Film ::: Night Flight (2014)

Mendengar kata film Korea, yang muncul dibenak gue adalah “indah”. Itu selalu. Dari yang genre komedi romantis hingga yang epic kolosal history. Semuanya dibuat dengan kesungguhan dan bertanggung jawab. Termasuk ketika membingkai sebuah film drama gay yang sarat dengan isu bullying. Dari kacamata gue sebagai orang yang sedikit paham soal LGBT, deskripsi sosial tentang karakteristik gay secara umum tergambarkan dengan apik tanpa ada sentuhan berlebihan. Polesan apa adanya menjadikan film ini nikmat untuk dicermati tanpa ada sangkalan di sepanjang film. Dan gue nyaman mengikuti perjalanan kisah Yong-ju shin (Kwak Si-yang). Karakter utama dalam film Night Flight, besutan sutradara Leesong Hee-il.

Kwak Si-yang yang berperan sebagai Yong-ju shin

Yong-ju adalah siswa SMU yang lumayan berprestasi. Tipikal gay-gay yang banyak kita jumpai (memang sih tidak ada bukti data untuk hal ini, tapi pengalaman dan kenyataan berkata demikian). Kebetulan dia adalah gay yang masih discreet. Sudah menjadi tradisi, bahwa menjadi gay, yang notabene spontanitas dilabeli banci (dicap feminin walau gak semua gay itu feminin) pasti akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Istilah itu kita familiar menyebutnya bullying. Berhubung Yong-ju menyimpan rahasia itu rapat-rapat sehingga dia aman dari perlakuan itu. Namun tidak bagi sekawan teman dia, gi-Taek ( jun-ha Choi) yang menjadi bulan-bulanan geng berandal sekolah mereka yang dipimpin oleh Gi-Woong (Jae-joon Lee). Bertiga sebenernya telah diikat oleh masa lalu. Namun seiring waktu, pribadi-pribadi itu kini tumbuh menjadi sosok yang berbeda satu sama lain sesuai dengan jati diri yang dicarinya.

Yong-ju dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Kedekatan ibu dan anak itu sangat begitu kompak, termasuk pada saat sang ibu hendak mencari pasangan baru untuk menemani hidupnya, yong-ju pun menanggapinya dengan santai. Sama-sama memiliki urusan tapi tidak larut untuk mencampuri urusan satu sama lain. Namun bagi yong-ju, ke-gay-annya bukanlah barang bagus yang bisa dijadikan bahan untuk sebuah obrolan ibu dan anak.

Terlebih, ketika yong-ju didekatkan oleh keadaan terhadap sosok gi-woong. Teman sekelasnya yang saat SMP dulu adalah juga teman satu sekolah. Rasa itu masih tetap sama. Yong-ju semakin mengagumi apapun yang nampak dari sosok Gi-woong. Keangkuhan gi-woong, dinginnya gi-woong hingga semenyebalkannya gi-woong, yong-ju bisa menerimanya dengan suka cita. Hingga dia merasa, bahwa apa yang dia sebut cinta sesadar-sadarnya adalah sekedar bertepuk sebelah tangan. Yong-ju beranggapan bahwa gi-woong kenyataannya bukanlah seperti apa yang dia harapkan. Pupus? Tentu tidak bagi yong-ju. Toh cinta tak harus memiliki, walau sebenernya sakitnya tuh disini (nunjuk dada sebelah kiri).Hingga konflik muncul saat gi-woong yang sedang dikeroyok segerombolan orang dan bermaksud melarikan diri dari kejaran mereka, secara kebetulan langsung merampas sepeda milik yong-ju yang sedang tidak sengaja lewat di lokasi tersebut.

Karena rasa suka, yong-ju semakin larut dalam hubungan yang tidak terjelaskan oleh kata-kata. Di satu sisi, yong-ju senang akhirnya dia punya alasan untuk mendekati Gi-woong, namun di sisi lain dekat dengan Gi-woong berarti dekat dengan masalah. Namun yong-ju memilih opsi pertama. Peduli setan, yang penting bisa dekat Gi-woong, bahagia rasanya. Ada perasaan suka, senang, bahagia dan juga kesal. Semua rasa itu melebur dalam satu ikatan cinta. Yang pada akhirnya gi-woong curiga dan mempertanyakan itu semua kepada yong-ju.

Dan, yong-ju hanya menjawabnya dengan satu ciuman saja. sebuah kejujuran yang patut diacungi jempol. Meskipun dia sadar bahwa bayaran dari jawaban itu adalah pukulan bertubi-tubi. Namun respon yang diberikan gi-woong tidak berarti apa-apa baginya, yong-ju hanya berpesan “jangan bilang siapa-siapa….” Sudah barang tentu, Gi-woong tak bisa menerima perlakuan Yong-Ju. Bagaimanapun juga, ada rasa kesal yang tidak bisa diterimanya. Karena dalam diri Gi-woong masih ada naluri bahwa lelaki tidak lah pantas untuk dicintai oleh lelaki. Atau Gi-woong punyan alasan lain kenapa dia menolak sikap “manis” Yong-ju itu.


 Semenjak kejadian itu, kedekatan mereka semakin “intim”. Dan seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, bahwa dengan keinginan mereka berdua, tak ayal masalah pun datang. Banyak pertanyaan yang muncul. Apakah gi-woong pada akhirnya akan menerima cinta yong-ju. Bagaimana dengan teman-teman mereka? Apakah berakhir bahagia? Ataukah suram dan penuh derita? Seperti yang biasa digambarkan di film-film tema gay kapan tahun…

Sampai kiamat pun, film tema LGBT tak kan ada habisnya. Setelah berbulan-bulan, akhirnya gue bisa juga menonton film ini. Tak ada rekomendasi, hanya ketika browsing di internet terkait, film tema gay, gue nemu judul film ini. Dan kemudian membuka youtube untuk melihat trailer-nya. Dan hasilnya pun cukup promising. Apalagi, si sutradara nya sendiri adalah si Leesong hee-il, yang pernah sukses dengan No Regret-nya (dan gue baru nyadar kalo belum nulis reviewnya).

Sebenernya, ketika menonton film ini, yang gue pikirkan cuman satu. Gue pernah ada di posisi mereka. Mereka dalam hal ini beberapa karakter yang dimunculkan. Mulai dari si yong-ju yang menaruh hati pada idamannya namun tak cukup keberanian untuk mengungkapkan karena alasan yang tidak mungkin. Kemudian merasa ada di posisi gi-taek, yang mana sering menjadi bulan-bulanan aksi bullying oleh geng berandal sekolahan. Intinya, garis cerita yang digambarkan di film ini begitu nyata. Karena gue pun pernah menjadi bagian dari cerita yang disuguhkan tersebut.

Melihat penampilan cast-cast yang enak dilihat (dinikmati), dengan dialog-dialog sederhana namun penuh makna. Ditambah pula dengan tone film yang kuat mengikuti rasa disetiap potongan adegan, Menjadikan film ini kuat dalam penceritaan. Mengingat film ini dirilis tahun 2014, agak sedikit tersenyum ketika ada produk kekinian yang dimunculkan. Yaitu gay app, j*****d semakin menambah realita yang dipaparkan, walaupun kemunculan applikasi ini hanya sekilas. Namun kehadirannya mampu mewakili gaya hidup gay sekarang. Gay mana sih yang gak punya aplikasi pertemanan sesama gay? Kalo pun ada gay yang gak punya, itu pun ada alasannya bukan….?

Tentang alur cerita. Mendapati bahwa penulis cerita adalah sang sutradara juga, semakin memperkuat dugaan gue, bahwa bagaimanapun juga pengalaman adalah guru yang paling menggigit. Menulis, mengedit dan menyutradarai sekaligus memang selalu bisa menjadi jaminan untuk hasil film yang bagus. Karena yang mengetahui rasa dan cerita untuk film itu sendiri adalah sang penulis. Sehingga akan semakin dimudahkan apabila seorang film maker berada pada ketiga divisi tersebut. Hal ini mengingatkan gue pada sosok Lucky Kuswandi yang menggarap film Selamat Pagi, Malam (2014).

Salah satu adegan bullying kekerasan fisik.

Bullying. Film ini sarat dengan isu bullying. Kalau mau dikata, jika mencari film dengan tema bullying, film ini adalah film yang cocok dan pas untuk menjawab itu. Bagaimana penggambaran sosok korban bullying. Kenapa alasan seseorang melakukan tindakan bully, hingga apa akibatnya jika seseorang terus-terusan menjadi korban dan pelaku bullying. Semua digambarkan detail. Bagaimana pihak sekolah pun punya andil, kenapa kasus bullying itu muncul. Pembiaran-pembiaran kasus bullying karena atas dasar korban memang layak untuk dibully juga digambarkan dalam film ini. Bagusnya lagi (SPOILER ALERT!!!!) disini tokoh utama diceritakan mau untuk bangkit dan gak mau terus-terusan menjadi korban. Walaupun pihak sekolah adalah pihak ketiga dalam rantai kasus bullying, dalam film ini pun digambarkan jelas, bahwa masih banyak yang tidak paham soal dampak dari bullying itu sendiri. Bullying masih jauh dibawah yang namanya harga diri dan identitas.


  
  
Dan yang lebih membahagiakan lagi, film ini menye-menye pada moment dan timing yang pas, sehingga kelas menye-menye-nya gak berlebihan. Ada banyak scene-scene kesukaan yang mengantri di benak gue. Adegan neduh nunggu hujan reda masih belum seberapa dibanding scene yang menjadi pamungkas di film ini. Kalian pasti paham scene yang mana yang gue maksud kalau sudah menonton film ini…. Salut untuk cast and crew film ini. “Aku sangat kesepian….” Kalimat terakhir yang muncul di film ini yang langsung mak jleeb…..

4.5 / 5 stars

~ by Imamie on October 26, 2015.

12 Responses to “Film ::: Night Flight (2014)”

  1. aku baru nonton film ini tadi. download di youtube. gila.. ini film makjleb banget.. ngerasa banget berada di posisi dibully,meski bullly nya cuman di jaman sd.
    best gmovie ever. better than bangkok love story..

  2. aku suka film ini

  3. seru sih

  4. Adakah yang tahu, judul lagu dan penyanyi yang diperdengarkan ketika scene mereka bersepeda berdua ? Aku suka lagu itu.

  5. Ikut komen yah…
    Aku sebenernya udah nonton duluan snlum baca ini…. Tpi tetep seneng bisa nemuin ini…

    Aku banyak nonton film boyslove… Eh gak banyak juga sih hehe…tapi emang film ini yang paling ok menurut aku… Apalagi body nya Gi-woong… Uuuh bener bener ok… Hehe😁😁

  6. makasi deskipsinya bagus banget banyak yg gak w ngerti di film coz gak paham b inggris dengan baik, dng lu deskripsikan di sini w jadi banyak tau soal film ini makasi ya…

  7. Ada yang tau gak apa iya semua versi HDRip film ini dari pas scene balikin speda sampe udahan itu audio sama visual balapan? Gak match gitu
    Saya download di Ganool, di Kumpulbagi, di Openload, bahkan di Youtube pun sama, bagian si Gi – Woong balikin speda sampe ending nya itu audio visual gak sejalan

  8. Admin coba deh nonton dan buat deskrisi Film BL Japan yg judulnya “Seven Days”, dari antara film BL selain Night Flight film ini mnr sy jg bagus ga tau kenapa (ga pinter buat review sih … ). FIlm ini dibagi 2 Monday – Thursday dan Friday – Sunday

  9. Gue baru nonton film ini,,hadeeh bagooos banget film nya sampe 3x gue nonton nya ,,cerita nya nyabung gak gantung,gak fulgar juga film nya,,kaya flm gay kbanyakan ending nya suka gantung, kolo nonton d youtube udh ad yg indo sub ko,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: