Refleksi (bukan semacam pijat)

setelah bulan itu (Juni) saya beranjak meninggalkan Jakarta, menuju kampung halaman yang tidak layak disebut mudik. Lebih tepatnya pulang kampung tanpa harus kembali lagi ke Jakarta. Keputusan sulit namun harus ditempuh. 

Sedih sih. Namun gak harus sambil ditangisi pula. Terlalu manis kalau dilema kali ini harus dibumbui dengan drama tangisan tante Sandora. Tidak ada tangis-tangisan. Tidak ada mewek-mewekan. Yang ada K Z L… Kezeeeel

Pertanyaannya, kenapa bisa kesel? Ya selalu ada alasan untuk kita menjawab sebuah pertanyaan atas kekesalan yang kita alami. Hmmm kita atau saya (seorang) ?…

Entah kenapa berat bagi saya untuk bisa berbagi cerita terkait alasan-alasan kenapa saya memutuskan pindah raga ke tanah Jawi. BANYAK FAKTOR SAY!!!! Apa perlu saya bikin daftar alasan-alasan terkait mengapa saya pindah pulang kampung. Tapi sejenak saya berpikir dari lubuk hati terdalam, ada suara kecil di batin saya untuk memilih berdiam tanpa mengurusi keimanan/ keyakinan yang berkaitan dengan #mudik

TIDAK

Kayaknya saya memang harus menyimpan rapat-rapat informasi ini. #hasilrefleksimalamini #gagalberbagi #nunggukuatmental #masih musimsensitif

~ by Imamie on July 18, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: