Aku, Gresik dan Jakarta

Saat ini, usia gue 32 tahun. Juli 2016 akan menginjak usia 33 tahun. Bisa gue bilang, kalo gue mungkin sudah mendekati gak muda. Secara hitung-hitungan usia. Namun bila diukur dari cara berpikir dan kepribadian, gue ngerasa, gue gak pernah merasa tua. Kawan sepantaran sudah berkeluarga dan berbiak anak. Berlomba-lomba membahagiakan apa yang menjadi obyek kebahagiaan mereka, nah gue, masih teronggok membujang di sudut kamar gue yang kental dengan nuansa single-itas mencolok. 

Keluarga gue pun sepertinya sudah sadar, bahwa perkawinan pun bukan tolak ukur kesuksesan hidup gue. Mungkin mereka melihat, bahwa pekerjaan lah yang lebih penting. Well, sekembalinya dari rantauan (Jakarta), gue bisa dibilang jobless. Pengangguran yang banyak gaya. Awal-awal balik ke Gresik karena kesehatan yang menurun. Ditambah, sisa-sisa pola gaya hidup yang hedon (entahlah gue belum nemu kata yang tepat sih sebenarnya) sehingga, mempercepat keterpurukan gue di tanah kelahiran. Memang sih, kembali berkumpul bareng keluarga adalah nikmat dunia, tapi rasa-rasanya itu hanya nikmat yang bersifat sementara. Awalnya kekangenan itu terobati, namun selanjutnya NERAKA. 

Dunia baru. Di Gresik, gue mencoba mencabik penghalang, inginnya gue supaya bisa menemukan jalan agar bisa mendulang materi di kampung sendiri. Segala rencana dan strategi, namun semuanya tak berjalan sebagaimana mesti. Lebih banyak makan darah. Jangankan pihak eksternal, dari keluarga sendiri pun gue masih nemu bully-bully yang bercita rasa masa lalu. Semuanya muncul. Apa yang menjadi alasan gue untuk merantau kapan hari, kini pun muncul dan beralasan. 

Rezeki gue gak disini…

Ini seperti terkutuk. Gue tidak bisa berbuat banyak. Lapangan pekerjaan yang katanya bisa dan gampang didapatkan pun nyatanya nihil. Nol besar. Pribadi gue yang idealis masih susah lepas untuk menjadi apatis terhadap Jakarta. Mindset gue masih sama, Jakarta segalanya itu masih nempel di kepala. Di sini (Gresik) gue bisa apa? 

Tawaran dari Jakarta pun masih terus bergulir. Ada kondisi dimana gue trenyuh, disaat perjuangan dan pengorbanan gue lakukan, namun disaat gue mulai menuai hasil, justru keadaan yang memaksa gue untuk meninggalkan itu semua…

  
Sesal sedih ngumpul jadi satu. Banyak pertimbangan. Setiap kali, yang kurasa beban adalah keluarga. Dan keluarga yang selalu menjadi alasan utama kenapa gue sering kali bimbang dan ragu….

Pertanyaan gue yang lalu-lalu muncul perlahan, haruskah kukembali???

~ by Imamie on February 13, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: