnya bisa dilihat di situsnya. Ketika gue menulis dengan bahasa Indonesia banyak yang komplain, kenapa tidak menggunakan bahasa Inggris ?? Jujur, gue lebih bangga menggunakan Bahasa Indonesia. bisa saja gue menggunakan bahasa Inggris cuman gue ingin orang melihat ada “Indonesia” di diri gue. Itu saja.

by Kevin Truong

by Kevin Truong

~ by Imamie on March 20, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: