Mari Mengenal LGBT Lebih Dekat

Well, 2016, empat tahun lebih postingan gue sebelumnya yang berjudul Mari Mengenal Gay Lebih Dekat hingga kini masih terus menuai komentar dan yang sesekali masih sempat-sempatnya gue tanggapi dengan serius, terkadang banyak iseng bin nyolot juga. 

Akhir-akhir ini pun marak pula perdebatannya terkait LGBT. Lagi-lagi dan lagi. Sebenernya percikan-percikan itu sudah ada namun tidak meledak, hingga muncul kasus yang akhirnya, menempatkan isu LGBT pada sebuah panggung di kancah berbangsa. LGBT pun menjadi sorotan.

Dan kebetulan salah satu orang yang terlibat dan menjadi bulan-bulanan media adalah kawan gue yang dulu pernah menjadi narsum gue di filem dokumenter gue. Sehingga pada suatu ketika dia memposting sebuah status di akun facebooknya. Ketika gue telusuri dan memahami apa isi tulisan di statusnya, timbul ide untuk menyalin di blog gue. 

Semoga salinan tulisan ini bisa membantu memberikan pemahaman baru yang mungkin belum didapatkan di postingan gue yang terdahulu. Selamat membaca…

Tanggal 17 Februari 2016 malam, kawan gue menulis, :

Rekan saya, Ayu R., (yang kebetulan gue juga kenal) dan tulisannya yang manis dalam menanggapi kolom komentar. Panjang? Semua pertanyaan anda ditanggapi disini. Baca dulu, baru diskusi. 

Q : “Kalau soal teman-teman LGBT di lingkungan Ayu yang notabene terpelajar mungkin Ayu tidak merasa terancam.”

A : Jika yang dimaksud terpelajar adalah mereka mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, jawabannya adalah salah. Sama seperti kawan-kawan yang setahuku heteroseksual, kawan-kawanku yang kebetulan LGBT dapat dikatakan sangat beragam dari segi ekonomi, status sosial, agama, etnis, dan latar belakang edukasi. Jadi masalah aku tidak terancam dengan keberadaan mereka tidak ditentukan oleh aspek-aspek tersebut.

Q : “… bagaimana dengan LGBT di luar sana yang banyak menjadi LGBT dan menjadi orang yang meresahkan masyarakat dengan berperilaku seks bebas bahkan banyak anak anak kecil smp yang juga sudah melakukan seks dengan orang dewasa sesama LGBT? Atau bahkan paedofil?”

A: Nah, di sinilah aku pikir penting bagi kita belajar kembali untuk bisa lebih cermat membedakan antara:

1) orientasi seksual (heteroseksual, homoseksual, biseksual);

2) identitas seksual (lesbian, gay, biseksual, dll.);

3) identitas gender (perempuan, laki-laki, transgender);

4) gangguan psiko-seksual (paedofilia, hiperseksual, voyeurism, dll.);

5) kekerasan seksual (perkosaan, pencabulan, pelecehan seksual, dll.); dan 

6) perilaku seksual (pelukan, ciuman, berhubungan seksual, penetrasi, anal seks, dll.).

Sekarang “berperilaku seks bebas” itu maksudnya bagaimana? Anggaplah yang dimaksud adalah bermesraan di depan umum atau PDA (Public Display of Affection)? Apakah heteroseksual tidak melakukanya? PDA itu merupakan perilaku seksual yang bisa dilakukan oleh siapa pun. Nyatanya banyak sekali heteroseksual melakukan PDA itu. Bahkan dibandingkan homoseksual, heteroseksual lebih banyak dan lebih mungkin melakukan PDA karena masyarakat lebih permisif. Kawan-kawan LGBT umumnya tidak berani melakukan PDA karena mungkin sekali mereka akan dikepruk orang lain yang melihat. Sebagai contoh, tahun lalu di Aceh 2 perempuan sekedar berpelukan saja langsung ditangkap oleh polisi syariah karena dikira lesbian (bisa di-kroscek beritanya, silahkan googling). Contoh lain, 2 orang laki-laki yang tampak akrab dan jarak interpersonalnya begitu dekat saja masyarakat umumnya melihat mereka dengan pandangan aneh, pandangan yang mungkin sekali akan membuat mereka merasa tidak nyaman. That’s why agak aneh jika ada yang mengatakan homoseksual itu banyak yang melakukan PDA.

Sekarang anggaplah yang dimaksud dengan “seks bebas” adalah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Hmm… menurutku sulit membandingkan heteroseksual dan homoseksual dalam perkara ini karena pada dasarnya tidak sebanding. Heteroseksual bisa menikah, sedangkan homoseksual tidak bisa menikah di sini. Tapi marilah kita melihat kembali pada fakta dan data… Heteroseksual banyak lho yang berhubungan seksual di luar pernikahan. Catatan BKKBN menyebutkan, “46 persen remaja berusia 15-19 tahun sudah berhubunganseksu al. Data Sensus Nasional bahkan menunjukkan 48-51 persen perempuan hamil adalah remaja.” Bukti lainnya adalah dari hasil penelitian Komnas Perlindungan Anak tahun 2012 tentang perilaku seks di kalangan remaja SMP dan SMA. Hasilnya, dari 4.726 responden, sebanyak 93,7 persen mengaku sudah pernah melakukan hubungan seksual dan sebanyak 21,26 persen dari responden sudah pernah melakukan aborsi. Penelitian serupa pada 2008 di 17 kota besar di Indonesia dengan jumlah responden yang sama menemukan bahwa 62,7 persen remaja SMP sudah pernah berhubungan seksual serta 21,2 persen mengaku pernah menjadi aborsi. (Sumber: http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=1761). Jelas dari data tersebut hubungan seksual pada anak-anak SMP dan SMA marak dan dilakukan melalui praktek seksual heteroseksual (tampak dari angka aborsi).

Masih mengenai praktek seksual dengan anak di bawah umur. Kebetulan pekerjaanku di LSM seperti Yayasan Pulih banyak membuat aku berinteraksi dengan kawan-kawan aktivis dan lembaga LGBT. Dari interaksi tersebut aku jadi tahu bahwa mereka justru mengampanyekan ke internal komunitas untuk tidak menjalin hubungan dengan anak di bawah umur (di bawah 18 tahun). Kenapa? Karena mereka sadar hukum, mereka tahu bahwa UU Perlindungan Anak tidak memperkenankan relasi (seksual) dengan anak di bawah umur tersebut. Sebagai tambahan informasi, bahkan kawan-kawan LGBT (yang saya kenal) turut mendukung dan melakukan advokasi untuk menaikan usia menikah bagi perempuan dari 16 tahun agar menjadi 18 tahun (advokasi anti-pernikahan anak) dengan berdasar pada UU Perlindungan Anak. Sayang sekali advokasi tersebut gagal karena si pembuat keputusan malah lebih berat pada pihak-pihak yang pro pernikahan anak dan menentang advokasi tersebut, salah satunya MUI.

Sekarang mari membahas mengenai paedofil, homoseksual, dan hubungan seksual dengan anak. Yang perlu ditekankan di sini adalah, ketiga hal tersebut adalah berbea satu sama lain. Paedofil merupakan gangguan jiwa, tepatnya merupakan salah satu ganguan psiko-seksual, di mana seseorang memiliki ketertarikan yang intense kepada anak-anak di bawah usia pubertas. Adapun kriteria diagnosis untuk gangguan ini, adalah:

1) Memiliki fantasi seksual atau dorongan seksual yang intens dan berulang atau terlibat dalam perilaku seksual dengan anak atau anak-anak pra-pubertas (umumnya usia 13 tahun ke bawah) selama setidaknya 6 bulan; 

2) Individu yang bersangkutan telah bertindak berdasarkan dorongan seksual tersebut, atau dorongan/fantasi seksual tersebut menimbulkan tekanan atau kesulitan interpersonal;

3) Individu yang bersangkutan setidaknya telah berusia 16 tahun dan 5 tahun lebih tua daripada anak atau anak-anak pada kriteria A.

Pedofilia bisa diklasifikasikan menjadi pedofilia eksklusif (hanya tertarik kepada anak-anak) dan pedofilia noneksklusif (memiliki ketertarikan kepada anak-anak juga orang dewasa). Selain itu paedofil sendiri ada yang hanya tertarik kepada anak-anak dengan jenis kelamin berbeda darinya, ada yang tertarik kepada anak-anak yang sama jenis kelaminnya, dan ada yang tertarik kepada keduanya. Dan yang perlu digaris bawahi adalah yang boleh menegakkan diagnosis pedofilia ini HANYA psikiater atau psikolog melalui pemeriksaan psikologis tertentu. Informasi mengenai pedofilia bisa lebih lanjut dibaca melalui sumber berikut:

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) 5th Edition.

Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia edisi III yang dikeluarkan oleh Kemenkes.

http://www.paedofiles.com/main/wp-content/uploads/downloads/2012/12/pedophiles.pdf

Selanjutnya adalah homoseksual, yakni varian lain dari orientasi seksual selain heteroseksual dan biseksual dan BUKAN merupakan penyakit maupun gangguan psiko-seksual. Benar bahwa homoseksual pernah digolongkan sebagai gangguan, namun kini sudah tidak lagi demikian. Sejak tahun 1973, homoseksual sudah keluar dari penggolongan gangguan kejiwaan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) III yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA). Selanjutnya, pada tanggal 17 Mei 1990, WHO pun menyatakan bahwa homoseksual bukanlah gangguan kejiwaan. Di Indonesia sendiri, tepatnya sejak tahun 1983, homoseksualitas resmi dinyatakan bukan merupakan penyakit kejiwaan dalam PPDGJ II. Hingga pada revisi terakhirnya, yakni PPDGJ III yang terbit tahun 1993, homoseksual dikatakan sebagai sesuatu yang normal. Berikut tulisan salah seorang kawan mengenai sejarah dikeluarkannya homoseksual dari daftar gangguan jiwa. Tulisan ini dilengkapi dengan daftar referensi ilmiah yang kemudian dapat di-cross check kembali: http://rainbowrevival.blogspot.com/2013/10/mempertanyakan-kembali-normalitas.html.

Sekarang bagaimana dengan hubungan seksual dengan anak? Berdasarkan UU Perlindungan Anak, jelas hubungan seksual dengan anak termasuk dalam tindak kekerasan seksual yang dapat dipidanakan, terlepas apakah hubungan seksual tersebut dilakukan dengan orang dewasa dengan jenis kelamin berbeda ataupun sama dengan jenis kelamin anak, terlepas apakah dilakukan oleh heteroseksual ataupun homoseksual. Nah pertanyaannya, apakah kekerasan seksual ada anak hanya dilakukan oleh homoseksual? Pertama, kembali lagi bahwa homoseksual, heteroseksual, biseksual merupakan ketertarikan/orientasi seksual. Orientasi seksual itu sendiri berbeda dengan perilaku seksual apalagi dengan kejahatan seksual. Jika diambil contoh ada seorang pria dewasa melakukan pencabulan terhadap anak perempuan (which is banyak sekali contoh dan beritanya), sesungguhnya belum tentu ia heteroseksual. Begitu pun sebaliknya, jika ada seorang pria dewasa melakukan pencabulan terhadap anak laki-laki, sesungguhnya belum tentu ia homoseksual. Lalu bagaimana mana kita tahu pelaku homoseksual atau bukan? Yang jelas bukan berdasarkan jenis kelamin korbannya. Inilah pula sebabnya saat ini sangat dianjurkan untuk menyebut male-to-male sexual assault bagi kekerasan seksual yang dilakukan oleh laki-laki terhadap korban laki-laki dan male-to-female sexual assault bagi kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku laki-laki terhadap korban perempuan, agar tidak menimbulkan misconception dan kesalahan berpikir dalam memandang kekerasan seksual tersebut. 

Kedua, kalaupun mau berasumsi kasar bahwa melihat orientasi seksual terhadap pelaku kekerasan seksual berdasarkan jenis kelamin korbannya, nyatanya kekerasan seksual pada anak perempuan buanyaaaaaak sekali dilakukan oleh laki-laki dewasa. Dan banyak pula laki-laki dewasa pelaku kekerasan seksual terhadap anak laki-laki merupakan laki-laki beristri dan sudah punya anak. Sebagai bukti, silahkan googling, saya yakin akan buanyak sekali ditemukan kasus-kasusnya. Dan jika kita cukup cermat, tentu mudah sekali timbul pertanyaan saat kita membaca berita-berita mengenai kekerasan seksual pada anak ini, “mengapa jika pelakunya berjenis kelamin sama dengan korban, media banyak memunculkan kata homoseksual, sedangkan jika jenis kelaminnya berbeda, media tidak menyebutkan pelaku heteroseksual melakukan pencabulan?” Untuk saya pribadi, kasus-kasus tersebut diatas jelas menunjukan bahwa perihal kekerasan seksual tidak bisa dikaitkan langsung apalagi dieksklusifkan dengan perihal orientasi seksual atau identitas gender tertentu, dalam hal ini homoseksual atau LGBT.

Masih terkait perihal kekerasan seksual ini, ada 1 hal yang ingin saya garisbawahi, kekerasan seksual terhadap anak berbeda dengan pedofilia. Tolong jangan gunakan istilah pedofilia untuk merujuk pada kekerasan seksual pada anak! Kenapa? Karena pelabelan pedofilia yang notabene termasuk dalam gangguan jiwa bisa jadi celah hukum untuk pelaku memperoleh keringanan hukuman. Selain itu, penting juga diketahui bahwa tidak semua yang pedofilia merupakan pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Ada yang disebut pedofilia non offending. Untuk informasi mengenai hal ini, silahkan baca link berikut: http://www.upworthy.com/this-19-year-old-pedophile-has-never-gone-near-a-child-and-he-needs-you-to-hear-his-story.

Q : “Secara kesehatan mereka (LGBT) akan menjadi ancaman. Mereka akan menambah angka pengidap HIV/AIDS”

A : Data dari kementerian kesehatan jelas menyebutkan bahwa angka tertinggi untuk HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga yang tertular oleh suaminya yang berperilaku seks beresiko. 

“Data kementerian Kesehatan menyebutkan Ibu rumah tangga menempati urutan terbesar orang dengan HIV-AIDS ODHA, yakni sebanyak 9.096. Angka itu terungkap dalam laporan data kumulatif HIV-AIDS sepanjang tahun 1987 sampai dengan September 2015. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Sigit Priohutomo mengatakan ibu rumah tangga rentan tertular HIV karena suaminya merupakan orang yang memiliki perilaku berisiko tinggi terkena HIV.” (sumber: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151130_indonesia_hiv_iburumahtangga)

Dengan kata lain, penularan tertinggi justru bukan dari praktek seksual sesama jenis, melainkan praktek seksual suami-istri (berbeda jenis). Terkait data tersebut, saya pikir penting untuk ditegaskan bahwa salah satu cara penularan HIV/AIDS berhubungan dengan PERILAKU seksual beresiko, bukan orientasi seksual seseorang. Adapun perilaku seksual beresiko tersebut diantaranya adalah berganti-ganti pasangan seksual dan tidak menggunakan “pengaman” (co: kondom, dental dam, dll) saat berhubungan seksual. Nah, sialnya, yang umumnya luput dari penggunaan “pengaman” ini justru adalah pasangan suami istri. Setahu saya, malah LGBT yang banyak mengampanyekan perilaku seks sehat (misal: penggunaan kondom) dan bergiat di isu HIV/AIDS. Mereka juga giat mengajak komunitas dan masyarakat umum untuk melakukan tes HIV/AIDS secara teratur (jika seksual aktif) dan mengonsumsi ARV jika telah mengidap HIV. Nah, sekarang saya justru mau tanya, bagi kawan-kawan yang merasa dan mengidentifikasikan diri heteroseksual (serta siapa saja) sudahkah melakukan tes HIV? Jika belum, silahkan lakukan segera, yah… Penting lho untuk mengetahui status kesehatan kita… Tes dapat dilakukan di puskesmas maupun rumah sakit terdekat dan kerahasiaan hasil dijamin oleh institusi tempat kita melakukan tes. *sekalian promosi*

Q : “Secara sosial juga meresahkan. Karena dengan pernyataan terbuka dan pengakuan mereka akan mempengaruhi remaja dan anak-anak yang sedang mencari jadi diri dan menganggap bahwa itu baik-baik saja dan gak masalah.”

A : Hmm… Sebenarnya mirip dengan pembahasan PDA sebelumnya, khususnya di sini, LGBT itu banyak sekali cap dan stigmanya, sebagai kelompok minoritas, mereka pun rentan sekali mengalami kekerasan. Oleh karena itu, mereka justru kesulitan untuk mengekspresikan diri mereka yang sebenarnya. Jangankan melakukan itu secara terbuka, untuk sekedar menerima diri sendiri sebagai LGBT saja sudah tantangan besar, coming out kepada orang-orang terdekat semisal keluarga saja sudah berat sekali, apalagi mau mengaku secara terbuka di tengah khalayak umum. Sekarang mari lihat Amerika yang biasa dituduh sebagai “biangnya LGBT”. Benar di sejumlah negara bagian di sana sudah melegalkan pernikahan sejenis, benar bahwa da sejumlah public figure yang secara terbuka menyatakan diri sebagai LGBT, apakah serta merta orang/remaja Amerika menerima LGBT? Silahkan dicek juga, di Amerika salah satu angka hate crime tertinggi saat ini justru berbasis orientasi seksual (sumber: https://www.fbi.gov/news/stories/2014/december/latest-hate-crime-statistics-report-released). Hal ini tidak hanya menyebabkan LGBT menjadi target kekerasan, melinkan juga membuat LGBT rentan sekali melakukan bunuh diri karena tekanan sosial yang ada. Dan kerentanan tersebut berkali-kali lipat dibandingkan mereka yang heteroseksual (sumber: http://www.thetrevorproject.org/pages/facts-about-suicide). Sekali lagi bukan karena mereka LGBT, melainkan karena tekanan sosial yang ada.

Q : “.. . secara agama jelas. Tidak ada agama yang menghalalkan penganutnya menjadi LGBT.”

A: untuk pandangan ini, tak hanya yang heteroseksual, kawan-kawan LGBT juga paling tidak pernah dengar akan hal ini. Buat saya pribadi, selama mereka bahagia dan mereka tidak merugikan orang lain (ini un berlaku bagi mereka yang heteroseksual), saya merasa tidak punya hak untuk intervensi lebih jauh akan kehidupan (pribadi) mereka. Jadi kalau pun mereka tetap memutuskan untuk menjadi LGBT atau sebaliknya atas dasar kesadaran dan keputusan pribadi (tanpa paksaan) mereka ingin manjalani kehidupan dengan cara lain, aku hanya akan dan bisa mempersilahkan. 

Selain itu saya pun yakin bahwa pada dasarnya semua agama melarang kita untuk melakukan diskriminasi dan kekerasan. Bahkan ketidaksukaan atau ketidak setujuan kita terhadap suatu kelompok tidak boleh menjadi alasan untuk kita berbuat tidak adil.

Mengenai azab, dosa, dan pahala, saya pun sepakat untuk menyerahkannya kepada Tuhan yang Kuasa. Bukan hak saya bahkan sekedar untuk melaknat-laknati atau merendahkan orang atau kelompok lain. Saya pribadi tidak berani selancang itu melangkahi kuasa Tuhan.

Q : “… secara hukum. Indonesia tidak mengizinkan pernikahan sejenis.”

A : Benar sekali. Dan setahuku, tidak ada lembaga dan aktifis LGBT yang memperjuangkan pernikahan sejenis di Indonesia. Yang mereka perjuangkan adalah kesetaraan hak dengan yang bukan LGBT, hak untuk mendapat pendidikan, atas rasa aman, tidak mendapatkan kekerasan dan diskriminasi, dan perlindungan hukum. Itulah yang saya tahu dari interaksi saya selama ini dengan kawan-kawan, aktivis, dan lembaga LGBT di Indonesia.

Mengenai kawan-kawan lain yang tidak setuju bahwa LGBT tidak mengancam, saya sendiri tidak masalah dengan itu. Saya pikir itu hak juga untuk berpikir, merasa, dan menyatakan demikian. Termasuk Fahira Idris yang mengeluarkan pernyataan, buat saya tidak masalah juga. Tapi, saya harap ketidaksetujuan itu tidak lantas membuat kita melakukan tindak diskriminasi dan kekerasan terhadap mereka, bahkan mengajak dan memprovokasi orang lain untuk melakukannya, misal: menolak LGBT masuk kampus, melakukan pengusiran terhadap LGBT, dll. Seperti yang Teh Lia juga sempat sebutkan, tidak masalah juga berteman dengan LGBT walaupun ada tambahan catatan juga di sana. Buat saya pribadi pun memberi peringatan dan informasi tidak masalah, tentunya dengan cara-cara yang baik, tidak intimidatif dan bersifat mengancam karena jatuhnya ya kekerasan lagi. Sebenarnya prinsip ini tidak hanya berlaku bagi isu dan kelompok LGBT, melainkan kelompok lain juga semisal GAFATAR, Ahmadiyah, jemaat GKI Yasmin, dll.

Bagaimana jika orang-orang terdekat saya, misal keluarga, anak (jika Tuhan menganugrahi saya anak), dll, LGBT. 

Saya akan menerima mereka apa adanya, walaupun saya akan khawatir terhadap mereka. Bukan khawatir karena mereka LGBT, bukan itu. Tapi saya khawatir terhadap bagaimana orang lain di sekitar mereka akan memperlakukan mereka dan itu akan mempengaruhi mereka. Saya akan sepenuhnya percaya bahwa mereka bisa menentukan jalan hidup yang terbaik bagi diri mereka sendiri dan saya akan menghormati apapun keputusan yang mereka ambil atas diri mereka sendiri. Prioritas saya adalah mereka tidak melakukan dan mendapatkan diskriminasi dan kekerasan serta mereka bisa bahagia dengan jujur dan menjadi diri mereka sendiri. Saat ini demikian yang bisa saya sampaikan, bagi yang tidak sependapat, lagi-lagi saya pikir itu sah-sah saja… Justru saya berterima kasih atas doa-doa yang sudah kakak-kakak dan kawan-kawan sudah panjatkan bagi saya dan mungkin kawan-kawan lain yang sependapat dengan saya.
Q : “Kalau gay dan lesbian menguasai, maka bisa punah manusia.”

A : Sebenarnya saya agak tidak paham juga maksud “menguasai” itu bagaimana, saya rasa kata tersebut kurang sesuai karena setahu saya LG dan BT tidak berusaha untuk menguasai apa-apa. But anyway, saya sendiri tidak yakin bahwa homoseksual mengancam populasi manusia di dunia. Kenapa? Karena keberadaan homoseksual tidak akan mempengaruhi keberadaan heteroseksual. Homoseksual itu bukan penyakit (sudah saya jelaskan sebelumnya) dan tidak menular. Banyak kawan-kawan heteroseksual yang bergaul lama dengan homoseksual mereka tetap heteroseksual. Bahkan beberapa orang heteroseksual yang saya pernah wawancara untuk suatu tugas kuliah, pernah mengatakan bahwa mereka pernah berhubungan seksual sesama jenis (alasan mulai dari coba-coba, untuk pekerjaan, dll.), dan kesemuanya tetap menyatakan diri bahwa mereka adalah heteroseksual. Ketertarikan mereka tetap kepada yang berbeda jenis kelamin dengan diri mereka. Di sisi lain, setahu saya banyak juga kawan-kawan LGBT yang berelasi, pacaran, menikah, dan berhubungan seksual bahkan memiliki anak dengan yang berbeda jenis kelamin. Alasannya beragam, mulai dari coba-coba juga, mengetes diri, menutupi orientasi seksual yang sebenarnya, terpaksa, hingga memang ingin menjalani kehidupan heteroseksual. Tapi saat di tanya ketertarikan seksualnya, mereka tetap mengaku setidaknya lebih dominan tertarik dengan sesama jenis. Kembali lagi ke persoalan populasi, selain yang sudah saya ungkapkan, saat ini kecanggihan teknologi sudah memungkinkan pasangan homoseksual memiliki anak, yakni melalui surrogate mother (contohnya), terlepas kontroversi yang ada mengenai hal ini. Sekarang silahkan juga lihat angka kelahiran negara2 di dunia. Saat ini angka kelahiran terendah dipegang oleh German dan diikuti oleh Jepang (sumber: http://www.independent.co.uk/news/world/europe/germany-s-birth-rate-lowest-in-the-world-according-to-study-10286525.html). Dan baik German maupun Jepang, keduanya merupakan negara yang belum mengesahkan same-sex marriage.
Q : “Coba tuh lihat anak-anak JIS yang jadi korban sodomi kaum gay,…”

Untuk bagian ini sudah saya jelaskan panjang lebar yah mengenai orientasi seksual, pedofilia dan kekerasan seksual pada anak. Silahkan membaca penjelasan dan informasi yang link-nya sudah saya cantumkan.

“Hampir dapat dipastikan ketika mereka besar nanti mereka akan tertular virus gay, kecuali keluarganya memberikan terapi psikologis ke anaknya. Itu pun hanya meredam, tidak bisa totally recovered.”

A : Saya harap kita semua hati-hati memberikan statement terkait kekerasan seksual, termasuk mengenai dampak yang ditimbulkannya. Jangan sampai jadinya kita sadar-tidak sadar melakukan apa yang disebut self-fulfilling prophecy atau secara sadar-tidak sadar kita lah yang mengarahkan sesuatu agar sesuai dengan apa yang kita yakini. Selain itu, pernyataan tersebut sangat tidak membantu dan tidak memberdayakan korban kekerasan seksual, melainkan menambah stigma bagi mereka. Menjadi korban kekerasan seksual itu sudah berat, mohon tidak menambahkan stigma bagi mereka dan kehidupan mereka termasuk masa depan yang bahkan diri mereka sendiri pun belum tentu tau bagaimana.

Anyway, sebagai tambahan informasi mengenai male-to-male sexual abuse, silahkan baca link berikut: https://1in6.org/therapists-and-other-professionals/myths-facts/. Link tersebut memaparkan mitos-mitos terkait isu kekerasan seksual terhadap anak, khususnya anak laki-laki, termasuk mengenai childhood sexual abuse yang sesungguhkan tidak terkait dengan orientasi seksual pelaku maupun korbannya dan mitos mengenai potensi korban kekerasan seksual masa kanak-kanak menjadi pelaku kekerasan seksual nantinya. Berharap kita semua mau dan bisa belajar untuk menghapuskan stigma kepada korban kekerasan seksual.

Selain itu, APA pun telah memberikan pernyataannya dalam factsheet Mei 2000 bahwa:

“[N]o specific psychosocial or family dynamic cause for homosexuality has been identified, including histories of childhood sexual abuse.

Sexual abuse does not appear to be more prevalent in children who grow up to identify as gay, lesbian, or bisexual, than in children who identify as heterosexual.”
Q : “Sejak kapan kaum homo dan tusboler gak diakui sebagai warga negara? Mereka tetap punya KTP, SIM, STNK, dsb.”

A : Pertama, to be honest saya tidak suka dengan istilah “tusboler”. Saya bisa jadi salah tapi saya merasa istilah itu bersifat merendahkan, mereduksi manusia hanya sebatas perilaku seksualnya. What a shame. Selain itu, jika yang dimaksud term tersebut adalah anal seks, perlu diketahui bahwa perilaku seksual berupa penetrasi anal tidak hanya dilakukan oleh laki-laki dengan sesama laki-laki. Pasangan perempuan dan laki-laki pun banyak yang melakukannya sebagai variasi gaya dalam melakukan hubungan seksual. Sama seperti gaya lain dalam berhubungan seksual, pesan saya tetap lakukan secara aman dan bersih, yah🙂

Anyway, menyoal pengakuan negara terhadap warga negaranya pada dasarnya tidak hanya dilihat dari apakah warga negara tersebut dapat memiliki KTP, SIM, dll., melainkah juga apakah negara memenuhi atau justru abai akan hak-hak konstitusional warga neraganya. Apa saja hak konstitusional itu? Silahkan baca artikel berikut untuk mengetahu 40 hak konstitusional warga negara Indonesia: http://rifkaanisa.blogdetik.com/2012/10/09/40-hak-konstitusional-setiap-warga-negara-indonesia-yang-terangkum-dalam-14-rumpun

Aakah LGBT sudah memperoleh kesemuanya? Nyatanya belum. LGBT sama seperti kelompok minoritas lainya seperti GAFATAR, Ahmadiah, GKI Yasmin, dll. masih harus berjuang untuk itu semua, misal: untuk terbebas dari ancaman diskriminasi dan kekerasan. Perlu bukti? Silahkan browsing dan lihat bagaimana kelompok-kelompok ini ditolak, diusir, dibatasi aksesnya baik atas pendidikan maupun peribadahan dan lainnya. Saya yakin tidak sulit menemukan berita-berita tersebut.

Nah setelah membaca tulisan diatas, sila berkomen kalau sempat. Salut buat Ayu yang cukup telaten dan sabar memaparkan segala jawaban dengan santun dan seksama.

~ by Imamie on February 17, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: