Film ::: No Touching at All (2014)

Trauma….

Apakah kita akan terus hidup di dalam bayang-bayang trauma masa lalu, atau kah kita harus pantas untuk berjuang agar bisa lepas dari masa lalu yang bayangannya selalu membelenggu.

Masa lalu selalu diidentikkan dengan kepedihan. Luka yang tak terobati. Kenangan yang menyisakan air mata. Masa lalu adalah kenangan dengan kadar kepahitan yang beraneka ragam. Masa lalu tidak bisa dihilangkan, masa lalu hanya bisa dilewati, dilalui, dan dihadapi.


Setelah sekian lama tidak menyaksikan film Jepang bertema homoseksual, kali ini, gue dibikin tersenyum dengan munculnya film ini. Sebuah drama percintaan yang sangat sederhana namun sangat kompleks karena siapapun pasti mengalami dilematika seperti yang dihadapi Shima dan Toga.

Keduanya dipertemukan dalam satu kantor yang sama, Shima adalah pegawai baru yang kebetulan satu divisi dibawah kepemimpinan Toga. Keduanya memiliki kepribadian yang sangat berbalik. Shima yang rapi, wangi, kalem bahkan level pemalunya terbilang sadis berbanding terbalik dengan atasannya, Toga, yang urakan, slengekan, perokok dan cenderung ceplas-ceplos.


Karakteristik Shima nyata-nyata-nya mengundang rasa penasaran Toga untuk mengenal dia lebih dekat. Terang-terangan Toga mengaguminya. Rasa penasaran itu akhirnya menumbuhkan ikatan tanpa nama antara Shima dengan Toga. Perlahan, Toga semakin menyukai Shima. Namun tidak dengan Shima. Bayang-bayang masa lalu-nya masih terus menghantui. Perlakuan mantan kekasihnya masih dia rasakan. Sebelum di kantor baru, Shima pernah bekerja di sebuah perusahaan besar, yang notabene, sekantor dengan mantannya. Karena lain sebab, Shima memutuskan untuk putus dan hengkang dari perusahaan lamanya.


Dan gossip bahwa Shima adalah seorang gay, pun menyebar di kantor baru-nya. Sepertinya, Shima tidak peduli dengan itu. Mungkin karena dia sadar, bahwa dia bekerja dengan otak, skill-nya, bukan bekerja dengan orientasi seksual-nya.

Sekilas tentang Shima, hubungan antara dia dengan Toga pun semakin serius. Hingga pada akhirnya konflik muncul hampir di seperempat film. Yang pada akhirnya membuat keduanya harus berpikir keras, apa yang akan dilakukan?

Film ini kalau gue pikir, sangat sederhana sekali. Pelan penuturannya namun menyentuh. Sehingga muncul rasa sabar untuk menikmati setiap frame-demi-frame cerita. Menjadikan film ini gaya berceritanya setia pada karakter Shima yang kalem.

Entah kenapa, gue begitu adem menikmati film ini. Kekompakan karakter yang dibangun kuat oleh para aktor ini sangat begitu masuk chemistry-nya. Saling mengisi. Dan kekuatan karakter itu bisa ditemukan di Toga. Bagaimana dia terlahir ke dunia dengan pribadi yang cool-nyebelin-tapi ngangenin… Karakter yang selalu didambakan para lelaki-lelaki yang haus akan maskulinitas.

Film ini memberikan mimpi sekaligus fakta, bahwa harapan manusia itu akan terkabulkan selama ada niatan dari hati dan keberanian untuk mendobrak kesunyian. Keluar dari kotak (zona nyaman). Kekuatan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, bahwa keyakinan diri lenih utama ketimbang apa yang diyakini orang lain.


Shima dan Toga adalah contoh nyata di dunia homoseksual, bahwa berani mengambil keputusan untuk pilihan hidup yang lebih baik, tidak ada salahnya. Yang salah hanya-lah, kita yang bukan siapa-siapa tapi merasa kita adalah titisan Tuhan yang berhak untuk melucuti rasa kemanusiaan.
3/5 bintang

 

~ by Imamie on February 9, 2016.

One Response to “Film ::: No Touching at All (2014)”

  1. Reblogged this on International Gay Guide To Asia & Cambodia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: