Catatan kriminal suci

Well…. Sekian bulan, entah berapa bulan… Hmmm terhitung dari bulan Juni, hingga gue menulis di blog ini…. Absen. Ya, gue absen menulis apapun di blog ini. Entah itu review film, artikel klenik, cercaan pada sebuah peristiwa yang layak dikritisi hingga sastra picisan yang hanya ditulis bila sedang kambuh feel menulisnya. 

Masih sering bingung. Fakta pertama, sekembalinya dari Jakarta, status gue masih perawan ting-ting, belum menjamah profesi yang seharusnya sudah gue jamah jauh jauh hari. Nyatanya, pekerjaan yang biasa gue lakoni di Jakarta masih awam untuk gue jadikan andalan. Dan itu sangat pedih dan menyakitkan. Sungguh… Itu pedih. Tapi namanya juga gue, sepedih-pedihnya perasaan, harus selalu dibawa senang. Termasuk membuat orang jadi senang pula. Bukan karena bakat gue sebagai lelaki penghibur yang terlalu kuat, melainkan karena saya menganggap bahwa senang itu bahagia, bahagia itu awet muda. Jadi kalau mau awet muda, bersenang-senanglah.

Tak punya catatan kriminal. Di Gresik lempeng-lempeng saja. Itu itu saja. Membosankan? Banget… Nget. 

Mungkin gue merasa terlalu banyak rencana dan lebih banyak gegabah. Jatuhnya pun hanya mimpi-mimpi yang lewat saja. Seperti halnya, rencana membuka bisnis clothing, dengan merek yang sudah gue siapkan dari Jakarta, eh, ujung-ujungnya, malah gak ada jejak. Hilang ditelan iler. Gue akui, moment pulang kampung ini lebih banyak berisi proses healing dari penjara pesakitan selama di Jakarta. Menjadi korban kekejaman hedonitas dan sosialita kelas dagu ngangkat. Giliran sudah sekarat, baru sadar, bahwa kontrol atas tubuh (baca: kesehatan jiwa dan raga) tidak terkendali. Apa saja dilahap mentah-mentah dan serampangan. Apa saja masuk. Ban dalam mobil pun kalau dimakan pasti gue makan saat itu. (Seperti biasanya, penyesalan selalu datang terlambat…. Gak pernah datang diawal keluh kesah).

Balik lagi soal cita-cita, siapa sih orang yang gak punya cita-cita atau angan-angan di dunia ini? Semua pasti punya. Termasuk gue. Dan paling membahagiakan itu, andai kata cita-cita yang sudah kita impikan dari awal rupa-rupanya terkabul karena niat dan kerja keras. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, sampai sejauh mana level atau kadar cita-cita kita? Apakah masih dalam batas awal, atau sudah diambang keberhasilan… Syukur-syukur sudah berpindah cita-cita yang lainnya. Bersyukur tentu saja.

Kadang yang menjadikan cita-cita itu bengal untuk menghampiri karena kita terlalu memberikan persyaratan yang terlalu berat. Misalkan saja, cita-cita yang kadang diluar nalar manusia kebanyakan. Kalo gue merasakannya, disaat gue masih SD, dan cita-cita gue membunuhi semua orang-orang yang telah membully gue. Walaupun dulu definisi membunuh itu harus bagaimana saja masih belum jelas. Yang jelas mengeluarkan emosi di diri yang membuncah dengan kalimat, “Akan kubunuh kalian” seakan memberikan suntikan kekuatan. Namun dulu masih belum kenal apa itu HAM, apa itu keadilan. Yang penting hajar aja dulu, sebelum “kriminal” nya sudah tidak musim lagi. An sudah lah, akan kembali kelam jika gue menceritakan pengalaman semasa kecil. Terlalu pahit untuk dijadikan pembangkit gairah.

Rupa-rupanya sudah mulai hilang konsep nih. Lajur kriminalitas yang dulu akrab dengan gue mulai pudar. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, gue sudah bisa sedikit menyimpulkan. 

Terlalu banyak tahu orang-orangnya, hingga yang tidak tahu menjadi tahu…

Mungkin kedepannya, gue akan lebih fokus ke videographer….videographer….VIDEOGRAPHER.. And the one and onli, jadi begini ceritanya….

  

~ by Imamie on October 1, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: