Film ::: The Sun, The Moon & The Hurricane (2014)

02c1bf1247c3b2eb62886363963cc92f
Sudah lama rasanya, gue, habis nonton film Indonesia, langsung debat (mungkin lebih tepatnya diskusi) terkait film yang habis gue tonton. Dalam hal ini yang gue debatkan bareng temen adalah film yang memang niat mengangkat isu yang “rentan” untuk dijadikan “box Office” di seantero gedung sinema Indonesia. Yang gue tangkep adalah, semua tentang pencarian tujuan hidup. Tapi mutlak, tidak menutup tema yang diusung adalah homoseksualitas, tentang rasa, dalam kaitannya disini adalah karena memang yang dijadikan senjata dalam film ini sendiri adalah isu tersebut. Alhasil, bunuh diri bagi sang produser kalo “menjual” film yang bertema homoseksual ke bioskop-bioskop negeri kita tercinta. Dan alhasil yang kedua, jadilah film ini film yang festival banget. Yup… film festival.. pake banget. Karena akan seperti mimpi kalo film yang bergenre (full) homoseksual nampang di semua layar biosop.

*Berterima kasih gue sama Blitzmegaplex yang dengan sudi menyediakan alokasi tempat untuk memutar film-film Indonesia dengan isu yang sulit untuk diangkat

Gue tidak terlalu mengenal siapa Andri Cung, The Director. Cuman gue dulu pernah dengar namanya lewat film Payung Merah dan salah satu director dalam antologi 3SUM. Tapi usahanya kali ini patut diacungi jempol.

Sebagai seorang gay, yang kebetulan suka banget sama film, tema yang diangkat dalam film ini layaknya sumber mata air di padang pasir yang gersang. Sangat menghapus dahaga yang teramat sangat menghauskan. Ya.. menghauskan… sangat menghauskan…

Seteguk pertama…
Gue tau film ini muncul dari kicauan-kicauan di twitter. Terkadang sesekali gue stalking, manusia-manusia ataupun mesin-mesin yang hobi posting sesuatu yang berbau LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex and Q). Dan muncul-lah secuplik trailer film ini. Kesan pertama…. SOK BANGET PAKE BAHASA INGGRIS…. PASTI FILM FESTIVAL….. KAYAKNYA NUNGGU Q!FEST… DARI POTONGAN GAMBARNYA SIH MEYAKINKAN… HMMM KITA LIAT AJA NANTI!!!

Tegukan kedua….
Alamat…..deh!!!! ternyata memang film festival. Bakalan berdarah-darah dan harus punya waktu khusus nih buat nonton film ini. Beberapa kali kesempatan yang datang, baru tadi malam lah gue bisa nonton. Ini bukan salah filmnya yang terbatas waktu dan tempat pemutarannya, tapi ini salah gue yang berada di ruang dan waktu yang selalu berbatas dengan film ini. Rasanya tuh seperti, haus dengan dua kali tegukan segelas air.
Dan akhirnya menceburkan diri ke sumber mata air….

The-Sun-The-Moon-3Kita akan dibawa pada kisah klasik seorang muda yang bernama Rain. Mengalami masa-masa SMA yang tidak biasa dialami oleh kawan-kawan sebaya-nya. Awalnya menjalin relasi ala-ala Bromance dengan Kris, teman sekolahnya. Keakraban mereka berdua, melebihi kedekatan seorang remaja yang heboh dengan fase cinta-cintaannya.

Diberikan kita sepenggal pengalaman perih Rain ketika harus dihadapkan pada kegelisahan-kegelisahan atas relasi bias yang sudah dijalaninya bersama Kris. Yang jelas, Rain tau siapa Kris, dan Kris belum siap untuk tau siapa dirinya sebenarnya. Yang pada akhirnya, ketidak siapan itu berbuah kepahitan.

Kris menghilang… terbang meninggalkan Rain dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan.

Di usia 32 tahun (da-fak banget, kenapa harus umur yang sama dengan gue…. ), betul banget, film ini akhirnya berkutat pada Rain di usia yang ke 32. Dimana ada tanda-tanda kemapanan yang tersita. Perhatian bisa ditujukan pada profesi dia, lifestyle dia dan juga dari cara dia berdalih atas nama kemapanan yang terlanjur di-stereotype-kan.

Namun semua kemapanan itu tidak seirama dengan pengalaman percintaan Rain. Yang notabene (secara gak langsung) look come out as a gay. Memang secara eksplisit kita tidak dihadapkan pada karakter yang harus koar-koar di setiap scenes bahwa dia seorang gay. Tapi secara gesture dan gaydar, penonton diarahkan untuk meringkas kata bahwa Rain adalah seorang gay. Lebih tepatnya gay yang gak denial. Yang sebenarnya berbanding terbalik dengan Kris (cinta pertama Rain-kayaknya).

SunTheMoonAndTheHurricaneThePerpisahan mereka menciptakan dimensi baru yang menyatu dan membutuhkan seseorang yang ahli dalam manajemen konflik. Rain dengan INI dan Kris dengan ITU. INI tentang bagaimana akhirnya Rain memposisikan Kris. Sementara ITU tentang bagaimana Kris menjawab dilema yang harus terjawab sebelum film berakhir.

Pertanyaannya sekarang, apakah The Sun, The Moon and The Hurricane bisa berada dalam satu ruang dan waktu yang sama?

Seperti yang pernah diucapkan Andri Cung disebuah portal media. Bahwa membuat film bertema gay itu gampang. Tetapi untuk memasarkannya itu yang susah. Gue bisa mengamini itu bila berkaca pada kondisi di negeri ini. Film ini menyuguhkan realitas yang tidak pernah luput dari masalah gay-gay yang terjerat dalam konsep heteronormatif. Pola konstruksi sosial yang sangat kuat, yang memaksakan bahwa siapapun, orientasi apapun, harus tunduk pada pola hetero (dalam kasus ini pola heteroseksual). Sehingga sangat dimungkinkan, pelanggengan bahwa yang hetero adalah yang benar semakin dikuatkan. Sementara orientasi seksual selain hetero seksual adalah salah. Dan harus di”benar”kan. Istilah kasarnya disembuhkan. Namun kenyataannya, apa yang disembuhkan dari seorang homoseksual? Mengingat homoseksual bukan sebuah penyakit dan tidak ada kekeliruan atas kondisi tersebut.

Gay terpaksa menikah dengan seorang perempuan. menjalani hidup yang hampa. Tanpa rasa. Tanpa jiwa. Kosong. Namun dipaksa bahagia. Terlihat indah bagi yang melihatnya. Namun yang menjalaninya hanya bisa bilang “entah salah saya apa”

Sementara masih dalam kasus “Gay yang menikah dengan perempuan”, selalu dan selalu perempuan sebagai korban. Sadar ataupun tidak sadar. Sengaja ataupun tidak disengaja. Hal ini yang terus terjadi dan terjadi lagi. Why? Mengapa? Kenopo???

Masih ada paham, bahwa sejatinya bila ada pria gay menikah, dia akan dijanjikan bisa berubah menjadi heteroseksual. Namun kenyataannya tidak seperti yang terjanjikan. Masih tetap merasa bahwa lelaki lain lebih indah dan tertambah beban hidup karena ada sosok asing yang dipaksa menjadi pasangan yang bisa menentramkan jiwa, syukur-syukur menyempurnakan rasa yang pernah dianggap salah. Kalau begini, sang perempuan bisa apa. Ikhlas dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Berharap bahwa badai akan segera berlalu. Sang perempuan rupanya selain tertipu, dia juga dipaksa untuk menunjukkan ketidak-tahuannya terhadap identitas yang disandang suaminya. Dan akhirnya dua-duanya layak disebut sebagai korban dari produk konstruksi sosial yang usang. Sudah saatnya pemikiran itu di-upgrade.

Poster Small-thumb-300xauto-44518Kembali ke intisari dari film diatas. Film ini sedikit memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul mengenai, bagaimana perasaan sang perempuan yang menjadi istri dari suami-suami yang memiliki orientasi seksual homoseksual. Yang pasti sakit dan pedih. Namun disatu sisi, ada pergolakan batin yang seharusnya tidak perlu perempuan lakukan. Semisal mempertahankan apa yang seharusnya tidak perlu dipertahankan. Bahkan yang terparah, disaat perempuan mengetahui bahwa suaminya adalah seorang gay, ada yang memutuskan untuk terus bertahan dan mencoba untuk terus bertahan mempertahankan hubungan yang dipaksakan. Seperti apa yang diucapkan tokoh Susan dalam film ini. Dimana dia merasa lelah, namun disatu sisi dia merasa harus berjuang untuk sebuah perubahan. Terkadang ada pemikiran, apa jadinya jika Susan menyerah dalam satu titik, namun padahal pada titik berikutnya ada indikasi perubahan yang terjadi pada diri Kris. Namun itu semua hanyalah bayangan Susan. Bukan realita. Karena kenyataannya tidaklah sepelik itu.

Kalau memang tidak ada kata sepakat untuk saling membahagiakan, kenapa harus diteruskan? Terkadang memang benar kata-kata yang terucap dari bibir Kris. Bahwa Susan berhak untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Kris. Dan Susan dengan bibir satirnya berucap, “dan kau pun berharap agar kau juga mendapatkan lelaki terbaikmu kan?”

Ada banyak sekali keterwakilan atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini digaungkan oleh gay-gay yang memutuskan untuk menikahi perempuan. “Tau kan gimana rasanya mengalami hal tersebut?”

Secara garis besar, alur cerita yang disuguhkan dalam film ini bagi siapapun yang pernah berada diposisi Rain, akan merasakan bahwa menjadi Rain itu tidak mudah. Begitu juga yang pernah atau bahkan sedang berada diposisi Kris dan Susan. Sangat sangat tidak mudah. Gue yakin, selain pengalaman pribadi, penulis dalam film ini juga melakukan riset yang cukup mendalam. Rapi dan tidak berlebihan. Terlebih ketika point of view menyorot karakter Will the Whore.

a01d30edd9f4a6c2d0c2e57e0ff7e5f5Sinematografi yang khas film festival. Pantai, panoramik, montage pol-polan, adegan komunikasi seksual yang digambarkan secara eksplisit, dan yang terpenting dan menjadi stereotype film festival di Indonesia. To much “poetry”.

Jajaran cast yang tampil memukau. Andri Cung gue akui mampu untuk mengarahkan talent-talent yang berbakat. Tidak kurang tidak lebih. Akting semuanya pas. Pantas bagi gue untuk merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh kawan-kawan yang butuh hiburan. Tentu saja yang bukan sekedar hiburan, namun juga sebuah pencerahan. 

Gue beruntung bisa menjadi saksi dimana THE SUN, THE MOON & THE HURRICANE berada dalam waktu dan tempat yang sama… 

 

 I love you Cung!!!

~ by Imamie on April 3, 2015.

4 Responses to “Film ::: The Sun, The Moon & The Hurricane (2014)”

  1. Where I can download this film exactly?

  2. Yupe.. Still on film festival screening…or for community

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: