Film ::: Fourth Man Out (2015)

Well, seandainya gue tidak dalam dilanda kebosanan, mungkin film ini masih belum sempat gue tonton. Bersyukurlah… Lebaran kedua, gue suntuk dan “menemukan” film ini diantara tumpukan file film-film yang belum sempat tertonton yang lain.

Fourth Man Out, seperti biasanya, dan kayaknya, film ini memang lebih menarik ditonton oleh kalangan gay or LGBT ketimbang untuk semua kalangan. Alasan pertama, karena film ini sendiri LGBTariant. Hanya enak dikonsumsi gay ketimbang orang orang hetero yang masih mengasumsikan gay sebagai penyakit. Dan alasan kedua, tidak ada alasan yang kuat kenapa orang-orang hetero harus menonton film ini. Secara komersil, tidak ada katalis yang pada hakekatnya bisa mendulang dollar. Yup! Jenis Filem Festival….

Dikisahkan seorang Adam, yang berencana untuk coming out (mengaku gay) kepada ke tiga sahabatnya, salah satu diantaranya adalah Chris, sahabat dekatnya sejak kecil mengalami kekhawatiran. Ketakutan akan reaksi-reaksi yang didapat setelah dia membuat pengakuan muncul. Dari berbagai upaya pengakuan yang selalu gagal oleh keadaan, akhirnya Adam berkesempatan coming out ketika dia terbangun dari tidurnya dimana Chris tidur di sampingnya. Tak ayal, ketiga sahabatnya yang mendengar pengakuan tersebut berubah menjadi sedikit kecanggungan atas ketidaktahuan dalam bersikap. Ada sedikit pakem-pakem yang dilakukan sahabatnya tersebut seperti halnya awam yang apabila bereaksi berkomunikasi dengan seorang Adam yang gay.

Setelah menjelaskan, bagaimana susahnya menjadi seorang gay, Adam merasa lega, karena Chris, sahabat yang masih disukainya menerima keadaan itu, termasuk kedua sahabatnya yang lain. Sehingga ada interaksi baru dimana ketiga sahabat Adam berjuang agar Adam tidak merasa tersisihkan. Bagaimanapun Adam tetap lah Adam, tidak begitu saja berubah menjadi Eve sekalipun Steve.

Dan dari penerimaan sahabatnya tersebut muncul ide untuk Adam coming out ke keluarganya. Kondisi mental sudah dipersiapkan jauh hari. Dengan bantuan Chris, Adam pun optimis semuanya berjalan lancar. Namun yang terjadi adalah, hal yang biasa terjadi ditemui oleh seorang gay yang mencoba coming out ke orang tuanya. 

Film ini sepertinya dibuat dengan tujuan agar ditonton para gay. Mungkin tidak terlalu menarik bagi seorang hetero. Karena plot yang disuguhkan menjadi sangat tipikal film tema gay dengan segmentasi penonton gay. Pertama, kita akan digiring sang penulis cerita untuk mengikuti perjuangan Adam dalam beberapa tahap, coming out, cari jodoh, dan apakah jodoh itu Chris dan kemerdekaan seorang Adam dalam mendapatkan ruang.

Malah di film ini tak secuil pun adegan yang mengeksploitasi potongan tubuh-potongan tubuh yang marak dijadikan simbol di setiap film yang bertema gay. Dan hasilnya memang memunculkan kewajaran dan tidak berlebihan. Film ini menjadi sangat natural dan real tatkala tokoh Adam menjalani dan menjelaskan moda kehidupannya dengan tidak mengikuti stereotipe gay yang banyak dicitrakan oleh kaum hetero sebagai individu yang flambey (baca: flamboyan), kecentilan bin kecimpringan, ngondek tidak ketulungan yang jelas, Adam jauh dari citra itu. Malahan dengan bijak, Adam menyarankan kepada salah satu temannya untuk mempelajari teori-teori kajian seksualitas dan jender, agar bisa memahami sedikit apa itu gay dari segi keilmuan.

Film ini berhasil membawa gue ke tahap bahwa sudah saatnya film gay tak lagi menyuguhkan tontonan vulgar dengan alih-alih sebagai bagian dari keutuhan cerita. Selama cerita itu bagus, bumbu eksploitasi ketubuhan “fisik lelaki sempurna” tidak diperlukan. Pun adegan Adam atau yang lainnya “pamer six pack” tidak menjadi sorot mata gue. Karena gue lebih penasaran pada cerita yang sudah terbangun, ketimbang gue harus dibikin penasaran apakah di film tersebut akan ada adegan seksualnya atau tidak. 

Film ini akhirnya membawa gue pada satu titik, throwback pada pengalaman lalu yang membuat sedikit muka gue tersenyum kecut. Nyinyir pun muncul, seandainya Adam tidak sesempurna penokohan yang tergambarkan di film tersebut, mungkin akan lain soal. Tetapi kembali lagi, namanya juga film. Gue sebagai penikmat film, merasa bahwa gue adalah saksi mata dari Pergolakan batin Adam dan ketiga sahabatnya yang setia mengikuti cerita dari awal hingga akhir tanpa perlu nyinyir di sepanjang film. Film ini tidak jelek, pun tidak terlalu bagus pula. Ada kadar yang memaksakan film ini untuk berada di level standar biasa-biasa saja. Yang pasti film ini tidak jelek untuk di tonton di penghujung pekan yang mungkin harus dilewati disaat para sahabat sedang mudik lebaran atau liburan panjang. 

~ by Imamie on July 7, 2016.

2 Responses to “Film ::: Fourth Man Out (2015)”

  1. bikin review Out In the Dark dong kak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: