Cerpen ::: Jalan Pahlawan

“Kalau lewat Jalan Pahlawan jangan ngebut! Angker!”

Kalimat itu terlalu familiar bagi kami, penduduk sekitar Jalan Pahlawan yang sudah puluhan tahun hidup dengan urban legend yang konon muncul karena seringnya terjadi kecelakaan di sepanjang jalan yang masih dalam kawasan pabrik-pabrik besar penghasil tekstil hingga material bangunan. Jalan Pahlawan memang dikenal sebagai jalan maut. Sudah tidak terhitung jumlahnya berapa nyawa yang melayang sia-sia di jalanan tersebut. Mulai dari korban anak kecil, remaja, ibu-ibu hingga beberapa lansia. Banyak yang bilang, karena kebanyakan dari mereka tidak mendengarkan nasihat untuk jangan mengebut. Memang, kebanyakan yang menjadi korban adalah bukan penduduk sekitar lokasi. Mereka berasal dari luar daerah yang mungkin kebetulan lewat. Karena Jalan Pahlawan adalah satu-satunya akses penghubung antar dua daerah.

Banyak yang bilang, Jalan Pahlawan itu bekas areal perkuburan. Kuburan massal korban perang di masa penjajahan Jepang. Walau kenyataannya sekarang, jalan tersebut tidak seseram dulu. Sudah banyak pabrik dibangun, namun masih saja banyak yang takut dan berpikir seribu kali untuk melewatinya. Mereka lebih memilih ngebut apabila jalan sendiri di sepanjang Jalan Pahlawan apabila kondisinya sepi. “Daripada nanti ada apa-apa!” begitulah alasannya.

Sempat ada cerita, suatu malam menjelang dini hari, karyawan pabrik yang pulang sendirian melihat sekelompok barisan tentara Jepang yang sedang latihan baris berbaris, selintas pemandangan itu membuat karyawan pabrik tersebut menjadi bernyali ciut. sudah tentu panik, ketakutan dan kemudian pecah konsentrasi yang akhirnya oleng dan menabrak pohon Jarak. Upayanya untuk tetap terkendali, seakan-akan tidak ada daya, raganya seperti ada yang mengontrol. Memang terlihat janggal, ngebut di jalanan sepi, tidak ada kompetitor, kendaraan besar tidak ada yang masuk keluar. Banyak yang mengaitkan dengan hal-hal klenik. “Salah sendiri ngebut di jalan itu!”

“Kabarnya kepala karyawan pabrik itu pecah!”

“Salah sendiri, sudah ngebut gak pake helm pula!”

“Memangnya dia gak tau ya kalo jalanan disitu angker!”

“Ini bukan masalah angker atau tidak. Coba kalo dia gak ngebut dan pake helm!”

“Alasan dia ngebut kan gara-gara tempat itu angker, coba kalo gak angker, dia kayaknya gak bakalan ngebut!”

“Ah, kalo saya lebih baik ketemu hantu dari pada nantinya malah jadi hantu di tempat itu!”

“Jadi kamu gak takut lewat situ?”

“Sebenernya sih takut, makanya saya selalu ngajak kamu kalo lewat situ!”

“Dasar!!!”

Suatu hari, ada selentingan kabar. Seorang ibu muda dengan membonceng anaknya tewas mengenas di Jalan Pahlawan. Tubuh ibu dan anak itu terlindas roda pengangkut material bahan semen. Hancur tidak berbentuk, terlebih kondisi fisik anaknya. Memprihatinkan. Lagi-lagi yang dijadikan tersangka adalah bapak-bapak yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai sopir di pabrik yang sebentar lagi selesai masa kontraknya. Menurut pengakuannya, saat dia hendak keluar dari lokasi pabrik, jalanan nampak lengang. Di siang bolong yang lumayan menyengat panasnya, tidak mungkin dia tertipu dengan fatamorgana. Sudah hapal dia dengan situasi yang menjadi rutinitas jalanan tersebut. Jam sekian siapa saja yang lewat, kapan konvoi buruh pabrik yang bubaran kerja dan juga aksi ugal-ugalan pelajar yang sangat meresahkan. Sehingga cukup dipertanyakan pula kesalahan yang dituduhkan kepada Pak Badri, sopir truk itu. Entah kasus itu sudah sampai mana pengusutannya, kabarnya sekarang pak Badri sudah tidak lagi terlihat jambang brewoknya di Jalan Pahlawan. Dan beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, sudah mulai beredar cerita tentang dongeng sosok hantu perempuan yang nampak sedang mencari sesuatu di pinggir trotoar di sepanjang Jalan Pahlawan.

Pernah juga saya menjadi saksi mata sendiri, sebuah kejadian yang membuat saya tidak bisa tidur selama dua hari tiga malam. Sehabis pulang dari nonton bioskop di bilangan kota Surabaya, saya dan Ardhi, teman saya, melewati Jalan Pahlawan, yang memang sudah menjadi pilihan kami untuk kembali pulang. Jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Kami berjalan cukup pelan, karena memang sengaja untuk mengetes keberadaan. Apakah ada penampakan seperti yang santer diceritakan. Walau ujung-ujungnya jantung dag dig dug tak karuan. Kami masing-masing ketakutan hanya dalam perasaan, meski raut wajah terpasang muka cengengesan.

Ternyata ada keramaian di sepanjang jalan. Puluhan muda-mudi nampaknya menggelar aksi trek-trekan sepeda motor protolan. Mungkin sengaja memilih jam malam karena dirasa sepi dari keadaan dan pantauan aparat. Padahal masih ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang. Ardhi dan saya sepakat berhenti. Tertarik untuk mengamati. Mungkin diantara segelintir pemuda ini ada yang kami kenali. Nyatanya tak satupun dari mereka teman pergaulan kami.

Dari jauh kami menyaksikan sepeda motor yang tinggal tulang rangka beradu balap. Mesin menyala. si kurus ceking berdiri di tengah-tengah memberi aba-aba. Bendera dikibarkan. Kedua motor melaju. Kencang. Yang satu memakai helm hitam sementara satu lagi tanpa menggunakan helm dengan rambut panjang diikat karet gelang. Sayup suara kedua pembalap karbitan itu menghilang ditelan malam. Dan beberapa menit kemudian kembali pada garis start pemuda ber-helm hitam. Sambil tergopoh-gopoh dia melepas pelindung kepalanya. Nyatanya perempuan yang kami lihat bila ditatap dari penampilan. Sambil panik dia mengatakan kalau lawan tandingnya terpelanting keluar jalan. Berhamburan lah seketika mereka menuju lokasi kejadian. Termasuk kami berdua. tanpa bermaksud latah.

Pemandangan yang mengerikan. Terdengar suara lolongan tangisan merintih kesakitan. Di balik semak-semak pemuda berambut panjang yang diikat karet gelang itu tergeletak dengan kedua kaki yang patah retak. Tulang keringnya keluar menembus kulit menyeruak. Darah merah membasahi jeans belel warna biru pudar. Kulit kepalanya mengelupas sehingga tulang tengkoraknya terlihat jelas. Matanya merah menyala tertutup oleh darah. Semuanya ketakutan. Ada yang berteriak-teriak telpon ambulan. Semuanya ketakutan. Ada yang terdiam sambil terduduk sesenggukan. Semuanya ketakutan. Ada yang kabur meninggalkan korban. Semuanya ketakutan. Begitu pun kami berdua. Sama-sama ketakutan. Kami berlalu sambil mengabarkan kepada orang-orang yang kebetulan kami papaskan,

“Ada kecelakaan mas! Tolong telpon ambulan!”

Semenjak peristiwa itu, saya memilih merebahkan diri di dalam kamar. Memudarkan memori yang selalu membuat saya malas dan enggan untuk menikmati makanan selama beberapa hari.

Kalau diperhatikan. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi disebabkan karena kondisi personal yang tidak mengutamakan keselamatan diri dalam pengendara. Menyepelekan fungsi helm, kebut-kebutan. Dan juga meniadakan tata tertib berkendaraan yang lain. Sangat fatal untuk diabaikan. Dengan alasan lumrah, lokasi tujuan yang dekat, tidak ada polisi, bahkan alasan gerah menggunakan helm sering menjadi penyebab kecelakaan yang berbanding terbalik dari alasan yang lumrah tadi. Walau masih banyak juga yang menjadikan alasan angker sebagai hal utama yang patut untuk dipersalahkan.
Sepengalaman saya menjadi pengguna Jalan Pahlawan, belum pernah ketemu apa yang namanya penampakan hantu atau setan. Walaupun begitu, bukan berarti saya berharap untuk bisa ketemu. Entah lah. Saya berada pada dua keyakinan. Antara mengakui keberadaan dunia astral dengan tidak mau ambil pusing atas eksistensi makhluk astral yang tentu saja karena alasannya satu. Takut. Namun kembali kepada pernyataan yang pernah saya lontarkan. Lebih baik saya ketemu hantu dari pada menjadi hantu lantaran melanggar peraturan lalu lintas. Toh, selama ini, sampai detik ini, saya tidak pernah ketemu hantu. Lama-lama saya pun—mungkin tidak lagi percaya hantu. Lagipula saya sudah terlalu lama berpikir dengan logika. Logika berpikir yang semestinya digunakan oleh pengguna jalan lain apabila hendak berkendara.

Pernah suatu ketika, saya taruhan dengan seorang teman. Dia optimis dan yakin bahwa dengan menggunakan helm-pun seseorang bisa menjadi korban di Jalan Pahlawan. Praktis saya tidak sepakat dengan kondisi tersebut. Memang, dengan menggunakan helm tidak bisa menjadi patokan seseorang apakah dia bisa lolos dari maut atau tidak. Karena sejatinya yang menjadi penyebab kecelakaan itu sendiri ada dua faktor. Pertama, bagaimana seseorang mendisiplinkan diri dalam berkendara dan yang kedua adalah karena faktor ketidakberuntungan. Untuk faktor yang kedua ini, tak ada satupun manusia yang bisa mengaturnya. Namun, faktor pertama bisa menjadi katalisator seseorang supaya terhindar dari ketidakberuntungan tersebut. Jadi sesungguhnya, setiap manusia masih punya kesempatan untuk terhindar dari kecelakaan lalu lintas kalau saja mau mematuhi tata tertib berkendara.

Dan sekitar dua bulanan semenjak pertaruhan, tak pernah sekalipun terjadi kecelakaan. Jalan Pahlawan seakan-akan mendengar atas apa yang kami obrolkan. Sesuai perjanjian, selang dua bulan, bila tidak terjadi kecelakaan, saya dalam hal ini yang dimenangkan. Satu minggu berturut-turut, saya dirajakan. Antar jemput ke tempat kerjaan. Makan siang dan makan malam selalu di rumah makan tanpa mengeluarkan biaya tagihan pembayaran. Dan sebuah helm standar warna merah yang sengaja dihadiahkan kepada saya sebagai bentuk ironi dalam menyigapi apa yang telah kami lakukan selama ini. Kebetulan sekali, helm saya kacanya sudah tidak berfungsi. Hampir lepas. Yang terpaksa saya tempeli lakban agar tidak melorot. Janji berulang kali dalam diri untuk membeli helm rupanya didengar oleh teman saya. “Rejeki anak soleh,” celetuk dia.

Membahas Jalan Pahlawan memang tidak akan pernah ada ujungnya. Terlebih kalau disangkutpautkan dengan urusan nyawa. Seakan-akan bukan Jalan Pahlawan namanya kalau tidak memakan korban. Seperti kejadian baru-baru ini…

Malam itu…

Saya kebetulan mendapat tugas untuk membeli nasi goreng buat makan malam kami sekeluarga. Seperti layaknya keluarga harmonis yang lain, kami mempunyai langganan penjual nasi goreng yang menurut kami enak dan layak dijadikan rujukan. Sebenarnya jarak antara rumah dengan penjual nasi goreng tersebut dekat, hanya melewati sepanjang Jalan Pahlawan. Tidak membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit untuk bisa sampai ke lokasi. Namun yang menjadikan lama malam itu adalah, helm merah saya hilang. Entah siapa yang mengambil. Sempat marah dan mogok jalan. Ayah menyarankan tidak perlu memakai helm, sementara ibu marah-marah dan tidak setuju kalau saya tidak menggunakan helm. Namun kali ini, ego saya menang. Sebagai bentuk bukti kedangkalan otak saya dalam pertarungan nurani. Emosi saya membuncah. Memilih membawa sepeda motor tanpa menggunakan helm. Dongkol mendalam dengan dihiasi sumpah serapah kepada siapapun yang telah mengambil helm kesayangan saya. Kalau bukan mas Abbas pasti mbak Susi. Siapa lagi!

Motor saya hidupkan. Sengaja saya starter kencang-kencang, sebagai bukti bahwa emosi menguasai diri. Ayah tak peduli. Ibu hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan anak bungsunya.

Di sepanjang jalan saya mengebut tanpa alasan. Bayangan akan hantu-hantu gentayangan tidak terpikirkan. Yang menyeruak hanya rasa kesal yang teramat sangat. Sesekali saya berteriak. Berharap kekesalan ini terhempas bersama hembusan angin malam yang saya terabas tanpa batas.

Konsentrasi bukan pada bagaimana saya bisa sampai ke tujuan. Hanya terfokus pada bagaimana saya bisa mengebut penuh sahaja. Berharap punya kuasa agar jalanan tunduk pada putra dunia yang dirundung dendam. Memang ini masalah sepele. Hanya karena helm yang entah dibawa siapa. Sehingga bisa dengan sekejap mengubah karakter seseorang. Karakter saya. Malam itu menjadi malam yang terpanjang diantara malam-malam saya yang lain.

Waktu pun berlalu. Penguasa semesta pun tahu bahwa kini saya bukan lagi sang pemberang yang tak tahu malu. Saya bukan lagi yang seperti dulu. Yang terlalu sering membicarakan hantu dan penampakan tentara jepang di sepanjang Jalan Pahlawan. yang sering membicarakan kematian dan ketidakberuntungan. Yang kini ngilu dalam rindu sebagai wujud dari manusia utuh yang dulu pernah berjanji untuk selalu patuh dan peduli terhadap nyawa yang hanya satu ini.

Kini, saya lah bagian dari cerita itu. Saya lah bagian dari kematian itu. Bagian dari ketidakberuntungan itu. Bagian dari jiwa yang pernah membuncah oleh emosi sekilas namun berakibat kekal.

Kabar ceritanya, tubuh saya ditemukan terkapar tanpa nyawa di tengah jalan dengan kondisi kepala pecah. Tidak ada yang mengetahui pasti apa penyebabnya. Ada yang bilang tabrak lari. Namun banyak yang bilang, saya mati karena ditabrak truk gandeng yang memuat biji besi.

“Kalau sudah begini, apakah kamu masih terus menerus menyalahkan kami?”

Gresik, 28 Oktober 2015

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

~ by Imamie on October 28, 2015.

One Response to “Cerpen ::: Jalan Pahlawan”

  1. Berkelas. Horor sih tapi suka banget. Selalu seka malah. Diperbanyak cerpennya ya kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: