Film ::: Jongens (2014)


Jongens (Brondong) ; Adalah usia rentan akan banyak rasa keingin-tahuan dan penasaran yang meledak-ledak. Gejolak jiwa yang membara yang membawa raga pada petualangan rasa yang kelak di masa berikutnya akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.
Namanya Sieger (Gijs Blom), bocah ingusan yang menggemari olahraga atletik. Sebagai hasil dari ketekunan giat berlatih, dia terpilih menjadi perwakilan sekolahnya bersama dengan teman sepermainannya Stef (Stijn Taverne). Mereka akan digabung dengan atlit lain untuk menjadi satu tim lari estafet. Berkenal lah Sieger dengan Marc (Ko Zandvliet) Bocah slenge’an yang ulahnya membikin Sieger selalu penasaran.
Sieger yang terlalu pendiam dan lempeng berbanding terbalik dengan Marc yang slebor. Berdua mereka menjadi begundal mencari kesenangan. Bisa dibilang semua aksi ugal-ugalan mereka berdua selalu dimulai dari ide-ide Marc.

Hingga pada sebuah kesempatan, muncul ajakan renang di sungai. Kesemua atlit yang tergabung pun sepakat.

Di sungai, ke empat bocah itu bersenang-senang. Melepaskan segala penat mereka selama menjalani latihan ketat untuk menuju kejuaraan. Kegembiraan mereka pun lambat laun berangsur sirna. Sudah saatnya pulang. Hanya saja saat itu, Marc memilih untuk tetap di sungai. Namun, di perjalanan pulang, Sieger menghentikan kayuhan sepedanya. Setelah kedua temannya pulang ke jalur rumahnya masing-masing, Sieger memilih untuk kembali lagi ke sungai. Menemui rasa penasarannya. Menemui Marc.

Ketika sampai di sungai, ada sedikit rasa grogi yang melanda, hendak balik, Marc memergokinya. Alhasil, Sieger pun memilih melepas bajunya dan menceburkan diri menyusul Marc.

Keduanya lebih bahagia. Kegembiraannya lebih membuncah. Masing-masing dari mereka saling merasa suka. Hingga ketika keduanya bersandar di sebuah batang kayu mengambang. Marc mencoba mencumbu Sieger, dan sambutan hangat diterimanya. Keduanya hanyut. Bukan oleh air sungai. Hanyut dalam perasaan dengan ribuan pertanyaan. Ketika hendak berpamitan pulang, Sieger melontarkan kata-kata penegasan, “Saya bukan Homo…”. Marc hanya tersenyum.

Berlanjut dari kejadian itu, kehidupan Sieger mulai berubah.

Ada kegundahan manis yang terbelenggu. Di satu sisi merasakan indah, di sisi lain merasakan jengah. Pertalian Sieg dengan Marc intim tapi tak intim. Ada kala harmoni itu muncul, ada kala simfoni itu tak timbul. Intinya, hubungan Sieg dengan Marc itu… Ingin tapi tak ingin. Mau tapi tak mau… Serba salah.

Film ini menyajikan drama (coming of age) remaja yang lumayan lambat dalam bertutur. Seperti rata-rata film remaja belum dewasa, ada batasan tipis antara bermain-main dengan bersenang-senang. Menemukan sebuah kenikmatan erotika yang didapat secara instan di saat keduanya memiliki kesempatan, yang kemudian setelahnya memilih mendiamkan.

Bisa dibilang, film ini memiliki jajaran cast yang “mungkin” terkenal di negara asalnya. Melihat akting mereka yang nampak natural dan sangat mencitrakan remaja-ramaja tanggung Eropa. Selain berkisah pada Sieg, film ini juga memiliki sub plot lain yang membawa kita pada hubungan Ayah dan Kakaknya Sieg. Seperti hal-nya anak muda yang lain di Indonesia, Ayah mana sih yang gak dongkol ngeliat anaknya ikutan club spoiler demi nyari duit tambahan…..

Meskipun tak ada lajur mengejutkan yang dimasukkan di dalam cerita, namun film ini bisa menuntun kita untuk bisa memahamipada bagaimana perasaan itu bisa menang atas sebuah ego. Ada pesan cantik di dalam film ini. Ketika kita merasa ada yang “fail” dalam hidup, ikuti kata hati. Tentukan apa yang menurut kata hati kita benar. Mengikuti suara hati untuk menjadi diri sendiri. Penolakan atas identitas pribadi akan berujung pada denial tingkat tinggi. Kegelisahan, depresi, keputus asaan dan kehilangan kendali tubuh atas pikiran dan menjadikan kita orang yang tak berakal.

Bisa dibilang film ini mirip dengan love of siam. Namun konflik pada Jongens lebih sederhana. Sedikit menguras air mata.

Nah pertanyaannya, apakah kita menonton film untuk dibikin menangis atau dibikin bahagia???? 

Rating: 3/5

~ by Imamie on June 1, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: